
Laskar membuka telapak tangannya yang kemudian digenggam oleh Icha, dan tanpa diduga, Laskar mengarahkan tangan Icha ke bibirnya, hal romantis tersebut langsung disambut dengan suitan panjang dari anak-anak iseng, siapa lagi kalau bukan teman-teman segenknya Icha, sehingga hal tersebut membuat wajah Icha merona merah saking malunya, dia langsung menarik tangannya dari tangan Laskar.
"Apa sieh, malu tahu." protes Icha.
Laskar hanya terkekeh, "Bisa malu juga ternyata."
"Anjirrrr, jangan mesra-mesraannya didepan umum juga kali, bikin yang jomblo iri saja." protes Acux.
Jawab Laskar, "Makanya cari pacar donk biar lo gak iri, gitu aja repot."
Ari yang membalas ucapan Laskar, "Mana ada cewek yang mau sama kuda nil begini, yang ada pada kabur iya."
Kalimat Ari langsung memancing tawa anak-anak yang mendengarnya.
"Sekate-kate lo bos, gini-gini banyak yang suka sama gue."
"Maksud lo, mahluk astral penghuni belakang sekolah itu yang lo bilang mau sama lo." timbrung Aceng yang membuat gelombang tawa kembali terdengar.
"Ahhh, gak asyik lo pada, kerjaannya cuma ngeledek gue doank." jadi ngambek kan sik Acux, bibirnya dimanyunkan.
"Jangan manyun bibir lo, jelek tahu."
"Sok imut."
"Ishhh." makin jelek deh sik Acux karna bibirnya makin dimajuin.
Karna suasana dilapangan rame, jadinya ketika bel masuk berdering tidak ada satupun yang mendengar, para guru yang akan masuk ke kelas dan melihat para siswanya bukannya masuk malah pada tengah berkerumun dilapangan, langsung membubarkan kerumanan tersebut.
"Apa yang kalian lakukan dilapangan, gak dengar apa kalian kalau bel sudah berdering." suara dengan nada tinggi itu adalah milik pak Taopik.
Demi mendengar suara salah satu guru yang paling ditakuti disekolah, anak-anak tersebut langsung pada berlarian membubarkan diri, pasalnya pak Taopik pakai bawa penggaris panjang pula lagi, kalau tidak cepat-cepat melarikan diri bisa dipastikan kena pukulan.
"Gue masuk ya, mending lo balik aja gieh sana." ujar Icha karna gak mungkin juga bagi Laskar untuk ikut masuk kelas dengan menggunakan pakaian bebas begitu.
"Oke, pulangnya gue jemput ya."
Belum sempat Icha menjawab, suara pak Taopik mengintrupsi perpisahan mereka, "Kalian berdua, kesini kalian."
"Yahh, ketangkep."
Icha dan Laskar dengan ogah-ogahan melangkah mendekati pak Taopik.
"Apa yang kalian lakukan hah." dengan suara membentak.
"Kami gak melakukan apa-apa kok pak." jawaban Icha.
"Gak melakukan apa-apa, gak melakukan apa-apa." pak Taopik mengulang kalimat Icha dengan pandangan menuduh, "Saya mendapat informasi kalau kalian adalah sumber masalah yang terjadi."
Laskar yang kali ini menjawab, "Masalah apaan pak, perasaan sekolah dan seluruh isinya termasuk bapak baik-baik saja."
"Bukan begitu maksud bapak." bantah pak Taopik, "Kalian penyebab anak-anak yang lainnya mengabaikan bel sehingga tidak ada yang masuk ke kelas."
"Lebayy amet sieh bapak, gitu doank dibilang masalah, lagian salah mereka donk yang tuli, kenapa kami dibawa-bawa dan disalahkan, gak adil banget." protes Icha.
"Menghambat kegiatan pembelajaran itu termasuk membuat masalah Icha."
"Terserah bapak deh, mau dibilang membuat masalah kek, membuat dosa kek, bapakkan orangnya baperan."
__ADS_1
Pak Taopik mendengus kasar, kini mengarahkan tatapannya pada Laskar, dia baru memperhatikan kalau Laskar tidak memakai seragam, dia menunjuk dengan penggaris yang ada ditangannya, "Ini lagi, apa yang kamu pakai Laskar."
Dengan lugunya Laskar menjawab, "Baju pak." jawaban yang benar memang, tapi bukan itu maksud pak Taopik.
Satu pukulan mendarat dilengan Laskar atas jawabannya, "Kenapa kamu gak pakai seragam, kamu fikir sekolah acara fashionweek apa, seenaknya saja pakai baju sembarangan."
Laskar lebih memilih diam kali ini, gak mungkinkan dia bilang kalau hari ini dia tidak masuk, dan dia datang kesekolah hanya untuk menembak Icha, kalau Laskar bilang begitu bisa dipastikan pak Taopik bakalan ngamuk.
"Dan kamu lagi Icha, kenapa balon dibawa-bawa, mau jualan balon kamu."
"Iya, bapak mau beli." jawab Icha otomatis.
Seperti Laskar, Icha mendapat pukulan dilengannya, "Kamu fikir bapak anak TK apa."
"Karna kalian telah membuat ulah, sebagai hukumannya, kalian berdiri dilapangan sambil memberi hormat pada bendera merah putih sampai jam pulang."
Karna tidak bisa membantah, baik Icha dan Laskar terpaksa menerima hukuman tersebut.
"Sorry ya Cha." lirih Laskar begitu pak Taopik berlalu.
"Kenapa lo minta maaf."
"Ya karna gara-gara aku kamu dapat hukuman begini."
"Santai aja kali, udah biasa gue dapat hukuman." ujar Icha santai sambil mengelap keringat yang merembas dari keningnya.
Melihat hal tersebut, Laskar otomatis berdiri didepan Icha sebagai perisai untuk melindungi Icha teriknya sinar matahari.
Dari balik punggung Laskar Icha hanya mengulas senyum, dia berkata, "Kenapa lo berdiri didepan gue."
"Lindungin lo dari sinar jahat matahari."
"Gak apa-apa, jangankan cuma panas, terjun dari rooptof sekolah aja gue mau kalau lo yang suruh." gombal Laskar lebay.
"Gombal." meskipun bilang begitu, namun Icha tidak bisa menghentikan bibirnya untuk tidak tersenyum.
*****
"Niehhh." Andin memberikan tisu pada Kiara untuk mengelap air matanya yang terus mengalir deras dipipinya, hal tersebut dikarnakan Kiara tidak terima cowok seganteng Laskar pacaran dengan Icha, menurut Kiara, Icha tidak pantas untuk Laskar.
"Udahlah Ki nangisnya, ntar sik bu Wanda masuk."
"Gimana gak nangis coba Ndin, gue gak rela Laskar pacaran dengan Icha, diantara beratus-ratus cewek disekolahan, kenapa harus dengan Icha coba."
"Perasaan itu gak abadi Ki, besok-besok juga Laskar pasti mutusin Icha, dan sadar kalau Icha gak pantas untuk dia." Andin mencoba untuk menghibur.
"Ini salah lo Na."
"Kenapa jadi salah gue." heran Athena yang disalahkan oleh Kiara.
"Coba kalau lo gencar ngedekatin Laskar, pasti Laskar sukanya sama lo dan bukan malah pacaran dengan gadis jelek itu."
Laskar pacaran sama siapa saja terserah, intinya Kiara gak suka Laskar pacaran sama Icha, dia gak suka Icha pacaran dengan cowok ganteng, aneh bangetkan sik Kiara.
"Lo mending tenang aja deh, gue janji sama lo gak bakalan biaran sik Icha bahagia dengan Laskar."
"Emang lo mau ngapain Na." Andin kepo.
__ADS_1
Athena tersenyum jahat, "Lihat saja ntar."
****
Sedangkan dikelas XI IPS 5 juga tengah heboh menggibahkan jadiannya Icha dan Laskar.
"Hebat sik Laskar, berhasil juga dia naklukin landak betina." Marhun memulai.
"Icha beruntung ya, dia dicintai oleh cowok yang ganteng, kaya, baik, bener-bener pria sejati lagi." cloteh Gita pacarnya Marhun.
"Baby, pacar kamu ada didepan kamu lho."
"Terus." ujar Gita tanpa rasa berdosa.
"Ya jangan puji-puji cowok lain napa."
"Itukan kenyataan, emang kayak kamu, gak ada yang bisa dibanggakan."
Sadar pacarnya mengatakan fakta, Marhun gak bisa ngejawab.
Aslan gak budek, dia mendengar setiap huruf yang dikeluarkan oleh temen-temennya, hal tersebut mendorongnya untuk mendatangi Lea untuk mengetahui kebenarannya.
"Hai Le." sapanya ramah.
Lea yang tidak menyangka disamperin Aslan begini tentu saja salah tingkah, lututnya sampai membentur langit-langit mejanya, "Ehh, Aslan, hai juga." jawabnya terlalu antusias.
"Boleh gue duduk." menunjuk kursi Icha yang kosong karna pemiliknya kini tengah dijemur.
"Iya."
Setelah duduk dibangku Icha, Aslan menyodorkan kotak makan didepan Lea.
"Ini apa."
"Masak lo lupa sieh, itu kotak makan punya lo, kemarinkan lo bawain kue buat gue."
"Oh iya, lupa aku."
"Makasih ya, kuenya enak."
"Iya."
"Gue ganggu lo gak." tanya Aslan karna melihat Lea yang terlihat tidak nyaman dengan kehadirannya, bukannya tidak nyaman, hanya saja Lea gugup dan grogi.
"Gak kok."
"Bagus deh kalau gitu."
"Lea."
"Iya."
"Bener ya kalau Icha dan Laskar pacaran."
"Ohh itu." Lea tersenyum mengingat bagaimana manisnya perlakuan Laskar terhadap Icha, "Iya bener, Laskar kembali nembak Icha dilapangan tadi."
"Dan." kejar Laskar.
__ADS_1
"Dan Icha nerima Laskar."
****