Cinderela Modern

Cinderela Modern
KEPERGOK


__ADS_3

Yang kencan sama pacarnya, sampai lupa waktu jam segini belum balik.


Icha mendengus membaca pesan yang dikirim oleh Aslan.


Saat ini Icha tengah duduk sendirian diluar karna Laskar bersama Athena tengah berada diruang inap mamanya Diana.


"Ishh, pakai ngata-ngatain segala lagi, diakan juga pergi sama Lea." desis Icha memilih mengabaikan pesan Aslan.


Cinta sieh cinta, tapi inget waktu mbak.


Karna tidak mendapat balasan, Aslan kembali mengirim pesan.


"Maunya apa sieh Aslan, ngajak ribut aja." sewot Icha kesel dan menekan sentuhan ponselnya untuk membalas pesan tersebut.


Aku lagi dirumah sakit, emang ada orang kencan dirumah sakit.


Siapa yang sakit, kamu sakit Cha. khawatir.


Bukan, mamanya Diana, mantannya Laskar.


bener-bener pacar yang baik, ikhlas nemenin pacar jengukin ibunya mantan pacar.


"Resek amet sieh Aslan." rutuk Icha mulai jengah membaca pesan yang dikirim Aslan.


Kamu sendiri gimana, pasti seru donk kencannya dengan kekasih hati. balas Icha gak mau kalah.


Seru apaan, kami bukannya kencan, tapi lebih tepatnya aku nemenin Lea belanja. curhat Aslan.


Icha terkikik membayangkan bagaimana betenya Aslan nemenin Lea masuk dari satu toko ke toko lainnya.


Wah, itu pasti seru banget pastinya, kamu bener-bener pacar pengertian Lan. ledek Icha puas bisa membalas Aslan.


Ya Allah, aku diledek lagi.


Kamu masih lama gak dirumah sakit, heran deh, betah amet jengukin mamanya madu. Aslan bertanya.


Aku juga ingin pulang, tapi aku nungguin Laskar dulu tuh.


Tunggu disana aku jemput. putus Aslan.


Icha mengintip lewat jendela kecil yang ada dipintu, terlihat jelas saat ini Laskar tidak ada tanda-tanda untuk pulang, akhirnya Icha mengiyakan keinganan Aslan untuk menjemputnya, karna gak mau mengganggu suasana sakral didalam, Icha hanya mengirimi Laskar pesan untuk pamit.


Icha menunggu kedatangan Aslan diluar rumah sakit, sepuluh menit kemudian, mobil yang sudah sangat dikenalnya terlihat menghampirinya dan berhenti tepat didepannya.


"Malam adek manis, butuh tumpangan ya, ayok sama abang saja, dijamin abang anterin sampai depan rumah dengan selamat ." goda Aslan melihat Icha berdiri dipinggir jalan, gayanya persis seperti om-om hidung belang yang suka daun muda.


"Apaan sieh lo, ganjen." Icha tersenyum masam kemudian membuka pintu mobil.


Aslan terkekeh melihat reaksi Icha, "Duhh, kayak lagi PMS aja gak bisa diajak bercanda."


"Udah ah jalan, capek aku."

__ADS_1


Namun Aslan tidak mengindahkan omelan Icha, dia malah kembali menggoda Icha, "Capek batin ya karna nemenin suami menjenguk ibu madunya."


"Apaan sih Aslan, resek deh." Icha dongkol, pasalnya Aslan gak lewat pesan dan sekarang terus saja meledeknya, pakai bilang madu-madu segala lagi, emang dia dan Diana adalah suaminya Laskar apa.


"Iya iya, duh yang tengah tekanan batin, bawaannya ingin marah mulu." Aslan menjalankan mobilnya menjauhi area rumah sakit.


Icha menyandarkan punggungnya disandaran kursi, memejamkan matanya untuk membuat dirinya rileks.


"Kamu udah makan belum."


"Belum."


"Ada makanan tuh dikursi belakang."


Icha membuka matanya, membalikkan tubuhnya untuk mengambil makanan dikursi belakang, "Paan tuh." setelah berhasil meraih apa yang diinginkan, Icha menunjuk paperbag yang ada kursi sebelah.


"Hadiah." jawab Aslan singkat.


"Dari Lea."


"Iya."


"Kamu beruntung lho pacaran sama Lea, tiap jalan-jalan pasti dibeliin barang."


"Kamu fikir aku cowok matrek apa."


"Gak sieh, tapi Lea emang gitu orangnya, royal dan baik, aku aja selalu dibeliin barang, pokoknya dia definisi wanita idaman banget deh."


"Daripada kamu ngoceh terus, mending kamu makan deh sebelum aku yang makan kamu duluan."


***


Hari minggu.


Pagi itu, Icha tengah membantu Aslan mempacking keperluan yang dibutuhkan oleh Aslan selama satu minggu di Malang untuk mengikuti olimpiade sains, karna siang nanti Aslan akan berangkat dari sekolah bersama rombongan.


"Kenapa murung gitu sieh wajahnya." Aslan bertanya, karna sejak memasuki kamarnya wajah Icha terlihat mendung, "Gak ikhlas yang ngebantuinnya." simpul Aslan.


"Ikhlas, sangat Ikhalas Aslan, aku hanya berfikir, aku pasti bakalan kangen banget selama kamu di Malang, malah lama amet lagi disananya."


"Kita kan gak hidup dizaman purba Cha, kalau kangen bisa telpon atau vidio call." Aslan menjelaskan fakta kalau semuanya gak sesulit zaman dulu karna kemajuan tehnologi yang memudahkan manusia untuk melakukan berbagai urusan.


"Iya sieh, tapikan tetap aja aku bakalan kehilangan, berangkat sekolah sendiri, pulang sendiri, gak ada tempat nyontek pr, gak ada yang nraktir."


"Astagaa, aku fikir kehilangannya tulus, ini malah kehilangan karna gak ada sopir pribadi, gak ada tempat nyontek, padahal aku sempat terharu tadi."


"Ihh, bukan gitu." Icha merajuk manja, sesuatu hal yang jarang terjadi.


Aslan gemes melihat tingkah sang pacar, dia merengkuh Icha membawanya kepelukannya, "Cuma seminggu, gak lama."


"Seminggu itu lama Aslan, aku takut."

__ADS_1


"Tenang, aku gak akan kepincut dengan cewek-cewek disana, karna aku hanya cinta sama kamu." Aslan menyalah artikan kalimat takut yang keluar dari bibir Icha.


"Bukan itu."


"Terus apa."


"Aku takut gak kuat menahan rindu, kalau aku defresi karna menahan rindu gimana."


"Astaga kamu itu berlebihan deh, kayak aku mau pergi kebulan selama 100 abad saja."


"Pokoknya selama disana kamu harus selalu ngasih kabar, agar aku gak khawatir."


"Siap tuan putri."


"Jangan genit-genit sama cewek disana."


"Gak akan."


"Jaga selalu hatimu untukku."


"Aku selalu melakukannya sejak dulu."


Icha semakin mengeratkan pelukannya, dia gak rela berpisah dengan Aslan meskipun hanya satu minggu saja.


Disaat tengah menikmati momen romantis seperti itu, pintu kamar Aslan menjeblak terbuka, membuat dua mahluk itu kaget dan langsung memisahkan diri, dan mereka bertambah kaget manakala mengetahui siapa yang ada dipintu yang kini terbuka sempurna, iya dia adalah Lea. Lea yang melihat hal tersebut tertegun, terkejut dia melihat adegan mesra tersebut, tapi Lea adalah orang yang positif thinking, dia tidak serta merta mengambil kesimpulan yang tidak-tidak melihat pacar dan sahabatnya pelukan, karna Lea yakin pelukan tersebut hanyalah pelukan antar dua sahabat saja gak lebih, apalagi Lea tahu mereka sudah bersahat sejak kecil, yah meskipun berfikir begitu, sebagai seorang wanita, tetap saja sebagian hatinya tidak suka melihat adegan tersebut.


"Lea." gumam Icha.


"Akhh, gimana ini, Lea pasti bakalan marah banget." panik Icha, pasalnya untuk saat ini dia belum siap untuk menjelaskan tentang hubungannya dengan Aslan pada Lea.


Setelah rasa terkejutnya hilang yang kemudian digantikan dengan senyum lebar yang sangat dipaksakan, Lea menghampiri dua orang tersebut.


"Hai" sapa Lea ceria, "Kok tegang gitu muka kalian berdua, seperti orang kepergok selingkuh saja." Lea berusaha untuk bercanda, walaupun positif tinkhing dan berfikir antara Aslan dan Icha gak ada hubungan yang melibatkan hati hanya murni sebagai sahabat, namun bayangan saat mereka berpelukan entah kenapa terus menari-menari diingatannya.


Untuk sesaat baik Aslan dan Icha hanya diam, gak tahu harus menanggapi ucapan Lea.


"Heii, kok malah diam, kalian gak bener-bener selingkuhkan."


"Akhhh, gak kok, ya gak mungkinlah, lo ada-ada saja." sanggah Icha gugup, "Gue dan Aslan laget aja lo tiba-tiba datang."


"Sorry ya Lan karna aku main masuk ke kamar kamu tanpa permisi, tadi kak Gibran dibawah nyuruh aku nyari kamu dikamar." Lea menjelaskan.


"Gak apa-apa Lea." gumam Aslan buka suara untuk pertama kalinya.


"Kamu ngapain kesini."


"Akhh itu, aku hanya ingin bantu-bantu kamu mempacking apa yang akan kamu bawa ke Malang." Lea kemudian melirik koper Aslan yang terlihat rapi, tapi belum ditutup, "Tapi sepertinya semuanya sudah beres, pasti Icha yang bantuin ya."


"Iya."


"Makasih ya Cha, karna telah membantu pacar gue."

__ADS_1


"Gak masalah Le, Aslankan juga pa.." hampir saja keceplosan, "Sahabat gue."


****


__ADS_2