
Icha menoleh kebelakang dimana Laskar duduk, bangku itu kosong yang menandakan kalau penghuninya tidak masuk.
"Laskar gak masuk, kenapa ya Cha." tanya Lea melihat Icha yang menoleh kearah bangku Laskar.
"Gak tahu."
"Apa mungkin sakit kali dia ya."
"Gak tahu."
"Gak tahu mulu jawaban lo."
"Habisnya gue harus jawab apa donk, orang gue beneran gak tahu."
"Ya maksud gue, lo telpon kek, chat kek, tanya gitu kenapa gak masuk."
"Kenapa gue harus telpon dia."
"Karna setahu gue, lo dan dia temenan Cha, bukan teman biasa, tapi Laskar termasuk dalam kategori temen dekat lo juga, meskipun gak bisa dibilang sahabat juga sih, minimal tanyain kek kenapa dia gak masuk, sebagai tanda lo sedikit peduli sama dia."
"Iya bawel, ini gue tanyain."
Icha mendial nomer ponsel Laskar, bukannya Laskar yang menjawab, malah terdengar suara perempuan yang berkata, "Maaf, sisa pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini."
"Anjirrr, pulsa gue limit lagi."
"Dasar kere emang lo." Lea merogoh ponselnya dari dalam tas, "Nieh, pakai ponsel gue, gak hanya canggih, tapi pulsanya juga bejibun."
"Dasar sombong lo."
Icha mengambil ponsel Lea, "Ada nomernya Laskar gak dikontak lo."
"Gak adalah, lo fikir gue sama dia deket gitu sampai tukeren nomer ponsel segala."
Icha mengetikkan beberapa angka, kemudian menekan simbol telpon berwarna hijau, beberapa detik menunggu, terdengar suara Laskar menjawab dengan tidak bersahabat.
"Siapa nieh."
"Ini gue."
"Gue gak punya kenalan yang bernama gue." jawab Laskar jutek.
"Jutekk banget sieh lo, ini gue Icha."
"Ohh, lo Cha, bilang kek dari tadi, gue fikir salah satu cewek yang ngejar-ngejar gue itu yang nelpon."
"Lagak lo."
"Emang beneran, karna beberapa hari ini gue diteror terus-terusan oleh beberapa cewek yang ngrengek ngajak ketemuan."
"Iya deh yang ganteng, banyak yang ngejar."
"Yahh, begitulah resiko orang ganteng."
"Hoeekk, muntah gue."
Laskar tertawa mendengar ucapan Icha.
"Oh ya, lo pakai nomernya siapa."
"Lea, lo kenapa gak masuk."
"Emang lo masuk, lo udah sehat gitu." Laskar balik nanya.
"Ya begitulah, lo sendiri, kenapa gak masuk."
__ADS_1
"Gue diserang."
"Apa, sama siapa."
"Siapa lagi, anak Tunas Harapan, gue dicegat dalam perjalanan menuju sekolah."
"Terus, lo gak diapa-apainkan sama mereka." Icha tentu saja khawatir mendengar kabar ini.
Lea yang mendengar nada khawatir Icha bertanya, "Apa yang terjadi Cha."
Icha mengabaikan, dia akan menjawab pertanyaan Lea nanti.
"Lo fikir mereka ustadz apa yang nyamperin buat nyeramahin gue, kalau mereka nyegat gue ya pasti gue diapa-apainlah, anjirr gue dikeroyok oleh banci banci SMA Tunas Harapan.."
"Terus gimana, lo terluka atau gimana."
"Yahh, mustahil gue gak terluka kalau dikeroyok oleh lima orang sekaligus, sehebat-hebatnya gue, gue gak mungkin bisa melawan lima orang sekaligus, tapi luka yang gue alamai gak separah motor gue yang habis oleh mereka."
"Bajingan, mereka memang pengecut, beraninya mereka main keroyokan, gue akan ngasih tahu Ari masalah ini, biar kita nyerang sekolah mereka aja sekalian, ini gak bisa dibiarkan." ujar Icha berapi-api, "Terus lo dimana sekarang, kondisi lo gimana."
"Kondisi gue gak bisa dibilang baik sieh Cha, saat ini gue tengah berbaring dirumah."
"Lo udah obatin luka lo."
"Tadi udah gue obatin pakai obat merah."
"Oke kalau gitu mending lo istirahat, biar masalah ini akan kami urus."
"Cha." panggil Laskar yang membuat Icha yang akan mematikan sambungan mengurungkan niatnya.
"Kenapa Laskar."
"Hmm, lo gak mau jengukin Leo gitu, lo gak kangen apa sama dia, udah satu minggu lho ini, dia juga agak gemukan."
"Iyaaa, ketahuan deh niat gue, tapi biar sekaliankan, sambil berenang minum air."
"Lihat entar deh."
"Gue tunggu ya."
"Gue kan gak janji bakalan datang."
"Meskipun begitu, gue akan tetap nunggu."
"Hmmm terserah lo deh."
"Ntar gue kirimin alamat rumah gue."
Begitu Icha mematikan sambungan, Lea kembali mengajukan pertanyaan yang sama, "Cha, apa yang terjadi dengan Laskar."
"Dia di keroyok oleh anak-anak Tunas Harapan."
"Astaga." Lea menutup bibirnya dengan telapak tangan, "Teruss, Laskar gak kenapa-napakan."
"Yang namanya dikeroyok ya pasti kenapa-napalah Lea, minimal yang paling ringan luka yang derita adalah kepala bocor."
"Ya Tuhann, kasihan sekali Laskar, yah begitulah kalau berhubungan dengan geng-geng gitu, gak pernah jauh yang namanya pengeroyokan, tuh Cha, mending lo keluar saja dari geng biang rusuh begitu, kalau lo yang dikeroyok gimana coba." Lea sudah seperti ibu yang khawatir pada anaknya.
"Lo tenang aja Le, gue bisa jaga diri kok."
"Kalau dikeroyok oleh beberapa orang kayak Laskar, masih bisa lo bilang bisa jaga diri."
"Udahh ah, gak usah bahas hal itu."
"Gimana bisa gak dibahas, gue kan khawatir tahu sama lo."
__ADS_1
"Iya gue tahu Lea, tapi lo gak perlu khawatirin gue, lo kan kenal siapa gue, gue adalah Alissa Ramadhani gadis kuat dan pemberani kebanggaan SMA PERTIWI."
"Gak perlu pidato begitu juga Cha."
"Le, pulang sekolah kita kerumahnya Laskar yuk."
"Mau ngapain kita kerumahnya Laskar."
"Ya jengukin dialah, gak mungkin kan kita ngapelin dia, secara gue dan elokan gak suka sama dia."
"Apa anak-anak perlu di ajak."
"Gak perlu, cukup kita berdua aja yang pergi kesana."
"Emang lo tahu alamat rumahnya Laskar."
"Ntar dikirimin sama dia."
Dan panjang umur, bertepatan dengan Icha yang menyelsaikan kalimatnya, sebuah pesan masuk ke ponsel Icha yang datangnya dari Laskar yang mengirimkan alamat rumahnya.
****
Sepulang sekolah, karna Icha tidak mungkin mengatakan kalau dia akan pergi menjenguk Laskar pada Aslan, Icha berbohong dengan mengatakan, "Lan, gue mau nemenin Lea pergi mencari hadiah ulang tahun buat kakaknya nieh, jadi lo duluan deh pulangnya."
"Tapi lo baru sehat Cha, seharusnya lo istirahat sepulang sekolah, bukannya keluyuran." jawab Aslan.
"Gue udah sehat Aslan, jadi lo gak perlu khawatir gitu, lagian jugakan kasihan Lea kalau pergi sendiri."
"Gue ikut kalau gitu."
"Apa." Icha tentu saja kaget dan buru-buru menolak keinginan Aslan, "Jangan deh Lan, lo balik aja, pasalnya kami bakalan lama, dan pastinya lo bakalan bosan kalau ikut."
"Kalau gue gak ikut siapa yang jaga lo."
Icha terharu mendengar ucapan Aslan, tapi mau gimana, untuk saat ini Aslan memang gak boleh ikut dengan mereka, "Gue kan udah bilang gue udah sehat, jadi gak perlu dijaga Lan, percaya deh sama gue."
Aslan akhirnya menyerah, dengan berat hati akhirnya dia berkata, "Ya udah kalau gitu, hubungin gue setengah jam sekali sebagai bukti kalau lo baik-baik saja."
"Iya." diiyain aja oleh Icha biar cepat, malas bangetkan setengah jam sekali nelpon Aslan hanya untuk memberi laporan kalau kondisinya baik-baik saja, kayak orang gak punya kerjaan saja.
"Kalian diantar Ucup." tanya Aslan melihat Lea yang menunggu dimobilnya.
"Iya."
"Bilang sama sik Ucup, jangan ngebut-ngebut, patuhi peraturan lalu lintas agar selamat sampai tujuan."
"Masalah hal itu, Ucup gak perlu diragukan, dia adalah orang yang paling taat peraturan yang gue kenal."
"Apa pulangnya perlu gue jemput." Aslan menawarkan.
"Gak perlu, Lea pasti bakalan nganterin gue."
Akhirnya dengan berat hati Aslan melepas kepergian Icha.
"Kalau gitu gue pergi dulu ya Lan." pamit Icha melambaikan tangan dan meninggalkan Aslan menuju mobil Lea.
"Hati-hati."
"Iya, tenang saja."
"Kenapa lama sekali." tanya Lea begitu Icha sudah memasuki mobilnya.
"Lo kayak gak tahu Aslan, gue kan harus melewati serangkaian tes lisan sebelum diizinkan pergi."
****
__ADS_1