
Dengan membawa bunga pemberian Laskar Icha melangkah memasuki perpustakaan, karna malas berhadapan dengan banyak orang dia memilih bersembunyi diperpustakaan ditemani oleh ratusan buku.
"Eh eh Icha." teguran bu Ela pustakawati perpustakaan menghentikan langkah Icha.
"Ada apa bu."
"Ada apa ada apa, kamu itu ya kebiasaan, main nyelonong saja." omel bu Ela, "Isi dulu buku berkunjung."
"Masuk perpustakaan saja ribet banget sieh." rutuknya mendekati meja bu Ela.
"Nah itu lagi." mata bu Ela tertuju pada bunga yang dibawa oleh Icha, "Kenapa bunga sekolah pakai dibawa-bawa segala."
"Ini bunga saya kok." sambil meletakkan pot bunga dimeja bu Ela supaya memudahkannya mengisi buku pengunjung.
"Teruss, kenapa dibawa-bawa segala."
Ada saja jawaban Icha untuk menjawab bu Ela, "Membawa bunga punya sendiri bukan sebuah pelanggarankan bu."
Jawaban Icha membuat bu Ela berhenti mengintrogasi Icha.
Dan seperti biasa, Icha menemukan Aslan berada di area perpustakaan paling pojok, dan seperti biasa pula, Aslan khusyuk membaca buku-buku tebal yang menjadi sshabat sejatinya.
Icha duduk disamping Aslan, Aslan hanya menoleh sesaat sebelum matanya kembali fokus pada apa yang kini tengah dibacanya.
"Tumben keperpustakaan tanpa paksaan." gumam Aslan, dan sebelum Icha sempat menjawab, Aslan kembali berkata, "Tentu saja, lo kesini bukan karna berniat menambah ilmu, tapi mau bersembunyi."
"Bolehkan gue disini, hanya disini tempat yang bebas dari polusi yang bikin gendang telinga gue pekak." ujarnya asal, clotehan temen-temennya dianggap polusi.
"Kenapa lo pakai nanya gue segala, emang perpus punya gue apa."
"Iya juga sieh."
Hening, memang selalu begitu setiap hari, bukan perpustakaan namanya kalau ramai,
Icha kini memperhatikan pohon bunga mawar merah pemberian Laskar, bunga mungil itu tampak terawat, daunnya rimbun dan bunganya ada dua buah dan saat ini tengah bermekaran, "Bunga yang cantik." gumamnya sembari menyentuh kelopak bunga mawar tersebut.
Icha gak tahu apa yang harus dilakukannya pada bunga tersebut, apakah harus dia rawat atau disumbangkan ke pak Surip tukang kebun sekolah sebagai kenang-kenangan darinya. Dan ketika dia berniat memetik salah satu tangkai bunga mawar tersebut, Icha tertusuk duri nya, "Awww." Icha mengaduh sembari mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa perih, darah segar merembas dari jarinya yang tertusuk, "Bunga brengsek." rutuknya.
"Perempuan itu harusnya seperti mawar, punya duri untuk melindungi dirinya." komen Aslan.
"Gue juga bisa melindungi diri sendiri, guekan jago bela diri, tiap ada orang jahat yang ganggu gue, gue hajar dia."
"Memang itu salah satu hal yang patut dibanggakan, tapi maksud gue, lo juga harus bisa melindungi diri dari rayuan cowok, agar lo gak terjerumus dalam bujuk rayu cowok yang hanya ingin dijadiin lo sebagai mainan saja."
"Gue gak perlu melakukan hal itu, orang gue gak punya pacar."
"Emang gak sekarang, tapi suatu saat lo pasti bakalan suka sama seseorang yang membuat lo rela melakukan apapun, bahkan menyerahkan hal berharga milik lo sekalipun."
"Gak akan terjadi, gue gak sebodoh itu kali sampai rela melakukan apapun hanya untuk seorang cowok."
__ADS_1
"Semoga saja omongan lo sejalan dengan perbuatan lo nantinya." harap Aslan.
"Tuh bunga pemberian cowok itukan." Aslan mengganti topik.
"Namanya Laskar."
"Hmmm, kenapa tuh bunga lo terima kalau lo tolak orangnya, itu sama saja lo ngasih harapan sama dia."
"Gue gak ngasih harapan, gue hanya menghargai saja."
"Hebat juga lo ya."
Icha memutar arah pandangnya kearah Aslan, "Hebat gimana maksud lo."
"Yahh." Aslan mengangkat bahu dan menutup buku yang sejak tadi dibacanya, "Gue gak tahu apa yang membuat Laskar cinta sampai segitunya sama elo, sampai cowok bodoh itu mengatakan kalau dia gak bakalan nyerah untuk dapetin lo."
"Itu salah satu kelebihan dari Laskar, dia gak mandang cewek dari fisiknya tapi hatinya." sambil berkata begitu Icha meletakkan sebelah tangannya tepat dibagian hati.
"Maksud lo, lo itu gadis baik hati gitu."
"Yahh begitulah kenyataannya."
"Gue akui sieh, banyak cowok yang jatuh cinta sama cewek bukan karna fisiknya, tapi karna kebaikan hatinya." dan setelah mengatakan kalimat tersebut Aslan memperhatikan Icha dan tersenyum sinis, "Mungkin lo gak menyadari ya Cha, atau lo sadar, tapi gak peduli." ujar Aslan melanjutkan kalimatnya, "Gue kasih tahu kenyataannya ya Cha, lo itu wajahnya pas-pasan, ditambah kelakuan minus dan pemalas dan hobi tauran, jadi kelakuan lo itu gak bisa dikategorikan baik hati, jadi apanya coba yang membuat Laskar sampai cinta mati sama lo."
"Jadi maksud lo, gue pakai jampi-jampi gitu buat Laskar suka sama gue." ujar Icha tersinggung.
"Ya gaklah, orang lo baca papan iklan saja malas, apalagi menghapal jampi-jampi." ledek Aslan terkekeh.
"Kemungkinan yang paling pasti adalah kenapa Laskar cinta sama lo, mungkin karna dia khilaf aja kali."
Icha meraih buku tebal yang tadi dibaca oleh Aslan dan langsung memukul Aslan dengan buku tersebut saking keselnya, "Ihh, dasar sahabat abal-abal."
Aslan berusaha melindungi kepalanya yang dipukul Icha, "Duhh, sakit Icha, berhenti."
"Rasain."
Panggilan masuk diponselnya menghentikan Icha meluapkan kekesalannya, dia merogoh kantong roknya untuk mencari ponselnya.
"Apa." ujarnya begitu dia menempelkan tuh ponsel ditelinganya.
Terdengar sahutan dari seberang, "Datang kebelakang sekolah sekarang juga, cepat, gak pakai lama."
Tanpa membiarkan Icha menjawab, Acux yang menelpon langsung memutus sambungan.
Tanpa basa-basi Icha meraih bunganya dan pergi begitu saja.
"Mau kemana." tanya Aslan.
"Belakang sekolah." tetap berjalan tanpa menoleh kebelakang.
__ADS_1
Icha sangat yakin pasti ada hal yang sangat penting sehingga dia suruh datang ke markas besar geng elit sekolah.
****
Sementara itu, Lea yang membawa kantung plastik berisi kue aneka rasa, berbagai macam gorengan, langsung berhenti begitu melihat Icha tidak bersama Aslan, padahalkan Icha sendiri yang bilang saat ini dia diperpustakaan bersama dengan Aslan, tapi kini dia tidak ada, dan seperti biasa Aslan seperti tidak peduli dengan sekelilingnya, karna Aslan terfokus kembali pada buku setelah kepergian Icha sehingga dia tidak melihat kedatangan Lea.
"Aslan." tegur Lea dengan suara kecil.
Aslan mendongak mendengar namanya dipanggil.
Lea tersenyum canggung begitu Aslan melihatnya, dia memang masih belum bisa menghilangkan groginya jika berhadapan dengan Aslan, "Icha dimana."
"Belakang sekolah." jawabnya sekenanya.
"Ohhh, ya udah deh kalau gitu."
Lea sudah berbalik, namun diurungkannya karna mendengar Aslan berkata, "Lo mau pergi gitu saja."
Lea membalikkan badannya kembali ke arah Aslan, dahinya berkerut karna tidak mengerti maksud Aslan.
"Lo gak mau gitu nawarin apa yang lo bawa ke gue."
"Eh ini." Lea mengangkat kantung plastik yang dibawanya, "Emang kamu mau."
"Kalau lo tawarin."
Lea tersenyum tipis dan berjalan mendekati Aslan, "Makan aja kalau kamu mau." sambil menaruh kantung plastik berisi berbagai makanan tersebut dihadapan Aslan.
"Lo mau duduk atau hanya berdiri saja."
"Ehh."
"Ayok duduklah, kita makan bareng, lagian apa lo gak capek berdiri saja."
"Iya." meskipun senang, tapi tetap saja Lea masih belum bisa menghilangkan rasa groginya.
"Lo beli banyak makanan, emang habis dimakan sama lo." Aslan bertanya setelah melihat isi kantung plastik yang dibawa oleh Lea.
"Icha yang biasanya akan menghabiskannya."
Aslan terkekeh, "Gadis satu itu, tidak pernah mengontrol porsi makannya, kalau badannya segeda gajah baru tahu rasa dia."
Lea terkekeh membenarkan ucapan Laskar, "Sebanyak apapun yang Icha makan, tapi badannya tetap saja kurus."
"Kenapa lo gak makan Le."
"Gue udah kenyang kok, tadi gue makan dikantin." bohong Lea, padahal dia gak sempat makan, tapi anehnya, dia tiba-tiba merasa kenyang gitu ketika bersama Aslan dan melihat Aslan makan, apalagi ini untuk pertama kalinya dia bisa bicara santai dengan Aslan.
"Mungkin ini awal yang bagus buat gue ngedekatin Aslan." gumam Lea penuh harapan.
__ADS_1
*****