Cinderela Modern

Cinderela Modern
BALIK KE JAKARTA


__ADS_3

Beberapa hari ini Lea gak masuk, dan setiap Icha ke rumahnya satpam rumahnya pasti bilang Lea tidak ada tanpa mempersilahkan Icha masuk, Icha tahu, rumah yang dulunya selalu terbuka untuknya itu kini sudah tidak menerima kehadirannya lagi, Icha yakin, tidak hanya Lea yang membencinya, tapi semua keluarga Lea juga pasti membenci Icha, Icha maklum jika keluarga Lea membencinya, dia memang patut dibenci karna rasa sakit yang ditorehkan pada Lea, bisa dibilang Icha tidak tahu malu, mengingat bagaimana baiknya keluarga Lea, dia malah membalasnya dengan air comberan. Sedangkan disekolah sejak pengakuan kebenaran itu, Laskar tidak pernah menyapanya lagi, jangankan menyapa, melirik saja tidak, entah mungkin Laskar jijik atau gimana.


Karna tidak masuknya Lea tanpa keterangan apapun selama tiga hari ini membuat beberapa teman kelasnya mendekati Icha untuk menanyakan kabar Lea, karna fikir mereka Icha pasti tahu karna Icha dan Lea adalah sahabat.


"Cha." tegur Gita duduk dibangku depan Icha dan menghadap ke arah Icha yang tengah fokus menyalin tulisan dipapan, kebetulan guru mereka gak masuk dan hanya menitipkan catatan dan beberapa anak dikelas IPS 5 banyak yang kabur daripada dikelas.


Icha mendongak mendengar namanya dipanggil.


"Lea kok gak pernah masuk, sakit ya dia." Gita bertanya.


"Gue gak tahu." jawab Icha apa adanya karna beneran dia tidak tahu.


"Lha, masak lo gak tahu sieh." Nana menimpali, "Lo kan sahabatnya."


"Meskipun gue sahabatnya, gak semuanya gue harus tahukan." tandas Icha.


"Sloww donk, jangan ngegas gitu."


Icha tidak menghiraukan, dia kembali melanjutkan aktifitas menulisnya, dan kebetulan Laskar melewati bangku Icha karna bertepatan dengan itu bel istirahat juga sudah berbunyi, biasanya jika melewati bangku Icha, Laskar sudah pasti menyapa Icha, dan teman-teman kelas mereka pada gak buta, mereka dengan sangat terang dan jelas melihat beberapa hari belakangan ini Laskar dan Icha tidak pernah saling bertegur sapa, dan jelas mereka berfikir kalau hubungan Icha dan Laskar saat ini tengah dalam kondisi tidak baik, dan mumpung mereka masih mengintrogasi Icha tentang keadaan Lea, maka sekalian juga mereka menanyakan tentang hubungan Icha dan Laskar.


Dan Nana yang mewakili rasa penasaran teman-temannya mengajukan pertanyaan, "Cha, lo ada masalah sama Laskar."


Icha yang sudah risih sejak tadi dengan kehadiran teman-temannya yang kepo itu langsung menutup bukunya dengan gerakan kasar dan berkata, "Bukan urusan lo." tandasnya pedas dan setelah itu dia langsung pergi begitu saja meninggalkan kekesalan Nana.


"Ihhh, kamprett memang sik Icha, orang nanyaya baik-baik jawabnya jutek gitu."


"Udahlah, lagian Icha benar, entah itu hubungannya tengah bermasalah atau tidak itu memang bukan urusan kita." lirih Gita.


***


Hari ini adalah kepulangan Aslan ke Jakarta setelah satu minggu mengikuti olimpiade tingkat nasional di Malang, tadi malam Aslan menghubungi Icha hanya untuk memberitahukan kabar kepulangannya besok pagi, dan tentunya berita tersebut membuat Icha bahagia, setidaknya dengan kehadiran Aslan membuat Icha berfikir dia tidak akan merasa sedih lagi.


Mario dan Gibranlah yang bertugas menjemput adik mereka dibandara, sedangkan mama Dina dan papa Ridho dan Icha menunggu dirumah. Bisa dibilang saat ini Gibran sudah tidak marah lagi dengan Aslan, dia sudah ikhlas menerima kenyataan, tapi disaat dia sudah mengikhlaskan Lea untuk adiknya, eh malah mereka putus begitu saja, hal itu diketahui Gibran karna beberapa hari ini Lea menjadikannya teman curhat atas masalah percintaannya, entah Gibran harus senang atau sedih, tapi yang jelas rasanya senangnya lebih besar karna dia punya kesempatan untuk mendapatkan Lea kembali.


Sepanjang perjalanan tiga saudara itu ngobrol tentang banyak hal.


"Lo udah gak marah lagi sama gue." tanya Aslan pada Gibran begitu mobil melaju meninggalkan bandara, tadi dia sempat kaget melihat kakak keduanya itu ikut menjemputnya, karna berminggu-minggu belakangan ini Gibran selalu memasang wajah permusuhan padanya.


Jawab Gibran, "Lo fikir gue sebegitu pendendamnya sampai marah berminggu-minggu, lagian marah itu dosa, lagian dosa gue udah banyak, gak mau donk gue numpuk dosa terus." dan sikapnyapun sudah kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


"Ehh, bisa juga otak lo yang dangkal itu mikirin dosa." ledek Aslan.


"Bisa gak lo kalau ngomong tuh difilter dulu."


"Gak bisa, mau apa lo."


"Ishhh, dasar adik laknut."


Kalau udah baikan seperti ini kembali deh sikap mereka kayak Tom and Jerry.


Mario yang fokus nyetir sejak tadi nimbrung, penasaran dia dengan pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Aslan, "Tunggu deh, kalian marahan, maksudnya tuh apa."


Aslan yang menjelaskan, "Ini lho kak, adik lo satu ini marah sama gue karna gue jadian sama Lea."


"Kenapa lo marah." tanya Mario pada Gibran.


Gibran akan menjawab, tapi didahului oleh Aslan, "Karna apalagi, karna cintanya bertepuk sebelah tanganlah."


"Maksudnya." Mario tidak mengerti.


"Haduhh, dasar jomblo akut, gitu aja gak ngerti."


"Gini lho kakak, sik kunyuk ini suka sama Lea, tapi Leanya sukanya sama gue, sampai sini pahamkan kak."


"Ohhh gitu tho ceritanya." Mario mengangguk paham, "Lagian lo nyuk, kayak gak ada wanita lain saja, banyak tuh wanita cantik diluar sana, tinggal lo pilih, kenapa hanya gara-gara cewek lo sampai musuhin Aslan."


"Akhh, udahlah lo diem kalau gak tahu apa-apa." ketus Gibran.


"Dihh sensi amet lo, PMS lo."


"Ngaco."


"Kak, selama gue di Malang, apa Icha baik-baik saja." Aslan mengganti topik.


Setelah kepulangan Icha dari Malang, Aslan memang tidak pernah menghubungi Icha, ya kecuali tadi malam, alasannya masih tetap sama, takut langsung balik jika dia mendengar suara Icha.


"Kayaknya tuh anak tidak kelihatan baik deh, dia lebih banyak diem dan murung." jelas Mario, beberapa hari ini Icha lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah keluarga Wijaya sehingga tidak heran Mario tahu tentang perubahan sikap Icha.


"Apa lo sama dia ada masalah."

__ADS_1


Aslan menyandarkan punggungnya dikursi, memijat keningnya sebelum Aslan kemudian menceritakan apa yang terjadi antara dirinya, Icha dan Lea.


"Kisah cinta yang sangat rumit." komen Mario begitu adiknya selesai bercerita.


"Menurut lo, apa yang gue lakuin sama Lea salah gak."


"Jelaslah lo salah." sambar Gibran.


"Gue gak minta pendapat lo."


"Tapi gue mau ngasih tahu lo kalau lo salah." ngotot Gibran.


Mario membenarkan ucapan Gibran, "Dilihat dari kacamata manapun itu jelas salah, meskipun lo berdua mengatasnamakan cinta, tapi disini ada dua orang yang kalian sakiti."


"Gue juga merasa bersalah sama Lea dan Laskar, tapi mau bagaimana lagi, gue gak suka sama Lea dan Icha juga begitu, Icha baru menyadari perasaanya kalau dia tidak pernah mencintai Laskar."


"Itulah salahnya kalian berdua, mengambil keputusan tanpa berfikir, dan pada akhirnya kalian malah menghancurkan hati orang yang bener-bener tulus mencintai kalian."


"Ya mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur, gue hanya berharap kalau Lea dan Laskar bisa memaafkan kami suatu saat nanti."


Mario hanya menepuk bahu adiknya untuk memberi kekuatan.


"Untungnya lo adik gue, kalau bukan, lo udah gue bikin babak belur karna berani menyakiti Lea." Gibran menimpali.


"Elahh pakai sok sok an segala, bilang aja lo seneng gue putus dengan Lea, lo jadi punya kesempatan deketin Lea, benerkan." tembak Aslan telak.


Gibran diam tidak menanggapi, dia membenarkan kalimat Aslan, meskipun dia sakit melihat Lea disakitin, tapi toh dia selalu ada untuk menghibur Lea dan paling penting dia punya kesempatan untuk mendapatkan hati Lea kembali.


Tiga puluh menit kemudian mobil Mario sudah tiba dirumah, mendengar suara mobil, semua anggota keluarga Aslan keluar menyambut sik bungsu, termasuk juga Icha yang sejak tadi berada dikediaman keluarga Wijaya untuk menunggu kedatangan Aslan.


Laskar disambut oleh keluarganya dengan haru meskipun team olimpiade sain SMA PERTIWI gagal menyabet juara pertama dan hanya menempati posisi kedua, namun hal tersebut sudah cukup membuat keluarga Aslan bangga.


Mama Dina menyongsong kedatangan anaknya bungsunya tersebut begitu melihat Aslan keluar dari bangku penumpang dibelakang.


"Anak mama, kebanggan mama." memeluk Aslan dengan bangga.


"Cuma juara dua ma, gak juara satu."


"Itu sudah lebih dari cukup membuat mama dan papa bangga."

__ADS_1


****


__ADS_2