Cinderela Modern

Cinderela Modern
SAKIT HATI


__ADS_3

"Cha, lo gak cemburu tuh Laskar nganterin Diana." Lea membuka obrolan saat mereka kini tengah berbaring cantik ditempat tidur empuk Lea sambil maskeran, karna masker mereka masih belum kering jadinya cukup memudahkan mereka untuk ngobrol.


Icha sieh sebenarnya malas maskeran, tapi dia dipaksa, ya udah deh akhirnya dia manut aja saat Lea mengolesi masker berwarna hijau diwajahnya, "Ngapain gue cemburu, kan gue yang nyuruh Laskar nganterin Diana."


"Itu mantannya lho Cha, cantik lagi." Lea menekan kata mantan dan cantik.


"Terus kenapa kalau Diana mantannya Laskar dan terus kenapa juga kalau dia cantik."


"Lo beneran cinta gak sama Laskar."


"Kenapa lo bertanya begitu."


"Ya habisnya elo, sikap lo kayak orang yang gak cinta gitu."


"Apa sieh maksud lo."


"Gini lho Icha sayangku, sebagai seorang cewek, tentunya kita gak rela kalau pacar kita nganterin cewek lain, apalagi cewek itu adalah mantannya, gadis yang pernah dia cintai dan disayangi sepenuh hati dimasa lalu, tentu akan timbul rasa takut kalau pacar kita akan kembali menaruh rasa sama mantannya, apalagi kalau sang mantan itu cantik." Lea menjelaskan supaya Icha paham.


"Gue sieh biasa aja, gak berfikir sejauh itu." jawab Lea santai.


"Tuhkan, sikap cuek lo ini semakin membuat gue yakin kalau lo beneran gak jatuh cinta sama Laskar."


Icha menjawab dalam hati, "Emang gue gak jatuh cinta sama Laskar Le, tapi gue jatuh cinta sama pacar lo." yang dilisankan adalah, "Ya gue cintalah, hanya sajakan gue gak selebay lo yang cemburuan, yang dikit-dikit gak boleh ini gak boleh itu, guekan bukan tipe pengekang Le, ntar takutnya kalau dikekang malah kabur lagi." ujarnya bohong, padahalkan kalau lihat Lea ngobrol sama Aslan hatinya jadi panas membara kayak tungku.


"Ya lo ada benarnya juga sieh, kita gak boleh ngekang, tapi kalau buat gue sieh, kalau cowok gue deket-deket mantan adalah sebuah hal yang gak bisa gue tolerir." tukas Lea.


"Ya tiap orangkan beda-beda Le, kalau gue sieh selama hatinya tetap ke gue, gue gak peduli kalau cowok gue deket mantannya selama itu masih dalam batas yang wajar."


Sesi obrolan itu dihentikan karna masker mereka sudah mengeras, kalau dipaksakan untuk ngobrol bisa retak-retak tuh masker.


Disaat hening begitu, suara dering ponsel Lea memecah keheningan.


"Siapa sieh, ganggu aja, gak tahu gue tengah melakukan ritual sakral apa." gerutu Lea meraih ponsel yang diletakkan diatas kepalanya.


"Hahh." mata Lea melebar, karna kaget masker diwajahnya retak dengan sempurna begitu melihat siapa yang melakukan panggilan vidio.


"Siapa Le." Icha bertanya melihat raut kaget diwajah Lea.


"Aslann."


"Aslann." gumam Icha tanpa suara.

__ADS_1


"Aslan ngehubungin Lea, tapi dia gak pernah ngehubungin meskipun hanya sekedar pesan doank, malah panggilan dan pesan-pesan yang gue kirim dicuekin sama dia." Icha merutuk dalam hati.


Karna gak mau Aslan menunggu terlalu lama, Lea lebih memilih menjawab panggilan Laskar ketimbang cuci muka, alhsil begitu sambungan vido terhubung, Aslan terlonjak kaget melihat wajah berwarna hijau yang terpampang dilayar ponsel.


"Astagfirullah." Aslan mengelus dadanya.


"Lan, ini aku Lea, ini aku lagi maskeran."


"Aku fikir kamu berubah jadi hulk tadi, hijau-hijau."


Lea terkekeh, "Aslan, bentar ya, aku mau cuci muka dulu, jangan dimatiin kayak kemarin."


"Iya."


Lea langsung ngacir ke kamar mandi guna cuci muka.


"Kemarin juga Aslan ngehubungin Lea, kenapa aku gak pernah dihubungin selama tiga hari ini, ihh menyebalkan banget deh tuh cowok, gak adil, berat sebelah." Icha terus merutuk.


Gak lama, Lea kembali dari kamar mandi dengan wajah cerah pengaruh masker yang tadi dipakai.


"Aslan, aku udah selesai nieh." lapornya, "Gimana muka aku, bersinar gak."


Diseberang, Aslan pura-pura menutup matanya dan menggoda Lea, "Duhh duh, silau gue Le, besok-besok kalau gue vc lagi sama lo gue bakalan pakai kaca mata hitam."


Sedangkan Icha yang hanya jadi pendengar setia terus merengut dengan hati yang panas membara, "Ihhh mesra banget sieh mereka, gue berasa kayak nyamuk aja gak dipeduliin."


Baru saja Icha mengucapkan kalimat tersebut meskipun hanya dalam hati, Lea kembali berkata, "Lan, aku sama Icha lho dikamar."


"Icha."


"Iya, Icha lagi main ke rumah aku, apa kamu mau ngomong."


"Akhh bagus juga Lea mengerti." batin Icha, "Gue memang mau ngomong, tepatnya sieh ingin ngomel kenapa dia tidak menghubungi gue."


Sayangnya harapan Icha harus terkubur karna Aslan langsung menolak untuk bicara dengannya, "Gak deh, sampaiin salam saja sama dia."


Icha bisa mendengarnya dan hal tersebut membuatnya ingin mencak-mencak tapi ditahannya.


Mendengar ucapan kekasihnya Lea malah tertawa, "Sorry Cha, pacar gue gak mau ngomong sama lo, dia ingin melepas kangen hanya sama gue seorang." canda Lea.


Diluar kemauannya, mendengar kalimat Aslan barusan membuat Icha sedih dan pelupuk matanya sudah membentuk bendungan, karna Icha gak mau Lea melihat air matanya yang sebentar lagi meluncur mulus bak air terjun, Icha buru-buru pamit ke kamar mandi.

__ADS_1


"Gue ke kamar mandi dulu Le."


Begitu masuk didalam kamar mandi, Icha langsung mengunci pintu, air matanya kini meluncur tanpa bisa ditahan membuat maskernya ikutan meleleh, inilah definisi jatuh cinta yang sesungguhnya, sakit ketika melihat laki-laki yang kita cinta menolak bicara dengan kita dan malah ngobrol dengan wanita lain.


Supaya isakannya tidak terdengar Icha menyalakan keran.


Icha memegang dadanya yang terasa nyeri, "Akhh kenapa sesakit ini sieh rasanya."


"Aslann, apa yang terjadi, kenapa kamu tidak menghubungiku tapi malah sering menghubungi Lea, apa kamu mulai sadar kalau wanita yang kamu cintai adalah Lea bukan aku." Icha merintih, dia merosot duduk di dinginnya lantai kamar mandi.


Sementara itu diluar, Lea yang sudah selesai ngobrol dengan Aslan heran karna Icha belum kunjung keluar dari kamar mandi, "Icha kok lama sieh, apa yang dia lakukan didalam." Lea bertanya-tanya, sampai dia memutuskan untuk memastikan sendiri dengan mengetuk pintu kamar mandi, "Cha, Ichaa, kok lo lama amet didalam, lo baik-baik sajakan."


"Chaa, jawab donk, jangan bikin gue khawatir."


"Iya Le, gue baik-baik saja, bentar lagi gue keluar."


"Akhhh syukurlah, gue fikir lo menengglamkan diri dibathub." Lea terlihat lega.


Sebelum keluar, Icha membasuh wajahnya terlebih dahulu, bisa berabe kalau Lea melihat matanya yang sembab. Ketika keluar, Icha menunduk berjalan ke arah tempat tidur, meskipun sudah cuci muka, tetap saja masih ada sisa sembab dimatanya, untungnya Lea asyik dengan ponselnya jadi tidak memperhatikan Icha.


Icha meraih tasnya dan menyampirkannya dipunggung, "Gue balik Le."


"Ehhh." Lea yang tadi fokus dengan ponselnya mendongak, "Lo udah mau balik."


"Iya." masih tidak mau melihat Lea.


"Kok gitu sieh, padahalkan lo belum lama disini." protes Lea gak terima Icha pulang.


"Gue lupa, mama rubah nyuruh gue pulang cepat, katanya mau nyuruh gue bersihin gudang." bohong Icha supaya Lea membiarkannya pulang tanpa syarat.


"Memang jahat deh rubah itu, kerjaannya nyiksa lo mulu." geram Icha.


"Ya udah deh Le, gue balik kalau gitu, ntar gue bisa dimarahin kalau kelamaan."


"Tunggu." tahan Lea saat Icha melangkah.


Lea mendekati Icha, "Gue anter sampai luar, biar sik Ucup yang nganterin lo pulang biar cepat sampai."


Karna ingin melanjutkan sesi menangis jilid dua, tentunya Icha menolak tawaran Lea, "Gue naik taksi aja."


"Mana bisa begitu, lo harus dianterin Ucup titik." valid Lea gak bisa dibantah.

__ADS_1


****


__ADS_2