Cinderela Modern

Cinderela Modern
HARAPAN MAMA LEA


__ADS_3

Mama Lea melanjutkan kalimatnya, "Anak itu, kalau suasana hatinya buruk selalu berkutat didapur, bikin kue sebanyak yang dia bisa." mama Lea curhat, "Katanya kalau dia bikin kue suasana hatinya jadi membaik."


Aslan hanya diam mendengarkan tidak tahu harus menanggapi bagaimana.


"Nak Aslan." suara mama Lea lembut, "Apa saat ini kalian tengah ada masalah."


"Sejujurnya gak tante, saya gak tahu kenapa Lea tiba-tiba acuh, padahal sebelumnya kami baik-baik saja." jawab Aslan jujur.


Mama Lea mangut-mangut mendengar penjelasan Aslan, "Nak Aslan, yang sabar ya dengan Lea, anak itu lembut dan perasa, jadi gampang baperan kalau ada kata-kata yang menyinggung perasaanya."


"Iya tante." jawab Aslan.


"Lea sangat mencintai nak Aslan, dia sering cerita sama tante."


Aslan kembali diam, tidak berusaha untuk menanggapi.


Sedangkan mama Lea melanjutkan kalimatnya, "Tahu tidak, Lea sudah suka sama nak Aslan sejak mos lho."


"Ehhh." respon Aslan gak menyangka, pasalnya selama ini Lea tidak pernah menunjukkan rasa suka terhadapnya seperti gadis-gadis disekolahnya yang sering mengejarnya, gadis itu lebih cendrung menghindarinya, dan tidak pernah menatapnya kalau sedang bicara, ya wajarlah, Leakan suka grogi parah jika berhadapan dengannya.


"Makanya tante sangat bahagia ketika mendengar kalau kalian jadian, tante harap, nak Aslan juga mencintai Lea sebesar Lea mencintai nak Aslan, dan tante harap nak Aslan selalu menjaga dan melindungi Lea dan jangan sampai membuatnya menangis, buatlah dia bahagia." itu adalah harapan yang wajar yang diinginkan seorang ibu untuk putri kesayanganya.


Aslan hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa, dia tidak bisa menjanjikan hal tersebut mengingat fokus utamanya dalam beberapa tahun kedepan adalah belajar dan belajar demi masa depan.


Karna Aslan tidak menanggapi ucapannya, mama Lea berkata, "Saya harap, nak Aslan tidak terbebani dengan permintaan tante."


Akhirnya Aslan berkata, "Iya tante, saya akan berusaha membuat Lea bahagia dan tidak akan membuatnya menangis." lisannya, dalam hati dia meragukan kata-katanya barusan, "Apa gue bisa membuat Lea bahagia."


"Syukurlah, tante senang mendengarnya."


Bertepatan dengan itu Lea datang setelah tadi dipanggil oleh bi Marni.


"Nahh itu Leanya datang." beritahu mama Lea.


Aslan langsung berbalik karna kebetulan dia duduk membelakangi arah datangnya Lea.


"Aslan." gumam Lea terkejut karna dia tidak menyangka kalau yang datang mencarinya adalah Aslan.


Aslan tersenyum, "Hai Le." sapanya.


Sumpah Lea malu banget, apalagi penampilanya bisa dibilang berantakan, hanya mengenakan celana pendek dan kaos kebesaran, ditambah lagi dia tidak mandi tadi sore karna galau, Lea yakin wajahnya saat ini kusam dan berminyak, belum lagi rambutnya acak-acakan karna gak disisir, Lea jadi bergidik ngeri membayangkan penampilannya.


"Sik Aslan ihh, kenapa gak ngabarin dulu kalau mau datang, njirrr, malah penampilan gue kayak gembel begini lagi, bisa ilfil dia sama gue." batin Lea, "Malah dia mandangnya gitu banget lagi, pasti dihatinya bilang gue jelek." Lea jadi suudzonkan karna Aslan terus memandangnya.


"Astagaa putri mama, kenapa penampilannya kucel begini sieh." mama Lea langsung komen begitu melihat penampilan putrinya jauh dari kata layak, "Malu tahu sama nak Aslan yang penampilannya rapi begini."


"Habisnya Aslan gak ngasih tahu ma mau datang kemari, Leakan gak punya waktu untuk dandan."


"Lo gak perlu dandan kok Le, gitu aja lo udah cantik." sahut Aslan, entah dia benar memuji atau hanya basa-basi doank, hanya Aslan dan Allah yang tahu.


Lea jadi malu mendengar pujian Aslan, "Akhh, kamu bisa aja Lan."


"Memang ya kalau udah cinta, penampilan kucel begini masih saja dibilang cantik." mama Lea menimpali, "Ternyata pepatah yang mengatakan kalau cinta itu buta benar adanya." sambung mama Lea menggoda putrinya.


"Ihhh mama." Lea jadi bertambah malu mendengar kata-kata sang mama yang menggodanya.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, kalian lanjutkan ngobrolnya, mama tinggal dulu." sadar dirinya jadi pengganggu, mama Lea pamit undur diri meninggalkan Lea dan Aslan agar lebih leluasa untuk ngobrol berdua.


Namun sebelum lebih jauh melangkah, mama Lea kembali berbalik dan berpesan, "Tapi ingat ya anak-anak, inget batasan, cuma ngobrol saja gak lebih, jangan kebablasan, takutnya berbuah sebelum masanya." cletuknya bercanda.


"Apa sieh ma ahh." Lea jadi malu.


"Iya tan, jangan khawatir, saya gak mungkin macam-macam sama Lea, saya tahu batasan kok tan." timpal Aslan.


"Tante tahu, nak Aslan orangnya baik dan bertanggung jawab." mama Lea tersenyum, setelah itu mama Lea benar-benar pergi.


"Maaf ya Lan, mama suka ceplas ceplos gitu." ujar Lea merasa gak enak.


"Santai aja Le."


"Duduk Lan." ujar Lea begitu mamanya telah menghilang.


Aslan duduk, Lea juga ikut duduk, mereka duduk berdekatan, iyalah namanya juga pacar, duduknya dekat-dekatan, meskipun begitu mereka berdua terlihat canggung, untuk beberapa saat mereka hanya diam tidak ada yang berinisiatif memulai obrolan.


Entahlah, Lea yang sejak tadi siang kesal sama Aslan, tiba-tiba saja semua kekesalannya menguar begitu Aslan datang kerumahnya, namun tetap saja dia tidak mendapatkan kata-kata yang cocok untuk memulai obrolan.


"Ekhhemm." Aslan mencoba memecah keheningan yang tercipta.


"Minum Lan kalau tenggorokan kamu serat." komen Lea melirik Aslan.


"Ngomong juga ternyata, gue fikir lo bakalan tetap jadi patung."


"Apa sieh, gak lucu tahu gak." ketus Lea.


Aslan terkekeh, "Masih marah nieh."


"Ya lo."


"Gak, aku gak marah."


"Kalau gak marah, kenapa sejak tadi siang wajahnya kayak asem jawa begitu coba."


"Ihh jahat deh, wajah manis kayak gula begini disamain dengan asam jawa." Lea cembrut.


"Nahh tuhkan, bibirnya cembrut, jelek tahu." goda Aslan.


"Aslann, nyebelin banget sieh kamu." rengek Lea.


Aslan tertawa.


"Ihhh Aslann, malah ketawa lagi, memang ada yang lucu apa."


"Ya kamu yang lucu."


"Apanya yang lucu." tuntut Lea.


"Gak ada angin gak ada hujan, marah-marah gak jelas, ditelpon gak mau diangkat, dichat gak dibalas."


"Habisnya kamu menyebalkan sieh."


"Tapi lo cinta matikan sama cowok menyebalkan ini."

__ADS_1


"Gak."


"Beneran gak cinta."


"Iya."


"Ya udah kalau gitu gue pulang." Aslan pura-pura berdiri.


Lea langsung narik tangan Aslan, gak rela membiarkan Aslan pulang, "Ihhh Aslann, kok pulang sieh, kangen tahu." rengek Lea manja.


Tarikan Lea membuat Aslan kembali duduk.


"Kangen juga ternyata, gue fikir pas gue datang bakalan diusir." goda Aslan.


"Ya gaklah, akukan cinta sama kamu, tapi gak cinta mati juga." jawab Lea jujur, "Makanya aku gak bisa marah-marah lama sama kamu, takutnya nanti kamu diembat sama cewek lain."


"Syukurlah lo cepat sadar, karna udah banyak lho yang ingin daftar jadi pacar gue, tapi berhubung lo masih berstatus sebagai pacar gue, gue tolak tuh." canda Aslan menggoda Lea, "Tapi kalau lo masih ngambek juga, kayaknya gue pertimbangin untuk nerima salah satu dari mereka deh."


"Kok gitu sieh, jahat." Lea manyun.


"Makanya." Aslan mencubit pipi Lea, "Jangan ngambek lagi donk, ntar gue diembat benaran, lo nangis kejer lagi."


Mata Lea berkaca-kaca, gak lama buliran cairan bening meluncur ke pipinya.


"Lhaa, kok malah nangis." heran Aslan, diakan tadi cuma bercanda doank, gak dia sangka Lea bakalan nangis begini, "Gue cuma bercanda kok, jangan nangis donk."


Lea menubruk tubuh Aslan dan memeluknya erat, "Bercandanya gak lucu."


"Iya maaf."


"Jangan ngelirik cewek lain, apalagi berniat selingkuh."


Aslan terkekeh, tangannya mengelus rambut Lea, "Iya, tidak akan."


"Janji."


"Janji."


"Awas kalau bohong."


"Iya, satu aja bikin repot, apalagi kalau dua."


Lea mengurai pelukannya, "Jadi aku ngerepotin ya."


"Gak donkk, makanya jangan nagis lagi sayang."


Lea jadi deg-degan plus melonjak bahagia mendengar Aslan yang memanggilnya sayang, hatinya berbunga-bunga.


****


"Udah jam 09. 10, tapi kok Aslan belum balik ya."


Icha masih berada dirumah Aslan menunggu kepulangan Aslan.


Tadi sieh mama Dina dan papa Ridho menemaninya sambil ngobrol banyak hal, namun karna besok mereka harus menjalani rutinitas yang padat, akhirnya mereka undur diri untuk istirahat meninggalkan Icha sendiri, sejak tadi Icha melirik ponselnya yang tergeletak disampingnya, harapannya Aslan ngasih kabar, tapi harapannya tidak terwujud, jangankan nelpon, pesan singkat saja tidak ada, Icha ingin nelpon sieh, tapi Icha takutnya mengnggagu, makanya niatnya itu diurungkan, Icha hanya berharap kalau Aslan berhasil membujuk Lea agar tidak marah lagi.

__ADS_1


****


__ADS_2