Cinderela Modern

Cinderela Modern
RUMAH LASKAR


__ADS_3

Icha lega, ternyata apa yang difikirkannya jauh dari bayangan, dan ternyata juga keluarga Laskar tidak seperti yang dia fikirkan, kedua orang tua Laskar baik dan ramah padanya, tadi Icha berfikir kedua orang tua Laskar, lebih-lebih lagi mamanya Laskar tidak mau menerimanya, tahunya eh, mama Bella sangat mendukung mereka, buktinya mama Bella memonopoli Icha, dengan antusiasnya mengajak Icha mengelilingi rumah besarnya.


"Ma, jangan cerita yang aneh-aneh." tegur Laskar ketika mamanya mengajak Icha melihat seisi rumah, sedangkan Laskar pamit sebentar untuk membersihkan diri.


"Iyaa sayang, kamu bisa percaya sama mama, mama gak bakalan ngumbar aib kamu sama Icha." janji mama Bella, namun perkataannya dengan ekspresinya tidak sinkron sama sekali, mama Bella terkikik.


"Bisa dipercaya katanya, diakan suka gak bisa ngontrol bibirnya kalau udah kebuka, awas saja kalau mama cerita macam-macam." gumam Laskar menaiki tangga menuju kamarnya yang berada dilantai dua.


Sedangkan mama Bella dan Icha memulai ekspedisi menjelajahnya.


"Rambut kamu bagus sekali Cha, tante suka." komen mama Bella.


Icha langsung memegang rambut kritingnya yang diikat kucir kuda, bukannya bangga dipuji, dia malah merasa kalau mama Bella tengah meledeknya, pasalnya, rambut kritingnya yang jarang dikeramas masak dibilang bagus, fikir Icha tentu saja mama Bella tidak bener-bener memujinya, kalimat pujian tersebut hanya sebuah basa-basi, meskipun begitu Icha tetap tersenyum untuk menghargai pujian tersebut, meskipun dengan senyum canggung di berkata, "Makasih tante."


"Kamu beruntung punya rambut keriting alami, tante jadi iri, kamu tidak perlu keluar banyak duit untuk mengkriting rambut ke salon seperti yang sering tante lakukan."


"Ah tante, rambut tante hitam berkilau dan lurus bak iklan shampo begini masak iya iri dengan rambut Icha yang seperti mi sedap goreng begini."


"Hahaha." Mama Bella langsung ngakak mendengar ucapan Icha, "Mi sedap goreng." mengulangi kalimat Icha yang membuatnya sampai ngakak, "Ada ada saja kamu ini Cha, tapi manusia memang begitu, tidak pernah bersyukur dengan apa yang dimilikinya."


Obrolan dua perempuan berbeda generasi itu berhenti didepan sebuah pintu berwarna coklat.


Mama Bella menarik grendel pintu dan mendorongnya, setelah pintu terbuka sempurna dan mempersilahkan Icha masuk, mama Bella menjelaskan, "Ini adalah perpustakaan keluarga, kami memiliki banyak koleksi buku disini."


Icha memandang buku-buku tebal yang dipajang dirak buku, membelainya, hanya sekedar itu sieh yang dia lakukan mengingat dia tidak suka membaca, jangankan membaca, melihat ketebalannya saja sudah membuat kepala Icha pening.


"Apa semua keluarga tante suka membaca." Icha bertanya begitu mengingat banyaknya koleksi buku yang ada diperpustakaan keluarga tersebut.


Mendengar pertanyaan Icha, mama Bella terkekeh, dia menjelaskan, "Tentu saja tidak, hanya mas Abi papanya Laskar yang hobi baca, makanya tidak heran mas Abi pintar dan dengan kepintarannya akibat bergaul dengan buku tiap hari dia menjadi pengusaha sukses seperti ini."


"Hanya om Abi, tante gak."


Mama Bella melanjutkan, "Otak tante adalah tipe otak pas-pasan yang gak bisa diajak berfikir terlalu keras, jadi gak bisa nyerap apa yang ada dibuku, tante suka pusing melihat banyaknya huruf-huruf dalam satu lembar, makanya tidak heran tante agak bodoh, dan yang bikin kecewa ternyata Laskar nurutin gen mamanya, coba kalau dia kayak papanya, dia pasti pinter."


"Kita sama tan, Icha juga gak suka baca, suka pusing, tapi tan, tidak bisa dalam bidang akademis bukan berarti kita bodoh." mencoba bijak.


"Kamu benar, tante memang tidak pintar akademis, tante sukanya bidang fashion gitu, sehingga gak heran tante jadi fashion desaigner."

__ADS_1


"Kalau kamu, kamu sukanya apa." mama Bella balik nanya.


"Tauran tante." Icha keceplosan, dia buru-buru meralat kalimatnya begitu sadar kalau dirinya salah ngomong, bukan salah ngomong sebenarnya, tapi salah memberikan jawaban, mengingat jawaban yang diberikan barusan sudah pasti dia akan langsung dicap berandalan, memang berandalan sieh sebenarnya, "Maksud Icha tan, Icha sukanya olahraga bela diri gitu, disekolah Icha masuk eskul taekowndo."


"Kamu bisa bela diri." mama Bella takjub.


"Iya tan." jawabnya lisan, dalam hati berkata, "Untung gak dimempermasalahkan kata gue pertama tadi."


"Wahh, kamu keren sekali, mirip wonder women."


"Gak gitu juga kali tan." lisan Icha, sedangkan dalam hati berkata, "Apa gebukin musuh dikategorikan sebagai wonder women."


"Laskar juga suka banget olahraga bela diri, sampai papanya datangin guru khusus untuk melatihnya."


"Oh ya."


Mama Bella mengangguk, "Tante gak pernah nyangka dia akan tumbuh menjadi anak yang tampan dan kuat, mengingat ketika masih kecil dulu dia termasuk anak yang lemah dan sering dibully oleh teman-temannya." ada rasa sedih yang tergurat di wajah mama Bella menceritakan masa lalu anaknya.


Icha sendiri gak pernah menyangka, Laskar yang ganas dalam pertempuran ternyata dulunya adalah anak yang lemah.


"Tapi itu dulu, sekarang putra tante telah berubah menjadi anak laki-laki yang kuat dan pandai bela diri, jadi orang akan berfikir dua kali kalau mau mengganggunya, dia adalah kebanggaan kami." mama Bella kembali ceria.


"Wowww." kata yang keluar begitu Icha dibawa masuk ke ruangan gym yang lengkap dengan perlengkapan gymnya, tentu saja kata wow mempersentasikan kalau kekaguman Icha.


"Ruang gym pribadi." gumam Icha mengedarkan matanya ke seluruh ruangan.


"Laskar, selain suka bela diri." mama Bella mulai menjelaskan, "Anak itu sangat suka olahraga, makanya papanya membuatkannya sebuah ruangan khusus supaya dia tidak perlu ke tempat gym lagi."


"Tidak heran sieh tan, tubuh Laskar atletis begitu." puji Icha, "Tan, bolehkan kapan-kapan Icha ngegym disini."


"Tentunya boleh donk sayang, kamukan sudah menjadi bagian dari keluarga kami."


"Makasih tante."


Ketika mama Bella dan Icha sedang asyik ngobrol, Laskar datang mengintrupsi, "Chaa, udah sore banget ini, aku antar balik ya."


Icha melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya yang menunjukkan angka 06.40, "Astagaa, sudah jam segini." menepuk keningnya, biasanya kalau dia pulang super telat begini pasti bakalan kena marah.

__ADS_1


"Tan, Icha pamit pulang ya."


"Kamu sudah mau pulang." mama Bella terlihat tidak rela melepas kepergian Icha, "Makan malam disini saja Cha, tante udah nyuruh para pelayan nyiapin makan malam istimewa."


"Gimana ya tan, lain kali saja ya, nanti Icha kena marah sama orang rumah." sembari mencium punggung tangan kanan mama Bella.


"Tapi janji ya, kamu harus sering-sering kemari main."


"Iya tante." dengan janji itu mama Bella akhirnya melepaskan kepergian Icha.


****


"Sudah lo balik aja ya." ujar Icha begitu tiba didepan rumahnya.


"Nasibbb." Laskar terlihat nelangsa, "Jadi teman gak diizinin mampir, jadi pacar juga sama aja, gak diizinin mampir."


"Kapan-kapan deh ya, ntar mama rubah marah, lagian juga bentar lagi magrib."


"Aku gak mau dikenalin gitu sama keluarga kamu."


"Kan lo udah kenal, Lola dan Loli, bukannya kita sekelas, lagian juga lo kenal mama tiri gue jugakan, lokan pernah beliin dia tas."


"Iya, tapi maksud gue, kenalin secara resmi Cha, sebagai calon mantu tiri mama rubah."


"Duhhh, gak perlu, lagian dia cuma mama tiri jahat, jadi gue gak mau ngenalin pacar gue ke dia."


"Terserah lo deh." Laskar kayaknya ngambek nieh.


"Astagaaa, lo ngambek."


"Ya gaklah."


"Kalau lo sebegitu ngebetnya ingin gue kenalin, ya udah deh kalau gitu."


"Beneran."


"Hmmm, tapi jangan salahin gue kalau lo kena piring melayang."

__ADS_1


"Gue siap nerima apapun."


*****


__ADS_2