Cinderela Modern

Cinderela Modern
DITABRAK MANTAN


__ADS_3

"Yakin udah gak apa-apa." tanya Aslan untuk keberapa kalinya untuk memastikan ketika Icha akan turun dari mobil begitu dia memarkir mobilnya.


"Iya Aslan, gue sudah sehal wal'afiat, lo tenang aja deh, bahkan kalau disuruh lari keliling lapangan seratuskalipun gue sanggup kok."


Icha membuka pintu mobil disusul oleh Aslan.


"Lo gak perlu digendongkan ke kelas." Aslan masih saja gak percaya kalau Icha sudah sehat total.


Icha mendengus kesal, "Iyaa Aslannnn." Icha gregetan, "Gue udah beneran sehat." sebagai bukti untuk menunjukkan kalau dia sudah sehat beneran Icha melompat-lompat, "Percayakan lo sekarang."


"Oke gue percaya kalau gitu."


Mereka berjalan beriringan menuju kelas.


"Cha, lo duluan deh, gue mau ketoilet dulu."


"Baiklah."


Dalam perjalanan menuju kelas, tiba-tiba sebuah tangan melingkari pundak Icha ketika dia berjalan dikoridor sekolah pagi itu, "Pagi Cha." sapa sebuah suara yang sudah akrab ditelinganya, suara itu adalah milik Lea, sahabatnya.


Ketika Icha memutar lehernya kearah Lea, senyum hangat menyambut matanya, senyum yang beberapa hari ini tidak pernah dilihatnya, "Kenapa lo, senyum-senyum gitu, kayaknya lo lagi bahagia banget ya."


"Jelas donk gue bahagia, kan sahabat gue udah sehat, gue jadi gak sendiri lagi duduknya."


"Hmmmm."


"Oh ya, Aslan mana, lo berangkat sama dia kan." Lea bertanya karna melihat Icha sendiri.


"Dia ke toilet." kasih tahu Icha.


"Ohhh, Aslan bener-bener baik ya Cha."


"Emang dia beneran baik sejak dulu kali."


"Maksud gue, dia perhatian banget gitu sama elo, dia dengan penuh perhatian ngurus lo ketika sakit, bahkan dia rela gak masuk hanya untuk ngerawat elo." ungkap Lea menjelaskan maksudnya, "Terkadang gue berfikir, Aslan suka sama elo." wajah Lea terlihat murung setelah mengucapkan kalimat tersebut.


"Percaya deh sama gue Le, Aslan ngelakuin hal itu bukan karna dia suka sama gue, tapi karna gue sahabatnya, lagipula kalau bukan dia siapa lagi coba yang ngurus gue, guekan anak yatim piatu, gak mungkin juga kan tiga rubah itu mau ngurusin gue." hibur Icha untuk mematahkan praduga Lea.


"Bener juga, kalau Aslan sebegitu perhatiannya sama lo sebagai sahabatnya, bagaimana nanti sama istrinyanya, dalam hal ini adalah gue, guekan calon istri masa depannya."


Icha terkekeh, "Jangan hanya sekedar mengkhayal Le, berusaha donk untuk dapatin dia."


"Iya, pokoknya mulai sekarang gue harus bisa dapetin Aslan." ujar Lea mantap.


"Nahh, itu baru oke."


Mereka tiba dikelas, dan seperti hari-hari sebelumnya, dibangkunya, Icha menemukan bunga dan satu kotak coklat disana.


Icha tidak bisa menyembunyikan senyumnya begitu melihat kedua benda tersebut, dia sudah terbiasa dengan kiriman misterius ini, bahkan dia yang tidak suka bunga, kini mulai menyukai bunga, Icha meraih kedua benda tersebut dengan penuh suka cita.


"Cha."

__ADS_1


"Apa." sahutnya tanpa melihat kearah Lea, fokusnya ada pada bunga dan coklat yang ada ditangannnya.


"Lo gak penasaran apa siapa yang ngirimin lo bunga dan coklat tiap hari, sepertinya tuh cowok suka beneran deh sama lo." gumam Lea.


"Jujur sieh, gue juga penasaran, tapi gue bisa apa, gak ada petunjuk sama sekali untuk mencari siapa pengirimnya."


"Lo gak punya dugaan gitu siapa yang ngirimin lo bunga dan coklat-coklat itu, siapa tahu temen sekelas kita."


"Gak, soalnya gak ada yang terlihat berusaha narik perhatian gue gitu."


"Lo kayaknya udah mulai suka deh sama pengagum rahasia lo itu." simpul Lea melihat raut ceria Icha.


Icha tersenyum tipis sebelum menjawab, "Gimana ya Le, awalnya gue gak peduli, gue fikir tuh cowok cuma iseng buat ngerjain gue, tapi ketika dia ngirim hadiah dan bunga dihari ulang tahun gue, gue ngerasa tuh cowok bener-bener serius dan beneran menyukai gue, kadang gue bertanya-tanya dalam hati, seperti apa sieh orang yang ngirimin gue bunga dan coklat."


"Apa tuh cowok jelek banget kali ya Cha sampai dia malu menampakkan diri didepan lo."


"Ihhh, jangan yang jelek juga donk, yang rada cakepan dikitlah biar enak dipandang."


"Wahh, gak gue sangka lo doyan cowok cakep juga, gue fikir lo gak bakalan terpengaruh juga, secara gitu lo dikelilingi oleh cowok-cowok cakep seperti Ari, Aslan dan Laskar."


"Merekakan beda Le, gue gak nafsu sama mereka karna mereka sahabat-sahabat gue, kami terbiasa bersama dan ngelakuin banyak hal bersama, jelas saja daya pikat mereka gak berlaku buat gue."


"Kalau seandainya nieh, salah satu dari sahabat lo itu suka sama lo gimana."


"Ya gak mungkinlah." jawab Icha cepat.


"Inikan seandainya Cha, seandainya." Lea menekankan kalimatnya.


"Anjirrr lo ya."


Dua gadis remaja itu terkekeh.


****


Begitu keluar dari toilet cowok, tubuh Aslan langsung ambruk kelantai karna ditabrak oleh seseorang, orang yang menabraknya juga terjatuh.


"Awww, sakittt." erang sik penabrak yang ternyata adalah Athena sang mantan, Athena memegang jidatnya karna terbentur dagu Aslan.


"Bisa gak sieh lo kalau jalan lihat-lihat." omel Athena mengibaskan roknya dari debu tanpa melihat orang yang dia omelin.


Aslan hanya diam tidak membalas, setelah dia dan Athena putus mereka tidak pernah berhadapan langsung seperti ini, ini untuk pertama kalinya dia berhadapan secara langsung dengan Athena, Athena langsung menghentikan ocehannya begitu melihat siapa yang dia tabrak.


"Aslannn." gumamnya tidak percaya.


"Hai Na." sapa Aslan biasa saja seolah Athena tidak pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.


Sedangkan Athena yang menyadari siapa yang dia tabrak menjadi gugup.


"Lama gak jumpa." ujar Athena.


Bukannya lama gak jumpa, maksudnya lama tidak berhadapan langsung dan ngobrol, karna tiap hari Athena selalu memandang Aslan dari jauh, dia selalu berharap kalau Aslan menyesal telah putus dengannya, tapi harapannya jauh dari kenyataan, karna sampai saat ini Aslan rupanya baik-baik saja tanpa dirinya.

__ADS_1


"Iya." jawab Aslan seadanya.


"Makin cakep dia sumpah, dan makin datar dan cuek juga." batin Athena melihat ekspresi Aslan yang biasa-biasa saja, tidak seperti dia yang gugup minta ampun, "Tapi, cueknya itu yang jadi daya tariknya."


"Sorry ya aku nabrak kamu."


"Gak apa-apa, gak sampi bikin gue masuk UGD juga kan." canda Aslan garing.


"Cie cie cie." terdengar godaan dari Nadin dan Kiara sahabat Athena yang datang menyusul Athena.


"Cieee yang ngobrol sama mantan terindah." Andin menggoda.


"Ekhemm ekhemm, pada baper nieh pasti." Kiara menimpali.


"Apa sih kalian berdua." Athena berdecak.


"Hai Aslan, gak lupa dengan kami juga kan." lirih Kiara.


Aslan hanya tersenyum tipis menanggapi candaan Kiara.


"Aku permisi dulu Na, bentar lagi masuk." pamit Aslan.


Athena mengangguk, dia sebenarnya ingin menahan Aslan, tapi apa adanya karna Aslan bukan lagi pacarnya.


Setelah Aslan menjauh, dia ngomel pada Andin dan Kiara, "Gara-gara kalian, Aslan jadi pergikan."


"Lho, kok gara-gara kami sieh." protes Andin.


"Ya iyalah, kalau kalian tidak datang kami mungkin bisa ngobrol lebih lama, dia langsung pergi ketika kalian datang, dia kan gak nyaman dengan kalian yang cerewet."


"Sorry deh, lain kali kami gak bakalan ganggu waktu sakral elo dengan mantan terindah elo." ujar Kiara.


Athena mendengus.


Dia melanjutkan perjalanannya menuju toilet cewek, diikuti oleh Andin dan Kiara, tadi saking kebeletnya dia berlari dan menabrak Aslan, bertemu Aslan ternyata membuat kebelet parahnya hilang seketika.


"Na, lo masih suka ya sama Aslan." tanya Andin.


"Menurut lo."


Jawab Andin, "Menurut gue lo masih suka, masih suka banget malah."


Kiaran menimpali, "Gue fikir setelah pacaran dengan Romeo lo bisa move on dari sik datar Aslan itu, tahunya lo masih mendam rasa aja."


"Apa sieh hebatnya dia Na, Romeokan lebih baik dari Aslan, perhatian, royal, dan pastinya gak pernah nyuekin elo." Andin membeberkan fakta.


"Tapi Aslan jauh lebih sopan dan sangat menghargai wanita, dia tidak pernah melecehkan gue, beda dengan sik Romeo jahanam itu, tiap detik yang dia omongin hanya tentang ciuman, belum lagi dia suka godain cewek, enek gue, kayaknya setelah ini gue bakalan minta putus sama dia." curhat Athena berapi-api.


Siapa yang tidak tahu kalau Romeo adalah playboy kelas kakap di SMA Pertiwi, entah mungkin rasa sakit hatinya terhadap Aslanlah yang membuat Athena mau pacaran dengannya.


****

__ADS_1


__ADS_2