Cinderela Modern

Cinderela Modern
Gosong.


__ADS_3

Tringggg.


Bunyi yang paling ditunggu-tunggu oleh mahluk bernama siswa sekolah, bunyi apalagi kalau bukan bunyi bel pulang, yang tadinya pada ngantuk tuh mata langsung on, yang tadinya pada loyo langsung aja tuh seger, sayuran kali seger.


Tiba diparkiran, biasa, Icha pulangnya sama Aslan, suara heboh menghentikan Icha yang membuka pintu mobil.


Terlihat oleh Icha dua saudara tirinya yang gak tahu malu mengekori Laskar menuju parkiran motor, tampaknya mereka mulai mengabaikan Aslan, dan sekarang mereka beralih ngejar-ngejar Laskar, gak bisa lihat yang bening dikit langsung mereka pepet.


"Laskar itu nganterin gue." suara Loli.


"Enak aja lo, gue kali yang bakalan dianterin." Lola gak mau kalah.


Meskipun cuma saudara tiri, dan Ichapun membenci mereka, tapi kok Icha ya yang malu dengan kalakuan mereka itu, Laskar juga terlihat sangat malu, karna gara-gara dua gadis ini dia jadi pusat perhatian, dia berjalan cepat-cepat ke arah parkiran berusaha menjauh dari gadis yang dari tadi membuntutinya.


"Laskar, Laskar." Loli mengejar Laskar, "Lo nganterin gue kan."


Lola juga menyusul, "Gue kan yang akan lo anterin, ya kan Laskar."


Laskar ingin bilang, "Gue gak bakalan nganterian siapa-siapa." tapi dia kayaknya begitu sangat baik untuk mengatakan hal itu.


Karna Laskar baik terhadapnya, Icha berniat menyelamatkan Laskar dari dua siluman rubah tersebut, "Tunggu sebentar Lan, gue mau urus sesuatu dulu." Icha melangkahkan kaki ke arah keributan.


"Lo mau kemana." teriak Aslan.


"Tuh." Icha menunjuk sumber kehebohan.


"Laskar, jadikan kita ke toko bukanya." ujarnya begitu sudah berada didekat Laskar.


Gak bisa apa Icha bikin alasan yang masuk akal dikit buat menyelamatkan Laskar, Lola dan Lolikan tahu Icha paling gak suka buka, Lola dan Loli juga tahu kalau saudara tirinya itu paling malas ke toko buku.


"Sejak kapan lo suka buka."


"Emang gue perlu ngasih tahu lo." jutek Icha.


"Jadikan Laskar." Icha memberi penekanan pada kalimatnya untuk membuat Laskar paham.


Sedangkan Laskar jelas lah gak ngerti maksud Icha awalnya, menanyakan jadi ke toko buku apa gak, padahalkan mereka gak janjian ke toko buku sama sekali, butuh beberapa detik sieh untuk membuat Laskar paham kalau Icha saat ini tengah berusaha menyelamatkan dirinya dari dua orang yang terus-terusan merengek minta diantar pulang.


"Oh, jadilah, masak gak jadi sieh, lagiankan banyak buku yang mau gue beli." respon Laskar begitu bisa menangkap maksud Icha.


"Kalau begitu, berangkat sekarang yuk."


"Loli, Lola, maaf ya, gue gak bisa nganterin lo, lain kali ya, soalnya gue ada janji sama Icha."


"Beneran ya lain kali."


"Iya." jawabnya, "Kalau gue inget." sambungnya dengan suara kecil.


Icha menaiki motor Laskar, duduk nyaman dan memegang pundak Aslan, sebelum pergi, dia melambaikan tangannya untuk meledek dua saudara tirinya tersebut yang jelas kesal banget dengan Icha.


"Dasar upil menyebalkan."


***********


"Stop-stop." perintah Icha.


"Lho, kenapa."


"Gue turun disini."


"Gue anterin lo saja."


"Gak usah, gue bareng Aslan saja, gue udah kirim pesan nieh ke dia."


"Oh gitu ya. Cha, makasih ya karna nyelamatin gue dari saudara tiri lo yang agresif itu."


"Santai aja kali, lagian gue seneng aja tuh lihat wajah kesel dua rubah itu."


Terlihat mobil Aslan nyamperin Icha dan Laskar.


"Hai bro." Laskar berusaha bersikap akrab.


"Hmmmm." datar tuh mukanya Aslan.


"Aslan memang begitu orangnya, jangan lo ambil hati ya." ujar Icha pada Laskar.


"Gak masalah kok."


"Cha, masuk." perintah Aslan.

__ADS_1


"Bay Laskar." Icha melambaikan tangan.


"Sekali lagi makasih lo udah nyelamatin gue dari saudara tiri lo itu."


"No problem, sudah gue bilangkan membuat dua rubah itu kesal membuat gue bahagia."


Setelah saling melambaikan tangan satu sama lain, Aslan dan Laskar menjalankan kendaraan mereka ke arah yang berbeda.


"Kenapa gak dianter pulang aja sekalian."


"Gak ah, lagian arah rumah kita dengan Laskar kan berlawanan, kasihankan dia kalau harus bolak-balik, lagipula niat guekan mau bikin kesel rubah-rubah gak tahu malu itu, coba deh kalau lo bisa lihat bagaimana ekspresi mereka, sumpah lo pasti ingin ketawa." Icha ketawa ngakak, dia puas banget melihat saudara tirinya itu kesal.


"Eh, kok diem aja sieh."


"Terus gue harus gimana."


"Ya lo ngerespon doank, ketawa kek, bilang masak sieh, atau coba kalau gue disana, atau apa kek yang penting lo kasih respon."


"Hahaha." Aslan bener-bener memaksakan tawanya.


"Ihhh, udah telat."


**********


Sore itu, Icha tengah sibuk di dapur, memasak makan malam untuk keluarga tirinya, agar tidak bosan, Icha memainkan musik dangdut di playlist musik yang terdapat diponselnya, seperti biasa lagunya yang dimainkan adalah lagu milik Sibad artis dangdut paforitnya.


Tampang kamu memang manis, tapi kamu masih bau amis, anak kemarin masih bau kencur.


Geli geli lucu


Masak iya kamu naksir aku?


Aku ditembak


Usia selisih lima


Terong, terong dicabein.


Sambil memasak sambal terong, sesuai deh dengan judul lagu yang di putar, Icha ikut menyanyi sambil menggoyangkan pinggulnya.


Sebuah botol plastik tepat mengenai bokongnya yang menyebabkan Icha menghentikan aksinya, Icha menoleh dengan geram ke arah orang yang melemparinya.


"Berisik tau gak." bentak Lola.


"Suka-suka gue donk, suara-suara gue." tandas Icha.


"Ihh, lo sadar donk, suara kayak kaleng dipukul begitu bikin orang sakit kuping tahu."


"Emang gue peduli, kalau lo gak suka, tutup tuh kuping, ribet amet hidup lo kayak benang kusut."


"Ih, nyolot lagi lo, gue aduin ke mama."


"Aduin sana, lo fikir gue takut sama mama lo."


"Awas lo ya." ancam Lola sebelum pergi.


"Dasar tukang adu." Icha mengaduk sambal terong yang masih belum matang dengan geram, "Kalau membunuh orang tidak menyebabkan masuk neraka, udah gue racunin mereka dengan racun tikus."


Ponselnya yang diletakkan dimeja berdering, sebuah pertanda adanya panggilan masuk, Icha mengambil ponselnya dan melihat nomer asing tertera dilayar. dia mengernyit, "Siapa yang nelpon gue." dia menggeser simbol telpon untuk menjawab panggilan.


Siapa nieh, cepetan ngomong, ada perlu apa, soalnya gue lagi sibuk berat.


Hmmm, sorry ya kalau gue ganggu lo.


Udah tahu ganggu kenapa lo nelponin gue.


Ya udah deh kalau gitu, mending gue matiin saja.


Kasih tahu dulu siapa ini, main matiin aja.


Masak lo gak kenalin suara gue sieh Cha.


Gak, emang lo penting untuk gue kenalin.


Pedes banget deh tuh mulutnya Icha.


Gue Laskar.


Oh, sik Laskar, ada perlu apa lo nelpon gue.

__ADS_1


Kangen.


Jangan main-main ya lo sama gue, gue gampar lo.


Sadisnya sik mbak, jangan galak-galak lho mbak, ntar gak laku lagi.


Beneran minta digampar nieh anak.


Terdengar suara kekehan dari seberang.


Katakan sejujurnya kenapa lo nelpon gue, kalau lo mau nayain Pr, sorry aja gue belum ngerjain dan gak berniat ngerjain.


Icha mengambil kesimpulan sendiri.


Siapa juga yang nanyain Pr.


Lha, terus kenapa.


Sebagai rasa terimakasih gue karna siang tadi nyelamatin gue, gue ingin ngajak lo keluar.


Lo ngajak kencan nieh ceritanya.


Bukan, cuma mau ngajak lo makan malam saja, lo bisa makan sepuasnya deh, gue yang traktir.


Mau banget sieh, tapi mama rubah pasti gak bakalan ngizinin gue keluar.


Mama rubah.


Suara Laskar terdengar heran.


Mama tiri gue.


Terdengar suara tawa ngakak Laskar mendengar julukan yang disematkan Icha pada mama tirinya.


Apa sih yang lucu.


Sorry, sorry, gue gak bisa ngontrol tawa gue, jadi gimana nieh, jadi keluar gak.


Lain kali deh, gue lagi sibuk soalnya.


Oke deh kalau gitu.


Mereka memutuskan untuk menyudahi sambungan.


Indra penciuman Icha mencium adanya sesuatu yang gosong, "Astaga, jangan bilang...."


Berharap bau gosong itu bukan dari sambal terong yang digorengnya, Icha memutar badannya dengan takut-takut.


Asap mengepul dari penggorengan, Icha langsung berlari mematikan kompor.


"Untung saja gue cepat berbalik, kalau gak, bisa dipastikan gue juga bakalan jadi manusia panggang dan pasti dengan senang hati tiga siluman rubah itu bakalan jadiin gue hidangan utama." ucapnya penuh syukur, dia hanya belum menyadari adanya bahaya yang lebih mengancam dari hanya sekedar kompor meledak.


Dan bahaya itu kini berdiri dipintu dapur, berkacak pinggang dengan tatapan horor, siapa lagi kalau bukan Dea sik monster berkedok ibu tiri, di kiri-kanannya berdiri sik litle monster yaitu Lola dan Loli.


"Apa yang kamu lakukan Icha." mata Dea memandang wajan yang gosong.


"Hehehe, gosong ma."


"Dasar anak gak berguna, kerja begini aja gak becus, kamu tahu gak berapa harganya wajan yang kamu bikin gosong."


Dengan polosnya Icha menjawab, "Gak tahu ma."


"Satu juta Icha, satu juta."


"Ma, kalau bohong kira-kira donk, masak wajan jelek kayak gini harganya satu juta."


"Itu wajan berkualitas, bukan wajan jelek."


"Terserah deh."


"Sebagai hukuman, malam ini kamu tidak akan dapat jatah makan malam." setelah itu Dea berbalik.


"Kasihan deh lo." Loli meledek.


"Kasihan harus puasa." Lola menimpali.


Icha mengambil gelas dari bak cuci piring dan mengarahkannya pada kedua saudara tirinya yang jahat itu, "Pergi gak lo sebelum gue berubah jadi kompor gas."


"Mamaaa, sik upil itu mau lemparin kami pakai gelas." dua saudara kembar itu berlari menyusul mamanya, gak maulah mereka kena lemparan gelas dari Icha.

__ADS_1


***********


__ADS_2