
Sementara itu, Aslan dan Lea akhirnya memutuskan untuk mengerjakan tugas dirumah Aslan, sebenarnya ini bukan keputusan bersama sieh, tapi keputusan Aslan, habisnya Lea ditanya jawabnya cuma "terserah saja" kayak orang gak punya pendirian saja.
Aslan bertanya, "Mau ngerjain tugas dimana Le."
Dijawab oleh Lea, "Terserah."
"Mau ngerjain dicafe gak, sekalian makan."
"Terserah." maklumin saja deh, karna saat ini Lea tengah sibuk menenangkan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat daripada biasanya.
"Kamu kok pasrahan gitu orangnya, jangan-jangan kalau aku bawa kehotel kamu juga bilang terserah lagi." Aslan yang kaku mencoba untuk bercanda, dan ternyata candaannya gak lucu, buktinya respon Lea adalah,
"Eh."
"Bercanda Le, garing ya."
"Kamu bisa aja bercandanya." Lea tersenyum.
"Kita ngerjain tugasnya dirumah gue saja ya, disana banyak buku yang bisa kita jadiin refrensi."
"Tapi kamu gak akan macam-macamkan."
"Gak donk, gue cuma mau satu macam."
Leher Lea langsung menoleh cepat kearah Aslan, memandang Aslan curiga.
Aslan terkekeh, "Satu macam itu maksudnya, gue cuma mau ngerjain tugas doank dengan lo."
"Oh."
Begitu memarkir mobilnya digarasi, Aslan mengajak Lea memasuki rumahnya, Lea jadi halu, "Seandainya gue dibawa kemari untuk diperkenalkan sebagai calon istrinya, pasti gue bahagia banget." ujarnya ber-andai andai dalam hati.
"Le, ayok masuk, kok malah bengong sieh."
"Eh iya." Lea mengikuti Aslan dibelakang,
"Rumah kamu kok sepi ya Lan."
"Iya, soalnya mama dan papa dibandung nengokin kakek dan nenek gue, kakak tertua gue tengah ngisi seminar di Bali, gue sama Gibran dirumah, gak tahu apa dia sudah balik atau gak dari kampus sekarang."
"Oh." hanya itu komentar yang keluar dari bibir Lea, berada dekat-dekat gini dengan Aslan membuatnya dapat serangan jantung dini.
Sebelum mengerjakan tugas, mereka makan terlebih dahulu setelah memesan makanan lewat gojek, kalau perut lapar mana bisa mengerjakan apa-apa dengan baik dan benar.
Dan setelah memastikan perut kenyang, dan apa yang dibutuhkan sudah lengkap, mereka mulai mengerjakan tugas diruang tamu dengan duduk lesehan.
Lea yang gugup berada begitu dekat dengan Aslan berulangkali menyenggol buku-buku membuat buku itu terjatuh dari meja.
"Maaf Lan."
"Gak apa-apa, Le." ujar Aslan senyum.
"Kenapa pakai senyum segala sieh, bikin gue tambah grogi saja." batin Lea, "Gak tahu apa dia efek senyumnya itu gak baik buat kesehatan jantung gue."
__ADS_1
"Lo sakit ya Le." tanya Aslan melihat tingkah Lea, menurutnya tingkah Lea aneh.
"Eh, gak kok, aku baik-baik saja."
"Tapi lo kayak gak sehat gitu, gue perhatikan tangan lo gemetar."
"Ini cuma gro..eh, intinya gue gak apa-apa kok Lan, ayok kita lanjutin aja bikin tugasnya." mencoba menyibukkan diri membaca buku yang dijadikan sebagai refrensi.
"Le."
"Lan, aku gak sakit, beneran kok, aku gak akan pingsan mendadak kok." Lea berusaha meyakinkan Aslan.
Namun bukan itu maksud Aslan menyebut nama Lea, "Bukunya kebalik Le."
"Eh." Lea tersenyum bodoh menyadari kalau buku yang dipegangnya terbalik, "Iya ya." Lea merutuki kebodohannya dalam hati, "Aduhh begok banget sieh, pasti Aslan ngetawain gue deh."
"Jadi beneran gak apa-apa nieh."
"Gak apa-apa kok."
Setelah memastikan Lea sehat wal'afiat terlepas dari sikap anehnya, aneh menurut Aslan, mereka kembali mengerjakan tugas.
Ditengah khuysuk-khusyuknya mengerjakan tugas, Gibran yang baru bangun dari tidurnya dengan bertelanjang dada dengan bibir menguap lebar tanpa melihat Lea disana berkata, "Lo udah pulang nyuk."
"Dari tadi." tanpa menoleh kearah Gibran yang nyapa dari belakang.
"Sama siapa lo, Icha." karna pandangannya masih burem, difikirnya Lea adalah Icha.
"Lea." Aslan menjawab singkat
"Lea teman kelas guelah."
"Lea yang itu..." Gibran ingin bilang, "Lea yang dia sukai." namun dia menghentikan kalimatnya, sebagai gantinya Gibran mengucek matanya untuk melihat jelas kalau Lea yang dimaksud adalah Lea gadis yang disukainya.
"Hai kak Gibran." sapa Lea, namun Lea kembali memutar lehernya begitu melihat Gibran setengah telanjang, sebagai gadis polos, mata sucinya ternoda gara-gara melihat Gibran naked, mending badannya oke, ini mah cungkring, jauh dari layak untuk dijadikan sebagai iklan Elmen.
"Lea, eh, udah lama ya datangnya."
"Lumayan kak." masih tidak memandang Gibran.
"Woee, pakai baju sana, gak tahu malu banget nyapa cewek gak pakai baju begitu, mending badan lo oke, ini kurus kering kayak orang-orangan sawah." oke, kalimat Aslan mewakili kata hati Lea, dan bisa dibilang Aslan agak keterlaluan juga sieh mengatakan kalau badan kakaknya seperti orang-orangan sawah.
Dengan senyum malu Gibran melangkah perlahan sambil merutuk, "Sialan sik kunyuk itu, kenapa gak bilang-bilang kalau Lea bakalan kemari, kalau tahu Lea kemarikan gue bakalan siap-siap supaya tampil sempurna didepan Lea, mudah-mudahan Lea gak ilfil lihat badan cungkring gue."
Setengah jam kemudian, barulah Gibran keluar bergabung dengan Lea dan Aslan yang masih sibuk dengan tugasnya.
Tercium bau farpum yang sangat menyengat begitu dia duduk, Aslan dan Lea menutup hidungnya.
"Busett, lo pakai parfum satu botol ya." komen Aslan sedikit menjauh dari Gibran, namun sayang tuh parfum baunya sampai satu ruangan.
Gibran mengabaikan, dia malah menyapa Lea, "Le, kamu udah makan."
"Ehhm, udah kak." Lea merasa pusing mencium bau parfum Gibran yang begitu menyengat.
__ADS_1
"Heh begok, sana lo jauh-jauh, bau parfum lo bikin mual tahu gak."
"Apaan sieh lo, komen mulu kerjaan lo kayak emak-emak tukang gosip, Lea aja gak kenapa-napa tuh, ya kan Le."
"Sebenarnya, Lea agak pusing sieh kak, soalnya bau parfum kakak menyengat banget." daripada pingsan ditempat lebih baik Lea jujur saja.
"Gitu ya, kalau gitu aku ganti pakain dulu deh ya." ujarnya bersiap pergi.
"Dan gak usah kemari lagi." pesan Aslan, "Ngebantu gak, ngeganggu iya."
"Ishhh." Gibran membuat gerakan ingin menggebuk Aslan.
****
Setelah puas bersenang-senang, Icha dan Laskar memutuskan untuk pulang, Icha merasa puas dan bahagia setelah mencoba hampir semua wahana di Dufan, itu terlihat dari wajahnya yang berseri-seri.
"Laskar, lo yakin mama tiri gue gak bakalan ngehukum gue." tanya Icha was-was begitu Laskar mengehentikan motornya didepan rumah Icha.
"Gak bakalan, percaya sama gue, lo aman."
"Lo kok bisa yakin gitu, emang apa yang lo perbuat gitu sampai sik rubah itu gak bakalan marahin gue."
"Gue jampi-jampi." canda Laskar terkikik.
"Sialan lo." namun tak urung membuat Icha tersenyum.
"Udah sana masuk, istirahat sana."
"Ya udah deh, lo balik ya, ntar orang tua lo khawatir lagi."
"Oke." Laskar kembali menjalankan motornya.
Icha memasuki rumahnya dengan was-was, menunggu suara teriakan yang biasa didengernya jika dia pulang terlambat. Mama tirinya ada, tengah nonton TV, dia hanya memandang Icha horor, namun selebihnya gak mengatakan apa-apa kayak bibirnya dilem gitu dengan lem super, dua rubah kembar itu juga ada, tapi mereka kayak dipaksa gitu supaya gak komentar, sebagai gantinya, mereka memberikan plototan sama Icha, Icha mengabaikan, dia terus melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Apa sieh yang Laskar lakukan, sampai sik rubah itu gak marahin gue, biasanyakan dia berkicau kayak burung greja sebelum menjatuhkan vonisnya ke gue." Icha heran, dia bertanya-tanya dalam hati, namun disatu sisi dia bersyukur karna gak perlu mendengar omelan ibu tirinya itu dan pastinya dia bisa langsung istirahat dengan tenang dan nyaman.
Malamnya, Icha mendapat chat masuk dari Laskar.
Gimana, lo gak dimarahinkan.
Gak, emang lo apain sieh mama tiri gue.
Gak gue apa-apain, selera gue bukan ibu-ibu kali kayak Rafi Ahmad.
Laskar menjawab bercanda.
Anjirr, gue nanyanya serius.
Namun chatnya hanya dibaca oleh Laskar.
Karna sudah malam, Icha memutuskan untuk tidur dan menyambut mimpi indah.
****
__ADS_1
Assalamuaikum.
Terimakasih karna setia membaca ceritaku, mampir ya diceritaku yang lain, judulnya ISTRI YANG TAK DIHARAPKAN, semoga suka.