Cinderela Modern

Cinderela Modern
BU DEWI KETEMU MANTAN.


__ADS_3

Kuping anak-anak itu pada panas karna selama 30 menit nonstop mendengar kata-kata mutiara Doni sang polisi sambil menunggu kedatangan guru BP anak-anak tersebut.


"Don," Ari mengangkat tangannya untuk mengintrupsi, "Lo gak capek ceramah sejak tadi, percuma juga lo ngomong panjang lebar sampai berbusa sekalipun tuh bibir lo, toh nasehat lo masuk telinga kanan keluar telinga kiri." akhirnya ada juga yang mewakili anak-anak itu protes, karna maklum saja nieh ya, namanya juga polisi takut dimasukin penjara kalau diprotes, tapi Doni gak selebay itu juga kali main masukin orang penjara hanya gara-gara masalah sepele doank.


Acux turut menimpali, "Bener itu pak, daripada bapak menghabiskan energi bapak untuk ngasih ceramah, mending bapak bersedekah saja beliin kami nasi bungkus."


"Huh, gentong memang lo, yang difikirin masalah perut doank, fikirin donk gimana nasib kita ditangan Dewi kematian kalau dia datang." Aceng menyela.


"Kalau lapar mana bisa berfikir." jawab Acux.


"Ini kenapa kalian malah berdebat, sudah tutup mulut kalian, pusing saya denger suara kalian." bentak Doni memijit keningnya, sepertinya dia beneran pusing menghadapi anak-anak badung itu.


Tiga puluh menit kemudian, barulah guru BP SMA Pertiwi yaitu ibu Dewi tiba dikantor polisi.


"Akhirnya Wik, kamu datang juga." ujar Doni ketika bu Dewi tiba, dan secara kebetulan Doni dan bu Dewi merupakan teman ketika masih SMA.


"Makasih ya Don kamu telah mengurus anak-anak bengal ini."


"Tidak masalah Wik, ini emang tugas aku."


Doni membawa bu Dewi keruangan dimana anak-anak yang tertangkap tauran tersebut dikumpulkan.


"Bu Dewi datang, bu Dewi datang." heboh anak-anak SMA Pertiwi melihat kedatangan ibu Dewi.


"Ya Allah semoga suasana hatinya dalam keadaan baik hari ini." doa Sapto.


"Apanya yang baik, lo gak lihat tuh muka bu Dewi menyeramkan seperti Dewi kematian yang akan mencabut nyawa." lisan Icha.


Salah satu anak SMA Tunas Harapan berkomentar, "Elahh, cemen banget sieh, itukan cuma guru cewek, kenapa lo takutnya kayak didatangin malaikat munkar nakir."


"Meskipun guru cewek, tapi dia lebih ganas dari singa betina." balas Icha, "Lo bisa diterkam mentah-mentah kalau bikin dia marah."


"Wik, itu murid-muridmu." ujar Doni begitu sampai.


"Astagfirullahalajim." ujar bu Dewi begitu melihat kondisi murid-muridnya, dia mengelus dadanya, ini bukan untuk pertama kalinya sieh dia melihat murid-muridnya dalam kondisi babak belur seperti ini, tapi tetap saja bu Dewi kaget.


"Hehehe, ibu Dewi, makin cantik aja bu." sapa Ari menjilat, "Tapi sayang belum laku." sambungnya tanpa suara.


"Diem kamu Ari, saya tidak butuh pujian kamu." tandas bu Dewi.


"Tapi bohong." jawab Ari keceplosan, "Upss." Ari langsung menutup bibirnya, anak-anak yang lainnya pada cekikikan.


"Diem." bu Dewi meradang, "Ada yang lucu hah."


"Maaf bu." kompak mereka.


"Kalian ini tidak pernah berubah, kerjaanya tauran melulu bikin malu nama sekolah saja."


"Ibu salah salah paham." Icha menyela, "Kami tidak bikin malu sekolah, justru kami membela sekolah, kami gak mau donk sekolah yang kami banggakan diinjak-injak oleh SMA Tunas Harapan."

__ADS_1


Yang lain menyokong, "Betul bu, ibu mana paham."


"Bikin susah orang itu yang kalian bilang membela sekolah hah, tidak bisakah kalian membela sekolah dengan cara yang terhormat, bersaing dalam lomba sain misalnya."


"Wah ibu menghina, otak pas-pasan kami mana bisa diajak begitu." Acux menjawab, ya memang gak bisa, orang yang difikiran Acux cuma makan dan makan.


"Kamu fikir pinter itu instan, tahu bodoh makanya belajar."


Sudah tadi telinga pekak karna dengar ceramah Doni, kini omelan tambahan dari bu Dewi makin sadis.


"Bu, jangan marah-marah, ntar cepat tua lho."


"Biarin saya cepat tua, saya gak peduli, kesabaran saya habis menghadapi tingkah kalian yang makin hari makin menjadi-jadi, saya akan menghubungi orang tua kalian untuk datang kesekolah besok."


Anak-anak SMA Pertiwi langsung pada protes mendengar kalimat bu Dewi.


"Yahh ibu, jangan bawa-bawa orang tua doank, gak asyik banget, cukup ini antara aku dan ibu." biasa protes tersebut keluar dari bibir Ari.


"Bener bu." Icha menyokong, "Lagiankan saya yatim piatu gak punya orang tua."


"Kalian ini bisanya cuma ngejawab saja, kamu juga Icha, kamu bilang yatim piatu, bagaimana kabarnya mama tiri kamu yang menggantikan wali kamu."


Nyanyi deh Icha dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin sebagai balasan dari kata-kata bu Dewi, "Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja."


"Jadi sedih gue." Aceng pura-pura menghapus air matanya.


Ditengah aktifitas ngomel begitu, guru BP SMA Tunas Harapan tiba, tentunya semua mata tertuju pada orang yang baru datang itu.


"Pak, kenapa bapak jadi patung disana."


Guru BP yang bernama pak Tomi itu tersadar, dia terlihat salah tingkah, "Dewi." sapanya, ternyata dia kenal dengan bu Dewi, "Kamu ngapain disini."


"Menurut kamu." bu Dewi balik nanya dengan jutek.


"Oh, jadi kamu guru BP SMA Pertiwi, gak sangka ya kita bertemu disini, kamu apa kabarnya Wik."


"Seperti yang kamu lihat, sangat baik-baik saja." ibu Dewi menekan kata-katanya.


Dari tadi pak Tomi menyapanya ramah , namun dijawab bu Dewi judes, ya maklum sieh sebenarnya, pak Tomi inikan mantannya bu Dewi yang telah meninggalkan bu Dewi menikah, jadi pantaslah bu Dewi sikapnya judes begitu.


"Syukurlah kalau gitu."


Terdengar bisik-bisik dikalangan anak-anak itu menyaksikan intraksi dua guru itu.


"Ibu Dewi kenal sama guru BP SMA Tunas Harapan."


"Sepertinya iya."


"Kok bu Dewi jutek gitu ya."

__ADS_1


"Ya wajarlah, orang sekolah kita musuhan dengan sekolah tuh guru." itu spekulasi mereka, ya jelas mereka tidak tahulah kalau antara kedua guru tersebut pernah terjalin yang namanya kasih sayang sampai Doni yang masuk kembali keruangan itu dan membeberkan fakta.


"Wahh, reuni mantan nieh." ujar Doni dengan santainya.


"Ohhhh, mantan toh, pantes." koor anak-anak itu kompak layaknya paduan suara.


Bu Dewi langsung melotot pada Doni, "Upss, sorry Wik keceplosan." meskipun bilang sorry, namun Doni tidak menyiratkan penyesalan, dia malah menggoda, "Jangan galak-galak Wik sama Tomi, ntar Tominya takut lagi."


"Segalak-galaknya Dewi, tapi gak bakalan gigitkan." respon Tomi menanggapi candaan Doni.


Doni terkekeh


Wajah bu Dewi memanas, gimana tidak, dia ledek didepan murid-muridnya.


"Don, aku balik."


"Lho, kok buru-buru Wik." ujar Tomi.


"Malas lihat wajah kamu." bener-bener jawaban yang jujur tanpa sortir, "Ayok anak-anak kita pergi dari sini." perintahnya, anak-anak didiknya mengekori dibelakang.


"Cie cie yang ketemu mantan." Ari meledek, memang cuma Ari yang berani begitu sama gurunya.


Bu Dewi menghentikan langkahnya dan memberikan tatapan terseramnya, dan berhasil, Ari langsung bungkam begitu diplototi sedemikian rupa.


"Kenapa tidak kalian hajar sampai babak belur itu anak-anak SMA Tunas Harapan." bu Dewi buka suara.


"Ibu gak lihat wajah mereka, mereka kami pukul sampai mohon ampun lho bu." Sapto menjawab.


"Wah, ibu sepertinya menyimpan dendam ya sama guru mereka sampai ibu panas begitu." sahut Icha.


"Jangan sok tahu kamu Icha."


"Jujur kenapa sieh, pakai gengsi segala." Icha menggumam tanpa suara.


"Lain kali bu, kami akan menghajar mereka sampai bertekut lutut, apa sieh yang gak buat ibu." janji Ari, "Asal kami dibebaskan dari hukuman."


"Enak saja, untuk mempertanggung jawabkan kelakuan kalian, saya akan tetap menghubungi orang tua kalian."


"Yahh, ibu gak asyik banget sieh, besok-besok kami janji deh bakalan balasin dendam kesumat ibu yang terpendam selama bertahun-tahun sama sik tonggos itu dengan menghajar murid-muridnya sampai babak belur."


"Sik tonggos siapa yang tonggos."


"Ya mantan ibu yang tadilah, lagian ibu pacaran gak milih-milih, ditinggalin lagi."


"Atau jangan-jangan ibu sampai jadi perawan tua gini gara-gara tidak bisa lupain sik tonggos itu lagi, kesenengan banget sik tonggos."


"Iya bu, ibu Dewi yang cantik, seharusnya bisa dapetin laki-laki kayak pak Doni bu, cakep, manis lagi senyumnya."


"Apa-apaan kalian bahas masa lalu saya, sekarang kalian mending pulang dan jangan buat masalah lagi."

__ADS_1


"Baik bu." kompak mereka patuh.


****


__ADS_2