Cinderela Modern

Cinderela Modern
KEPERGIAN LASKAR


__ADS_3

Begitu bel istirahat berbunyi Lea langsung pergi dengan Gita, seolah-olah malas lebih lama melihat Icha.


"Haduhhh, lo sama Lea kenapa sieh, lagi berantem ya." desah Miun melihat pacarnya di monopoli sama Lea.


"Kami baik-baik saja."


Mana adalah orang percaya, baik-baik saja tapi kenyataan tidak mencerminkan hal itu, "Gue sebenarnya gak peduli lo sama Lea mau baik-baik saja atau berantem sekalian, tapi yang jadi masalahnya disini adalah, guekan gak bisa berduaan dengan ayang gue gara-gara sahabat lo itu terus nempelin Gita." curhat Marhun nelangsa hanya bisa melihat punggung pacarnya menjauh.


Dengan tanpa dosanya Icha menjawab, "Itu sieh derita lo."


"Dasar lo ya Cha, gak punya perasaan."


"EGP."


"Menyebalkan, tunjukkan ke sedikit simpati lo ke gue." rutuk Marhun kesel.


"Cha, kantin yuk." ajak Aslan tiba-tiba sudah didekatnya.


"Ayukk." bukan Icha yang menjawab tapi Marhun.


"Gue ngajak Icha, bukan Marhun."


"Yeelah, ajak gue juga kenapa, biar gue gak ngenes duduk sendirian."


"Ogah ngajak lo, berisik."


"Lo berdua, sama-sama menyebalkan."


"Gak peduli."


"Ayok Cha."


Icha berdiri mengikuti Aslan dari belakang, "Dahhh Marhunnn." Icha melambaikan tangannya sembari tersenyum meledek.


"Beneran ditinggalin lagi gue."


****


Dalam perjalanan menuju kantin, Aslan dan Icha berpapasan dengan Ari dan kronco-kronconya yaitu Aceng dan Acux.


Acux langsung nyamber begitu melihat Icha, "Lo disini Markunah." memperhatikan Icha heran.


"Iyalah gue disini, emang dimana lagi." balas Icha sewot mendengar pertanyaan Acux, diakan sekolah disini juga, bukan sesuatu yang anehkan kalau dia ada di SMA PERTIWI.


"Maksud sik Acux, lo gak ke bandara gitu." Aceng memperjelas maksud sahabatnya.


Mendengar kata bandara Icha mengerutkan keningnya tidak mengerti, "Bandara, ngapain gue di bandara, gue gak dalam rangka akan bepergian ke mana-mana."


Mendengar kata-kata Icha, yakinlah mereka bertiga kalau Icha tidak tahu menahu dengan kepergian Laskar.


"Lo sama Laskar udah putus." tanya Ari melihat Icha yang tidak tahu sama sekali dengan kepergian Laskar.


Icha mengangguk, "Ya begitulah." jawabnya pelan.


"Pantes Laskar gak pamit sama lo."


"Maksud lo." kejar Icha

__ADS_1


"Hari ini Laskar akan berangkat ke Amerika, ngelanjutin sekolahnya disana."


"Apa." pekik Icha kaget, Aslan juga yang sejak tadi hanya menjadi pendengar tidak kalah kagetnya mendengar berita tersebut.


"Gue yakin, Laskar pindah sekolah bahkan sampai pindah ke luar negeri itu gara-gara lo ya." Aceng mengambil kesimpulan.


"Lo gak bercandakan." tanya Icha menolak untuk percaya.


"Bohong dosa kali Cha, bisa masuk neraka kita kalau bohong, lagian apa untungnya kita bohongin lo."


"Rii, beneran Laskar akan pergi ke Amerika." dari dua mahluk yang gak jelas yang ada dihadapannya, hanya Ari yang bisa dipercaya, makanya Icha menanyakan kebenaran itu untuk memastikan berita yang disampaikan oleh Aceng dan Acux sama Ari.


"Dia sieh pamitnya gitu." jawab Ari.


"Semalam tuh anak dateng ke markas, pamitan sama yang lainnya, sekalian minta maaf kalau dia ada dosa, difikirnya lebaran apa, tapi karna kami semua anak sholehah dan baik hati, ya kami maafkanlah."


"Ya Tuhann Laskarr." desis Icha.


"Masih belum terlambat tuh kalau lo mau nemuin Laskar, katanya sieh pesawatnya akan berangkat jam 11.10 gitu."


Icha langsung memandang Aslan, Aslan mengangguk mengerti dengan pandangan Icha, "Kita temuin Laskar."


****


Di mobil dalam perjalanan menuju bandara, Diana yang mengantar Laskar terus merengek.


"Laskarr, jangan pergi donk, kalau kamu pergi aku gimana."


Laskar yang sejak tadi fokus dengan ponselnya mendengus, sejak semalam ketika Laskar memberitahukan kalau dia akan pindah ke Amerika, Diana terus saja merengek menahan kepergiannya, ya jelaslah Laskar tidak mau membatalkan niatnya, kalau Icha yang menahan sieh mungkin dia berfikir ulang untuk pergi, tapi Laskar yakin seandainya Icha tahu dia akan pergi dia tidak akan menahannya.


"Lass..." karna Laskar tidak menggubrisnya, Diana mengguncang lengan Laskar, "Kamu dengerin aku gak sieh."


"Akhhh, kamu tega sama aku, kamu pergi pasti gara-gara gadis jelek keriting itu ya." duga Diana, dia tahu kalau Laskar dan Icha putus.


"Bukan urusan lo."


"Kamu suka gitu dehh." cembrut Diana, namun tidak dipedulikan oleh Laskar yang kembali sibuk dengan ponselnya, dia tengah melihat foto-foto kebersamaannya dengan Icha sebelum dengan sangat berat hati menghapusnya, yah memang itu harus dilakukan kalau ingin melupakan seseorangkan.


"Kalau aku kangen sama kamu gimana Las." desah Diana.


Jawab Laskar dalam hati, "Emang gue peduli." yang dilisankan adalah, "Lo bisa melakukan panggilan vidiokan." namun dalam hati Laskar berjanji kalau Diana melakukan panggilan vidio dia tidak akan menjawabnya.


"Tapikan tetap aja kangen."


Lagi lagi Laskar menjawab dalam hati, "Itu sieh derita lo, gue gak peduli."


"Kamu berapa bulan disana."


"Gue akan menetap di Amerika."


"Whatt." keget Diana, "Kamu gak seriuskan."


"Seriuslah."


"Terus aku gimana."


"Ya gak gimana-gimana, tanpa ada atau tidak adanya gue, lo masih bisa menjalani hidup."

__ADS_1


"Laskarr ihh jahat." Diana menyilangkan tangannya kesel, Laskar ternyata bener-bener tidak bisa dibujuk.


Ngeong ngeong. Leo yang diletakkan didalam kandang mengeong-ngeong, rencananya Laskar akan membawa Leo ikut serta bersamanya ke Amerika.


"Nieh juga kucing kampung, berisik, kenapa pakai dibawa segala sieh."


"Apa urusannya sama lo, gue mau bawa itu terserah gue." tandas Laskar membuat Diana bungkam.


****


"Cepat Lan." perintah Icha sambil melirik jamnya dipergelangan tangan kirinya yang menunjukkan angka 10.40, fikir Icha seenggaknya dia bisa bertemu dengan Laskar untuk terakhir kalinya meski hanya untuk mengucapkan kalimat perpisahan.


Aslan menambah laju kecepatan mobilnya, dia juga ingin bertemu dengan Laskar, biar bagaimanapun dia salah dan harus meminta maaf sama Laskar karna telah merebut pacarnya.


Begitu Aslan memarkir mobilnya Icha langsung turun dan berlari memasuki bandara tanpa menunggu Aslan terlebih dahulu.


"Chaa."


Panggilan Aslan tidak digubris oleh Icha.


Begitu tiba didalam bandara, Icha mengedarkan matanya untuk mencari sosok yang dia cari, "Laskarr, kamu dimana." Icha kembali melirik jam dipergelangan tangannya, dan kalau bener pesawat Laskar berangkat jam 11.10, berarti dia masih punya kesempatan bertemu dengan Laskar mengingat arlojinya menunjukkan angka 10.55, tapi sejauh mata memandang keberadaan Laskar tidak nampak sama sekali dibandara tersebut.


"Laskarrr." rintih Icha mulai menitikkan air mata, bukannya Icha masih cinta atau ingin menahan kepergian Laskar, tapi dia hanya ingin meminta maaf sebelum Laskar pergi jauh ke benua yang berbeda dengan dirinya, "Maafin aku Las, maafin aku." desah Icha.


Namun disaat rasa putus asa menghinggapi, tidak sengaja matanya terarah pada dua sosok yang berjalan dari arah toilet, ya itu dia Laskar yang terus digelandoti oleh Diana yang masih berusaha menahan kepergian Laskar, namun sampai neraka beku sekalipun hal tersebut tidak akan berhasil.


"Laskaarrr." teriak Icha penuh syukur begitu dia melihat Laskar.


Dan tanpa mempedulikan orang yang ada disekelilingnya dia berlari ke arah Laskar.


"Ichha." desis Laskar tidak menyangka Icha akan menyusulnya ke bandara.


"Ciihhh, sik jelek itu." desis Diana tidak suka melihat kedatangan Icha.


"Laskar kamu...." Icha berusaha mengontrol deru nafasnya yang memburu begitu dia tiba didepan Laskar dan Diana, "Kamu beneran mau pergi ke Amerika." tanyaya memastikan begitu dia bisa mengontrol nafasnya.


Laskar mengangguk untuk mengonfirmasi.


"Tapi kenapa."


"Aku hanya mau cari suasana baru." jawabnya bohong.


"Cari suasana barukan gak perlu sejauh itu Las, kamu pergi gara-gara aku ya."


Lagi-lagi Laskar terpaksa berbohong, dia tidak ingin Icha merasa bersalah, karna memang sesungguhnya dia pergi karna menata hatinya yang telah dihancurkan oleh Icha, meskipun begitu, dia tidak bisa membenci Icha meskipun Icha telah menyakitinya sedemikian rupa.


"Aku pergi karna keinginan sendiri kok, jadi jangan geer deh, lagian mama dan papaku juga tengah fokus-fokusnya ngurus bisnis yang barunya diresmikan disana, jadi aku kesana menyusul mereka."


"Beneran itu alasan kamu pergi."


"Iya bener."


"Tapi kenapa kamu gak pamit sama aku, sama yang lainnya kamu pamit."


"Itu karna lo menyebalkan." sahut Diana.


"Tutup mulut lo Di." bentak Laskar.

__ADS_1


Diana manyun dibentak begitu.


****


__ADS_2