
"Ciee ciee." itu merupakan kalimat gak jelas yang menyambut gendang telinga Icha begitu dia memasuki kelas, kalimat itu berasal dari Lea yang saat ini tengah duduk manis dibangkunya.
"Yang punya pacar sekarang." goda Lea.
"Apaan sieh." gumam Icha.
"Duhh, gimana ya Le, gue dan Laskar itu berteman, gak mungkin banget bisa jadi pacar, pasti akan canggung rasanya." cloteh Lea mengulang kalimat Icha begitu Icha berjalan ke arah bangkunya.
Icha tersenyum tipis menyadari kalau dirinya tengah disindir oleh Lea, "Lo masih hafal aja apa yang gue katakan."
"Jadi, gimana rasanya jadi nyonya Laskar Perwira Cha." ujar Lea, "Pasti lo happy ya, udah pasti happy sieh kayaknya melihat wajah lo bersinar secerah mentari yang menyinari bumi."
"Biasa aja."
Lea mendekatkan wajahnya ke wajah Icha berusaha membantah kalimat "biasa aja" yang dilontar Icha, "Biasa aja kok lo senyum-senyum saat gue sebut nama Laskar."
Oke, bibir boleh bohong, tapi ekspresi memang gak bisa bohong, "Iya deh gue ngaku, gue happy."
"Dulu aja lo ngata-ngatain gue."
"Kapan gue pernah ngata-ngatain lo."
Lea buka suara dan menirukan suara dan gaya bicara Icha, "Apa menariknya sieh Le lihat punggung Aslan." Lea mengulang kata-kata yang dilontarkan Icha padanya, "Lhaa sekarang, dengar nama Laskar aja lo senyum-senyum gitu, ngertikan lo sekarang gimana rasanya jatuh cinta."
"Kok lo inget semua yang gue katain sieh."
"Ya gue ingetlah, biar ada refrensi nyerang lo dikemudian hari."
Icha terkekeh mendengar jawaban Lea, "Lo ada-ada saja."
"Cha."
"Hmmm."
"Menurut lo, gimana kalau gue nembak Aslan, guekan juga ingin punya pacar kayak lo."
"Ehh." Icha langsung memberikan perhatiannya sepenuhnya pada Lea demi mendengar kalimat yang keluar dari bibir sahabatnya itu.
"Iya Cha, gue ingin nembak Aslan."
"Lo serius Le."
"Gue udah suka sama Aslan sejak pertama kali melihatnya Cha, jadi gak ada alasan buat gue bercanda."
"Emang lo punya keberanian Le." sebuah pertanyaan yang wajar mengingat Lea sering kena sindrom gugup dan grogi akut jika berhadapan dengan Aslan.
"Sebenarnya sieh gak, tapi gue garus bergerak Cha sebelum Aslan diembat oleh cewek lain, secarakan banyak yang mau sama Aslan."
Icha menepuk punggung sahabatnya itu, "Bagus, gue dukung lo 100 %, dan ini memang sudah saatnya lo bertindak."
"Makasih Cha, lo emang sahabat gue, selalu ngedukung gue dalam keadaan apapun."
"Memang itu gunanya sahabatkan Le."
"Tapi Cha." setelah tadi begitu sangat bersemangat menceritakan niatnya, Lea terlihat agak ragu.
"Tapi apa Le." kejar Icha yang bisa melihat keraguan diwajah sahabatnya itu.
"Apa gak terlihat gampangan atau gimana gitu ya kalau gue nembak cowok duluan."
"Ya gaklah, menyatakan perasaan bukan berarti gampangan Le, tapi sebuah usaha, lo masih inget gak penjelasan guru agama kita pak Wahyudin."
Dahi Lea berkerut mendengar kalimat Icha, "Penjelasan yang mana." jelas saja dahi Lea berkerut, pasalnyakan bisa dibilang dia lebih pintar ketimbang Icha, kok bisa dia gak inget sedangkan Icha inget.
"Penjelasan tentang sejarah cinta nabi muhammad SAW."
"Sejarah yang mana."
"Itu lho Le, ketika beliau dilamar duluan oleh Siti Khadijah istri pertamanya, lo bayangkan saja Le, wanita mulia dan ahli surga sekelas Siti Khadijah ngelamar duluan dan gak gengsi, masak lo gak mau berjuang mendapatkan cinta sejati lo."
"Tumben lo inget dengan baik dan benar, setau gue 5 × 7 aja lo gak tahu."
"Sialan lo ya, ngledek gue lagi." Icha menoyor bahu Lea.
__ADS_1
Dua gadis itu tertawa.
"Kapan." tanya Icha begitu tawa mereka reda.
"Apanya."
"Lo nyatain perasaanya."
"Rencanya ketika perayaan ulang tahun gue Cha, satu minggu lagi, menurut gue itu momen yang pas." karna Lea adalah anak orang kaya, biasanya perayaan ulang tahunnya akan dirayakan dengan meriah dan mewah.
"Wiehhh, udah mau ulang tahun aja lo, udah gede ternyata sahabat gue yang cengeng ini." Icha mengacak puncak kepala Lea dengan gemas, "Lo udah pantas tuh punya pacar."
"Duhhh Icha, pliss deh jangan ngacak-ngacak tatanan rambut gue yang udah susah payah gue curly, ntar gue gak cantik, Aslan jadi gak mau sama gue." Lea merapikan rambutnya.
"Gue jadi panitia di ulang tahun lo ya Le."
"Sudah pasti itu, lo kan orang pertama yang harus bantu-bantu."
"Kok bantu-bantu sieh, maksud gue, gue jadi panitia sapu bersih."
"Wahh, makasih banget lo mau jadi tukang bersih-bersih."
"Sapu bersih masukin makanan ke perut maksudnya, hehe."
"Ihhh, dasar lo, makan aja yang lo fikirin."
Icha mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya, hal tersebut memancing Lea bertanya.
"Tumben lo bawa bekal."
Bukannya langsung menjawab keingintahuan Lea, Icha malah tersenyum.
"Astagaa, senyum lagi, gue maklum sieh, namanya juga orang kasmaran, tapi jangan senyum setiap saat juga kali Cha, ntar lo disangkain gila lagi."
"Gue gak senyum setiap saat." tukas Icha.
"Gak senyum setiap saat, tapi sejak gue melihat kemunculan lo diambang pintu lo gak henti-hentinya tersenyum."
"Masak sieh." Icha berusaha menormalkan ekspresi wajahnya.
"Hmmm."
"Cha, gue yakin." tebak Lea, "Itu pasti kotak bekal untuk Laskarkan."
"Kok lo tahu, sejak kapan lo punya kemampuan jadi cenayang."
"Gak perlu punya kemampuan cenayang untuk tahu, jadi, kalau bukan karna cinta, lo mana mau bawa bekal-bekal begitu."
"Sok tahu lo."
"Bukannya gue sok tahu, tapi memang benarkan." tuntut Lea.
"Iya." jawab Icha akhirnya.
"Gue gak pernah nyangka lo bakalan bucin begini."
"Gue gak bucin, Laskar ingin makan masakan guekan wajar."
"Iya deh, lo gak bucin, tapi tengah kasmaran stadium 4."
"Terserah lo deh mau ngatain gue apa."
Ponsel disaku Icha bergetar singkat yang menandakan adanya pesan masuk yang ternyata dari Laskar.
Cha, temuin gue didekat perpus
Icha membaca chat masuk dari Laskar sembari mengangguk, "Le, gue pergi dulu."
"Chaaa, mau kemana, bentar lagi masuk lho." teriak Lea memperingatkan.
"Mau pacaran gue, jadi lo yang jomblo jangan iri ya." jawab Icha santai sambil melambaikan tangannya.
"Dasar bucin."
__ADS_1
****
Icha melihat Laskar tengah duduk dibangku panjang didepan perpus, melihat sang pujaan hati tiba membuat Laskar tidak bisa menyembunyikan senyumnya, dia berdiri menyambut kedatangan Icha.
"Niehh." Icha menyodorkan kotak bekal yang dibawanya.
Laskar mencubit pipi Icha gemas, "Makasih ya sayangku."
Icha langsung menepis tangan Laskar, "Sakit tahu."
"Sorry, habisnya gemas."
"Gemes-gemes, lo fikir gue anak bayi."
"Bukan anak bayi, tapi gadis kesayanganku."
Kalimat Laskar barusan berhasil membuat pipi Icha memerah dan salting, untuk menutupinya, Icha menyodorkan kotak bekal yang dibawanya.
"Lo makan gieh."
"Ini pasti enak."
Laskar membuka kotak bekal tersebut yang isinya adalah nasi goreng.
"Aku tebak, ini pasti namanya nasi goreng cinta, karna kamu bikinnya dengan sepenuh hati dan perasaan."
"Jangan banyak ngomong, ayok makan saja."
"Iya." jawab Laskar patuh
Laskar mengarahkan sendok nasi goreng ke mulutnya.
"Hmmm." Laskar memejamkan matanya menikmati sensasi nikmatnya nasi goreng buatan Icha dimulutnya, "Enakk banget Cha, lo benar-benar sudah pantas jadi istri."
"Pantas gimana, orang gue masih dibawah umur."
"Kalau udah mens dan bisa masak itu berarti udah pantas, kira-kira kalau gue ngelamar lo, lo mau gak."
Icha reflek memukul bahu Laskar, "Ngaurrr."
"Gak ngaur, kalau gak sekarang ya nanti Cha kalau kita udah dewasa, lo maukan jadi istri gue."
"Sekolah dulu yang benar, biar bisa cari uang, baru ngomongin nikah."
"Kamu gak perlu khawatir tentang itu, kalau aku udah nyelsein studiku, aku langsung akan diangkat jadi presdir oleh papa."
"Usaha sendiri donk, masak mengandalkan orang tua."
"Orang tua itu ada untuk diandalkan Cha, bukan sebagai pajangan doank."
"Bisa aja lo ngejawabnya."
"Aaaaa." Laskar mengarahkan sendok nasi goreng ke mulut Icha yang langsung disambut oleh Icha.
"Kayak difilm-film ya kita."
"Iya."
"E e e, apa yang kalian lakukan disini." suara bu Ela pustakawati perpustakaan mengintrupsi keromantisan dua sejoli itu.
"Pacaran bu." Laskar.
"Makan bu." Icha.
Bu Ela melotot, "Perpustakaan itu tempat untuk menambah pengetahuan, bukan untuk pacaran dan makan."
"Iya bu, tapi kamikan diluar, bukan didalam."
"Iya ya, lebih baik kalian ke kelas sekarang, bel sudah sejak tadi berbunyi." usir bu Ela.
"Udah bel, tapi kok kami gak denger."
"Ya wajarlah kalian gak denger, fokus pacaran sieh."
__ADS_1
****