
Aslan meraba kening Icha, "Bagus, panasnya udah turun." gumamnya.
Aslan bersyukur karna panas Icha menurun setelah minum obat, seperti biasa Icha tidur dikamarnya dan saat ini dia tengah menyelimuti Icha yang terbuai dalam alam mimpi.
"Mimpi indah Icha." gumamnya mengelus rambut Icha.
Seekor nyamuk hinggap dikening Icha, dengan pelan Aslan menepuk kening Icha untuk membunuh nyamuk tersebut, "Tenang saja, gue akan selalu jagain lo, bahkan dari nyamuk sekalipun." janjinya.
Disaat seperti itu kakaknya Gibran muncul dan langsung berceloteh, "Awas, jangan sampai lo apa-apain sik Icha, meskipun lo berdua dijodohin, tapi belum sah tuh, jadi belum boleh lo *****-*****."
"Mau ngapain sieh lo kemari." dengus Aslan tidak suka melihat kehadiran kakaknya.
"Inspeksi." jawabnya santai, "Siapa tahu lo berdua pada ngelakuin yang gak gak."
"Mending lo keluar sana, gue mau istrihat." usir Aslan.
"Duhhh, galak betul sik mas, santai donk."
Aslan mendorong tubuh kakaknya kearah pintu, "Udah sana cepetan lo keluar, ganggu aja." untuk saat ini dia malas melihat tampang kakaknya yang menyebalkan.
"Iya iya, gak perlu dorong-dorong."
"Kalau gak didorong lo gak bakalan mau pergi."
Setelah berhasil menyingkirkan kakaknya dari kamarnya, Aslan mengunci pintu, sebagai antisipasi kalau ada gangguan berikutnya.
"Inget lho, belum boleh begituan ya, dosa." teriak Gibran dari luar
"Punya kakak reseknya minta ampun."
Aslan mulai menggelar kasur lantai, ketika dia sudah bersiap tidur ganguan dalam wujud lain mengusiknya, kali ini ponsel Icha yang diletakkan dinakas yang berbunyi nyaring.
"Siapa sieh yang nelpon jam segini." desis Aslan kesel.
Karna takut suara deringan itu membangunkan Icha, Aslan buru-buru meraihnya, dilayar ponsel tertera sebuah nama "Pangeran narsis."
"Pangeran narsis." gumam Aslan sebelum menjawab panggilan tersebut "Siapa dia.", untuk menjawab pertanyaannya Aslan menggeser simbol telpon.
"Cha, lo udah tidur, apa gue gangguin lo" terdengar sapaan dari seberang.
Jawab Aslan jutek, "Ya jelaslah lo ganggu, pakai nanya lagi."
"Sorry deh kalau gitu, tapi kenapa lo yang jawab Lan."
"Lo siapa, kenapa bisa kenal gue."
"Gue Laskar."
Aslan mendengus tidak suka, "Mau apa lo nelpon jam segini, ganggu orang saja tahu gak."
"Sorry, tapi Icha belum tidurkan, kasih ponselnya ke dia ya, soalnya Leo kangen sama dia."
"Leo, siapa Leo."
"Anak kami." ceplos Laskar, namun buru-buru meralat kalimatnya, "Maksud gue, kucing kami."
"Kucing, sejak kapan lo berdua punya kucing."
Tentu saja Laskar malas untuk menjelaskan perihal kucing yang mereka pungut digot kepada Aslan, sebagai gantinya dia berkata, "Aslan, bisa kasih ponselnya ke Ichakan."
"Gak bisa, Icha saat ini lagi tidur, dia butuh istirahat supaya lekas sembuh, pahamkan lo." tandas Aslan langsung mematikan sambungan secara sepihak, dia terlihat jengkel.
"Sejak kapan kalian begitu akrab sampai punya kucing bersama." gumam Aslan menatap Icha yang tertidur lelap, dia berjanji besok akan menanyakan tentang kucing bernama Leo pada Icha.
__ADS_1
****
"Aslan kamprett, lagi apa sieh dia malam-malam begini masih betah dirumah Icha." umpat Laskar karna Aslan mematikan sambungannya secara sepihak
"Apa jangan-jangan Icha yang tidur dirumah Aslan kali ya." Laskar inget cerita Icha kalau dia memang kadang nginep dirumah Aslan.
Ngeong ngeong
Sik Leo mengeong mungkin mengerti kekesalan Laskar, "Kamu kangen ya sama mama kamu, maaf ya karna kamu gak bisa ngobrol sama dia mungkin dia lagi istirahat sekarang, saat ini mama kamu lagi sakit jadi butuh istirahat yang cukup supaya lekas sembuh." Laskar mencoba menjelaskan meskipun tuh kucing tidak mengerti sama sekali.
Ngeong ngeong.
Yang namanya kucing yang dibisa hanya mengeonglah.
"Kamu ingin menjenguk mama."
Ngeong
"Oke, besok kita jenguk mama, sekarang tidur dulu anak manis sini sama papa." Laskar meraih kucing itu dan meletakkannya disampingnya, berharap malam berganti dengan cepat untuk bisa menemui Icha.
****
Ketika terbangun besok shubuh, Icha merasa segar, dia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karna kemarin seharian kerjaannya hanya berbaring.
"Nikmatnya sehat." gumamnya dengan penuh syukur.
Icha mengarahkan matanya kebawah dimana Aslan tidur disana, Icha mengulas senyum, "Terimaksih Aslan telah merawat gue seharian, maafin gue yang selama ini selalu ngerepotin dan bikin elo susah, elo sahabat terbaik gue, meskipun gue sangat menyebalkan lo selalu ada buat gue, tapi yang perlu lo tahu, gue sangat menyayangi lo, gue gak mau hal buruk terjadi sama lo, gue selalu ingin lihat lo bahagia." lirihnya pada Aslan yang jelas tidak bisa mendengarnya karna Aslan masih berada didunia mimpi.
Icha bergegas bangun, menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengambil air wudhu, dan setelah menyelsaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah dia langsung menuju dapur, dia ingin sedikit membalas jasa Aslan dengan menyiapkan sarapan untuk Aslan, dan gak butuh waktu lama, satu piring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok sudah siap, Icha tinggal membawanya kekamar Aslan.
"Gue harap Aslan suka." gumamnya penuh harap.
Dan ketika dia membuka pintu kamar, Aslan sudah bangun dan duduk ditepi ranjang.
"Pagi Aslan." sapa Icha dengan senyum lebar.
"Lo udah sembuh."
"Seperti yang lo lihat."
"Syukur deh, apa yang lo bawa."
Icha menyodorkan nampan yang diatasnya berisi piring nasi goreng dan segelas susu, "Sarapan time."
"Lo yang bikin."
"Iya donk, sebagai balas jasa karna elo udah ngerawat gue sampai sembuh."
"Kenapa cuma dilihatin doank, nieh ambil." ujar Icha karna Aslan belum juga mengambil nampan yang dia sodorkan.
"Sekalian suapin juga donk."
"Wahh, lo mulai manja ya sekarang, tapi its oke, karna lo sahabat gue, maka gue akan nyuapin elo dengan sepenuh hati."
Icha duduk disamping Aslan meletakkan nampan tersebut dipangkuannya, dia mulai menyendok nasi goreng dan mengarahkannya kemulut Aslan.
"Aaaa, buka mulutnya."
Aslan membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Icha.
"Gimana, enakkan nasi goreng buatan gue." tanya Icha meminta pendapat Aslan.
Aslan mengunyah, menelan dan baru menjawab, "Hmmm."
__ADS_1
"Kok hmmm doankk sieh, enak apa gak." tuntut Icha.
"Iya enak."
"Hanya sekedar enak atau enak banget."
"Enak banget." jawab Aslan jujur
Icha tersenyum mendapat pujian tersebut, meskipun harus dipaksa dulu baru Aslan ngasih pujiannya, namun Icha seneng kok, Icha kembali menyuapkan nasi goreng tersebut, setelah beberapa kali suapan, Aslan mengambil alih sendok dari tangan Icha, dia kemudian mengarahkan sendok berisi nasi goreng tersebut ke mulut Icha.
"Lo juga harus makan, ayok buka mulut." ujar Aslan ketika melihat Icha hanya memandangnya.
"Gue buatin nasi goreng itu khusus buat lo."
"Tapi gue mau berbagi sama lo, ayok buka mulut lo."
Icha membuka mulutnya, "Lo juga harus makan yang banyak supaya badan lo berisi."
"Maksud lo, gue kurus gitu."
"Menurut lo."
"Iya gue kurus." aku Icha, "Gue makan sebanyak apapun badan gue segini doank, gak pernah bertambah berat badan gue."
"Itu karna lo kurang nutrisi, makanya lo harus banyak minum susu."
"Gak bisalah minum susu tiap hari, susukan harganya mahal."
"Ntar gue beliin satu lusin."
"Eh, gak perlu gak perlu, lagian gue gak doyan-doyan amet minum susu." tolak Icha.
"Terserah lo deh."
"Cha."
"Apa."
"Kenapa lo dan Laskar bisa punya kucing bernama Leo."
"Ohhh itu, iya, itu kucing gue, punya gue seorang, gue pungut digot, gue cuma nitipin tuh kucing sama Laskar karna mama Dea gak mungkin ngizinin gue pelihara tuh kucing dirumah."
"Kenapa dititipin ke gue."
"Ya gak mungkinlah, kak Mario kan alergi bulu kucing."
Aslan membenarkan, "Bener juga."
"Nieh habisin, suapan terakhir." ujar Aslan mengarahkan sendok ke mulut Icha.
Cekrek.
Suara itu langsung mengalihkan perhatian mereka, ternyata Gibran sudah berdiri dipintu dengan mengarahkan ponselnya kearah mereka, jelas Gibran tengah memotret mereka.
"Aihhh, manis sekali sieh pasangan ini, main suap-suapan, mau donk."
"Apa yang lo lakuin." bentak Aslan.
Gibran terkekeh lalu memperlihatkan hasil jepretannya, "Gimana baguskan, inikan gue perlihatkan sama mama dan papa kalau anak-anak mereka romantis banget, dan gue yakin mereka akan langsung mencetaknya dan memajangnya diruang tamu."
"Hapus gak kak." pinta Icha.
"Gila lo, ya gaklah." Gibran langsung ngibrit keluar.
__ADS_1
"Resek banget sieh kak Gibran." desah Icha.
****