Cinderela Modern

Cinderela Modern
HEBOH


__ADS_3

Laskar bukannya membawa Icha pulang ke rumahnya, dia malah membawa Icha kerumahnya sendiri, Laskar gak mungkin membawa Icha kerumahnya mengingat bagaimana perlakuan ibu tirinya terhadap Icha.


"Cha." panggil Laskar begitu di sudah tiba dirumah.


Namun gak ada respon dari Icha, hanya tangannya yang kuat memeluk perut Laskar.


"Kita udah sampai."


Namun masih tetap tidak ada respon sampai Laskar menoleh kebelakang barulah dia tahu Icha tertidur dengan menjadikan punggungnya sebagai sandaran.


"Astagaa, anak ini, bisa-bisanya dia tertidur diatas motor, kalau jatuh gimana coba."


Laskar turun perlahan dengan memegang tangan Icha supaya tidak terjatuh, setelah berpijak dibumi dengan sempurna barulah dia meraih tubuh Icha dan menggendongnya masuk kerumah besarnya.


Sri, salah satu pelayan dirumahnya dengan tergopoh-gopoh menghampirinya, dia mengerutkan dahinya melihat beban yang ada ditangan tuannya, dalam hati bertanya-tanya, "Apa yang dilakukan tuan sama anak gadis orang, jangan bilang tuan berniat jahat."


"Mama mana." tanya Laskar memutus perhatian Sri pada Icha yang ada dalam gendongan Laskar.


"Nyonya baru saja pergi tuan."


"Kemana."


"Gak tahu tuan, nyonya gak ngasih tahu Sri mau kemana."


Setelah bertanya, Laskar kembali berjalan melewati Sri menuju kamarnya.


Sri yang dari tadi penasaran apa yang akan dilakukan tuannya dengan gadis yang digendongnya reflek bertanya, "Tuan, tuan mau ngapain."


Dengan masih tetap berjalan Aslan nyahut, "Bukan urusan lo."


Sri langsung berlari menyongsong tuannya, dan begitu langkah mereka sejajar, Sri berkata, "Ya Allah tuan, jangan aneh-aneh, dosa tuan, ingat Allah, Allah bisa murka dengan kelakuan tuan."


Laskar langsung menghentikan langkahnya, menatap pelayannya dengan tatapan tajam, "Apa maksud lo."


Dipandang begitu membuat Sri ter intimimadasi, dia menunduk dan menjawab, "Tuan mau itukan." Sri menyatukan kedua jari telunjuknya.


"Ngomong yang jelas gue ngerti."


"Itu lho tuan, melalukan adegan dewasa."


Laskar mendengus, "Negatif aja fikiran lo, lagian gini-gini, gue tahu mana yang boleh dan tidak."


"Syukurlah tuan, Sri lega dengarnya, ternyata tuan masih kuat imannya."


"Truss, itu anak gadis orang mau diapain."


"Gak di apa-apain." ketus Laskar kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamarnya yang terletak dilantai dua.


"Mudah-mudahan tuan beneran tidak berbuat yang tidak-tidak, meskipun cuma dia yang berbuat, kami juga bisa kena azabnya karna satu atap dengan tuan."


****


Icha membuka matanya perlahan, badannya terasa segar setelah tertidur selama beberapa jam, setelah pergi ke dunia mimpi membuat suasana hatinya membaik.

__ADS_1


"Nyamannya." gumamnya memeluk guling kembali memejamkan matanya.


"Ehhh." desisnya dalam hati, "Setahu gue, kasur gue keras, gak empuk kayak gini."


Menyadari hal itu, Icha kembali membuka matanya, mengerjap-ngerjapkannya, Icha menatap langit-langit kamar, dia semakin yakin kalau ini bukan kamarnya, "Kalau bukan dikamar gue, terus ini kamarnya siapa."


Pertanyaan tersebut terjawab begitu matanya diarahkan kesamping dimana Laskar duduk disamping tempat tidur, senyuman Laskar menyambut rasa kaget Icha.


"Kamu udah bangun sayang." sapa Laskar senang.


Icha reflek bangun dari tidurnya, menutup tubuhnya dengan selimut, "Laskarr, apa yang kamu lakuin." jerit Icha, Icha mengarahkan matanya menjelajah kamar yang saat ini tempat dia berada, meskipun cuma sekali memasuki kamar Laskar, tapi dia yakin saat ini dia tengah berada dikamar Laskar saat ini, "Kenapa kamu bawa aku ke rumah kamu."


Laskar langsung gelagapan mendengar jeritan Icha, dia berusaha untuk menenangkan Icha, "Tenang Cha, tenang." Laskar berusaha menjelaskan, "Aku gak mungkin membawa kamu pulang kerumahmu, mengingat bagaimana sikap ibu tiri kamu, jadinya aku bawa kamu ke rumah aku agar kamu bisa istirahat dengan tenang."


Oke, Icha bisa menerima penjelasan Laskar, Laskar memang benar, kalau dirumah, bisa-bisa dia suruh kerja rodi oleh mama Dea.


Namun, Icha kembali menjerit, kali ini jeritannya lebih kenceng melihat pakain seragamnya yang dikenakan kini sudah berganti dengan pakaian kaos dan training, "Akhhhh." Icha langsung melempar bantal kearah Laskar, "Apa yang kamu lakukan ke aku Lass, kamu pasti telah melecehkan aku." Icha dengan membabi buta melemparkan bantal ke arah Laskar, "Dasar cowok brengsek, cowok jahat, mengambil kesempatan dalam kesempitan."


Sementara itu Laskar yang tidak punya kesempatan untuk menjelaskan karna Icha yang terus menuduhnya hanya bisa menghindar dari bantal yang dilemparkan Icha.


"Cha, tenang dulu, aku bisa jelaskan."


Icha malah ngamuk, "Brengsek bajingan."


****


"Apa yang terjadi, suara ribut-ribut dari mana itu."


"Sepertinya suara itu asalnya dari kamar tuan muda."


"Ada maling kali sampai teriak-teriak begitu."


"Ayok cepat kita lihat apa yang terjadi."


Keributan yang terjadi dikamar sang tuan muda ternyata didengar oleh para pelayan, sehingga beberapa pelayan secepat yang mereka bisa langsung melesat kekamar tuan muda mereka untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Dikamar, Laskar masih berusaha untuk menenangkan Icha untuk mendengar penjelasannya.


"Chaa, dengerin aku dulu."


Dibarengi dengan itu, pintu kamar Laskar menjeblak terbuka dari luar, disana beberapa pelayan rumah Laskar berdiri dengan wajah panik, saking paniknya, mereka membuka pintu dengan kasar, masing-masing dari mereka membawa benda-benda yang yang bisa dimafaatkan jika dibutuhkan, ada yang membawa sapu, kemoceng, teflon.


"Tuan muda."


"Tuan muda, apa yang terjadi, apa semuanya baik-baik saja." tanya mereka kompak sambil mengangkat benda yang mereka bawa.


"Apa-apaan kalian." bentak Laskar melihat para pelayannya yang heboh.


Para pelayan tersebut memandang Laskar dan Icha bergantian, bertanya-tanya dalam hati, "Lha, apa yang tengah dua remaja ini lakukan, bikin orang kaget saja."


Laskar menghela nafas, "Tuhkan Cha, para pelayan dirumahku pada heboh, gara-gara jeritan kamu, difikirnya aku ngapa-ngapain kamu."


"Emang gak."

__ADS_1


"Ya gaklah."


"Terus pakaian aku..." Icha melirik tubuhnya.


"Sri lo jelasin." perintah Laskar.


"Jelasin apa nieh tuan." tanya Sri gak mengerti.


Sahut Icha, "Siapa yang ngeganti baju gue."


"Ohh, itu saya nona, tuan meminta saya mengganti baju nona, nona tidurnya kayak orang mati, gak bangun-bangun meski bajunya diganti."


"Nahh, dengerkan Cha, aku gak ngapa-ngapain kamu."


"Yahh maaf, akukan tadi gak bisa berfikir jernih." ujar Icha merasa malu, pasalnya, gara-gara jeritannya para pelayan dirumah Laskar pada heboh.


"Lo semua kenapa masih betah berdiri didepan kamar gue, bubar sana."


"Maaf tuan." para pelayan tersebut bubar.


Laskar kembali duduk disamping Icha, "Kamu udah baikan."


Icha mengangguk.


"Ehh, HP aku mana Las."


"Tuhh." dengan dagunya Laskar menunjuk ponsel Icha yang tengah dichas.


"Bateri Hp kamu habis, makanya aku chas."


Laskar berdiri dan berjalan mengambilkan Icha ponselnya, "Nieh." Laskar menyerahkannya pada Icha yang langsung dihidupkan.


Begitu tuh ponsel hidup, berapa pesan masuk langsung masuk diponsel Icha.


"Icha, lo dimana, kenapa gak ada dirumah." pesan dari Aslan.


"Cha, aku dirumah kamu nieh, tapi kamunya kok gak ada, kamu dimana sekarang." Lea.


Icha membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu, tapi didahului oleh Laskar, "Iya, pas kamu tidur Lea nelpon aku, nanyain kamu, aku bilang aja kamu lagi sama aku." jelas Laskar.


"Dan aku yakin Lea memberitahu Laskar, jadi Icha, kamu gak perlu khawatir."


"Syukur deh kalau gitu." gumam Icha lega, pasalnya dia gak mau semua orang khawatir seperti minggu lalu ketika ponselnya dimatikan.


Krukkk


Icha memegang perutnya, dia lapar karna dia belum makan sejak Laskar membawanya pergi dari sekolah, dia jadi malu sama Laskar.


Laskar terkekeh, mengacak puncak kepala Icha, "Kamu lapar"


"Hmmm."


"Wajar, kamukan belum sejak pulang dari sekolah."

__ADS_1


****


__ADS_2