Cinderela Modern

Cinderela Modern
MERAYAKAN PUTUSNYA ASLAN


__ADS_3

"Mbak Ijah, es tehnya dua, satunya esnya dibanyakin." reques Icha pada mbak Ijah pedagang kantin.


"Neng Icha gak habis lari keliling lapangan lagikan."


"Ya gaklah, mbak kira gue sebadung itu sampai sering dapat hukuman." tersinggung juga dia ternyata.


"Terus, kenapa neng pesannya dua."


"Mbak Dijah bikin aja kenapa sieh, kepo banget, lagian mbak Ijah harusnya bersyukur gue pesan dua, kan cepat habis tuh es tehnya mbak Ijah ." Icha mulai jengkel.


Oke, mbak Dijah bisa dibilang salah satu wanita terkepo, dia selalu ingin tahu urusan orang, seperti saat ini, mbak Dijah tidak mempedulikan protes Icha, bibirnya yang selalu difungsikan untuk menggibah kembali bertanya, "Neng, Mas Aslan katanya baru putus ya sama neng Athena." tuhkan, dia uptudete dengan gosip terbaru, padahal baru beberapa menit yang lalu Aslan putus dengan Athena, beritanya udah melebar aja sampai kantin.


Icha gak heran, kalau gosip, eh bukan gosip kalau yang ini, ini fakta kalau Aslan memang benaran putus, berita-berita kayak gini itu lebih cepat menyebar daripada informasi kalau siswa sekolah SMA PERTIWI telah berhasil memenangkan lomba sains tingkat nasional, sebegitu menariknyakah hidup seseorang sampai semua orang ingin tahu.


"Iya." Icha menjawab singkat padat sesuai fakta.


Semakin kepo deh mbak Dijah, "Kok bisa putus neng, padahal mas Aslan tampan, neng Athena cantik, pasangan serasi mereka itu."


"Mbak." tekan Icha gak sabaran, "Mbak bikinan gue es teh deh cepatan, kenapa malah mbak jadi wartawan gosip nanyain hal-hal beginian."


"Neng Icha memang gak asyik diajakin ghibah, gak kayak neng Gita."


"Terserah deh, mbak cepatan bikinin, kalau gak Icha beli dimang Udin."


"Iya iya, jangan ngegas gitu donk neng."


Setelah mengambil dua gelas berisi es teh dan membeli berbagai macam cemilan, Icha berlalu dari kantin, tapi sebelum itu dia nyamperin Lea yang saat ini tengah menyantap mi ayamnya.


"Le, mau ikut kagak."


"Kemana."


"Gue mau ketemu Aslan, kan sebagai sahabat kandung yang baik, gue kudu menghibur dia yang tengah patah hati gitu, sekalian juga lo melancarkan misi PDKT lo."


Lea buru-buru berkata, "Duh, saat ini kayaknya gak deh Cha, gue masih dalam tahap mempersiapkan diri lahir bathin untuk melakukan pendekatan sama Aslan, soalnya gue sering kena sindrom lemah mental gitu saat didekat dia, parahnya lagi gue suka gagap, mungkin besok aja deh Cha karna gue mau melakukan berbagai ritual supaya kuat menatap mata Aslan."


Icha mendengus, "Dasar payah lo, kalau Aslan disambet cewek lain, nangis kejer deh lo." tandas Icha berlalu.


Tempat yang pertama kali akan dikunjungi untuk mencari Aslan adalah tentu saja perpustakaan, karna itu tempat favorit Aslan diseantero sekolah, tapi Icha bingung, soalnya diperpustakaan tidak boleh bawa makanan. Setibanya diperpustakaan, pustakawati perpustakaan yaitu bu Ela tidak ada dimeja kerjanya, ya mungkin saat ini keberuntungan tengah berpihak pada Icha karna berniat baik menghibur Aslan, (Padahalkan Icha bersyukur banget Aslan putus dengan Athena, bahkan sepulang sekolah, untuk merayakan putusnya Aslan dan Athena, dia dan Lea bakalan pergi karokean.) yah begitulah, menghibur Aslan cuma formalitas saja, supaya dianggap sahabat yang peduli gitu.


Icha mencari keberadaan Aslan ditempat biasa, sayangnya, tempat itu kosong.


"Lho, kok kosong, Aslan dimana kalau gak diperpustakaan." heran Icha, Icha kemudian inget, selain perpustakaan, kadang-kadang Aslan juga suka berada diroptoop sekolahan, Icha memutuskan mencari Aslan disana, dan benar ternyata, Aslan berada disana, berbaring dikursi panjang yang ada disana, tangannya difungsikan sebagai bantal, Icha mendekat, dilihatnya mata Aslan terpejam.


"Kasihan, pasti dia sakit hati banget diputusin sama Athena, jahatnya,gue malah bersyukur." suara hati Icha, yang gak ditahu oleh Icha, kalau Aslan biasa-biasa aja tuh, gak patah hati.


"Lo baru nyadar ya kalau gue ganteng sampai mandangnya mupeng gitu." lisan Aslan tiba-tiba membuka matanya.

__ADS_1


Icha mendengus. "Emang lo ganteng sieh, tapi percuma ganteng tapi diputusin." Icha meledek, dia duduk didekat Aslan yang sekarang sudah merubah posisinya.


Aslan tersenyum sinis, "Jadi, lo mau ngapain kemari, bukan buat ngeledek gue yang diputusin Athena kan."


"Gaklah."


"Nieh." Icha menyodorkan es teh yang dibelinya dimbak Ijah.


Aslan mengambil es teh pemberian Icha, memasukkan sedotan dibibirnya dan berkomentar, "Ini es teh atau es batu, es batunya kebanyakan, rasanya tawar lagi."


"Gitu ya, sengaja sieh gue pesan yang banyak es batunya gitu buat lo, kan lo hatinya lagi panas tuh karna diputusin, jadi kalau minum es super dingin bisa membuat hati lo adem."


"Sok tahu lo, kata siapa hati gue panas, biasa aja tuh."


"Sama gue ini gak perlu sungkan gitu Lan buat sok-sok an terlihat kuat, kalau perlu, lo nangis didepan gue, gue gak bakalan cerita sama anak-anak."


Aslan menoyor kepala Icha, "Udah gue bilang gue gak sakit hati, yah menurut gue sieh ini yang terbaik, toh juga Athena yang mutusin, jadinya gue gak merasa bersalah, lagian juga gue mau fokus belajar aja dulu supaya bisa menggapai mimpi gue."


"Wah, lo keren pakai banget Lan, bagus deh kalau lo punya pemikiran gitu, gue fikir lo kayak Marhun, nangis-nangis sama Gita supaya gak diputusin."


"Itu mah sik Marhunnya yang bucin."


"Emang lo gak." tanya Icha yang kemudian dijawab sendiri olehnya, "Pastinya gak donk, kalau iya, pasti lo bakalan datang ke roptoop punya niatan melompat untuk bunuh diri dan jadi hantu gentayangan."


"Fikiran lo kemana-mana, makanya jangan kebanyakan nonton film horor, Walaupun seandainya gue cinta mati sekalipun sama Athena, gue gak mungkin punya niat untuk bunuh diri, gue kan imannya kuat."


"Bener juga, lokan rajin sholat dan ngaji."


"Lan, ada cewek yang lo sukai gak, secara gitu lo baru putus sama Athena."


"Gak." Aslan menjawab cepat, "Tapi kalau cewek yang suka sama gue banyak." balas Aslan percaya diri.


"Ihhh, dasar narsis emang lo." seru Icha, tapi dia memang mengakui hal tersebut.


"Bukan narsis Cha, tapi fakta, gue jamin, besok pasti banyak yang ngirimin gue hadiah kayak dulu lagi."


Icha tersenyum, "Dan tentunya itu sebuah keuntungan buat gue." karna biasanya, kiriman dari penggemar Aslan akan dialihkan ke Icha.


****


Seperti yang sudah dibilang, untuk merayakan putusnya Aslan dan Athena, Lea akan memberi santunan pada anak yatim piatu dan fakir miskin, dan setelah itu barulah Icha dan Lea akan merayakannya berdua ketempat karoeke. Namun sebelum itu, tempat yang dituju terlebih dahulu adalah pantai Asuhan, Lea yang apapun keinginannya selalu mendapat dukungan dari mamanya, telah menitipkan sejumlah uang pada Ucup sopir Lea untuk disumbangkan kepantai asuhan. Lea adalah tipe anak manja yang selalu menceritakan segala hal pada mamanya, termasuk perasaannya yang dipendam sama Aslan, dan begitu Aslan putus, Lea langsung memberitahu mamanya lewat pesan, tentu saja mama Lea antusias dengan berita yang membuat anak perempuannya bahagia.


Makanya begitu bel pulang berbunyi, Icha dan Lea langsung keluar karna Ucup udah nungguin didepan sekolah.


"Chaaa." teriak Laskar dari belakang.


Hanya Icha sieh yang dipanggil, namun Lea juga ikutan berbalik.

__ADS_1


"Ada apaan lo manggil-manggil."


"Gue pinjem catatan sejarah lo donk."


"Le, kasih Laskar pinjem catatan lo donk."


"Laskar minjemnya sama lo, bukan sama gue." seru Lea.


"Gue tahu, masalahnya, Laskar mungkin gak tahu kalau gue itu gak pernah nyatet, makanya lo kasih pinjem catetan lo, lokan rajin banget nyatetnya."


Lea membuka resleting tasnya dan menarik buku sejarahnya yang diberikannya ke Laskar.


"Makasih Le, besok gue balikin deh."


"Tumben banget lo rajin." tanya Icha curiga.


"Gue kan udah taubat, ingin jadi murid yang taat dan berbakti."


"Emang bisa tuh."


"Insaallah."


"Ya udah deh Laskar, kami duluan." pamit Icha.


"Kalian mau kemana."


"Rahasia ilahi." jawaban Icha.


Disaat bersamaan, Lea memberitahu,"Ke pantai asuhan, terus ke tempat karoeke."


"Kenapa lo kasih tahu Le."


"Emang kenapa."


Icha akan bilang, nanti dia minta ikut lagi, saat Laskar mengucapkan,


"Gue ikut donk."


"Tuhkan." lirih Icha membatin, "bener gue bilang."


"Ikut, ngapain lo ikut." tanya Icha.


"Ya karna gue teman lo lah, boleh ya gue ikut lo berdua."


"Gimana Cha." Lea meminta pendapat Icha.


"Ya udah deh, lagiankan dia gak minta gendong Le."

__ADS_1


"Asyiik, ada gue pasti seru."


****


__ADS_2