Cinderela Modern

Cinderela Modern
LARI PAGI


__ADS_3

Icha terlonjak bangun begitu mendengar suara nyaring dari ponselnya yang manandakan adanya panggilan masuk, "Siapa sieh ganggu tidur orang pagi-pagi begini." omelnya namun tangannya meraba-raba mencari ponselnya yang diletakkan diatas kepalanya, namun ternyata tuh ponsel sudah berpindah posisi berada dibawah kakinya.


"Akhhh, nieh juga ponsel bikin ribet aja." omelnya menyambar ponsel tersebut.


Begitu tuh HP ditempelkan ditelinganya terdengara suara yang langsung menyambut gendang telinganya, "Bangun lo."


"Aslan, ngapain nelpon pagi-pagi buta gini, ganggu mimpi indah gue aja." matanya merem.


Dari seberang Aslan mendengar suara ngorok, dia meninggikan suaranya supaya Icha kembali sadar, "Icha, jangan tidur lagi lo, udah shubuh ini, sholat sana."


"Iya, gue bakalan sholat, 10 menit lagi, gue mau nyambung mimpi gue dulu, sumpah mimpi gue indah banget barusan."


"Bangun Icha, sholat." Aslan menekan kalimatnya, "Sholat lebih baik daripada tidur, dan setelah itu gue tungguin lo didepan, GPL, awas saja kalau tidur lagi, gue pecat lo jadi sahabat." ancam Aslan.


Hari ini adalah hari minggu, dan biasanya Aslan sering memaksa Icha bangun pagi-pagi untuk lari pagi bersamanya ketaman yang gak terlalu jauh dari area perumahan mereka.


"Iya iya gue bangun." ujarnya dengan malas.


"Nah bagus, dan langsung sana ambil air wudhu biar belek-belek dimata lo ilang."


"Kalau lo ngoceh mulu kayak penjual obat kapan gue sholatnya."


"Oke kalau gitu gue matiin."


****


Butuh sekitar kira-kira dua puluh menitan baru Icha nyamperin Aslan yang duduk menunggunya dikursi kayu didepan rumahnya dengan memakai stelan training berwarna gelap.


"Ngapain aja lama amet."


"Ya lamalah, orang gue tengah menghadap Allah, gue curhat tentang masalah beban hidup, curhat masalah ibu tiri yang gue jahat, curhat tentang sahabat gue yang pemaksa." ocehnya.


"Lagak lo curhat-curhat, tadi lo gue paksa-paksa baru bangun." tandas Aslan.


Icha ingin membalas, namun Aslan kembali berkata, "Ayok ah, ntar matahari keburu terbit lagi."


Mereka mulai berlari pelan dibawah langit gelap yang masih bergayut, suasana masih sepi hanya ada beberapa orang yang juga olahraga pagi seperti mereka.


Setelah mereka berlari diarea taman, mereka memutuskan duduk didekat danau buatan yang berada ditengah-tengah taman untuk menyaksikan sunrise, memang bukan tempat yang tepat sieh buat menyaksikan sunrise, tapi itu tempat terbaik yang bisa mereka temukan.


Icha mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan pemandangan indah yang berlatar warna orange yang ada dilangit, Aslan juga melakukan hal yang sama, namun dia bukannya mengarahkan ponselnya pada matahari yang tengah terbit, dia mengarahkan kamera ponselnya kearah Icha. Suara jepret dari ponsel Aslan menyadarkan Icha kalau dirinya menjadi objek keisengan Aslan.


"Aslann, apaan sieh iseng banget sieh jadi orang, hapus gak."

__ADS_1


"Gak." ujarnya memperhatikan foto Icha, dan sepertinya Aslan tengah menahan tawa melihat foto hasil jepretannya.


"Hapus Aslan." rengek Icha karna yakin tuh foto yang baru diambil oleh Aslan jelek, dan tuh foto memang beneran jelek sieh.


"Gue gak mau, kenapa lo maksa sieh, inikan HP gue, terserah gue donk mau nyimpen atau gak."


"Tapi itu wajah gue, dan ngambil foto orang tanpa seizin orangnya itu ilegal, lo bisa gue tuntut ntar."


Aslan tertawa mendengar ocehan Icha, "Lagak lo main tuntut, mending cantik, wajah jelek begini main tuntut." Aslan meledek.


"Dasar lo jahat, lo tahu saat ini wajah gue lagi jelek, makanya lo foto, biar ada yang lo ketawainkan."


"Bukan, tapi foto lo bakalan gue cetak, gue tempel dinding, lumayankan buat nakutin tikus dirumah gue."


"Emang sahabat jahanam lo." Icha bersiap mengangkat kepalan tangannya untuk memukul Aslan, namun Aslan keburu berlari menyadari bahaya.


"Tangkap gue kalau lo bisa."


"Aslannnnn." teriak Icha mengejar Aslan dibelakang, "Hapusss."


****


Icha menenteng tiga bungkus plastik bubur ayam ditangannya dalam perjalanan pulang setelah lari. Icha menyuruh Aslan bertanggung jawab karna mengajaknya lari pagi, karna hal tersebut membuat Icha gak bisa menyiapkan sarapan untuk ketiga rubah yang ada dirumahnya, jadi supaya gak kena omelan, Icha memaksa Laskar selain mentraktirnya juga mentraktir ibu dan dua saudari tirinya yang saat ini pasti tengah menunggu kepulangannya menunggu untuk diberi makan.


"Gue bawa upeti." ucap Icha membawa bubur itu kemeja makan.


"Untung lo bawa sarapan, kalau gak lo bakalan yang direbus jadiin sup oleh mama." oceh Lola.


Icha menjawab, "Harus gitu lo pada nunggu gue dulu, lokan bisa nyiapin sarapan sendiri."


"Kalau ada pembantu gratis ngapain harus ngerjain sendiri bikin capek saja." balas Loli.


Icha mendengus kasar, pagi-pagi darahnya sudah dibikin naik, dia mengelus dadanya untuk menahan amarahnya, "Sabar Icha, sabar." menguatkan diri sendiri karna gak mau ribut pagi-pagi begini, "Orang sabar disayang Allah, sedangkan orang jahat jadi budak iblis." lisannya dengan suara yang cukup besar.


"Jadi maksud lo gue dan Loli budak iblis gitu."


"Fikir aja sendiri." balas Icha santai sambil melenggang pergi kekamarnya untuk membersihkan diri, sebenarnya sieh gak perlu, toh juga dia bakalan kotor lagi mengingat pekerjaan rumah sudah menunggunya.


"Menyebalkan sekali sik upil itu, masak kita dikatain budak iblis."


"Mungkin itu sebabnya kita gak laku-laku, orang lihat kita mirip kayak iblis kali." lirih Loli polos.


"Nieh satu lagi, tutup mulut lo."

__ADS_1


Loli bungkam dibentak begitu oleh Lola.


****


Penyebab mama tirinya tidak memarahinya dan tidak memberikan hukuman kemarin ketika dia pulang terlambat terjawab ketika kurir pengantar paket memencet bel rumah.


"Iya tunggu sebentar." teriak Icha dari dalam, saat ini dia lagi bersih-bersih, dengan membawa kemoceng dia berjalan kepintu.


"Dengan ibu Dea." tanya sik kurir.


"Ibu ibu, wajah saya gak setua itu kali mas mas." kesal Icha.


"Maaf bu, eh mbak, eh adek." sik kurir jadi bingung manggilnya apa, "Manggilnya apa ya."


"Panggil beautifull aja." jawab Icha asal.


"Tumpul mbak."


"Budekk, beautifull."


"Aduh susahnya, saya gak bisa bahasa thailand mbak, bisanya bahasa malaysia saja."


"Itu bahasa inggris mas, bukan bahasa thailand, beautifull artinya cantik, mas gak pernah sekolah ya."


Oke Icha dan mas-mas kurir malah berdebat hal yang sangat tidak penting.


"Artinya cantik ya, tapi kok mbaknya jelek." ujar sik kurir polos.


"Uhhh." Icha mengarahkan kemoceng ke mas kurir saking dongkolnya, "Gue pukul juga lo."


"Kalau mbak mukul saya, paketnya gak bakalan saya kasih mbak."


Barulah Icha inget tentang paket, "Itu isinya apa sieh mas."


"Kalau mbak bertanya mengenai apa isinya berarti mbak bukan bu Dea ya."


"Emang bukanlah."


"Bu Deanya mana."


"Mamamaaa." teriak Icha sekenceng yang dia bisa, "Abang-abang kurir nieh, katanya mau ngapelin mama." iseng Icha, dia kemudian tertawa ngakak.


"Astaga sik mbak main fitnah saja." sik kurir geleng-geleng.

__ADS_1


****


__ADS_2