Cinderela Modern

Cinderela Modern
LUKA


__ADS_3

Pingg


Suara yang menandakan adanya Chat masuk diponsel Icha yang membuat Icha yang tengah memotong sayuran untuk dimasak sebagai lauk makan malam menghentikan aktifitasnya untuk sesaat dan meraih ponselnya untuk melihat siapa pengirimnya, yang ternyata adalah pacarnya yaitu Laskar.


Sayang


Pesan dengan satu kalimat yang mampu membuat pipi Icha memerah.


"Apaan sieh Laskar, harus gitu dia manggilnya pakai sayang-sayang begitu."


Icha mengetik untuk membalas.


Iya


Hanya butuh setengah detik untuk Laskar membalas.


Kok iya doank sieh


Lha, terus apa


Iya sayang, bilang begitu donk agar aku senyum-senyum kayak kamu


"Ihhh, kok Laskar tahu sieh kalau gue senyum-senyum, apa dia cenayang ya." tanyaya pada diri sendiri.


Wajah Icha tambah memerah, untung cuma lewat chat, kalau berhadapan langsung dengan Laskar bisa sangat malu dia, Icha menarikan jemarinya dikeypad untuk kembali membalas pesan Laskar.


Ishhh, kenapa harus panggil sayang segala sieh, geli tahu.


Harus manggil sayang donk Cha, status kita kan udah bukan teman lagi sekarang, tapi pacar, kamu tahukan maknanya pacar, dua hati yang saling mencintai, itu artinya, kamu adalah gadis yang aku sayang dan akan selalu aku bahagiain.


Diluar kemauannya, Icha tersenyum membaca balasan chat Laskar, ya maklumin saja, namanya juga orang baru pertama kali pacaran, lagi berbunga-bunganya.


Apaan sieh lo Laskar


Hanya itu kalimat terbaik yang bisa Icha tulis sebagai balasan.


Nahhh, itu lagi, bisa gak Cha, manggilnya jangan elo gue lagi, manggilnya aku kamu saja. Protes Laskar.


Gak bisa Laskar, udah biasa


Ya udah deh terserah kamu.


Lo marah ya


Gak, ngapain aku harus marah


Syukurlah kalau begitu


Kamu lagi ngapain sekarang


Lagi nyiapin makan malam buat tiga siluman rubah itu.


Aku beruntung


Beruntung kenapa


Karna pacar aku pinter masak


Biasa aja, gak pinter-pinter banget kok.


Icha mencoba merendah, padahal sieh dia melambung karna pujian tersebut.


Aku boleh gak minta sesuatu


Apaan


Aku ingin dimasakin sama kamu


Makan masakan aku


Iya


Masakan aku gak enak lho


Kalau masakan pacar pasti enak


Gue serius


Aku juga serius, besok bawain aku sarapan ya, gak boleh nolak titik.


Iya kalau gue inget.

__ADS_1


Harus inget sayang, kalau gak inget aku cium lho.


"Apaan sih Laskar." ujar Icha senyum-senyum.


Icha meneruskan aktitas memotongnya, karna memikirkan Laskar, Icha jadi gak fokus, jadinya bukan malah sayuran yang kena potong malah jarinya yang teriris.


"Awww." Icha meringis kesakitan, "Ini gara-gara Laskar, coba kalau dia gak gangguin gue, gak bakalan kan jari gue luka kayak gini."


Icha membuka keran untuk membersihkan lukanya dengan air mengalir, setelah itu mencari plester diP3K, "Duhhh, perih banget lagi."


Namun sebelum mengobati lukanya, terlebih dahulu Icha memotretnya, disertai dengan caption dibawah gambar tersebut yang berbunyi, "Ini gara-gara lo gangguin gue, jadi keiris deh jari gue, jadi gak bisa deh masak sekarang." dan setelah itu Icha mengirimnya ke nomer wa Laskar.


Dengan cepat foto yang dikirim Icha mendapat tanggapan.


Tangan kamu kenapa sayang.


Tentunya Laskar panik donk.


Mata lo buta


Astagaaa, sorry ya, besok-besok aku gak akan gangguin kamu saat lagi masak, tapi aku akan tanggung jawab kok.


"Tanggung jawab apaan sieh maksudnya." Icha bertanya pada diri sendiri ketika suara cempreng Loli mengejutkannya.


"Upillll, udah siap belum makan malamnya, udah lapar banget nieh."


"Astagaaa, siluman satu itu, bisa gak dia gak usah teriak-teriak, difikir gue budek apa." ujar Icha dongkol.


"Upilll, lo udah selesai belum masaknya." Loli kembali bertanya karna gak ada tanggapan dari Icha.


Icha yang masih fokus mengobati lukanya tidak menggubris rengekan Loli, dia hanya mendengus dan bergumam, "Bisanya hanya merengek, dasar gak berguna."


"Hehh." karna pertanyaannya gak kunjung mendapat respon, Loli mendekati Icha dan menowel punggung Icha, "Kalau orang nanya dijawab donk."


Balas Icha, "Kalau orang masak, lo bantu doank, jangan hanya bisanya makan doank, lo gak lihat nieh tangan gue luka begini, kalau udah begini mana bisa gue ngelanjutin masaknya."


"Lebay banget sieh lo, luka seupil begini doank pakai mau ngeluh segala."


"Luka segini doank lo bilang, ini sakit begok."


"Gitu aja sakit."


"Ya udah donk makanya, lo bantuin gue Lol biar cepat selesai, agar mulut lo gak sibuk nyerocos mulu."


"Dasar menyebalkan." desis Icha.


"Udah sana cepatan lanjutin masaknya, jangan luka lo aja yang lo urus, bisa mati kelaparan kami."


"Ya ntar dulu, masih sakit nieh luka gue."


"Pokoknya gue gak mau tahu, mau lo luka kek, kesakitan kek, tuh makan malam harus sudah siap sedia dimeja makan." sambil berlalu meninggalkan Icha.


"Dasar gadis sialan, bisanya hanya main perintah saja sama mamanya."


****


Ting tong


Ting tong


Ting tong


"Upilllll, ada tamu tuh, bukain gieh." teriak Lola dari ruang tengah.


Saat ini Lola dan Loli pada tengah berada diruang tengah sambil main HP dengan TV menyala.


"Ya Tuhanku, berikanlah hambamu ini kesehatan dan yang paling penting kesabaran dalam menghadapi rubah-rubah jahannam itu." doa Icha tidak menanggapi perintah Lola.


"Upillll, lo denger gak, buka pintunya begokk, kenapa lo malah bertelor didapur." kembali teriakan menggema.


"Emang sepertinya siapapun pasti gak akan bisa sabar dalam berhadapan dengan mahluk-mahluk menyebalkan itu, udah tahu gue lagi masak, disuruh buka pintu lagi." Icha menggerutu sembari berjalan ke arah pintu.


"Guekan lagi sibuk, kenapa gak kalian aja yang buka pintu." omel Icha begitu melihat rubah kembar itu tidur-tiduran disofa sambil main HP.


Loli menjawab santai, "Mager."


Sumpah jawaban itu ingin membuat Icha melempar guci kemulut Loli saking keselnya.


Ting tong


Ting tong

__ADS_1


Sepertinya tuh orang gak sabaran menunggu sehingga dia menekan bell terus-terusan.


"Tuh sana bukain, malah bengong lagi."


Icha mendengus kasar dan mengumpat, "Dasar gak berguna, ke laut aja lo berdua."


Icha yang emosi terus saja ngoceh dalam perjalanan ke pintu, "Siapa sieh yang gak punya kerjaan begini datang bertamu."


Ting tong


Ting tong


"Iya iya sebentar." teriak Icha karna tuh tamu gak sabaran banget.


Ketika pintu terbuka, sebuah punggung yang dilapisi jaket kulit menyambut mata Icha, "Ekhemm, cari siapa ya mas." Icha bertanya.


Orang tersebut memutar tubuhnya dan tersenyum, "Malam Cha."


"Laskarrr." keget Icha melihat pacarnya yang tiba-tiba datang ke rumahnya, padahal baru saja mereka chat.


"Apa yang lo lakuin."


"Jenguk kamu."


Icha mengarahkan jari telunjuknya ke dada, "Jengukin gue, guekan gak sakit."


"Tadi kamu bilang jari kamu luka."


Icha melihat jarinya yang sudah diplester dan memperlihatkannya pada Laskar, "Luka sekecil ini gak parah Laskar, dan gak perlu dijenguk segala."


"Iya iya deh aku ngaku, sebenarnya aku datang karna aku kangen Cha."


Bersemu lagi deh tuh sik Icha, untungnya pencahayaan lampu diteras rumah temaram, jadinya Laskar tidak bisa melihat semu diwajah Icha, "Baru saja dua jam lo pulang dari rumah gue, masak udah kangen aja sieh."


"Ya gimana ya Cha, namanya juga orang tengah kasmaran, pengen ketemu terus bawaannya."


"Gombal."


"Aku gak gombal Cha, ini serius, mana tenang aku tidur sebelum lihat wajah kamu."


"Sekarang udah lihatkan, mending kamu pulang saja istirahat, besokkan sekolah, aku juga mau lanjutin masaknya."


"Ngusir nieh."


"Gak sieh, emang kamu masuk."


Mengingat mama Dea, Laskar buru-buru menolak, "Gak, yang penting aku udah lihat kamu meskipun sebentar, itu sudah lebih dari cukup kok."


"Ya udah pulang sana."


"Iya aku pulang."


Tapi sebelum pulang, Laskar menyerahkan plastik yang sejak tadi dipegangnya.


"Apa nieh."


"Makanan, aku sengaja membelinya agar kamu tidak perlu masak lagi, tangan kamu lagi sakitkan."


"Wahh, kamu memang pacar yang sangat pengertian, makasih ya, kebetulan juga aku belum mulai masak, masih dalam tahap potong memotong."


"Cuma terima kasih doank nieh yang aku dapetin."


"Maksudnya."


Laskar menyodorkan pipinya, "Cium kek gitu."


Icha mengepalkan tangannya, "Niehh cium."


"Yahhh, pelit amett." Laskar terlihat nelangsa.


Icha terkekeh, "Bukan muhrim, dosa."


"Hmmmm."


"Udah sana pulang."


"Iya, kamu juga masuk gieh, ntar masuk angin lagi."


"Iya."


Mereka sama-sama berbalik dengan tujuan berlawanan.

__ADS_1


*****


__ADS_2