
Setibanya dirumah kediaman keluarga Wijaya, semua anggota keluarga Wijaya yang laki-laki kecuali Gibran sudah berkumpul diruang tamu, sepertinya sudah siap untuk pergi.
"Hai semuanya." tegur Icha yang baru masuk diruang tamu.
Semuanya menoleh pada Icha.
"Datang juga lo." ujar Aslan.
Sedangkan papa Ridho membalas sapaan Icha, "Hai sayang."
"Cha, lo pergi dengan penampilan kayak gitu doank." respon Mario melihat penampilan Icha yang dalam kondisi bener-bener tidak layak untuk pergi, hanya pakaiannya saja yang layak untuk dibawa pergi.
"Emang kenapa, penampilan Ichakan memang kayak gini tiap hari." jawab Icha polos gak ngerti maksud Mario.
"Maksud kakak Cha, gak bisa apa kamu dandan sedikit gitu walau hanya pakai bedak atau minimal pakai tepunglah karna kakak yakin kamu gak punya bedak." ledek Mario, "Dan itu juga rambut, gak bisa apa dijinakkan sedikit, pakai minyak goreng bisa kan Cha." saran Mario ngaco.
"Apa-apaan sih kamu Mario." tegur papa Ridho, "Ngasih saran kok aneh-aneh, pakai tepung, pakai minyak goreng, Ichakan bukannya hidup dizaman penjajahan belanda."
"Baper banget sieh papa, cuma bercanda pa, slow donk." Mario kembali mengalihkan perhatiannya pada Icha, dan kembali berkata, "Mama aja tuh heboh dan butuh dua jam full untuk memoles wajahnya yang kecil, padahal mama udah tua, masak kamu gak sieh."
"Jangan dengerin kak Mario Cha, jadi diri lo sendiri aja kalau itu membuat lo nyaman, gue suka lo apa adanya." Aslan melontarkan pendapatnya.
"Lo bener Lan, gue nyaman kayak gini, jadi gak perlu dandan gitu, lagian ngapain juga dandan, toh kalaupun aku dandan, kak Mario gak akan jatuh cintakan sama aku." balas Icha iseng.
Membuat Mario dan papa Ridho tertawa dengan banyolan Icha, "Sebenarnya kakak suka." balas Mario meladeni keisengan Icha, "Sayangnya kamu masih kecil, belum cukup umur kalau diajak kepelaminan, mending sama Aslan saja deh, kalian cocok itu."
"Tapi Ichanya yang gak cocok sama Aslan."
Aslan langsung memutar lehernya kearah Icha, dia ingin bertanya, "Maksud lo apa." tapi pertanyaannya diwakili oleh Mario yang lebih dulu menanyakan hal yang kurang lebih sama, "Lho, kenapa gak cocok, Aslankan ganteng..."
"Itu sieh gak perlu diragukan, itukan turunan dari papa." potong papa Ridho penuh kebanggaan.
__ADS_1
Namun papa Ridho diabaikan, Mario kembali melanjutkan kalimatnya, "Selain ganteng, dia juga pinter, juara kelas, murid teladan, apa coba yang kurang."
"Kurang senyum, ntar kalau Icha sama Aslan bisa-bisa Icha jadi patung karna saking seriusnya." jawaban Icha membuat Mario dan papa Ridho tertawa lagi, sedangkan Aslan wajahnya masam karna ledekan Icha, iya dia tahu ini cuma bercanda, dan apapun yang Icha katakan tentang dirinya dia gak bisa marah.
Mario menyenggol lengan adiknya, "Tuh Lan, katanya kamu kurang senyum, kalau kamu ingin dapetin Icha, mulai sekarang perbanyak senyum dan gosok gigi pakai pepsodent." Lha, malah jadi promosiin merek pasta gigi.
"Siapa juga yang mau sama Icha, guekan laki-laki tulen, mana mau sama wanita jadi-jadian begitu." tandas Aslan yang membuat semuanya langsung bungkam.
Aslan memang jarang ngomong, tapi sekalinya ngomong nyelekit, bikin orang gak bisa ngejawab.
****
Gak lama kemudian mama Dina muncul, meskipun tergolong tidak muda lagi, tapi mama Dina tetap cantik, ya maklumlah rajin perawatan, gimana gak cantik coba, coba Icha kalau rajin perawatan dia juga pasti cantik, tapi sayang dia malas, selain itu juga dia gak punya uang untuk biaya perawatan salon.
"Mama masih cantik dan menawan seperti pertama kali kita bertemu." papa Ridho memuji istrinya dan mengecup pipi sang istri dengan mesra.
Mama Dina terlihat malu-malu, "Ah papa bisa aja, mamakan udah tua."
Meskipun sudah pada tua gitu masih saja kelakuannya kayak ABG.
"Ma, pa, bisa gak mesra-mesraanya jangan didepan anak dibawah umur." tegur Mario mengerling ke arah Icha dan Aslan.
"Lho emang kenapa, justru bagus donk, kami memberikan contoh yang baik bagi kalian, seharusnya kalian, terutama kamu Mario, bisa menjadikan mama dan papa sebagai contoh dalam membina rumah tangga nantinya, meskipun kami sudah tidak lagi muda." papa Ridho gak mau mengatakan dirinya tua, "Toh kami tetap mesra dan harmonis."
"Maklumin aja pa, kak Mariokan jomblo bangkotan, dia hanya iri dengan kemesraan mama dan papa karna sampai sekarang belum punya pacar alias gak laku ." sahut Icha cekikikan, Aslan terbatuk-batuk untuk menyamarkan tawanya, diakan gak mau dianggap adik durhaka karna mentertawakan kakaknya sendiri.
"Siapa bilang kak Mario gak laku, yang mau sama kak Mario ngantri, kak Mario saja yang pilih-pilih." jawabnya membela diri.
"Ngantri dari mananya, pasien kakak, itu yang kakak sebut ngantri." ujar Aslan menimpali yang membuat Icha ngakak.
"Nieh anak satu main nyambung aja." kesal Mario.
__ADS_1
"Sudah sudah, mending kita berangkat sekarang." sela mama Dina, namun disaat bersamaan dia melihat penampilan Icha, "Astaga Icha, kenapa kamu gak dandan sieh, biar wajah kamu agak cerah dikit."
"Ichakan mana bisa dandan kayak mama, mama kayak gak kenal Icha saja." tukas Aslan.
Icha punya sieh seperangkat alat make up, hadiah ulang tahun dari Lea, tapi dia mana bisa make up make up begitu, makanya produk make up pemberian Lea hanya sebagai pajangan dikamarnya, atau mungkin sudah dikepet oleh mama atau gak Lola dan Loli, tiga orang itukan sudah kayak babi ngepet, suka ngambil barang-barang Icha.
"Pa, pulang nanti kita mampir ditoko kosmetik ya."
"Buat apa ma, mamakan sudah punya satu meja full produk kecantikan, masih kurang itu."
"Bukan buat mama pa, tapi buat Icha, mama mau beliin produk skincare dan produk make untuk Icha."
"Eh, gak usah ma, gak usah, lagianka Icha gak bisa make up make upan."
"Justru itu sayang supaya kamu bisa make up, biar cantik kayak mama."
"Pada mau berangkat atau pada masih mau meting tentang produk kecantikan." Mario mengintrupsi.
"Eh, jadi lupa, ayok mending kita berangkat sekarang."
"Kak Gibran mana." Icha bertanya karna tidak melihat Gibran.
"Oh anak itu." mama Dina seperti baru ingat punya anak bernama Gibran, "Katanya bakalan nyusul kerestoran, dia mau ngajak seseorang ikut makan malam bareng kita." jelas mama Dina.
"Pacarnya ya."
"Yah semacam itulah."
"Kak Gibran punya pacar." Icha bertanya dalam hati, "Dia emang udah move on dari Lea, padahal baru kemarin dia curhat-curhat bagaimana susahnya mendapatkan Lea dan berjanji bakalan menaklukan hati Lea, masak dia sudah mendapatkan pengganti Lea secepat itu dengan wajah pas-pasan begitu." heran Icha dalam hati.
****
__ADS_1