Cinderela Modern

Cinderela Modern
NONTON


__ADS_3

"Jadi." ujar Laskar buka suara untuk meminta pendapat ketika mereka berempat sudah berada didalam mobil, "Mau kemana nieh kita."


"Kemana ya asyiknya." Icha terlihat berfikir, karna tidak menemukan ide, Icha bertanya pada Aslan, "Lann, asyiknya kita kemana."


"Kita nonton aja."


"Boleh juga tuh." Laskar menyokong pendapat Aslan.


"Gimana menurut lo Le." Laskar bertanya untuk meminta pendapat Lea karna sejak masuk ke mobil nieh anak diam kayak orang sakit gigi.


"Gue ikut aja deh." Lea adalah tipe cewek pasrahan, di ajak kemana saja ngikut.


"Lo pasrahan amet sieh jadi cewek Le." komen Icha.


Laskar terkekeh mendengar ledekan Icha.


"Habisnya gimana, gue gak punya rekomendasi sieh, maklum, guekan jarang pergi keluar."


"Dasar anak mami."


****


Setelah diputuskan kalau mereka akan nonton, Laskar mengarahkan mobilnya kesebuah pusat perbelanjaan yang memiliki bioskop.


Mereka berempat kini tengah melihat-lihat poster film sebelum menentukan film apa yang akan mereka tonton.


"Nonton ini saja nieh, seru kayaknya." Laskar menunjuk sebuah poster seorang pria membawa senjata api, film itu jelas merupakan film action.


Jelas saja Icha yang punya selera yang sama dengan Laskar menyetujui, "Iya, gue setuju dengan lo Las, film ini sepertinya bagus dan menegangkan."


Icha dan Laskar bertos ria karna mereka sehati.


"Jangan yang itu." tolak Aslan, "Gue gak suka nonton film yang ada adegan kekerasannya." Aslan kini berfokus melihat poster cewek berponi dengan kaca mata tebal yang memegang buku setumpuk, jelas film itu mendeskripsikan tentang film kutu buku, film yang disukai Aslan karna sesuai dengan karakternya.


"Film apaan nieh, dari posternya aja boring, apalagi kalau di tonton, bisa dipastikan langsung ngorok gue dimenit ke lima." cloteh Icha gak setuju dengan pilihan Aslan.


"Ini tuh film tentang edukasi, dan yang pasti lebih bagus dan lebih bermutu dari film yang lo pilih."


"Ya salammm." Icha geleng-geleng, "Di sekolah belajar, dirumah belajar, masak lo juga nonton film tentang pendidikan juga sieh Lan, gak bosan otak lo, gue yang gak pernah belajar aja bosan."


"Icha benar." Laskar menyokong, "Kita disinikan dalam rangka mencari hiburan, refress otak agar gak penat dengan pendidikan, masak dibioskop juga kita belajar sieh."

__ADS_1


"Lo berdua sudah saatnya sadar kalau pendidikan itu penting, siapa tahu dengan nonton nieh film lo pada jadi sadar dan kembali kejalan yang benar, agar kerjaannya jangan tauran." ceramah Aslan, "Gimana menurut lo Le."


Lea sieh gak peduli mau nonton film apaan, yang dia peduliin saat ini adalah bisa bersama dengan Aslan, sehingga ketika Aslan meminta pendapatnya dia menyetujui, "Iya, gue setuju dengan Aslan, lebih baik nonton film tentang pendidikan gitu, daripada nonton film tentang kekerasan."


"Yeelah Lea, gue tahu lo sebenarnya gak suka sama film pilihan Aslan, gak usah dipaksain bilang suka juga kali." tukas Icha, "Mentang-mentang suka sama Aslan, jadi apapun yang dikatain Aslan diiyain aja." sambung Icha dalam hati.


"Gue suka kok."


Laskar dan Icha memandang Lea tidak percaya, "Beneran kok gue suka, sumpah, lagian kalau film tentang pendidikan begini, kitakan bisa banyak belajar."


"Memang gak asyik lo berdua."


Karna baik Icha dan Aslan tidak mau ngalah, masing-masing ngotot ingin nonton film kesukaan mereka sehingga hal tersebut tak urung membuat mereka berdebat, melihat hal tersebut, membuat Laskar berusaha memberikan jalan tengah, "Atau gini aja." usulnya, "Gue dan Icha nonton film itu saja." Laskar menunjuk poster film yang ingin ditontonnya dengan Icha, "Dan lo berdua nonton film yang ini."


Aslan langsung protes, "Mana bisa begitu, kita datangnya barengan, ya kita harus nonton film yang samalah." dalam hati Aslan bergumam, "Enak saja, mana bisa gue biarin lo berduaan."


"Ya udah kalau gitu, kita nonton film yang itu saja."


"Gak bisa Cha, anak remaja kayak kita gak baik nonton film yang banyak adegan kekerasan begitu, ntar lo malah mraktikin lagi."


"Gimana gue mau praktik, kalau pistol saja kami gak punya." Icha kukuh pada pendiriannya.


"Gini aja deh." Lea yang dari tadi diem mencoba menengahi, "Kita nonton film pilihan Aslan dulu, baru deh kita nonton film pilihan lo Cha, gimana."


"Habisnya gimana donk, lo berdua gak ada yang mau ngalah."


"Jangan sayang, aku takut nonton film horor." terdengar suara seorang cewek yang tengah menggandeng pacarnya, pasangan kekasih itu tengah mempertimbangkan untuk nonton film horor.


"Kalau kamu takut, kamu bisa meluk aku."


"Ihh, moduss."


Dan percakapan tersebut memberikan solusi bagi masalah perdebatan Icha dan Aslan.


"Nahh, daripada lo berdua pada gak mau ngalah, mending kita nonton film horor aja kayak pasangan itu." Laskar menunjuk pasangan kekasih yang berjalan menuju loket penjualan tiket.


Aslan dan Icha mengangguk.


Akhirnya mereka memilih menonton film horor sebagai jalan tengah, meskipun takut dengan hantu, Icha lebih memilih nonton film horor ketimbang nonton film membosankan yang bisa berpotensi membuatnya tertidur pulas didalam bioskop.


****

__ADS_1


Didalam, sejak awal film diputar, Icha gak henti-hentinya komentar.


"Baru awalnya aja udah bikin gue merinding." ujarnya sembari mendudukkan bokongnya dikursi.


"Kalau kamu takut, bisa meluk aku Cha."


Icha memukul lengan Laskar, "Apaan sieh, genit."


Laskar kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Icha, dan sedetik kemudian Icha terkikik, "Dasar mesum."


"Mau ya."


"Gak, ogah gue."


"Apa sieh yang mereka bisikkan." gumam Aslan gusar melihat intraksi Icha dan Laskar.


Mau tahu apa yang Laskar bisikkan, ternyata Laskar mengatakan kalau bioskop merupakan tempat kondusif untuk berciuman, dan jelas hal tersebut ditolak oleh Icha, diakan jadi geli.


Dipertengah film, Icha makin heboh.


"Itu dibelakang lo begokkk." sambil menunjuk-nunjuk heboh, gregetan dia dengan pemeran utamanya, "Itu hantunya dibelakang, Ihhh, baru pertama kali gue lihat artis begok, diterkam baru tahu rasa." kesal sendiri dia, padahalkan semuanya sudah diatur sama sutradara filmnya.


Beberapa orang yang duduk didekat mereka tentu saja terganggu dengan kelakuan Icha, Laskar yang merasa tidak enak beberapa kali berujar, "Maaf, maaf." sambil menurunkan jari Icha yang menunjuk-nunjuk, dia berbisik, "Semuanya sudah diatur sama sutradaranya Cha, jadi tenang saja, pemeran utamanya gak bakalan mati."


"Tapi tuh wanita begok banget sumpah, kan gemes gue."


Laskar hanya geleng-geleng melihat tingkah pacarnya tersebut.


Dan ketika hantunya keluar dengan dramatis, Icha reflek menutup wajahnya dengan telapak tangan membuat popcornya yang ada ditangannya berhamburan dan kelakuannya tersebut berhasil menciptakan hujan popcorn.


"Anjirrr, kaget gue, alamat gak bakalan bisa tidur gue."


"Ntar aku temenin."


Icha langsung mendaratkan pukulan dibahu Laskar, "Jangan ngaco."


Sementara itu Lea, dia adalah tipe penonton yang kalem tanpa banyak bicara, dia juga penakut, makanya ketika hantunya tiba-tiba keluar, dia reflek mencengkram tangan Aslan dan memalingkan wajahnya kearah Aslan, sadar tangannya mencengkram tangan Aslan, Lea buru-buru melepaskannya dan berujar, "Maaf Lan." wajahnya memerah karna malu.


"Its oke." Aslan tersenyum tipis.


Meskipun hanya sebuah senyuman tipis, tapi mampu membuat jantung Lea berdetak lebih cepat.

__ADS_1


****


__ADS_2