Cinderela Modern

Cinderela Modern
GUE GAK KENAPA-NAPA


__ADS_3

"Bye." teriak Icha sambil melambaikan tangannya melepas kepergian Laskar.


Sebuah tangan melingkar dibahunya, "Siapa tuh."


"Kak Gibran." heran Icha melihat Gibran tiba-tiba sudah berada didekatnya, "Bikin kaget aja."


"Gitu aja kaget." Gibran mencubit pipi Icha.


"Lepasin kak, sakit tahu." menepis tangan Gibran dari pipinya.


"Eh lo belum jawab pertanyaan gue, siapa tuh cowok yang pakai motor barusan."


"Te...."


"Pacarnya." potong Aslan yang juga baru tiba.


"Pacar." ujar Gibran heran, "Maksudnya, tuh cowok pacarnya Icha gitu."


Aslan tidak menjawab keingintahuan Gibran, dengan wajah datar bin cuek tanpa menyapa Icha dia berjalan kearah rumahnya.


"Ihhhh, dia kenapa sieh, perasaan sejak disekolah dia ngehindarin gue mulu, apa gue ada salah ya sama dia, tapi seingat gue gak ada deh." bertanya-tanya deh tuh Icha kenapa Aslan nyuekin dia begitu.


"Itu pacar lo." Gibran menanyai Icha yang terlihat salting dengan wajah memerah karna malu, melihat bahasa tubuh Icha, Gibran tidak memerlukan jawaban lisan, dia menyimpulkan, "Astagaaa, pantesan saja, sik kunyuk itu uring-uringan sejak pulang dari rumah sakit, dikit-dikit marah, dia lagi patah hati toh ternyata."


"Siapa kak yang patah hati." tanya Icha polos karna sumpah dia tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Gibran.


"Tuh kucing pak RT." jawabnya ngawur.


"Wuuhhh." Icha menonjok bahu Gibran jengkel, "Orangnya nanyanya serius malah dijawabnya ngaur."


"Salah sendiri lo begok."


"Bego' an juga lo kak."


"Eh Cha, kok bisa lo pacaran sama tuh cowok."


"Emangnya kenapa, gue gak pantes ya pacaran sama Laskar, apa karna wajah gue standar."


"Bukan begitu." tukas Gibran, "Lokan udah dijodohin sama Aslan, kok bisa lo pacaran sama cowok lain."


"Gue sama Aslan sudah memutuskan untuk tidak menerima perjodohan konyol itu."


"Hehhh, lo berdua ngambil kesimpulan sendiri tanpa berunding sama mama dan papa."


"Habisnya gimana kak, gue dan Aslankan sahabatan sejak kecil, sering bareng, tumbuh dan besar bareng, bahkan kami sering mandi bareng...." ucapan Icha menggantung melihat ekspresi wajah jail Gibran, Icha buru-buru mengklarifikasi maksudnya, "Maksud gue, waktu kecil kami sering mandi bareng dikolam renang komplek." Icha menekan kalimatnya, "Jangan berfikir yang aneh-aneh deh."


"Iya iya sorry."


Icha melanjutkan, "Jadi, sepertinya gak mungkin banget deh kami bisa menjadi sepasang suami istri, pasti akan terasa canggungkan."


Gibran mendesah, "Terserah lo berdua saja deh, tapi mama dan papa dan almarhum om dan tante pasti kecewa dengan keputusan lo berdua."


"Gue yakin mereka mengerti."


Mata Icha beralih pada plastik yang dipegang oleh Gibran, "Ehhh, itu sate ya kak, bagi donk." ternyata Gibran dan Aslan barusan habis membeli sate dikomplek depan.

__ADS_1


Sebenarnya sieh gak rela dibagi, tapi Icha pasti akan merengek sampai dapat, dengan berat hati Gibran berkata, "Ya udah yuk, kita makan didalam."


Dengan senyum sumringah Icha mengekori Gibran ke rumah keluarga Atmaja.


****


Diruang tengah Aslan tengah melahap satenya sambil nonton televisi, mengalihkan perhatiannya ketika mendengar Gibran dan Icha masuk, dan kembali mengarahkannya ke televisi.


"Chaaa, ambil piring donk." pinta Gibran.


"Oke kak."


Gibran duduk didekat Aslan, Aslan kelihatan fokus pada acara berita ditelevisi, padahalkan fikirannya mengembara.


Gibran menendang kaki Aslan, tendangannya sieh pelan hanya untuk narik perhatian, tapi reaksi Aslan berlebihan, "Apa." sewot Aslan karna merasa diganggu.


"Santai donk santai, jangan ngegas gitu." Gibran terkekeh melihat tingkah adiknya yang saat ini hatinya tengah panas membara.


Aslan mengunyah satenya ganas, hal sekecil apapun yang mengusiknya untuk saat ini bisa membuatnya emosi.


"Jadi, gara-gara hal ini sampai membuat lo uring-uringan."


Aslan menatap kakaknya tajam, "Apa maksud lo."


"Elahhh, pura-pura gak ngerti lagi."


"Ngomong yang jelas, jangan berteka-teki begitu."


"Lo tenang saja Lan, Icha itu masih labil, jadi suatu saat dia pasti tahu lo yang terbaik untuk dia."


Gibran menasehati dirinya dalam hati, "Lo mending diam dulu aja deh Gibran, sejelas apapun lo ngasih penjelasan sama orang yang lagi emosi, pasti gak bisa dimengerti."


Sampai Icha datang kembali membawa piring dan air putih, mengambil duduk disamping Gibran, gak tahan melihat sikap Aslan yang terus mendiamkannya begitu, Icha bertanya donk, "Lannn, lo kenapa sieh, perasaan lo nyuekin gue sejak disekolah."


"Gak kenapa-napa." jawabnya ketus.


"Ini lagi satu, udah begok dalam hal akademis, begok tidak bisa membaca situasi lagi, gak ngerti apa dia kalau adik gue emosian begini karna ulah dia." Gibran membatin.


"Gak kenapa-napa tapi kok lo ketus gitu sieh, gue ada salah ya sama lo."


"Emang lo ngerasa lo ada salah sama gue"


Icha menggeleng, "Gak."


"Ya udah kalau gitu, gue gak kenapa-napa, dan lo jangan-jangan nanya-nanya lagi."


Icha diam, dia terlihat sedih.


Gibran yang melihat kesedihan tergambar diwajah Icha mencoba menghibur, "Udahlah Cha, lo gak usah bersedih gitu, lo tahu sendirikan sik kunyuk memang seperti ini, moodnya suka buruk kayak anak gadis yang tengah pms."


Aslan langsung memberi tatapan membunuh pada Gibran, itu adalah kode supaya Gibran tutup mulut.


"Iya iya, gue tutup mulut." lirih Laskar mengerti.


Setelah itu tidak ada yang mencoba buka suara dari ketiga anak manusia itu, hanya suara pembawa berita saja yang terdengar menyampaikan informasi.

__ADS_1


"Cha, kok malah bengong sieh, ayok makan satenya mumpung lagi hanget nieh, tadinya katanya ingin makan sate." ujar Gibran memecah keheningan.


Icha menolak, rasanya tidak punya nafsu untuk makan, "Icha gak laper kak."


"Lhoo, kok gak laper sieh, tadi antusias banget ingin makan."


"Icha tiba-tiba kenyang kak." kenyang dengan kata-kata Aslan yang menohok maksudnya.


Antara bersyukur dan dan gak enak hati, Gibran memakan satenya sendiri.


"Astagaa, jahat banget tuh cowok." Gibran mengomentari berita ditelevisi yang ditontonnya, "Pacar sendiri diperkosa, rame-rame lagi, biadab banget."


"Kasihan ya ceweknya." sebagai sesama cewek Icha ikut prihatin.


"Makanya Cha, lo sebagai wanita kudu hati-hati, jangan sembarangan pacaran."


"Tapi Laskar baik kok orangnya."


"Jangan gampang percaya Cha, terlihat baik diluar belum tentu baik didalam kan."


"Gue kan bisa bela diri, kalau Laskar macam-macam, gue hajar dia sampai babak belur"


"Gue bangga punya adik sama seperti lo." mengelus puncak kepala Icha


"Tapi gue kasih tahu, cowok punya seribu satu cara Cha untuk mendapatkan keinginannya, jadi gue peringatin sama lo, hati-hati sama cowok, karna mereka punya maksud terselubung."


"Termasuk kakak."


"Gak donk, guekan cowok sejati dan bertanggung jawab."


"Cihhh." Aslan berdecih, ingin rasanya dia tertawa mendengar kata-kata kakaknya yang somplak ini.


"Kenapa lo berdecih."


"Gak kenapa-kenapa." jawab Aslan bohong.


"Oh ya Cha, Lea gimana kabarnya." Gibran memilih mengganti topik.


"Bukannya kak Gibran ada nomernya, tanya aja sendiri."


Gibran mendesah berat, "Akhir-akhir ini dia gak mau balas chat gue Cha, cuma di read doank."


Kasihan juga sieh Icha melihat Gibran, dulu dia diminta Gibran untuk mencomblangkannya dengan Lea, tapi apa mau dikata, Lea cinta mati sama Aslan, jadi kayaknya Lea gak mungkin berpaling hati, makanya Icha nyerah untuk membantu Gibran untuk mendapat Lea, makanya Icha berkata, "Kak, Icha boleh ngasih saran gak."


"Saran apa."


"Mending kakak cari cewek lain saja deh."


"Kenapa, Lea punya pacar, siapa."


"Ya gak sieh, tapi dia menyukai seseorang." Icha melirik Aslan yang dari tadi bungkam.


"Siapa." Gibran ingin tahu.


Karna gak enak hati mengatakan kalau laki-laki yang disukai Lea adalah Aslan, Icha berbohong, "Gue juga gak tahu kak."

__ADS_1


****


__ADS_2