Cinderela Modern

Cinderela Modern
JADIAN


__ADS_3

"Lo kenapa pakai datang segala sieh, menggganggu acara perpisahan sakral gue dengan Laskar aja." protes Diana yang tidak suka dengan kehadiran Icha.


Laskar yang tidak suka dengan kata-kata Diana menanggapi, "Lo mending pulang sana Di, ngapain lo masih betah aja ngintilin gue, gue risih tahu gak."


"Laskarr kok gitu sieh, akukan ingin melepas kepergian kamu dengan momen indah dan mengharukan."


"Apaan sieh lo lebayy banget, lo fikir ini drama Korea apa, sana sana pulang, ntar lo ditinggalin lagi pak Ridwan karna kelamaan nungguin lo." usir Laskar.


"Gak, pokoknya aku tetap disini nungguin sampai pesawat kamu berangkat."


"Terserah lo deh."


"Sorry ya Cha, kamu tahu sendirikan Diana menyebalkan." Laskar beralih pada Icha.


"Aku ngerti kok." Icha maklum.


"Laskarr, jahat ihhh ngatain aku nyebelin." manyun Diana namun diabaikan oleh Laskar.


"Jadi, kamu beneran akan pergi." tanya Icha memastikan.


Laskar mengangguk.


"Berapa lama."


"Mungkin aku akan menetap disini."


"Menetap disana, aku jahat banget ya sampai kamu gak mau balik lagi ke sini." Icha menunduk karna rasa bersalahnya sampai membuat Laskar pergi jauh dan tidak berniat untuk kembali ke Indonesia.


"Hei." Laskar meraih bahu Icha dan memeluknya, "Ini bukan salah kamu kok, aku ngerti perasaan tidak bisa dipaksa." ujarnya bijaksana.


Icha terisak, "Maafin aku ya Las, aku bener-bener merasa sangat bersalah."


"Sudahlah, lupain semuanya, aku gak pernah nyalahin kamu kok." ujar Laskar berbesar hati.


"Apaan sieh Laskar, gak adil banget jadi cowok, pas aku saja yang selingkuh marahnya udah kayak setan sampai-sampai gak pernah maafin aku, lha terus sik Icha saja langsung dimaafin gitu aja, pakai dipeluk segala lagi." protes Diana gak terima.


"Berisik." tandas Laskar.


Laskar mengurai pelukannya, "Cha, sebelum pergi, aku bolehkan meminta sesuatu sama kamu."


Icha mengangguk, "Memang kamu mau minta apa."


"Aku bolehkan membawa Leo ikut denganku."


"Leo, mana Leo." Icha melihat sekeliling Laskar untuk mencari keberadaan Leo sik kucing kampung yang dia pungut bersama Laskar di got.


Dan Pak Ridwan sopir Laskar datang menghampiri mereka membawa Leo yang ada dalam kandang besi.


"Leo." Icha langsung mengambil alih Leo begitu itu kucing dikeluarkan dari kandanganya.


Ngeong ngeong. Apa sieh yang bisa dilakukan oleh seekor kucing selain mengeong.


"Bolehkan Cha aku membawa Leo." Laskar mengulang pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh Icha.


Icha terdiam, memperhatikan Leo dengan intens, dia mengelus kucing kecil itu dengan sayang sebelum dengan berat hati menyerahkannya pada Laskar, "Jaga dia ya Las." pesan Icha sedih karna tidak hanya melepas Laskar pergi, tapi Leo juga.


Laskar tersenyum, "Pasti."


"Cuma kucing kampung doank, kamu minta lima ekor kucing persia aku berikan Las."


"Meskipun cuma kucing kampung, Leo jauh lebih berharga daripada elo." timpal Laskar pedas.


Terdengar suara langkah kaki menghampiri tiga remaja tersebut dan itu adalah Aslan.


"Lo beneran mau pergi bro." tanya Aslan setibanya disana.


Laskar mengangguk, "Jaga Icha ya Lan."


"Tanpa lo mintapun akan selalu gue lakukan."


Laskar tersenyum.


"Gue minta maaf karna telah merebut Icha dari lo."


"Lo gak ngerebut Icha dari gue, Ichalah yang memilih lo, jadi, jangan sampai lo sia-siain Icha."


"Tidak akan pernah, karna dia wanita yang begitu berharga buat gue." Aslan merangkul bahu Icha.


"Gue lega dengarnya."

__ADS_1


"Apa sieh istimewanya gadis berambut keriting ini, sampai dua laki-laki tampan ini sangat menyukai dia." Diana membatin dengan bola mata memperhatikan Icha sedemikian rupa untuk mencari kelebihan yang dimiliki, namun sejauh yang bisa Diana teliti, secara fisik gak ada yang bagus dari Icha, malah wajahnya sangat biasa-biasa saja, Diana jadi heran, kenapa Icha sampai dicintai sampai segitunya.


Suara petugas bandara meminta penumpang yang akan berangkat ke Amerika memasuki pesawat mengintrupsi obrolan mereka.


"Sudah saatnya, gue harus pergi, Cha jaga diri kamu baik-baik, jangan sering-sering ikut tauran, jadi gadis baik dan rajin belajar supaya suatu saat kalau kita bertemu kembali kamu udah jadi orang sukses." pesan Laskar.


Icha sampai menitikkan air mata, "Kamu juga, jaga diri baik-baik disana, dan jaga Leo dengan baik."


"Akan aku lakukan, kalau kamu kangen sama Leo, kamu boleh kok melakukan panggilan vidio."


"Semoga selamat sampai tujuan bro." Aslan mendekat dan menjabat tangan Laskar dan menepuk pundaknya.


"Terimakasih Lan."


"Gue berangkat dulu."


"Laskarr, kok kamu gak pamit sama aku." Diana menangis, selain karna dia sangat berat melepas kepergian Laskar, dia juga kesal karna Laskar mengabaikannya.


Laskar tersenyum dan kemudian memeluk Diana sebagai pelukan terakhir sebagai teman, "Gue pergi Di, jaga diri lo."


Diana mengangguk dan memeluk Laskar erat.


"Selamat tinggal semuanya." pamit Laskar sebelum memasukkan Leo dikandang.


"Selamat tinggal Laskarr." Icha melambaikan tangannya melepas kepergian Laskar.


Sedangkan Diana sibuk membersit hidungnya.


Tiga remaja itu tidak beranjak dari tempatnya meskipun tubuh Laskar sudah menghilang.


"Selamat jalan Laskar, semoga kamu mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dari aku." doa Icha dalam hati.


****


Malam itu, Gibran keluar kamarnya dengan dandanan rapi, tentu saja hal tersebut membuat Aslan dan Icha yang tengah duduk santai diruang tengah heran dan bertanya.


"Kak Gibran rapi amet, mau kemana kak."


"Ada deh." jawab Gibran sok rahasia.


"Cihh pakai rahasia-rahasia segala, palingan mau ngapelin si neneng, pembantu pemilik toko bangunan didepan komplek." timpal Aslan.


"Oke kalau gitu semuanya, gue cabut dulu."


"Kak Gibran."


Gibran berbalik, "Apa."


"Pulangnya bawain martabak ya."


"Kalau misi gue berhasil, jangankan martabak, sama abang martabaknya juga gue bawain." ujarnya ngaco dan dia kembali melenggang pergi.


Aslan dan Icha saling melempar pandangan satu sama lain, dibenak mereka menanyakan hal yang sama.


"Kamu tahu misi apa Lan."


Aslan mengangkat bahu sebagai pertanda kalau dia gak tahu, "Mana ktehek."


****


Gibran ternyata ke rumah Lea untuk menjemput Lea, karna dia dan Les janjian mau pergi jalan-jalan.


Dan begitu dia sampai didepan rumah Lea, Lea dan mamanya sudah menunggu disana. Gibran salah tingkah ketika melihat mama Lea.


"Malam Lea."


"Malam kak Gibran."


"Malam tante." sapanya ramah sambil meraih tangan mamanya Lea dan menciumnya.


"Malam, nak Gibran ya."


"Iya tante."


Lea tersenyum melihat intraksi Gibran dan mamanya.


"Oh ya kak Gibran, aku lupa bawa dompet, tunggu sebentar ya."


"Iya Le."

__ADS_1


Lea masuk meninggalkan Gibran dan mamanya.


Mama Lea tersenyum ramah, "Makasih lho nak Gibran karna selalu menghibur Lea disaat Lea tengah terpuruk, kalau nak Gibran gak ada aduhh tante gak tahu gimana jadinya."


"Akhhh." Gibran jadi merasa malu, "Itu memang kewajiban saya tante sebagai teman Lea."


"Tante senang karna beberapa hari belakangan ini Lea sudah kembali seperti biasanya, tidak murung lagi, itu semua berkat nak Gibran yang mengembalikan keceriaannya."


"Tante terlalu berlebihan." jawab Gibran malu-malu mendengar pujian mamanya Lea.


"Yuk kak kita berangkat." ajak Lea begitu kembali.


Gibran mengangguk, "Ma, Lea dan kak Gibran pergi dulu ya." pamit Lea pada mamanya.


"Jangan malam-malam ya pulangnya."


"Iya tante." Gibran.


"Siap bu bos." Lea.


Gibran membukakan pintu mobil untuk Lea, hal tersebut membuat Lea tersanjung.


"Pergi dulu tante."


Mamanya Lea mengangguk, "Hati-hati dijalan." pesannya melepas kepergian putrinya.


***


Seperti anak muda pada umumnya, Gibran dan Lea jalan-jalan di mall, nonton, makan dan setelah puas jalan-jalan, mereka memutuskan untuk pulang.


Didepan rumah Lea.


"Makasih ya kak karna udah ngajakin Lea jalan-jalan, Lea seneng banget." Lea terlihat bahagia.


"Aku yang makasih karna kamu mau jalan sama kakak."


"Kapan-kapan kalau kakak ajakin jalan lagi, apa kamu mau."


"Mau gak ya." goda Lea.


"Gak mau ya." ujar Gibran merasa malu.


"Mau donk."


Gibran terlihat lega, "Le, boleh aku ngomong sesuatu."


"Emang kakak mau ngomong apa."


"Mmmm." Gibran terlihat gugup gitu, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kakak mau ngomong apa." tuntut Lea gak sabaran karna melihat Gibran belum juga buka suara.


"Anu Le.."


"Anu apa kak."


"Apa kamu mau jadi pacar kakak."


Lea terdiam, mencoba mencerna kalimat Gibran, "Kakak nembak aku."


"Iya."


"Kakak serius."


"Serius banget, aku sudah menyukai kamu sejak pertama kali melihat kamu."


Lea terdiam, hal itu membuat Gibran was-was.


Setelah beberapa saat, "Aku mau jadi pacar kakak."


Mulut Gibran terbuka saking gak menyangkanya, "Kamu serius Le, kamu gak bohongin aku kan."


"Iya kakak, aku serius, dan mana mungkin aku bohongin kakak."


Gibran tersenyum lebar dan langsung memeluk Lea yang dibalas oleh Lea.


"Makasih ya Le makasih." ujar Gibran haru karna pada akhirnya cintanya diterima oleh Lea.


*****

__ADS_1


__ADS_2