Cinderela Modern

Cinderela Modern
TANDA CINTA


__ADS_3

Laskar menemani Icha ke kelas untuk mengambil tasnya begitu bel pulang berbunyi yang menandakan masa hukuman mereka juga berakhir, dalam perjalanan menuju kelas, Laskar menyodorkan telapak tangannya.


"Apa." tanya Icha.


"Peganganlah Cha, ntar lo disambet orang lagi, kalau gue pegang tangan lo, lo gak bakalan bisa diembat orang." ujar Laskar konyol.


"Apa sieh, gak jelas." Icha mengabaikan, dia tetap berjalan.


"Yahhh, nasib deh, meskipun sudah punya pacar tetap saja jari-jari tangan gue hampa, padahal Tuhan menciptakan celah diantara jari-jari tangan kita supaya diisi lho, dan jari-jari tangan elo yang seharusnya mengisinya."


"Ya gue tahu, tapi gak disekolah juga kali, malu tahu."


"Kalau ditempat sepi mau donk pegangan." Laskar menaik turunkan alisnya menggoda Icha.


"Apaan sieh, ganjen deh." Icha lansung berjalan cepat meninggalkan Laskar dibelakang.


"Chaaa, tungguuuu, elahh punya pacar gini amet sieh, gak bisa diajak romantis."


Begitu mereka memasuki kelas, kehadiran mereka disambut riuh rendah oleh teman-teman sekelas mereka yang ternyata belum pada pulang, usut punya usut, mereka pada menunggu kedatangan Icha dan Laskar, tujuan utamanya adalah meminta pajak jadian, barulah yang kedua memberi selamat atas jadiannya mereka.


"Selamat datang pasangan pengantin baru." koor mereka seperti paduan suara.


"Astagaaa." keget Icha melihat teman-teman kelasnya yang masih full, biasanya mereka gak akan mau berlama-lama disekolah begitu bel pulang berbunyi dengan alasan apapun, ini malah masih pada betah duduk ditempat masing-masing, tentu saja hal tersebut menimbulkan pertanyaan dari Icha, "Apa yang kalian pada lakuin sieh, bel udah sejak tadi berbunyi."


"Ya kami nunggu lo berdualah."


Laskar menjawab, "Nungguin kami, buat apa."


"Pakai nanya lagi, setiap orang yang baru jadian, wajib hukumnya membayar pajak jadian."


"Ohh, masalah itu, tenang saja, habis ini lo semua gue traktir dimanapun kalian mau."


Janji Laskar tersebut tentu saja mendapat sambutan meriah dari teman-temannya, yah siapa yang gak seneng coba dapat makan gratis, kecuali tiga orang, yaitu tentu saja yang pertama Aslan, Lola dan Loli, mereka adalah tiga orang yang tidak seneng dengan jadiannya Icha dan Laskar.


"Nahh, itu baru seruu, ini menandakan lo cowok tajir, gak kayak Marhun yang hanya traktir gorengan dan air mineral doank waktu dia jadian dengan Gita." Mario menyahut.


"Yeelah, gak bersyukur banget lo, nyesel gue nraktir lo." dumel Marhun.


Gita menimpali, "Meskipun pacar gue minus modal, tapi gue tetap cinta kok." memandang Marhun penuh cinta.


"Makasih baby, kamu bener-bener wanita terbaik, mmmuaaahhh." memberikan ciuman jarak jauh pada Gita yang membuat Gita tersenyum mesra.


"Iuuhhh, jijik banget sieh lo." Nana membuat gerakan muntah.


"Bilang saja lo iri karna gak ada yang mau sama lo." tandas Marhun yang membuat Nana tidak bisa menjawab.


Nana mengacungkan jempolnya mendengar jawaban pacarnya.


Kembali ke bintang utama yaitu Icha dan Laskar.

__ADS_1


"Oh ya jadi lupa ngedoain lo berdua." Sik Marhun mewakili temen-temennya yang lain, "Semoga hubungan kalian langgeng, sakinah mawadah warohmah, kayak hubungan gue dan baby gue." doanya kayak Icha dan Laskar baru selesai ijab kabul saja.


"Amiennn." ujar yang lainnya serempak.


Laskar dan Icha hanya geleng-geleng melihat kelakuan temen-temen kelasnya yang pada gesrek.


Loli mendengus kasar, dia berkata, "Pasti sik upil itu merasa berada diatas angin karna pacaran sama Laskar, sok cantik banget sieh dia." dia memandang Icha iri.


Sementara Aslan, tidak lepas memandang Icha dan Laskar, tatapannya begitu dingin.


Icha melangkah menuju kursinya untuk mengambil tasnya dan tentu saja Laskar mengikuti, hal tersebut membuat mereka diledek oleh Gita.


"Cie cie cie yang baru jadian, lengket banget kayak perangko, sampai kena hukum aja berdua."


"Iya donk, itu namanya dalam keadaan suka dan lebih-lebih duka, gue dan Icha akan selalu bersama iyakan sayang."


"Cieee yang manggilnya sayang, jadi baperrrr."


Icha jadi malu, wajahnya jadi memerah mendengar Laskar memanggilnya sayang.


"Ciee yang sudah punya pacar sekarang, kemana-mana dikawal terus nie ye." Lea menggoda begitu Icha didekatnya.


"Apa sieh Le." lirih Icha malu.


"Bisa malu juga lo ternyata, gue fikir urat malu lo sudah putus."


"Itu menandakan kalau gue masih manusia normal Le."


"Apa nieh."


"Balon."


Lea melotot, Icha terkekeh, "Sorry sorry, maksud gue, ini sebagai tanda cinta gue buat elo."


Lea mengambil balon yang disodorkan oleh Icha sembari berkata, "Gak modal lo ya, tanda cinta kok balon, emang gue anak TK apa."


Icha malah menyalahkan Laskar, "Bener juga lo, dasar ya sik Laskar gak modal, masak ngasih gue balon."


"Sekarangkan lo udah jadi pacarnya, lo porotin aja, diakan kaya banget tuh."


Icha sudah akan berkata, "Itu pastilah." tapi Laskar yang mendengar percakapan antara Lea dan Icha mengintrupsi, "Wahh, itu nasehat sesat namanya, jangan dengerin Lea sayang." Laskar mengacak puncak kepala Icha, "Gue yakin Icha mencintai gue bukan karna harta, tapi karna cintakan."


"Siapa bilang, gue nerima elo karna harta kok." tukas Icha bercanda.


"Astagaaa, kamu ini sungguh terlalu, tapi ya sudahlah, mau gimana gue udah terlanjur cinta begini." ujar Laskar berekting seperti orang yang pasrah menerima keadaan.


Icha dan Lea terkikik geli mendengar kepasrahan Laskar.


"Cha, gue juga mau donk balonnya." Gita nimbrung.

__ADS_1


"Lo mau Git."


Gita mengangguk, Icha memberikan satu balon untuk Gita, dan yah Icha akhirnya membagi satu persatu balon pemberian Laskar untuk semua teman kelasnya, kata Icha itu sebagai tanda cintanya pada mereka semua karna kebetulan juga balon tersebut berbentuk hati dan bertuliskan kata I LOVE U.


Sampai pada balon terakhir yang akan diberikan pada Aslan, wajah Aslan memang datar, tapi kali ini sangat datar, Icha yang menganggap kalau bentukan Aslan memang begitu sejak lahir tentu saja tidak ambil pusing, Icha menyodorkan satu balon pada Aslan, wajah Icha tersenyum lebar yang menandakan kalau dia sangat bahagia, "Nieh buat lo."


Aslan hanya memandang tangan Icha tanpa berniat mengambil balon tersebut, Icha menggoyang-goyangkan tangannya yang menggenggam balon, "Ini buat lo Lan."


"Gue gak mau."


Tanpa menghiraukan penolakan Aslan, Icha meraih tangan Aslan dan menjejalkan tali balon tersebut, sehingga mau tidak mau Aslan menerimanya, "Itu sebagai tanda cinta gue buat lo." setelah mengucapkan kalimat tersebut Icha langsung menghampiri Laskar kembali.


****


Diparkiran Icha menghampiri Aslan yang tengah membuka pintu mobilnya.


"Lan." Icha menegur, "Lo ikutkan."


"Gak."


"Ihhh, gak seru banget sieh lo, ayok donk ikut biar seru."


Seperti janjinya, Laskar akan mentraktir temen-temen sekelasnya sebagai pajak jadian, ini baru teman sekelasnya saja, besok menyusul temen satu geng mereka, dari tadi Acux tidak henti-hentinya meneror Icha dan Laskar lewat chat meminta untuk ditraktir.


"Gue bilang gak ya gak, resek banget sieh lo." Aslan membentak dan langsung masuk mobil tanpa mempedulikan Icha dan langsung menjalankan mobilnya.


"Ihhhh, dasar menyebalkan."


"Aslan gak mau ikut." Laskar bertanya begitu Icha mendekatinya.


"Hmmmm."


"Udahh, gak usah difikirin, mungkin dia sibuk belajar makanya gak bisa ikut, sebentar lagikan dia akan ikut olimpiade."


"Mending kita pergi sekarang saja yuk, temen-temen sudah pada berangkat tuh."


Icha mengangguk, dia menaiki motor Laskar.


"Demi keamanan dan keselamatan anda, tolong sabuk pengamannya dikenakan nona." Laskar membuat suaranya terdengar formal.


Icha memegang jaket Laskar.


"Itu kurang aman, bisa berpotensi membuat anda jatuh, jadi tolong tangan anda melingkar dengan sempurna dipinggang saya."


Icha memukul belakang helm Laskar, "Ihh dasar lo ya, bukan muhrim."


Namun Laskar meraih tangan Icha dan melingkarkannya diperutnya, "Nahh, itu yang seharusnya, jangan dilepas."


"Hmmm."

__ADS_1


****


__ADS_2