
Karna motor Laskar tertinggal diparkiran tempat karoekan, jadinya mereka harus berjalan cukup jauh untuk mengambil motor Laskar, dengan Laskar sekarang membawa beban dipunggungnya yaitu Icha sehingga membuat Laskar berjalan lambat.
Sepanjang jalan, orang-orang yang berpapasan dengan mereka terutama kaum hawa memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik.
"Lihat deh cowok itu, ganteng banget ya, menurutmu apa yang digendong itu pacarnya, sweet banget gak sieh." sik cewek satu menanyai temennya sambil gak lepas memandang Laskar dan Icha.
"Kayak drama korea dalam dunia nyata ya, bikin iri." respon cewek dua, "Bisa gak ya gue punya pacar kayak gitu, udah ganteng, romantis lagi."
"Udah ah, jangan mengkhayal, gak semua cowok kayak itu." cewek satu menghempaskan harapan temennya.
"Gak ada salahnya kali bermimpi."
Sementara itu Icha yang sadar kalau mereka jadi pusat perhatian sepanjang jalan yang mereka lewati berkata pada Laskar.
"Laskar, kok orang-orang pada lihatin kita gitu ya."
Pakai nanya lagi, ya iyalah dilihatin, berapa banyak sieh wanita yang digendong bersileweran dijalan, ya jelas orang memandang dengan rasa ingin tahu.
"Bukan kita." balas Laskar jail, "Tapi mereka lihatin gue, mereka gak mau ngelewatin lihat orang ganteng, mubazir."
Icha menampar kepala Laskar, "Bisa gak sieh tuh narsis dihilangin, nyesel gue nanya."
"Bukannya..."
Sebelum Laskar menyelsaikan kalimatnya, Icha mendahuluinya karna tahu kalimat Laskar berikutnya, "Narsis, tapi kenyataan, itukan yang akan lo bilang."
"Lo bisa baca fikiran orang."
"Ya gaklah, lo kan sering membanggakan diri dengan kalimat itu, makanya gue hafal diluar kepala apa yang bakalan lo bilang."
"Hahaha." Laskar tertawa menyadari kalau itu benar, "Bener juga."
Mereka berjalan hampir sepuluh menit, meskipun Icha gak terlalu berat, tapi kalau kelamaan gendong Icha Laskar jadi capek juga, dan punggungnya juga terasa pegal-pegal.
"Laskarrr, beliin gue es krim donk." Icha menunjuk kedai es krim yang ada dipinggir jalan, Laskar mengarahkan matanya pada kedai yang es krim yang ditunjuk oleh Icha.
"Gue bakalan beliin lo es krim, tapi kita cari apotik dulu, beli obat merah dan obatin lutut lo."
"Beli es krim dulu Laskar, ingin banget gue makan es krim, tenggrokan gue kering." tanpa sadar Icha mencengkram leher Laskar dengan kuat.
"Ukhuk ukhuk." Laskar terbatuk-batuk karna lehernya tercekik, "Iya, kita beli es krim, tapi jangan kenceng juga meluk leher gue."
Icha mengendurkan pegangannya, "Sorry." tapi dia kelihatan tidak menyesal, dia malah tersenyum sumringah karna keinginannya dikabulkan.
Masih dengan menggendong Icha, Laskar memasuki kedai es krim yang pengunjungnya lumayan ramai, begitu mereka masuk mereka langsung menjadi pusat perhatian, sama seperti dijalan barusan, berapa banyak sih orang yang datang ke kedai es krim dengan gendong-gendongan itu.
"Laskar, turunin gue, malu dilihatin." kemana aja neng, sepanjang jalan jadi pusat perhatian, malunya baru sekarang.
"Kenapa malu sieh, mereka juga ingin digendong, sayangnya gak ada yang gendong." jawab Laskar santai.
__ADS_1
Namun Icha memaksa, "Laskar, turunin gak, gue gak mau jadi perhatian begini, kayak topeng monyet saja."
"Oke deh kalau lo memaksa." Laskar akhirnya menurunkan Icha.
Begitu kakinya menyentuh ubin, seolah lututnya gak pernah luka dan gak pernah sakit, Icha dengan normal berjalan setengah berlari malah menghampiri penjaga kedai es krim.
"Lho, tadi dia gak bisa jalan, sekarang dia bisa berjalan normal kayak gak pernah luka." heran Laskar melihat Icha, "Wah, ini pasti gue dikibulin, awas aja ya dia." lirih Laskar menyusul Icha.
"Mbak, gue mau es krim coklat ukuran jumbo donk." Icha memesan.
"Kalau masnya." sik mbak bertanya pada Laskar dengan senyum manis, itulah salah satu keuntungan menjadi orang ganteng, banyak orang terutama kaum hawa bersikap ramah padanya.
"Samakan dengan dia mbak, tapi gue yang ukuran biasa saja."
"Baik mas."
Gak lama sik mbak menyodorkan pesanan mereka, setelah Laskar membayar, mereka berjalan kearah tempat duduk yang kosong dikedai itu.
"Sini gue bawain." Laskar menawarkan.
"Gue bisa sendiri."
Mereka duduk dengan nyaman sambil menikmati es krim setelah kelelahan merupakan kenikmatan yang tiada tara.
"Mmmm, lezatoss." gumam Icha saking menikmati es krimnya, bibirnya sampai belepotan begitu.
"Bibir lo belepotan tuh." komen Laskar.
"Lo mau gue lapin."
Icha memajukan wajahnya, supaya lebih dekat dengan Laskar, "Lapin donk."
Laskar meraih tisu dan mengelap bibir blepotan Icha sambil berkomentar, "Lo itu cewek remaja, tapi makannya kayak anak TK."
"Biarin aja, biar ada yang lo kerjain." jawab Icha.
"Ngelapin bibir lo bukan kerjaan namanya, tapi nyium bibir lo tuh baru yang namanya kerjaan." goda Laskar.
"Issshhh, mesum lo." Icha memundurkan wajahnya, takut dia kalau tiba-tiba Laskar nyosor.
Namun Laskar langsung meraih kepala Icha, bukan mau nyium, tapi tanggung aja, bibir Icha belum bersih, "Sini gue bersihin, belum bersih tuh bibir lo."
"Gak ah, ntar lo malah nyosor lagi." ujar Icha menyuarakan isi hatinya.
"Ye elah, ya kali gue nyosor lo ditempat umum begini, lo fikir gue gak punya malu apa, lagian lo parnoan banget jadi orang, guekan cuma bercanda juga barusan."
Ditengah aktifitas itu, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa Laskar,
"Laskar."
__ADS_1
Dua orang itu mengalihkan perhatian mereka pada orang tersebut, "Laskar, astaga ini beneran kamu ternyata."
"Diana." lirih Laskar kelihatan kaget melihat gadis itu, dia menghentikan aktifitasnya.
Gadis bernama Diana itu tersenyum bahagia, "Laskarr, astaga, ini beneran kamu." dibarengi dengan Diana yang menempelkan pipinya kepipi Laskar alias cupika cupiki.
Sebagai informasi, Diana ini adalah mantan Laskar, Diana berselingkuh dengan Rio sahabat Laskar, fakta itu menghancurkan Laskar sehingga dia memutuskan untuk pindah sekolah dan memutuskan semua kontak yang berhubungan dengan Diana dan Rio sahabatnya, dan sekarang, gadis itu muncul dihadapannya terlihat bahagia seolah-olah dia tidak pernah menyakiti Laskar.
Icha hanya memandang Diana dengan wajah bengong, yang tanpa persetujuan duduk dikursi kosong didekat Laskar.
"Laskar, kamu apa kabar, aku kangen banget tahu gak." ceplos Diana, seakan menganggap Icha tidak ada disana.
Laskar pulih dari keterkejutannya dan menjawab keingintahuan Diana, "Seperti yang kamu lihat Di, aku baik-baik saja."
"Aku seneng dengernya, setelah kamu pindah, kamu itu kayak ditelan bumi gitu Kar, aku berusaha menghubungi kamu, tapi nomer kamu gak aktif, tapi syukurlah aku ketemu kamu disini." Diana merepet.
Laskar hanya tersenyum masam menanggapi setiap kata yang keluar dari bibir Diana, kelihatan banget kalau dia tidak suka bertemu dengan Diana, dulu memang Diana adalah orang spesial yang selalu membuat hari-harinya bahagia, tapi sekarang dia sudah move on.
"Ekheemm." Icha membuat deheman palsu untuk memberitahu kalau dia ada disana.
Dan berhasil, Diana mengalihkan perhatiannya pada Icha, kelihatan banget dari sorot matanya kalau Diana bertanya-tanya siapa gadis yang bersama Laskar saat ini.
"Laskar dia...."
Tanpa membiarkan Diana melanjutkan kalimat pertanyaan yang akan diajukan, Laskar lebih dahulu menjawab, "Kenalin, dia Icha, dia pacar gue." ujar Laskar santai, tidak tahu efek dari kalimatnya tersebut menimbulkan rasa terkejut pada kedua gadis tersebut.
"Pa pa pacar." Diana mengulangi gagap, pasalnya dia gak percaya Laskar punya pacar dan melupakannya begitu saja, dia memandang Icha seakan memastikan kalau Icha beneran adalah pacar Laskar.
Sedangkan Icha merutuk dalam hati, "Pacar, apa maksudnya ini, seenaknya saja dia ngaku-ngaku." namun untuk sementara Icha tidak berkomentar, menungu kalimat yang akan dikeluarkan berikutnya oleh Laskar
"Sayang." ujar Laskar pada Icha penuh penekanan, berharap Icha mau mengerti dan membantunya, "Dia adalah Diana, mantan aku."
"Ohhh." bibir Icha membulat tanda mengerti, Icha berkata dalam hati, "Ternyata mantan toh, pantes saja ngakuin gue sebagai pacarnya, jadi niatnya mau bikin nieh cewek sakit hati nieh, oke, gue bersedia membantu, dalam hal akting adalah bidang keahlian gue."
Dan sandiwarapun dimulai, dengan senyum lebar Icha menyodorkan tangannya dan memperkenalkan diri secara resmi, "Hai, gue Alissa Ramadhani, lo bisa panggil gue Icha, dan gue pacarnya Laskar." ujar Icha menyakinkan.
Namun Diana mengabaikan uluran tangan Icha, menatap Laskar mencoba mencari tahu kalau kalau Laskar saat ini tengah membohonginya,
Perlakuan Diana menyebabkan Icha jengkel, hal ini membuatnya semakin bersemangat membuat panas, "Sialan, sombong amet dia." Icha menarik tangannya kembali.
"Beneran dia pacar kamu." Diana memastikan, "Gadis seperti ini." sambil menilai penampilan Icha.
Icha menggebrak meja, "Maksud lo dengan gadis seperti ini apa hah." berkacak pinggang.
Laskar yang tidak menduga reaksi heboh Icha buru-buru menenangkan, dia menarik Icha untuk kembali duduk, setelah Icha agak tenang, barulah Laskar menjawab pertanyaan Diana, tapi sebelum itu, Laskar meraih tangan Icha dan menggenggamnya seolah-olah Icha adalah wanita yang sangat dia cintai, "Iya Di, Icha pacar aku, dan aku sangat mencintainya, aku ngelihat dia dari hati bukan dari fisik, buat apa fisik cantik dan sempurna kalau penghianat." Laskar menekan kalimat terakhirnya.
Icha tersenyum puas, dia balik menggenggam tangan Laskar dan berujar, "Terimakasih atas kebaikan lo yang telah meninggalkan Laskar, karna kalau gak begitu, gue gak bakalan pernah bisa bersama Laskar.
Wajah Diana marah padam.
__ADS_1
****