Cinderela Modern

Cinderela Modern
JALAN YUK


__ADS_3

Jam pulang sekolah.


"Tangan lo kenapa Le, kok merah gini." melihat tangan Lea yang memerah, Icha menahan tangan Lea yang tengah memasukkan alat tulisnya ke tas, dia memperhatikan tangan tersebut.


"Ohh ini, kena kuah bakso." Lea menarik tangannya kembali.


"Kok bisa."


Gak mau mengatakan yang sebenarnya karna takut Icha akan melabrak Athena, Lea memilih berbohong, "Yah, lo tahukan sendirikan Cha gue orangnya ceroboh, suka gak hati-hati."


"Udah diobatin."


"Udah dikasih salep sama Laskar, besok juga pasti ilang merahnya."


"Lain kali hati-hati Le, hari ini kuah bakso, besok apalagi."


"Iya bawel."


Setelah semuanya beres, Lea beregas pergi, "Gue duluan Cha."


Icha hanya mengangguk, namun Lea kembali berbalik dan berbisik, "Gue mau ngajak Aslan jalan soalnya." Lea memberitahu dengan santai, tanpa mengetahui kalau orang yang diberitahu langsung mengalami serangan cemburu.


"Lan." tegur Lea duduk disamping Aslan yang tengah sibuk membereskan alat-alat tulisnya, Aslan menghentikan aktifitasnya begitu mendengar namanya dipanggil, "Jalan yuk."


"Jalan maksudnya."


"Iya kita jalan-jalan Aslan, ke mall kek, nonton kek, pokoknya jalan berdua kayak orang pacaran gitu lho." Lea menjelaskan secara mendatail.


"Cie yang sudah pacaran cie." Marhun yang kebetulan jalan melewati mereka langsung menggoda.


"Kalau jalan, jalan aja sono, nyambar aja kerjaan lo." sewot Lea.


"Sensinya sik neng." timpal Marhun melanjutkan perjalanannya sambil terkikik.


"Ihh dasar iseng."


"Jadi gimana Lan, mau ya jalan." ujar Lea kembali membujuk Aslan.


"Gimana ya Le."


Aslan akan menolak, sayangnya tidak bisa karna Lea mengatakan, "Ayoklah Lan, lusakan kamu udah pergi ke Malang untuk ngikutin olimpiade, satu mingguan lagi disana, akukan pasti bakalan kangen banget sama kamu


dan lagian selama pacaran juga kita belum pernah jalan berdua." Lea memelas.


Aslan melirik kearah Icha, dia takut aja kalau dia jalan berdua dengan Lea Icha cemburu, dan memang cemburu, itu terbukti dengan pandangan matanya yang memandang tajam kearah Aslan.


"Cha kita ba..." Laskar nyamperin, berniat ngajak Icha pulang bareng, tapi Icha lebih dulu memotong kalimat Laskar.


"Laskar, kita jalan yuk." fikir Icha, bukannya hanya Aslan yang bisa jalan dengan Lea, dia juga bisa.


Dengan antusias Laskar menerima ajakan Icha, "Tumben banget ngajak jalan duluan."

__ADS_1


"Emangnya kenapa, kamu gak mau."


"Ya maulah."


"Ya udah ayok."


"Ayuk kalau gitu, tunggu apalagi."


Tanpa permisi Laskar meraih tangan Icha dan menggandengnya, "Aslan, Le, kami duluan ya." teriak Laskar.


"Mau kemana lo berdua." Lea berteriak balik.


"Ada deh."


Sebelum benar-benar keluar dari kelas, Icha sempat menoleh ke arah bangku Aslan yang menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan.


"Lo mau jalan kemana, ayok kita pergi." putus Aslan pada akhirnya saking kesalnya melihat Icha pergi dengan Laskar, tentu saja hal tersebut membuat Lea antusias.


"Jalan-jalan ke mall."


****


Tujuan dua pasangan itu ternyata sama, yaitu sama-sama jalan ke mall, di mall yang sama lagi.


Karna Icha ngajak Laskar jalan hanya karna dia cemburu dengan Lea, makanya begitu tiba di mall dia hanya jalan muter-muter saja tanpa tujuan, fikirnya dengan jalan terus tanpa henti itu bisa meredam emosinya.


"Cha, kamu mau jalan terus kayak gini atau gimana, aku capek nieh." Laskar akhirnya mengeluh juga, iyalah kelamaan jalan bisa-bisa membuat betisnya segede talas bogor.


Icha menghentikan langkahnya, menoleh kesamping dimana Laskar berada, merasa kasihan juga dia melihat Laskar menjadi korban dirinya yang tengah diserang rasa cemburu.


"Aku gak akan pernah capek ngikutin kamanapun kamu pergi, tapi dengan tujuan yang jelas juga donk, masak dari tadi kita disini kamu hanya ngajak muter-muter doank."


"Sorry ya." lagi-lagi hanya minta maaf.


"Sudah cukup minta maafnya, bagaimana kalau kita makan saja sekarang, lapar nieh."


Icha hanya mengangguk mengiyakan.


****


Masih di mall yang sama, tapi ditempat berbeda, Aslan dan Lea kini tengah berada ditoko kosmetik, Aslan langsung mendesah begitu Lea menariknya memasuki surganya wanita tersebut.


"Menurut kamu, warna lipstik ini gimana." Lea meminta pendapat Aslan setelah mencoba lipstik dibibirnya.


"Bagus kok." ujar Aslan asal jawab, bagus atau gak dia mana ngerti hal beginian.


"Kalau ini gimana."


"Bagus." ujarnya hanya melirik sekilas.


"Menurut kamu, lebih baik warna pink atau oren." meskipun pertanyaannya hanya dijawab ala kadarnya, Lea tetap semangat meminta pendapat Aslan, karna menurutnya pendapat pacar itu penting.

__ADS_1


"Dua-duanya bagus."


"Bagus ya, gue ambil dua-duanya kalau gitu."


Ternyata gak sampai disitu, Lea sepertinya betah berlama-lama ditoko kosmetik tersebut, dia membeli beberapa kosmetik lainnya mulai dari bedak, mascara, ayliner, pencil alis, blus on dan sederet kosmetik lainnya yang tidak diketahui namanya oleh Aslan.


"Dasar wanita, muka cuma satu, tapi mereka membutuhkan banyak hal untuk memolesnya." Aslan membatin.


Dulu ketika pacaran sama Athena Aslan beberapa kali nemenin Athena ke toko-toko kosmetik kayak gini, meskipun begitu tetap saja dia heran melihat wanita yang hoby membeli benda-benda seperti itu yang menurutnya gak penting karna pada akhirnya setelah tuh benda-benda diaplikasikan ke wajah pasti akan dihapus lagi.


"Kamu bete ya." Lea bertanya begitu melihat wajah Aslan yang terlihat menahan kesel.


"Gak." gak berarti iya.


Lea ternyata peka juga, buktinya dia berkata, "Duhh, maaf ya, kamu pasti bete karna capek nemenin aku, aku itu orangnya suka gak inget waktu lagi kalau tengah belanja gini."


"Gak hanya lo, hampir semua wanita begitu, kecuali Icha." jawab Aslan dalam hati.


"Tapi sekarang aku udah selesai kok."


"Syukur deh." gumam Aslan dalam hati.


Tapi sebelum benar-benar keluar dari toko kosmetik tersebut, Lea melihat farpum dan berniat membelikannya untuk Aslan.


"Cium deh, enakkan wanginya." Lea mendekatkan tangannya yang telah disemprot oleh tuh farpum ke hidung Aslan.


"Lumayan, tapi itukan farpum cowok."


"Iya, aku mau beliin untuk kamu, mau ya jangan nolak, ya ya ya plisss." paksa Lea.


"Hmmm." jawab Aslan.


Setelah membayar belanjaannya, mereka keluar dari toko kosmetik, belum jauh berjalan, Lea berhenti disebuah toko pakaian yang menjual pakaian-pakaian bermerk, dan kemudian tanpa diminta memberitahu.


"Ini toko pakain langganan kak Teguh Lan, masuk yuk." Lea menarik Aslan tanpa membiarkannya menolak.


"Ngapain kita masuk ke sini Le, inikan toko yang khusus menjual pakai-pakaian cowok, dan gue saat ini tidak ingin membeli pakaian."


Tanpa mengindah protes Aslan, Lea mengambil jaket dari gantungan pakaian dan mencocokkannya dibadan Aslan, "Bagus, ini pasti cocok untuk kamu."


"Le, aku gak berniat untuk membeli jaket." gusar Aslan karna Lea tidak mengindahkan protesnya.


"Aku akan membelikannya untuk kamu."


"Gak perlu, gue gak butuh." ketus Aslan mengambil jaket tersebut dari tangan Lea dan kembali menaruhnya ditempat dimana Lea mengambilnya.


Melihat hal tersebut membuat Lea merasa sedih, "Aku mau beliin kamu jaket Lan, di Malangkan udaranya dingin, selain itu juga, aku berharap ketika kamu memakainya kamu akan selalu inget dengan aku."


Mendengar kata-kata Lea, gak tega juga dia menolak, dengan terpaksa dia mengiyakan, "Ya udah deh, lo boleh beliin gue jaket itu."


Lea langsung tersenyum lebar, mengambil kembali jaket tersebut dan meminta Aslan mencobanya meskipun Aslan sudah pasti cocok mengenakannya, tapi Lea tetap ingin Aslan mencobanya.

__ADS_1


"Akhh, pacarku benar-benar ganteng apapun yang dia kenakan." puji Lea melihat Aslan mencoba jaket yang Lea pilihkan untuknya.


***


__ADS_2