
"Woee Cha." teriak Gibran melihat Icha hanya berdiri melihat kehangatan keluarga Wijaya, "Ngapa cuma berdiri aja disitu kayak patung selamat datang, kemari lo, lo gak berniat meluk calon bojo lo, kemarin aja pas Aslan di Malang lo nangis-nangis kejer saking kangennya, sekarang udah didepan mata hanya dilihat dari jauh doank."
Yang lainnya terkikik mendengar banyolan Gibran, sedangkan Icha mesem-mesem saking malunya,
"Ishh kak Gibran, kalau ngomong suka fitnah, kapan gue nagis-nangis kejer ngangenin Aslan." rutuk Icha dalam hati.
Icha mendekat, saat Icha berjalan, Gibran yang sering kumat isengnya menjegal kaki Icha membuatnya hilang keseimbangan, hampir saja dia jatuh namun dengan sigap Aslan menahan tubuh Icha membuat Icha gagal terjatuh ke tanah.
"Apa yang lo lakukan." damprat Aslan marah melihat kelakuan sang kakak yang hampir mencelakai Icha.
"Cuma bantuin lo supaya lo bisa meluk Icha tanpa sungkan." Gibran menjawab santai.
"Gak jelas lo." dumel Aslan.
"Kamu ini Gibran, ada-ada saja, gimana kalau Aslan tidak cepat meraih tubuh Icha tadi." mama Dina juga ngomel melihat keisengan putra keduanya tersebut.
"Hehhehe." malah cengengesan sik Gibran, "Sorry ma, sekedar sebagai iklan doank agar gak garing."
Papa Ridho hanya menggeleng mendengar jawaban ngaco putra keduanya itu.
"Kamu gak apa-apa Cha." tanya Aslan khawatir, kini perhatiannya beralih pada Icha yang masih dalam pelukannya.
"Gak apa-apa kok."
"Cie romantisnya." goda Gibran sementara anggota keluarga Wijaya lainnya tersenyum penuh arti.
Icha langsung menjauh dan gilirannya mendamprat Gibran, emang telat sieh, tapi lebih baik telat daripada gak sama sekali, "Kak Gibran iseng banget sieh, kalau gue jatuh gimana tadi, kalau gue kenapa-napa memang kakak mau tanggung jawab."
"Yang pentingkan gak sampai jatuh Cha, ada ayang yang jadi pelindung." sahut Mario menggoda.
"Apa sieh kak Mario." gumam Icha malu mendengar kata ayang yang diucapkan oleh Mario.
"Sudah sudah sebaiknya kita masuk, adik kalian capek baru pulang kalian malah sibuk menggodanya." intrupsi papa Ridho yang disetujui oleh mama Dina.
"Gibran, sana bawa masuk koper adikmu." mama Dina memerintahkan.
__ADS_1
"Ya Allah, hal-hal begini dilimpihin ke gue, nasib-nasib jadi anak perungu."
"Rasain."
****
Besoknya, Aslan sudah masuk sekolah seperti biasanya, oleh karna itu Icha berangkat bersama Aslan, kini mereka berdua sudah duduk didalam mobil, suasana didalam mobil tenang dan hening.
"Bagaimana keadaan sekolah selama aku di Malang." Aslan membuka percakapan.
"Baik." Icha menjawab singkat.
"Kamu juga baik-baik saja."
"Hmmm, bisa dibilang begitu." jawab Icha ambigu, pasalnya, dibilang baik, dia tidak sepenuhnya baik-baik saja karna dihatinya rasa bersalah terus menghantuinya.
"Hubungan kamu dengan Lea gimana."
Mendapatkan pertanyaan tentang Lea, Icha menjelaskan semuanya pada Aslan, "Setelah kejadian di hotel waktu itu, Lea gak pernah masuk sekolah, aku berulangkali ke rumahnya, tapi satpam rumahnya selalu bilang kalau Lea gak ada, aku yakin dia bohong, Lea hanya gak mau bertemu dengan aku, aku maklum sieh kalau Lea gak mau bertemu dengan aku mengingat bagaimana jahatnya aku sama dia." wajah Icha berubah mendung.
Aslan menarik nafas, dia tahu ini semuanya gak mudah bagi Lea, di sakiti oleh sahabat dan pacarnya sendiri tentunya itu sesuatu hal yang sangat menyakitkan, dan pastinya butuh waktu lama untuk Lea menerima semuanya. Aslan menggenggam tangan Icha untuk memberi penguatan, dia tersenyum tipis, "Yakin sama aku, semuanya akan baik-baik saja dan akan kembali seperti dulu lagi."
***
Begitu Icha masuk kelas, pandanganya langsung disambut oleh orang yang sangat ingin dilihatnya beberapa hari belakangan ini, iya, Lea masuk setelah beberapa hari absen, dan dia duduk didekat Gita bukan dimeja yang biasa yang dia tempati dengan Icha, Lea sendiri, begitu bola matanya bersirobok dengan Icha dia langsung membuang pandangannya.
"Tas siapa sih ini." desis Icha melihat tas yang ada dibangku Lea di dekat tempat duduknya dan tanpa basa-basi langsung membuang tas malang tersebut di lantai tanpa rasa bersalah.
Marhun yang baru balik dari toilet langsung melihat tasnya tergeletak dilantai, "Astaga naga, siapa yang membuang tas gue dilantai." Marhun memungut tasnya.
"Gue, mau apa lo." sahut Icha cuek.
"Dasar wanita jahat ya lo Cha." Marhun kembali meletakkan tasnya disana, dan bukan hanya tas, setelah tasnya, bokongnya juga ikut menyusul.
"Ehh, mau apa lo, sana jauh-jauh." Icha mendorong lengan Marhun, dan itu sukses membuat tubuh Marhun yang dalam keadaan tidak seimbang oleng dan jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Ichaaa, tidak bisakan lo membiarkan gue duduk dengan tenang setelah sahabat lo ngusir gue dari bangku gue sendiri." Marhun berdiri dan mengibas-ngibaskan bagian belakang celananya yang kotor.
"Aakhhh." Icha mendesah dalam hati, "Segitu bencinyakah Lea sama gue sampai duduk sama gue saja dia gak sudi."
Marhun akan kembali mendudukkan bokongnya, namun sebelum bokongnya mendarat dengan sempurna, Icha kembali mendampratnya, "Marhunn, jangan duduk di dekat gue, pergi lo."
"Emang kenapa kalau Marhun duduk disana, itu bangku punya sekolah bukan punya lo." terdengar sahutan pedas dari belakang yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahutan dari Lea sendiri.
Icha terdiam, bukan membenarkan ucapan Lea, meskipun itu memang benar sieh, tapi dia hanya gak mau membuat keributan dengan Lea kalau dia membalas ucapan Lea.
Marhun yang tidak jadi duduk karna pengusiran Icha barusan bertanya dengan takut-takut kepada Icha, "Jadi gimana nieh, gue boleh duduk gak."
Icha menatap Marhun tajam.
"Tenang saja Cha, gue setia sama Gita, jadi jangan khawatir, gue gak bakalan ngerayu lo selama gue duduk disamping lo, lagian mana mau juga gue sama lo."
"Kalau lo gak nutup mulut lo itu, jangan harap lo bakalan gue kasih duduk." ancam Icha.
"Vis vis." Marhun mengangkat dua jarinya membentuk huruf V, "Damai Cha, damai."
Tidak perlu punya otak sepintar Aslan untuk mengetahui kalau saat ini diantara Icha dan Lea tengah terjadi perang dingin, melihat Lea yang pindah tempat duduk saja orang bisa mengetahui kalau hubungan persahabatan Icha dan Lea tidak baik-baik saja, hanya saja penyebabnya itulah yang tidak mereka tahu, karna Lea konsisten bungkam tidak mau bercerita kenapa Lea sampai pindah duduk ketika ditanya oleh Gita.
Aslan yang tadi pergi ke ruang kepala sekolah langsung mengalihkan perhatian teman-teman kelas IPS 5 padanya ketika dia memasuki kelas, dan kebetulan matanya langsung bersitatap dengan Lea, Lea langsung membuang muka sama seperti dia melihat Icha barusan.
"Lea pindah duduk." batinnya melihat Lea duduk bersama Gita dibelakang.
"Aslann, lo udah balik." tanya Gita begitu melihat batang hidung Aslan.
"Kalau gue masih di Malang, gak mungkin gue disini." jawab Aslan judes.
"Ihhh Aslan, orang nanya baik-baik jawabnya judes." sungut Gita.
Marhun mendekati Aslan, "Selamat datang kembali pahlawan sekolah, selamat bergabung kembali di kelas IPS 5, lo adalah kebanggaan kami."
"Cuma juara dua Hun, bukan juara pertama, jadi jangan berlebihan gitu bilang gue pahlawan."
__ADS_1
"Juara dua tetap membanggakan daripada gak dapat sama sekali."
****