Cinderela Modern

Cinderela Modern
PAKET


__ADS_3

Dengan berbisik Icha berkata, "Bu Dea itu mama tiri gue." emang gak penting sieh informasi ini, tapi dia ingin saja ngasih tahu mas-mas kurir ini, "Dia janda karatan, ditinggal mati papa gue, jadi kalau mas berminat sama dia." ceritanya Icha mempromosikan sik mama tiri agar laku atau agar sik mama tiri bisa go out dari rumah almarhum papanya, "Gue dukung seratus, eh seribu persen deh."


Sik mas akan membuka suaranya untuk membalas kata-kata Icha, namun suaranya tertahan karna mama Dea udah nongol dengan lipstik merah menyala dan pipi juga gak kalah merahnya.


"Astagfirullah." entah apa sebabnya sehingga mas kurir istigfar, mungkin kaget ada ondel-ondel pagi-pagi begini.


Icha berbisik, "Gimana, cantikkan." dia cekikikan.


"Kenapa kamu teriak-teriak Icha, kamu fikir ini hutan, ntar kalau tetangga terganggu karna teriakan kamu yang kayak tarzan mama yang bakalan kena tegur." bentak mama Dea.


"Mas kurir nyariin mama."


Mama Dea yang wajahnya masam kini berubah semanis sirup, "Oh ya, bawa pesanan saya ya mas."


"Dengan ibu Dea." mas kurir memastikan.


"Iya saya sendiri, mana sini pesanan saya." serunya gak sabar sampai ingin merebut paket yang ada ditangan kurir.


"Ini bu."


Mama Dea memandang paket tersebut dengan mata bersinar cerah secerah sinar matahari pagi yang menyinari bumi.


"Apa sieh isi tuh paket, jadi penasaran." Icha bertanya tanya dalam hati apa gerangan isi paket tersebut sampai mama tirinya begitu sangat bahagia.


"Oh ya mas, perlu difotokan sebagai bukti kalau paketnya udah diterima."


"Iya bu."


Sik mas kurir mengeluarkan ponselnya untuk memfoto mama Dea dengan memegang paket, sudah deh tuh, mama Dea bergaya habis-habisan, gayanya udah ngalah-ngalahin model papan atas.


Icha hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mama tirinya, "Udah tua bangka masih aja kebanyakan gaya." gumamnya tanpa suara.


"Heh, kamu sana, jangan deket-deket, ntar hasil fotonya jelek lagi." mengusir Icha agar jauh-jauh.


Icha mendengus, "Ishh, dasar norak, kayak gak pernah lihat kamera saja." umpat Icha.


"Sudah ya bu, memori ponsel saya hampir penuh soalnya." ujar sik kurir karna mama Dea terus-terusan ingin difoto, padahal hanya satu yang dibutuhkan sebagai bukti.


"Mas, maklumin aja, mama tiri saya ini cita-citanya ingin jadi model, tapi karna tingginya cuma semeter kotor, jadi dia harus mendam keinginannya deh dalam hati." ceplos Icha tidak bisa mengerem bibirnya, "Upss." langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan.


"Anak ini, bicara sembarangan saja." mlotot pada Icha, "Jangan dengerin dia mas, anak ini rada-rada eror. Sudah sana kamu masuk, kenapa masih disini, kerjaan kamu masih numpuk."


" Iya." ucap Icha berbalik akan masuk, sambil bernyanyi dengan suara keras, "Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja."


"Anak itu, kalau dibiarkan semakin menjadi-jadi." geram Dea dalam hati.


****


Mama Dea begitu bahagia gara-gara mendapatkan paket, buktinya dia sampai lupa memarahi Icha karna ulahnya barusan. Icha sengaja membersihkan guci atau pajangan-pajangan disekitar ruang tamu dimana mama tirinya kini berada, diakan juga penasaran ingin melihat isi dari paket tersebut.

__ADS_1


"Wahh, pagi-pagi mama udah dapat paket." Lola bergabung dengan mamanya duduk disofa.


Mama Dea masih setia memandang paket tersebut, belum ada tanda-tanda untuk membukanya.


"Setau Loli, mama gak pernah pesan barang deh minggu-minggu ini, kenapa tiba-tiba ada paket."


"Ini dari seseorang, barang yang sudah lama mama idam-idamkan."


"Dari seseorang ma, cowok." ujar Lola ingin tahu.


"Iya."


Icha mendengarkan baik-baik percakapan ibu dan anak itu.


"Pacar mama ya." simpul Loli, "Ihhh, mama ganjen deh, Loli aja belum punya pacar kenapa mama yang udah tua ini ada yang mau sieh." sik Loli ini memang suka ceplas ceplos kalau ngomong, ya meskipun yang dikatakan fakta sieh kalau mamanya udah tua, dan itu membuatnya mendapatkan jeweran ditelinga.


"Anakk ini, kalau ngomong ya, bikin mamanya sakit hati mulu."


"Sakit mama, lepasin." Loli merengek.


"Biarin kamu kesakitan."


Lola malah tertawa melihat penderitaan saudarinya.


"Asal kamu tahu ya, mama itu masih muda, belum tua, masih banyak yang mau sama mama, buktinya kurir tadi ngedepin mama, sayangnya mama seleranya tinggi."


Padahal kurir tadi matanya kelilipan, dibilangnya ngedipin dia, kegeeran banget jadi orang.


Barulah Mama Dea melepaskan jewerannya ditelinga Loli, Loli mengelus telinganya yang memerah, ingin nangis rasanya.


"Mama akan maklum kalau pingsan melihat isinya."


"Apaan sieh isinya, bisa cepat gak ma bukanya, atau Lola yang bukain."


"Gak sabaran banget sieh kamu, tunggu donk."


Dengan penuh penghayatan mama Dea membuka bungkus paket tersebut, dan benar saja, meskipun gak sampai pingsan juga, Lola dan Loli dengan mata lebar memandang tas cantik berwarna putih itu yang dikeluarkan oleh brand ternama.


"Mama, siapapun yang membelikan ini buat mama, Loli yakin dia cinta beneran sama mama."


Mama Dea tersenyum puas, dalam hati berkata, "Kaya juga tuh anak, sering-sering aja sik upil itu diajak pergi, kan aku bisa jadi dapat barang-barang mewah begini."


Sedangkan Icha yang dari tadi penasaran dengan isi paket tersebut mendekat untuk melihat lebih jelas, dia mengarahkan kemoceng yang dipegangnya kekepala Loli seolah-olah kepala Loli berdebu.


"Apaan sieh lo upil." Loli menepis kemoceng itu dari kepalanya, "Lo fikir kepala gue pajangan apa." desis Loli dongkol.


"Sorry Lol, habisnya kepala lo banyak debunya sieh, ketahuan banget lo keramasnya seminggu sekali." ledek Icha.


"Ihhh, ingin gue gampar lo." Loli mengacungkan kepalan tangannya.

__ADS_1


"Mau apa lo kemari." Lola membentak.


"Gue cuma penasaran ingin lihat isi paket yang diterima mama, ternyata isinya cuma tas jelek begitu." ujarnya memberi komentar pada tas yang dikagumi oleh ibu dan saudari tirinya, maklumlah, Icha kan gak ngerti masalah benda-benda bermerk, makanya ekspresinya biasa aja.


"Heh, lo kalau gak ngerti masalah tas bagus atau jelek mending tutup mulut deh, asal lo tahu, ini tuh mahal, dikeluarkan oleh brand ternama."


"Nieh gue kasih tahu elo ya." Icha nyolot gak mau kalah, "Kalau tas model begituan doank juga banyak kali ditanah abang."


"Kamu mending jauh-jauh sana." mama Dea mengibas-ngibaskan tangannya mengusir Icha, "Ganggu kebahagian orang saja."


"Pergi sana lo jauh-jauh, kalau perlu ke tartarus."


"Siapa juga yang mau berlama-lama deket kalian." jawab Icha menjauh.


Sebuah pesan masuk ke ponselnya, pengirimnya adalah Laskar, bunyi pesan yang dikirim Laskar adalah.


Sorry Cha menggangu, gue sekedar mau tanya, mama tiri lo udah nerima paketnya belum.


Icha langsung mendial nomer Laskar, panggilannya langsung diangkat pada deringan pertama, Icha langsung membrondong Laskar dengan pertanyaan, "Jadi lo yang ngirimin mama gue tas itu, gue denger itu tas mahal, kenapa lo ngabisin duit buat mama tiri gue yang gak berguna itu."


"Laskar, jawab donk, kenapa malah diem."


"Gimana gue mau ngejawab lo nyerocos mulu."


"Oke, kenapa lo ngasih mama tiri gue tas mahal, lo suka ya sama dia."


Terdengar suara dengusan Laskar, "Ya gaklah, mama tiri lo jelek, meskipun kalau gue menyukai tante-tante, selera gue kayak syahrinilah cantik." gurau Laskar.


"Terus kenapa lo..."


Laskar memotong kalimat Icha, "Ya karna siapa lagi, karna lolah, karna gue ingin ngabisin waktu berdualah sama elo, ngasih lo hadiah ulang tahun terbaik, gue ingin ngajak lo pergi ketempat yang lo suka tanpa takut lo bakalan dimarahin oleh rubah itu."


Icha terharu, ternyata Laskar begitu perhatian padanya, saking terharunya dia gak bisa berkata-kata.


"Lo terharu ya, lo nangis ya, kerenkan gue bisa bikin lo terharu bahagia begitu, gue bener-bener cowok impian." serunya membanggakan diri.


Icha tersenyum mendengar clotehan Laskar, meski begitu dia mengelak, "Siapa juga yang terharu, apalagi nangis, gue cewek kuat yang gak akan pernah nangis."


"Gak bisakah lo berbohong dengan pura-pura terharu untuk membuat gue seneng dan merasa menjadi cowok sejati." dengan suara yang dibuat kecewa.


Icha terkekeh, "Iya iya, gue terharu makasih ya, lo baik banget."


Icha heran, cowok sebaik Laskar diselingkuhin oleh Diana, Icha yakin pasti Diana nyesel, secara gitu Icha yang hanya berstatus sebagai temannya Laskar saja baiknya minta ampun sama Icha, bagaimana dengan pacarnya, pasti Laskar bucin dan nurutin apapun permintaan sang pacar.


"Gue akan bertambak baik kalau lo mau jadi pacar gue." ujar Laskar santai seolah disedang bercanda.


Karna menganggap Laskar bercanda Icha menjawab begini, "Layak dicoba tuh, pasti sangat menguntungkan kalau gue jadi pacar lo, berasa kayak jadi cinderla dalam dunia nyata, gadis yatim piatu yang selalu disiksa oleh ibu tirinya pacaran dengan cowok kaya dan tampan, gue pasti bakalan morotin lo habis-habisan, haha."


"Dasar lo ya."

__ADS_1


****


__ADS_2