
Setelah mengambil motornya diparkiran, Laskar menyusul Icha dan Lea yang sedang menghampiri Ucup didepan sekolah, rencananya, Laskar akan mengikuti mobil Lea dari belakang.
"Nieh neng Lea, titipan dari nyonya." Ucup menyerahkan amplop tebal berwarna coklat pada Lea, tentu saja isi amplop tersebut adalah uang.
"Makasih Cup."
"Uangnya gak lo tilep sebagiankan Cup." Icha menuduh.
"Neg Icha suuzon aja kerjaannya, dosa neng, lagiankan Ucup amanah orangnya, gak level ngambil yang bukan hak Ucup."
Icha mendesis, "Sumpret, malah jadi diceramahin gue."
"Ngomong-ngomong neng Le, Ucup gak kebagian santunan tuh, Ucupkan juga orang gak berada."
"Elahh, ujung-ujungnya lo minta duit juga."
"Udah gak apa-apa Cha, lagian Ucup benar kok, Ucup berhak dikasih santunan." Lea menarik dua lembar uang dengan nominal seratus ribu dan diserahkannya pada Ucup.
"Neng Lea emang the best deh, semoga neng Lea panjang umur, murah rizki, makin cantik dan enteng jodoh." emang gitu deh orang kalau dikasih duit, doainnya panjang banget.
"Amien." Lea mengaminkan.
****
Disaat bersamaan, Aslan juga baru keluar dari gerbang sekolah, matanya gak sengaja tertuju pada Icha yang tengah berdiri dipinggir jalan bersama Lea dan sopirnya Lea, tapi yang membuat Aslan heran, Laskar juga tengah bersama dengan mereka, Icha bilang sieh dibakalan pergi sama Lea dan bakalan diantarin pulang sama sopirnya Lea, ketika ditanya mereka mau ngapain, Icha hanya bilang, "Rahasia ilahi." Aslan yang sudah menganggap dirinya dewasa malas bertanya lebih lanjut, fikirnya kalau Icha pergi dengan Lea gak jadi masalah, tapi masak iya Laskar juga ikutan sama mereka, untuk menuntaskan rasa ingin tahunya itu, Lea menghentikan mobilnya didekat mereka.
"Aslan." sapa Icha begitu melihat Aslan keluar dari mobilnya.
Seperti biasa, Lea langsung grogi begitu Aslan berada dekat dengannya.
"Lo jadi pergi sama Lea." tanyaya.
"Jadi, ini mau berangkat."
Mata Aslan mengarah pada Laskar, "Kalian perginya berduakan."
"Bertiga, eh, maksudnya berempat dengan Laskar dan Ucup."
"Laskar juga ikut." heran Aslan.
"Lea katanya mau kepantai asuhan Lan, kegiatan sosial gitu, terus dilanjutin karoekan, lo mau ikut gak, ikut yuk biar tambah rame dan seru. " cerocos Laskar tanpa bisa direm, dan lagi, siapa coba yang ngasih dia izin buat ngajakin Aslan ikut, acara inikan sebagai rasa syukur Lea buat ngerayain putusnya Aslan dan Athena, tapikan Laskar gak tahu, makanya Laskar ngajakin Aslan, dalam hal ini, Laskar gak salah donk.
"Le, Cha, bolehkan aslan ikutan, kan seru kalau rame-rame." meskipun Laskar tahu Aslan tidak suka sama dia, tapi toh dia berusaha untuk tetap bersikap akrab sama Aslan, karna biar bagaimanapun, Aslan adalah sahabat Icha.
__ADS_1
Gak mungkin bilang gakkan, dengan terpaksa Lea mengatakan, "Iya boleh.", namun dalam hati Lea berharap Aslan bilang, "Gue gak mau ikut, gue sibuk belajar soalnya." karna Lea tahu Aslan super rajin, tiap waktu kan kerjaannya belajar melulu.
Icha juga begitu, berharap semoga Aslan gak ikut, kalau Aslan ikut dan mengetahui kalau mereka melakukan hal ini dalam rangka merayakan putusnya Aslan, bisa ngamuk Aslan, malahan mereka sudah pesan kue tart segala lagi yang niatnya bakalan dimakan ditempat karoeke.
Namun harapan Icha dan Lea tidak terkabul, karna Aslan melisankan, "Oke gue ikut."
Icha merutuk, "Ini gara-gara sik Laskar sialan, coba kalau mulutnya bisa direm, Aslankan gak bakalan minta ikut."
"Bukannya lo harus belajar Lan, sebentar lagikan lo kan bakalan ikut kompetisi matematika." Icha berusaha mengingatkan.
Jawaban Aslan adalah, "Gue bisa belajar sepulang dari acara karokean, meskipun gue suka belajar, gue juga kan butuh hiburan."
Akhirnya dengan terpaksa, Icha dan Lea membiarkan Aslan ikut.
****
Karna Aslan ikut, jadi supaya mereka tidak jalan sendiri-sendiri karna masing-masing bawa kendraan sendiri, Icha menyarankan.
"Gini aja deh, Ucup, lo balik aja, gue sama Lea numpang mobil Aslan saja."
Dengan senang hati Ucup mengiyakan, "Siap grak." pose hormat.
"Seneng lo ya bebas dari tanggung jawab."
Icha mencibir, namun kemudian Icha inget kalau ini kesempatan Lea buat melakukan pendekatan sama Aslan, jadinya rencananya sedikit diubah, "Eh, gini aja, Aslan sama Lea, sedangkan gue nebeng sama Laskar aja deh, karna tiba-tiba gue ingin naik motor." bohongnya.
Respon Laskar, "Nah, itu baru cakep, jadi gak ngeboncengin angin deh gue."
Namun yentunya saran Icha itu mendapat penolakan baik dari Lea dan Aslan, "Jangan Cha, gue sama lo dianterin Ucup aja." panik Lea, jelas dia gak mau berduan dengan Aslan, bisa mati gugup dia.
Aslan juga menolak, dia juga gak mau berduaan dengan Lea, tapi dengan alasan yang berbeda, kalau Lea pasti gugup kalau berduaan Aslan, dia malah malas berduaan dengan cewek, kecuali Icha, "Icha benar, kita pakai mobil gue aja, tapi lo juga harus ikut mobil gue Cha."
"Gak gak, kalian berdua aja, gue sama Laskar aja." Icha mengedip-ngedipkan matanya kearah Lea berharap Lea mengerti maksudnya memberi saran seperti ini.
"Ya udah deh kalau lo maunya begitu." ujar Aslan akhirnya, dia masuk ke mobilnya.
"Tapi gue...."
"Udah sana lo masuk." Icha membalik tubuh Lea supaya mengikuti Aslan masuk ke mobil.
"Yesss, berhasil." serunya begitu mobil Aslan berlalu, dia berharap Lea mulai melakukan pendekatan terhadap Aslan, kalau bukan sekarang, kapan lagi.
"Kenapa lo Cha, kayaknya senang banget." Laskar bertanya.
__ADS_1
"Senenglah, akhirnya gue berhasil membuat Lea dan Aslan berduaan."
"Maksud lo, Aslan suka sama..."
"Bukan Aslan, tapi Lea yang suka sama Aslan, Aslankan baru putus, jadi ya saat ini Lea lagi gencar-gencarnya gitu buat ngedekatin Aslan."
"Gitu ya."
"Hmmm, udah yuk kita jalan."
Icha duduk diboncengan motor Laskar, "Cha, kenakan sabuk pengamannya dulu, ntar lo jatuh lagi."
"Udah gila lo, motor mana ada sabuk pengamannya."
"Ada."
"Mana."
"Mana tangan lo."
"Buat apa."
"Udah siniin aja."
Icha menjulurkan tangan kanannya, "Satunya lagi." ujar Laskar sambil memegang tangan kanan Icha.
Icha kembali menjulurkan tangan kirinya, yang diraih oleh Laskar, dia lalu menarik tangan Icha kedepan dan melingkarkannya diperutnya, "Nah, itu yang namanya sabuk pengaman." ujarnya jail.
Icha menarik tangannya memukul bahu Laskar, "Dasar lo, modus."
Laskar terkekeh, "Yakin nieh gak mau pegangan, gue ngebut lo."
"Lo mau ngebut kek, mau terbang kek, gak peduli, gue gak mau meluk lo."
"Yakin."
"Yakinlah."
Laskar mengegas motornya sehingga membuat Icha terhempas kedepan, otomatis Icha melingkarkan tangannya kalau gak mau jatuh, "Laskarrr." lengkingnya, "Jail banget sieh lo."
"Hahaha." Laskar malah tertawa.
****
__ADS_1