Cinderela Modern

Cinderela Modern
MENEMANI ASLAN


__ADS_3

Chaaa


Lima menit sebelum bel pulang Aslan mengechat Icha.


Apa


Temenin gue ya


Temenin,? emang lo mau kemana


Gak kemana-mana, cuma, sepulang sekolah gue dan anak-anak yang ikut olimpiade sains ada bimbingan khusus aja dari pak Top.


Ahh, pasti membosankan, ketemu orang-orang kayak elo, apalagi ada pak Topnya, gue balik duluan ajalah.


Gak lama kok, paling cuma dua puluh menitan doank, ntar pulang sekolah kita jalan-jalan ke mall deh, dan apapun yang lo inginkan bakalan gue turutin


Beneran


Iya


Termasuk nraktir gue


Iya


Beneran cuma dua puluh menitkan.


Insaallah


Oke deh kalau gitu


Begitulah Icha, hanya dengan diiming-imingi traktir dia akhirnya mau menemani Aslan.


Dan begitu bel pulang berbunyi, Lea bertanya, "Lo langsung pulang Cha."


"Gak, gue mau nemenin Aslan, katanya dia dan anak-anak jenius disekolah kita bakalan ada bimbingan khusus gitu dari bapak kita tercinta."


"Anak-anak yang ikut olimpiade sains itu ya."


"Hmmm."


"Gue iri sama lo Cha, bisa sama Aslan setiap saat kemana-mana."


"Ellahh, hal begituan lo iriin, gue mah bosan setiap saat bersama Aslan terus, apalagi sekarang harus ketemu dengan selusin Aslan lainnya." ujar Icha nelangsa, namun iming-iming traktiran dari Aslan sedikit menghiburnya.


"Gue duluan deh kalau gitu, Aslan udah nungguin gue tuh."


Aslan berdiri didepan pintu menunggu Icha, dan begitu Icha menghampirinya mereka langsung jalan menuju lab fisika.


"Le." tegur Laskar mendekati Lea, "Icha dan Aslan mau kemana."


"Katanya mau nemenin Aslan ikut bimbingan dari pak Top gitu."


"Ohhh." hanya itu yang respon Laskar dan melangkah menuju pintu.

__ADS_1


Lea dengan cepat membereskan alat tulisnya dan memasukkannya ditas, dia langsung berdiri dan mengejar Laskar, setelah berhasil menyejajarkan langkahnya dengan Laskar, Lea berkata, "Kok lo gak kelihatan sedih sieh."


"Sedih, emangnya kenapa gue harus sedih."


"Yahh, karna lo ditolaklah."


"Ditolak bukan akhir dunia Le."


Mereka berjalan sambil ngobrol.


"Memang sieh, tapi setahu gue, orang yang ditolak pasti sedih, ini lo kelihatan biasa-biasa aja gak kelihatan sedih apalagi nangis, atau lo cuma iseng doank ya nembak Icha." meskipun Lea tahu Laskar benar-benar menyukai Icha, tapi heran aja dia kenapa Laskar kelihatan tidak sedih begitu, hal itu memancingnya mengucapkan kalimat barusan.


"Hahaha." Laskar malah ketawa menanggapi kalimat Lea.


"Kok malah ketawa sieh."


"Le, nieh gue kasih tahu elo ya." Laskar terlihat serius, "Gue serius sama Icha, dan gue bener-bener serius ingin memperjuangkan dia." kalimat Laskar terdengar menyakinkan.


"Sweet banget nieh cowok." kagum Lea dalam hati.


"Dan mengenai pertanyaan lo kenapa gue gak bersedih, yahh, daripada gue bersedih gak berguna begitu mendingan gue mikirin cara bagaimana caranya mendapatkan hati Icha, bener gak."


"Bener juga, pantes ditiru tuh."


"Lo sendiri, kapan mulai bergeraknya." Laskar melemparkan pertanyaan.


"Ini gue udah bergerak."


Lea tersenyum tipis, "Begok begitu tapi lo suka, suka banget malah."


Laskar tidak menanggapi ucapan Lea, dia malah berkata, "Jangan lama-lama mendam perasaan lo, lo harus bergerak cepat sebelum lo nyesal." ujarnya menasehati sebelum berjalan menuju parkiran.


"Dari mana dia tahu gue suka sama Aslan." tanya Lea heran, "Apa gue sebegitu bisa dibaca ya, atau jangan-jangan Icha lagi yang ngasih tahu."


****


Icha tadinya gak mau ikutan masuk ke lab fisika, dia mau nunggu diluar saja, malas dia berada diantara orang-orang jenius bermuka datar, tapi Aslan memaksanya ikut masuk, dan dengan terpaksa dia menuruti keinginan Laskar.


Didalam lab fisika ternyata lebih dari selusin siswa jenius kebanggaan SMA PERTIWI telah berkumpul, termasuk pak Taopik juga, ketika melihat Icha masuk pak Top berkata, "Lho, Alissha Ramadhani, sejak kapan otakmu yang kosong itu berubah pintar, sehingga kamu ikut ambil bagian dalam olimpiade sains."


"Elahhh sik bapak ngeledek, Icha kesini nemenin Aslan pak, bukan untuk ikut olimpiade." sewot Icha.


"Baguslah, karna kalau kamu ikut, bisa dipastikan belum apa-apa team kita pasti sudah dieliminasi."


"Ihhh, menyebalkan sekali sieh pak Top." Icha hanya merutuk dalam hati sebelum menyusul duduk disamping Aslan.


Dan benar saja, pertemuan ini membosankan, apalagi harus mendengar suara pak Top, bikin ngantuk, udah ada kali lima kali Icha menguap lebar.


"Lannn, lo bilang cuma sebentar, ini sudah hampir satu jam gak ada tanda-tandanya bakalan selesai." keluh Icha.


"Sabar, bentar lagi juga selesai."


Janji Aslan itu hanya janji kosong karna setengah jam ke depan bimbingan khusus itu belum juga berakhir, Icha yang sudah tidak kuat akhirnya meletakkan kepalanya dimeja lab, dan hanya butuh lima menit untuk membuatnya terlelap dan pergi ke alam mimpi.

__ADS_1


Aslan menggeleng melihat sahabatnya itu tertidur pulas, lab fisika sudah kosong hanya ada mereka berdua disana.


"Bisa-bisanya dia tertidur lelap disembarang tempat." komentar Aslan melihat bibir terbuka Icha, "Untungnya tadi gak ada yang merhatiin dia, kalau gak, bisa malu gue."


"Chaa." menggoyang bahu Icha, "Bangun."


Untuk pertama kalinya dalam sejarah Aslan tidak perlu usaha keras untuk membangunkan Icha, karna Icha menggerakkan kelopak matanya, mengerjap-ngerjap sebelum membuka matanya denga sempurna.


"Tumben, gue gak perlu usaha keras ngebangunin dia." ujar Aslan dalam hati, "Kayaknya pantas masuk rekor muri ini."


Icha melihat sekelilingnya, "Udah selesai ya."


"Hmmm." Aslan berdiri dan menggendong tasnya dipunggung, "Ayokk, kita juga harus pergi, ntar penghuni lab ini keluar lagi." yang dimaksud penghuni lab oleh Aslan adalah hantu.


Icha buru-buru berdiri dan langsung berjalan meninggalkan Aslan, masalahnya dia paling takut dengan hantu.


****


Dan seperti janjinya, Aslan membawa Icha jalan-jalan ke mall, karna lapar Icha menyarankan agar mereka mengisi perut terlebih dahulu supaya punya tenaga untuk jalan-jalan keliling mall.


Dan setelah kenyang mereka kembali melanjutkan perjalanan, Icha menghentikan langkahnya begitu tiba disebuah toko baju langganannya.


"Lann, masuk yuk." menggandeng tangan Aslan, "Gue udah lama gak kesini, pasti ada barang-barang bagus."


Aslan nurut aja tanpa bisa membantah, pasalnya dia sudah berjanji akan menuruti keinginan Icha, termasuk juga nanti kalau Icha ingin membeli sesuatu dia juga harus membelikannya.


Baru saja masuk, Icha sudah terpana dengan baju kaos kembar yang terpasang pada dua manekin tanpa kepala, dia langsung menghampiri dan memegang baju kaos berwarna putih itu.


"Bagus banget ya, dua lagi jumlahnya." ujarnya penuh damba, "Lannn, beliin donk, biar kita kembaran."


Setelah janji yang diucapkan tanpa fikir panjang ketika meminta Icha menemaninya, sekarang apa bisa dia menolak keinginan Icha, dengan berat dia berkata, "Iya."


"Beneran." Icha tidak percaya.


"Iya."


"Yesss." Icha mengepalkan tangannya saking senengnya.


"Lannn, mending kita ganti seragam kita dengan baju ini deh, lagian risihkan jalan keliling mall pakai seragam." Icha menyarankan, sekaligus yang paling penting adalah dia tidak sabar ingin mencoba baju tersebut.


"Iya." Aslan hanya mengiyakan.


Dan begitu keluar dari kamar ganti, Icha dengan antusias berkata, "Bagus bangetkan Lan, gak rugi deh lo beli baju ini untuk kita."


"Udah gak ada yang mau lo beli lagikan disini."


"Walaupun gue masih ingin, tapi gue tahu diri kali Lan, ya kali gue nguras kantong lo."


"Ya udah kalau gitu, mending kita jalan lagi."


"Oke bos."


*****

__ADS_1


__ADS_2