Cinderela Modern

Cinderela Modern
ASLAN KECELAKAAN


__ADS_3

"Icha masih belum ketemu." papa Ridho bertanya begitu melihat anak bungsunya tiba, dia melihat kebelakang Aslan berharap Icha datang bersama Aslan, tapi malah Mario yang ada dibelakang Aslan mengingat tadi dia menunggu kedatangan Aslan diluar.


Aslan menggeleng, wajahnya terlihat lesu.


Saat ini memang keluarga Atmaja berkumpul diruang tengah, menunggu kabar dari anak bungsunya yang tengah mencari Icha.


"Ichaa, dimana kamu nak." ratap mama Dina, jelas dia sangat khawatir, kekakhwatirannya bertambah karna nomer Icha gak aktif, apalagi ketika Aslan memberitahu kalau dia sempat menghubungi Icha yang panggilannya dirijek sebelum nomer Icha tidak bisa dihubungi sama sekali.


"Pa, bagaimana kalau kita lapor polisi pa." ujar mama Dina memberi saran.


"Papa juga inginnya begitu ma, tapi kita gak bisa karna ini belum dua puluh empat jam."


"Apa lo sudah nanyain semua teman-temannya Icha Lan." tanya Gibran.


Aslan mengangguk, bahkan dia yang tidak menyukai Ari dengan terpaksa menghubungi Ari, berfikir siapa tahu Ari saat ini bersama dengan geng biang rusuhnya.


"Kalau terjadi sesuatu bagaimana pa, diakan perempuan."


"Tenang ma, jangan berfikiran negatif, Icha pasti baik-baik saja saat ini, diakan bisa bela diri, dia pasti bisa jaga diri."


"Meskipun begitu pa, Icha tetaplah perempuan." mama Dina mulai sesenggukan, "Laura, maafin aku yang gak bisa menjaga putrimu." mama Dina merasa bersalah dengan almarhum sahabatnya Laura almarhum mamanya Icha, mengingat Laura menitipkan Icha padanya.


"Aslan akan menemukan Icha sampai ketemu ma."


Setelah mengucapkan janji tersebut, Aslan langsung berbalik pergi untuk mencari Icha kembali.


Ponsel Aslan berdering begitu dia memasuki mobil, dengan sangat cepat dia meraih benda tersebut berfikir kalau Icha yang menghubunginya, dia menghembuskan nafas kecewa begitu melihat nama yang tertera dilayar.


"Ya Le."


"Lan, Icha belum ketemu juga."


"Belum Le, ini gue mau pergi nyari dia lagi."


"Aku ikut ya Lan, aku khawatir banget sama dia."


"Gak usah Le, lo dirumah aja, ntar kalau ada kabar tentang Icha gue langsung kasih tau lo."


"Baiklah kalau gitu."


"Oke gue tutup."


"Lan."


Panggilan itu menghentikan Aslan yang berniat memutus sambungan.


"Hati-hati."


"Jangan khawatirin gue Le."

__ADS_1


****


"Lo dimana sieh Cha." disepanjang jalan matanya juga diarahkan untuk melihat siapa tahu kalau beruntung dia bisa melihat sosok Icha, "Gak mungkin lo diculikkan, secara penculiknya babak belur duluan lo hajar."


Karna gak fokus, membuat Aslan tidak menyadari dari arah berlawanan ada mobil yang tengah melaju kencang kearahnya, Aslan yang telat menyadari hal tersebut membanting stir untuk menghindari tabrakan, alhasil mobilnya keluar ruas jalan dan menabrak pembatas jalan, kepala Aslan terbentur.


"Akhhhh." Aslan memegang kepalanya yang mengucurkan darah segar sebelum kesadarannya menghilang.


****


Setelah puas bermain selama seharian dipantai, dan langitpun sudah menunjukkan semburat jingga, Laskar dan Icha memutuskan untuk pulang.


Icha mengaktifkan ponselnya, dan begitu benda itu menyala sempurna, chat berlomba-lomba masuk diponselnya.


Icha mengerutkan kening, karna banyaknya chat yang masuk, mulai dari Lea, dan semua keluarga Atmaja termasuk papa Ridho yang bener-benar jarang menghubunginyapun mengiriminya pesan, tapi Icha tidak berfikiran macam-macam, dia malah berkata, "Tumben banget hari ini banyak yang kangen sama gue."


Belum saja Icha membuka salah satu dari pesan yang masuk, ponselnya berdering, kali ini bukan pesan tapi panggilan dari Lea.


Sebelum Icha sempat menyapa, terdengar suara Lea yang terdengar histeris.


"Ichaaa, lo dimana."


"Le, lo kenapa, apa yang terjadi." panik Icha mendengar Lea histeris.


"Aslan Cha, Aslan."


"Aslan." ulang Icha, "Apa yang terjadi dengan Aslan Lea." tuntut Icha.


"Aslan kecelakaan."


"Aslan kecelakaan Cha." ulang Lea.


Tubuh Icha terasa lemas mendengar berita ini, baru satu jam yang lalu dia meminta pada Tuhan untuk selalu menjaga Aslan, dan kini Aslan dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Dia nyariin lo, karna seharian menghilang, kami semua khawatir karna lo gak ada kabar, nomer lo gak aktif, dan lo ngerijek panggilan Aslan sebelum nomer lo gak aktif, kami berfikir lo diculik." Lea menjelaskan duduk perkaranya.


Lidah Icha terasa kelu, dia tidak bisa bersuara, apalagi saat mengetahui kalau Aslan kecelakaan karna khawatir dengannya.


"Chaaa." panggil Lea khawatir karna tidak ada sahutan.


"Chaa." tegur Laskar yang baru datang menghampiri Icha, "Apa yang terjadi." tanyaya melihat raut wajah Icha.


"As As..." Icha gak sanggup lagi untuk bersuara, air matanya perlahan lolos membasahi pipinya, Icha bisa dibilang hampir tidak pernah menangis, terakhir kali dia menangis saat ayahnya meninggal.


"Chaaa, jawab gue, lo masih ada disanakan, lo gak apa-apakan, jangan bikin gue khawatir." tuntut Lea diseberang.


Karna Icha mengaktifkan pembesar suara ponselnya, jadi Laskar bisa mendengar suara Lea.


Laskar mengambil alih ponsel yang dari tangan Icha, "Ya Le, apa yang terjadi."

__ADS_1


"Laskar."


"Iya ini gue."


"Ohh ya Tuhan terimakasih, gue fikir Icha kenapa-napa." Lea terdengar lega.


"Le, apa yang terjadi."


"Laskar, dimanapun lo saat ini, cepat bawa Icha kerumah sakit milik keluarga Atmaja."


"Siapa yang sakit."


"Aslan kecelakaan."


"Oke oke, kami akan langsung kesana." putus Laskar mengakhiri panggilan tanpa bertanya lebih lanjut.


"Chaaa." ketika Laskar berbalik ke arah Icha, pipi Icha sudah dibanjiri oleh air mata.


"Aslann, dia baik-baik sajakan, dia gak kenapa-napakan, bilang ke aku kalau dia gak kenapa-napa." tuntut Icha.


Laskar berusaha menenangkan Icha dengan membawa Icha dalam pelukannya, dia mengerti Icha kenapa sampai Icha bersikap begini, dari yang dia ketahui kalau mereka sejak masih kecil selalu bersama, bisa dibilang mereka sudah kayak saudara.


"Ini gara aku, Aslan tidak akan kecelakaan kalau aku ngabarin dia." Icha menyalahkan dirinya.


"Sssttt, ini bukan gara-gara kamu."


Laskar mengelus rambut Icha untuk menenangkannya, Icha masih sesenggukan, gadis pemberani dan tengil itu kini terlihat rapuh, "Aslan akan baik-baik saja, percaya sama gue."


"Sekarang, kita kerumah sakit ya."


Icha mengangguk dalam pelukan Laskar.


****


Hari sudah gelap ketika Laskar memarkir motornya diparkiran rumah sakit, dan begitu motor berhenti sempurna, Icha langsung melompat turun, dan tanpa ba bi bu dia langsung berlari meninggalkan Laskar.


"Chaaaa." teriak Laskar, namun Icha mengabaikan.


Suara berisik akibat suara sepatu yang bersentuhan dengan ubin tentu saja membuat penghuni rumah sakit merasa terganggu, namun Icha tidak peduli, saat ini dia ingin cepat melihat keadaan Aslan, dia mencari kamar dimana Aslan dirawat karna Lea tadi mengiriminya pesan memberitahunya dimana kamar Aslan berada.


Icha langsung menghentikan kakinya begitu tiba disebuah kamar yang merupakan kamar yang ditempati Aslan, tangan Icha bergetar saat meraih kenop pintu, dia takut, takut menerima kenyataan kalau kondisi Aslan parah.


Dengan pelan Icha membuka pintu, ruangan itu tampak sepi, tidak terlihat satupun keluarga Atmaja disana menemani Aslan, hanya tubuh Aslan dengan kepala diperban dengan mata terpejam tengah terbaring dibankar rumah sakit.


"Hiks hiks hiks." Icha melangkah pelan mendekati Aslan, karna emosinya yang tidak terkendali, Icha tiba-tiba menubruk tubuh Aslan yang tengah terbaring, tak urung hal tersebut membuat Aslan yang tadinya terlelap terbangun saking kagetnya, ditambah benturan akibat Icha yang menubrukkan tubuhnya terlalu kencang membuat beberapa bagian tubuhnya terasa sakit.


"Awwhhh." Aslan mengaduh.


"Aslannn." raung Icha melihat Aslan membuka matanya, "Lo gak kenapa-napakan, lo baik-baik sajakan, bilang sama gue kalau luka lo gak parah." brondongnya gak sadar tangannya mengguncang tubuh Aslan, Icha gak sadar kalau kelakuannya tersebut membuat beberapa bagian tubuh Aslan akan terasa sakit.

__ADS_1


****


__ADS_2