
Keesokan paginya ketika Icha dan Aslan tiba didepan kelas, pintu kelas masih tertutup, Icha mengernyit heran.
"Masak sieh kita orang pertama yang datang." keherananya dituangkan dalam bentuk pertanyaan.
Aslan melihat arlojinya, "Kenapa belum ada yang datang ya, padahal sepuluh menit lagi masuk lho."
Icha menarik gagang pintu dan sesuatu terjadi, gelombang suara "Surprise." dari temen-temen kelasnya menyambutnya ketika pintu terbuka sempurna.
Memang kelas tidak dihias dengan pita atau balon karna pasti akan membuat marah guru, Lea sahabat Icha yang membawa kue ulang tahun dengan lilin tertancap menyala berjalan mendekati Icha yang masih bengong ditempat mencerna apa yang terjadi.
"Kejutan." seru Lea dengan riang gembira, "Gimana, lo kaget gak, kejutannya berhasilkan, gue menghubungi anak-anak supaya datang agak pagian untuk memberi kejutan buat lo." Lea melongok melewati bahu Icha menoleh pada Aslan yang berada dibelakang Icha, "Dan buat Aslan juga karna kalian ulang tahunnya samaan."
Sumpah Icha terharu, tapi dia orangnya jarang nangis, jadinya air matanya gak sampai keluar meskipun terharu, yang dia lakukan adalah memeluk leher Lea menyamping karna Lea membawa kue, "Makasih Le, lo bener-bener sahabat sejati gue."
"Iya sama-sama."
Dan detik berikutnya temen-temen kelasnya yang lain bergiliran memberikan selamat kepadanya dan juga Aslan.
"Buseett, kenapa cuma ngasih selamet doank, hadiahnya mana."
"Ntar mikirin hadiahnya, tiup lilinnya dulu." perintah Lea menyodorkan kue kedepan Icha.
Karna Aslan gak kunjung mendekat, Lea dengan gugup menegur Aslan, "Lan, kamu juga tiup lilinnya ya."
Aslan mendekat, dikue itu tertulis, "Selamat ulang tahun Aslan dan Icha." tertulis dengan krim berwarna pink.
"Eh, bikin permohonan dulu donk." tegur Lea.
Icha sebenarnya malas, karna semalam dia sudah membuat permohonan, tapi karna gak mau mengecewakan Lea yang susah payah menyiapkan kejutan ini untuknya dan untuk Aslan, jadinya dia menuruti keinginan Lea, memejamkan matanya dengan doa yang sama seperti semalam, dan Aslan juga melakukan hal yang sama, dan setelah itu sama-sama meniup lilin, terdengar suara tepuk tangan riuh.
Lea meletakkan kue tersebut dimeja terdekat dan meraih tiga bungkus kado yang sudah disiapkan, dua diserahkan pada Icha, "Cha, ini dari gue, dan ini dari papa dan mama."
Icha kembali terharu, orang tua Lea menyayanginya, buktinya tiap tahun mereka pasti memberikan kado untuk Icha, ya meskipun kado yang diberikan tidak sesuai dengan harapan Icha, karna mereka selalu memberikan barang-barang cewek, iyalah, kan Icha cewek, sesuatu hal yang wajar memang, tapi Ichakan gak suka, tahun lalu mereka menghadiahi Icha gaun berwarna pink, dan gak tahu deh tahun ini mereka memberikan hadiah apa, "Makasih Le, dan gue titip ucapan makasih juga buat om dan tante."
"Ntar gue sampaiin." lalu Lea beralih pada Aslan, dengan canggung menyerahkan kado satunya lagi, "Lan, ini buat kamu, diterima ya."
Aslan hanya tersenyum tipis dan berujar singkat, "Makasih." dia berjalan menuju tempat duduknya, dan disana sudah terdapat setumpuk hadiah dari penggemarnya.
Laskar mendekati Icha, "Sorry ya, gue gak tahu kalau hari ini ulang tahun lo, makanya gue gak bawain hadiah buat lo." beritahunya terlihat menyesal.
"Tapi hadiahnya nyusulkan." balas Icha iseng.
"Hahaha." Laskar tertawa ngakak, "Ternyata lo gak mau rugi ya."
"Harus donk."
__ADS_1
"Ada apaan nieh rame-rame." Lola yang baru datang heran melihat kelas pada heboh begitu, meskipun satu rumah dan saudaraan, mereka malas banget inget ulang tahun Icha.
"Ulang tahunnya Icha." Lea menjawab ketus.
Loli menyahut, "Oh, ulang tahun sik upil." ujarnya meremehkan, "Gitu aja pada heboh, padahalkan dia gak ada penting-pentingnya."
"Icha penting buat gue." Aslan menyela.
Laskar juga menyahut, "Icha juga penting buat gue."
Lea juga gak mau ketinggalan, "Buat gue juga, Icha sangat-sangat penting, jadi tutup mulut gak berguna lo itu, lo tuh yang gak ada penting-pentingnya sama sekali, udah jelek, pesek, jahat, hidup lagi." balas Lea pedes.
Yang lainnya sontak tertawa mendengar ocehan Lea.
"Lo denger, banyak yang sayang sama gue." Icha tersenyum puas.
Baik Lola dan Loli gak bisa membalas, mereka hanya menyimpan kedongkolan mereka dalam hati.
****
Bolos yuk
Icha yang saat ini sibuk mencatat mengeluarkan ponselnya yang bergetar dibalik saku rok abu-abunya, dan melihat siapa yang mengirim pesan, itu merupakan pesan dari Laskar, Icha menoleh kebelakang kearah dimana Laskar duduk, cowok itu terlihat sibuk menulis, tidak ada tanda-tandanya kalau dia mengajak bolos.
Icha menyentuh layar ponselnya untuk membalas pesan Laskar.
Yahhh, sayang banget, padahal seharian ini gue bakalan nurutin semua keinginan lo sebagai hadiah ulang tahun.
Seriusan lo
Icha mulai tergoda dengan tawaran menggiurkan tersebut.
Tentu saja serius.
Pulang sekolah aja gimana.
Itu juga oke.
Tapi, ibu tiri gue suka ngehukum gue gitu kalau pulang telat.
Lo gak perlu risau soal ibu tiri lo, itu biar menjadi urusan gue.
Emang lo mau ngelakuin apa.
Rahasia Ilahi donk, pokoknya lo terima beres saja.
__ADS_1
Dan setelah disepakati, mereka mengakhiri berkirim pesan, kembali sibuk mencatat.
****
Dan kebetulan, ibu Yuni memberikan anak didiknya tugas kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan dua orang, dan juga suatu kebetulan yang sangat tidak terduga, Icha satu kelompok dengan Laskar, sehingga hal ini sangat menguntungkan, karna dia gak perlu mencari alasan nantinya untuk minta izin sama Aslan sepulang sekolah ketika harus pergi bersama Laskar. Sedangkan Lea, satu kelompok dengan Aslan.
Gimana nieh Cha." bisiknya khawatir, "Gue satu kelompok dengan Aslan."
Icha menjawab santai, "Ya bagus donk, ini kesempatan lo ngedekatin Aslan."
"Tapi gue masih belum siap."
"Perasaan sejak zaman penjajahan lo bilangnya gak siap melulu, bilangnya cari waktu yang tepat, inget lho Le, Aslan itu ganteng, yang mau sama dia ngantri, sejak putus dengan Athena lo lihat sendirikan dia kembali mendapatkan fansnya kembali, lo lihat sendirikan dia banyak mendapatkan kado, kalau lo gak cepat-cepat bertindak, lo bakalan keduluan, patah hati lagi ntar lo."
mendengar fakta yang disampaikan Icha, membuat Lea mengangguk mantap, "Oke, kali ini gue akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya."
"Nah, itu baru bener."
Dan begitu bel pulang sekolah, Laskar mendekati Icha kebangkunya.
"Jadikan."
"Ngerjain tugas, jadi donk." serunya dengan suara keras dengan tujuan Aslan mendengarnya sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya supaya Laskar mengerti dengan kode yang diberikan,
"Oh iya, lebih cepat dikerjain lebih baikkan." ujar Laskar mengerti.
Aslan terlihat berjalan kearah mereka, melihat itu Lea jadi gugup, "Lo berdua mau ngerjain tugas." tanyaya.
"Iya, lebih cepat lebih baik."
"Le." tegurnya pada Lea yang menunduk.
"Eh ya Lan, apa."
"Lo mau gak kita ngerjainnya sekarang juga, gabung sama mereka, kan seru kalau rame-rame."
Sebelum Lea sempat menjawab, Icha dengan buru-buru menolak, "Lo mau gabung, gak bisa donk, yakan Laskar, masak kita gabung, kitakan beda kelompok."
Laskar memberi dukungan, "Iya, ntar kelompok lo malah nyontek punya kami lagi."
"Kalau ngomong sesuai fakta juga donk, yang ada kita kali yang bakan nyontek punya mereka, secara Aslan itu bintang kelas." batin Icha.
Sebenarnya bagi Icha dan Laskar gak ada masalah dengan mengerjakan tugas sama-sama, tapi berhubung mereka sebenarnya bukan mau mengerjakan tugas, makanya mereka menolak.
Aslan sepertinya tersinggung dengan kalimat Laskar, dia menjawab begini, "Ya udah kalau kalian gak mau ngerjain sama-sama, gue pastiin kelompok gue bakalan dapat nilai lebih tinggi daripada kelompok kalian."
__ADS_1
"Itu sieh udah pasti." gumam Icha.
****