Cinderela Modern

Cinderela Modern
MENGAMBIL KEPUTUSAN


__ADS_3

Semalaman Icha mengurung diri dan menangis dikamarnya, sakit, sakit yang teramat sangat itu yang kini dirasakannya.


"Gue gak pernah nyangka patah hati rasanya bisa sesakit ini." sengaunya membersit hidung, sampah tisu bertebaran mengotori lantai kamarnya, karna menangis berjam-jam membuat Icha tidak sadar menghabiskan stok tisu dirumahnya.


Tadi malam, Loli yang marah-marah sambil menggedor pintu kamarnya untuk meminta Icha menyiapkan makan malam ciut nyalinya mendapat bentakan dari balik pintu, sehingga dia memutuskan untuk kembali kebawah sebelum Icha keluar dan menelannya hidup-hidup.


Hingga pagi ini, Icha masih merasakan sesak didadanya, fikirnya dengan tidur bisa menghilangkan rasa sakit dihatinya, namun dia salah, toh nyatanya sakit itu masih setia bersemayam dihatinya seolah enggan untuk pergi.


Mungkin rasa sakit yang dideritanya tidak kelihatan dan orang tidak akan tahu kalau dirinya tengah  patah hati, tapi tidak dengan matanya yang membengkak, bagaimana bisa hal itu disembunyikan, bisa kalau pakai kaca hitam, tapi gak mungkin banget pakai kaca mata hitam ke sekolah, sehingga Icha memutuskan untuk bolos saja, tapi dia malas dirumah, untuk itu Icha memilih mengungsi ke tetangga sebelah yaitu rumah Aslan, disana Icha akan diterima dengan baik.


Icha mengetuk pintu rumah Aslan, saat ini hanya ada Gibran disana.


"Kak Gibran buka pintunya, Icha mau masuk." 


Gak ada sahutan, "Kak, bukain pintu."


"Kak Gibran pasti belum bangun." simpul Icha.


Namun gak lama, dari dalam terdengar suara ceklek yang menandakan suara pintu yang dibuka dari dalam, wajah ngantuk Gibran terlihat masam melihat Icha pagi-pagi mengganggu tidur nyenyaknya.


"Ngapain sieh lo pagi-pagi ganggu orang, gak punya kerjaan banget."


Gibran menghentikan omelannya begitu dia melihat kondisi Icha yang bisa dikatakan mengerikan, meskipun selama satu mingguan ini dia tidak pernah bertegur sapa dengan Icha karna kesel sama Icha gara-gara Aslan dengan Lea jadian, tapi tetap saja melihat wajah gadis yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri itu terlihat kacau dia menjadi khawatir, difikirnya Icha di apa-apain sama keluarga tirinya.


"Ayok masuk." Gibran menarik pergelangan tangan Icha membawanya masuk kedalam.


"Duduk dulu." perintah Gibran membawa Icha ke ruang tengah.


Icha nurut.


Gibran kemudian melenggang menuju dapur, gak lama kemudian dia kembali dengan membawa gelas berisi air putih yang disodorkan pada Icha.


"Nieh minum." 


Icha mengambil gelas yang disodorkan Gibran, meminum isinya sampai tandas.


"Lo udah sarapan."


Icha menggeleng.


"Lo mau gue beliin bubur ayam yang ada didepan komplek." Gibran menawarkan.

__ADS_1


"Gak laper, gak nafsu makan."


"Tumben, biasanya lo tidak pernah melewatkan yang namanya gratisan."


Icha hanya tersenyum hambar merespon ledekan Gibran.


Gibran kemudian duduk, memperhatikan wajah Icha sebelum memulai sesi introgasi, "Lo kenapa sebenarnya." tanyaya dengan pelan, wajah yang selama satu mingguan ini selalu masam kini berubah prihatin, "Ini ulah mama tiri lo ya, dia nyiksa lo ya." begitulah nasib jadi ibu tiri, kalau ada yang kurang beres dengan anak tiri, dia langsung jadi tersangka utama.


Icha menggeleng.


"Lo diputusin sama pacar lo." tebak Gibran lagi karna dugaan pertamanya salah.


Icha kembali menggeleng.


"Pacar lo selingkuh."


Icha mengangguk, setelah sadar bahwa dirinyalah disini yang menjadi orang ketiga, Icha menggeleng.


Gibran mengerutkan kening tidak mengerti, "Ngomong yang jelas Cha, jangan hanya menggeleng atau mengangguk saja.."


"Kak Gibran." suara Icha terdengar serak karna kebanyakan menangis, "Gue cinta sama Aslan."


"Aslan udah punya pacar, jadi mending lo bunuh deh tuh perasaan, dan lo gak lupakan siapa pacar Aslan." Gibran mengingatkan.


"Tapi…"


"Gua aja udah relain Lea, karna gue lihat Lea bahagia dengan Aslan, memang berat sieh awalnya, tapi mau bagaimana lagi, masak iya gue nikung punya adek gue sendiri, lagian juga, melihat Lea bahagia itu sudah lebih dari cukup buat gue." ternyata Gibran sudah sok dewasa sekarang, atau benaran dewasa, entahlah.


Icha hanya diam, jelas dia tidak punya kata-kata untuk membalas ucapan Gibran yang seratus persen benar.


"Lagian lo itu maruk ya, lo udah punya pacarkan, kenapa lo masih suka sama Aslan juga."


"Itu dia masalahnya kak, gue baru sadar kalau gue gak pernah cinta sama Laskar, gue baru menyadarinya ketika Aslan dan Lea pacaran, disaat melihat Aslan dengan Lea, hati gue merasa gak rela."


"Gue kasihan sama Lea dan tuh cowok." Gibran bersimpati pada Lea dan Laskar, "Sahabatnya sendiri ternyata tega menusuknya dari belakang, dan Laskar, dia mencintai cewek yang sama sekali tidak pernah memberikan hatinya padanya, padahal dia bener-bener tulus mencintai lo."


Rasa bersalah Icha terhadap Lea dan Laskar kembali menyeruak mendengar ucapan Gibran, dia merasa tertampar dengan tiap kata yang dikeluarkan dari bibir Gibran, Icha hanya menunduk menyadari kesalahannya.


"Cha, ada baiknya mulai saat ini lo mulai belajar mencintai Laskar dan relakan Lea bersama dengan Aslan, gue yakin lo masih punya hati untuk tidak menyakiti sahabat lo lebih jauh." nasehat Gibran, "Gue yakin lo bisa relain Aslan seperti gue yang sudah merelakan Lea dengan adik gue itu."


Icha mendongak begitu mendengar kalimat tersebut keluar dari bibir Gibran, Icha mencoba menyelami mata Gibran, Icha mencoba mencari kebenaran dari mata Gibran kalau cowok itu kini telah merelakan Lea seperti yang dia katakan, karna bibir bisa bohong, tapi mata tidak pernah bisa berbohong, dan Icha menemukan apa yang dia cari, mata itu tidak bohong, dari pancaran mata Gibran Icha mengetahui kalau Gibran kini telah merelakan Lea dengan berbesar hati.

__ADS_1


,"Merelakan Aslan dengan Lea, apa gue bisa." balas Icha dalam hati, "Tapi, kak Gibran saja bisa, kenapa gue gak." Icha perang batin.


"Lupain Aslan." Gibran meletakkan kedua tangannya dibahu Icha.


"Kakak, kok sarannya bikin nyesek gitu sieh, guekan cinta sama Aslan."


"Ichaa, lo jangan egois yang hanya mentingin perasaan lo sendiri, lo gak mikir bagaimana perasaan Lea, dia sahabat lo, dia pasti akan sangat kecewa kalau tahu sahabatnya, orang yang sangat dia percaya mencintai pacarnya."


Icha kembali terdiam, meresapi lontaran kalimat Gibran yang menohok, "Kak Gibran benar, gue egois, gue hanya mementingkan perasaan gue sendiri aja."


"Sebelum semuanya terlambat sebaiknya lo akhiri semuanya." 


***


Icha saat ini tengah berbaring dikamar Aslan, memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong, tapi dia terus memikirkan ucapan Gibran, dia bimbang, tentu saja, setengah hatinya, dia tidak ingin menyakiti Lea dan Laskar dengan tetap mempertahankan hubungan gelapnya dengan Aslan, tapi setengahnya lagi, Icha tidak rela melepaskan Aslan jika dia mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Aslan, dia jadi dilema sendiri.


"Akhhh." Icha berteriak frustasi, "Apa yang harus gue lakukan."


Disaat tengah galau-galaunya, ponselnya berdering pertanda adanya pesan masuk.


Lea 📩


Chaa, lo kenapa gak masuk, lo sakit, gue kesepian nieh, duduk sendiri.


Laskar 📩


Kamu sakit ya, udah makan dan minum obat belum.


Lea 📩


Pulang sekolah gue dan Laskar ke rumah lo ya, lo mau dibawain apa.


Laskar 📩


Aku dan Lea pulang sekolah kerumah kamu ya, kamu mau apa ntar aku bawain.


Air mata Icha langsung mengalir deras begitu membaca pesan dari dua orang yang dia khianati, dua orang yang menyayanginya dengan begitu tulus, orang yang selalu ada untuknya dalam keadaan suka lebih-lebih lagi duka.


"Baiklah, gue harus melakukannya." mantap Icha dalam hati setelah mengambil keputusan yang menurutnya terbaik.


****

__ADS_1


__ADS_2