Cinderela Modern

Cinderela Modern
TIDAK CEMBURU


__ADS_3

"Cha, kamu kenapa sebenarnya." tanya Laskar pada akhirnya karna sejak tadi wajah Icha bete, ditambah lagi bukannya memakan makanan yang dipesannya hanya malah mengaduk-ngaduknya saja.


"Ehh, aku gak kenapa-napa kok."


Jelas saja donk Laskar gak percaya, bilangnya gak kenapa-napa tapi wajahnya tidak sinkron dengan kata-katanya.


Laskar meraih tangan Icha, "Kamu ada masalah, cerita ke aku, kamu tahukan, aku akan selalu ada untuk kamu, dan akan selalu membantu kamu." benar-benar pacar yang baik dan perhatian.


Icha mencoba untuk tersenyum palsu untuk menyakinkan Laskar kalau dia baik-baik saja, "Aku tahu kok, kamu akan selalu ada untukku, tapi sumpah deh aku benaran gak kenapa-napa, mungkin ini karna pengaruh PMS aja kali, makanya bawaanya dari tadi kesel mulu." lisannya berbohong, padahalkan dia sedang tidak dalam keadaan mens sekarang, "Maafkan aku Laskar, disaat aku bersama kamu, aku malah memikirkan Aslan."


Laskar percaya, "Akhh pantesan saja dari tadi kamu uring-uringan, PMS ternyata."


"Ya udah, mending kamu habisin makanannya, setelah itu kita jalan lagi agar kamu gak badmood lagi."


"Iya."


Suara deringan ponsel mengintrupsi acara makan kedua remaja tersebut, entah ponsel siapa yang berbunyi, yang jelas baik Icha dan Laskar sama-sama merogoh tasnya, dan ternyata itu merupakan panggilan masuk diponselnya Laskar.


"Wah, kali ini ponsel kamu yang berbunyi." komen Icha mengingat momen dirinya ketika mendapatkan hukuman membersihkan toilet bersama Laskar ketika awal-awal perkenalan mereka.


Melihat Laskar yang tidak kunjung menjawab, Icha bertanya, "Kenapa gak diangkat."


"Gak penting." jawab Laskar menaruh ponselnya begitu saja dimeja setelah benda itu berhenti berbunyi.


"Emang siapa yang nelpon."


"Diana."


"Ohh."


Sedetik kemudian, kembali ponsel Laskar berbunyi, dan panggilan tersebut masih dari orang yang sama, malas untuk menjawab, Laskar hanya melihat sekilas dan melanjutkan makannya.


"Las, angkat, siapa tahu itu penting."


"Gak ada yang penting Cha, aku dan Diana hanya masa lalu."


"Siapa tahu aja ada hal penting gitu yang ingin dia kasih tahu ke kamu."


"Angkat Las."


"Apa kamu gak apa-apa kalau aku menjawab panggilan Diana." Laskar jelas khawatir Icha bakalan ngambek lagi mengingat dua hari yang lalu Icha mendiamkannya gara-gara Diana.


Icha menggeleng.


Karna mendapat jaminan Icha tidak akan marah, Laskar kemudian menjawab panggilan.


"Kenapa Di." tanya Laskar.

__ADS_1


"Laskar, hiks hiks, mama."


Suara Diana gak jelas karna disertai dengan suara isakan, meskipun sekarang cuma berstatus sebagai mantan, tapi Laskar masih memiliki hati nurani, mendengar suara isakan sang mantan tak urungnya membuatnya khawatir, "Di, lo kenapa, ngomong yang jelas."


"Mama Las, mama."


Mendengar Diana menyebut mamanya, fikiran Laskar menjadi tidak enak, karna setahunya mamanya Diana masih terbaring sakit sampai saat ini, makanya dia langsung memutuskan, "Gue ke rumah sakit sekarang." ujarnya mematikan panggilan.


"Cha, aku anterin pulang ya."


Melihat Laskar yang terlihat panik Icha juga ketularan panik, "Kenapa Las, apa yang terjadi dengan Diana." dia malah bertanya tanpa mengindahkan ucapan Laskar yang akan mengantarnya pulang.


"Aku gak tahu pasti Cha, tapi sepertinya terjadi sesuatu hal yang buruk sama mamanya Diana, aku harus ke rumah sakit, kasihan Diana sendirian disana, kamu gak apa-apakan kalau aku kesana."


"Aku ikut."


"Kamu ikut, tapi..." heran Laskar mendengar keinginan Icha.


"Gak apa-apa Las, aku ingin ikut."


Laskar mengangguk.


****


Biar bagaimanapun, dimasa lalu ketika dirinya masih menjalin hubungan dengan Diana, mama Diana adalah orang yang baik dan selalu ramah padanya, bisa dibilang mama Diana sudah menganggapnya seperti anak sendiri karna wanita itu tidak memiliki anak laki-laki, makanya Laskar panik dan langsung berlari begitu tiba dirumah sakit meninggalkan Icha dibelakang yang berusaha mengejar langkahnya.


"Laskar, hu hu hu."


"Apa yang terjadi dengan tante Di."


"Kondisi mama memburuk Las, Dokter tengah berjuang menyelamatkan mama." lapor Diana ditengah tangisannya.


"Tenanglah, tante pasti akan baik-baik saja." Laskar berusaha menenangkan.


Karna Laskar tidak melihat siapapun disana kecuali Diana, Laskar bertanya, "Papa kamu mana."


"Papa dalam perjalanan menuju kemari Las, begitu tahu kondisi mama drop papa langsung meninggalkan kerjaannya diluar kota."


Laskar maklum, papa Diana orang yang sibuk sering melakukan kunjungan kerja diluar kota bahkan keluar negeri, sama dengan orang tuanya yang juga sering bolak-balik keluar negeri untuk mengurus bisnis.


Icha menghentikan langkahnya begitu melihat pemandangan didepannya, dua orang yang kini berstatus sebagai mantan kekasih tersebut tengah berpelukan, itu bukan pelukan sayang, hanya pelukan menenangkan, meskipun begitu seharusnya sebagai kekasih Icha harusnya cemburu atau merasa sakit hati melihat pemandangan yang ada didepannya, karna gak ada seorang wanita manapun di dunia ini yang rela melihat pacarnya memeluk mantannya dalam kondisi apapun, tapi anehnya dia sama sekali tidak sakit hati sedikitpun, "Kok gue gak merasa sakit hati sieh, harusnya sieh gue cemburu dan marah-marah melihat Laskar memeluk mantannya dengan alasan apapun." Icha sendiri bingung dengan perasaanya sendiri, Icha memang tidak pernah menyadari, kalau selama ini dia tidak pernah mencintai Laskar, dia menerima cinta Laskar hanya karna terharu melihat perjuangan Laskar untuk mendapatkan dirinya.


Icha berjalan pelan menghampiri dua orang yang tidak menyadari kehadirannya.


"Lo yang sabar ya Di." ujar Icha membuat Laskar sadar kalau dia bersama dengan Icha datang ke rumah sakit, Laskar buru-buru melepaskan pelukannya, dia merasa tidak enak dengan Icha.


"Icha." desis Diana gak suka melihat kehadiran Icha.

__ADS_1


Icha tersenyum tipis untuk memberitahukan kalau dirinya disini bukan untuk cari ribut.


Gak lama Dokter keluar, Diana langsung menyerbu Dokter yang menangani mamanya dengan pertanyaan, "Dok, gimana keadaan mama saya, mama saya baik-baik sajakan, tidak terjadi hal yang buruk dengan mama sayakan Dok."


Dokter itu tersenyum, dan senyum itu menandakan berita baik, "Syukurlah kondisi ibu nona sekarang stabil setelah kami melakukan penanganan dengan cepat."


Tiga remaja itu terlihat bernafas lega dengan berita baik yang disampaikan oleh sang Dokter.


"Terimakasih Dokter, terimakasih." Diana berulangkali mengucapkan terimakasih, "Apa boleh saya melihat keadaan mama saya Dok."


Dokter mengangguk dan berpesan, "Tapi saya harap nona jangan berisik karna mama anda kini tengah istirahat."


"Baik Dokter, saya hanya ingin melihat keadaan mama."


"Las, aku masuk dulu."


Laskar mengangguk.


***


"Sorry ya Cha." ujar Laskar ketika mereka duduk berdua diluar.


"Kenapa kamu minta maaf."


"Karna aku memeluk Diana, aku hanya reflek karna melihat dia sedang kacau, kasihan dia."


"Gak apa-apa, aku ngerti kok, saat ini memang Diana butuh orang yang menguatkannya dan tempat untuk bersandar." balas Icha bijaksana.


"Ah, syukurlah, aku fikir kamu akan ngambek lagi dan mendiamkan aku."


Icha terkekeh, "Kamu fikir aku anak kecil ngambekan."


"Iya, aku baru sadar ternyata pacarku sudah dewasa."


"Ekhemm." suara deheman Diana mengintrupsi obrolan Laskar dan Icha.


"Las, mama ingin ketemu sama kamu."


"Bukannya tante lagi istirahat."


"Mama udah bangun dan ingin ketemu kamu."


"Oh, baiklah." tapi sebelum itu dia bertanya pada Icha, "Cha, gak apa-apakan kalau aku tinggal sebentar."


"Iya." jawab Icha dengan penuh keihlasan dari lubuk hati yang paling dalam.


Laskar mengelus rambut Icha dengan mesra, sebelum masuk kedalam ruang rawat mamanya Diana, melihat perlakuan mesra Laskar terhadap Icha membuat Diana mendengus kesal.

__ADS_1


***


__ADS_2