Cinderela Modern

Cinderela Modern
Bertemu Laskar


__ADS_3

"Eh Le, udah sampai nieh, lepasin napa pelukan lo, anjirr ya gue sesak nafas banget." ujar Icha setelah tiba diparkiran mall.


Lea kan dibonceng Icha sambil merem, jadinya gak tahu kalau udah sampai apa belum, begitu dia mendengar pemberitahuan Icha, langsung deh tuh dia buka mata, "Udah sampai ya, sampai di mallkan Cha, bukan sampai diakhirat."


"Buka mata lo yang bener makanya, diakhirat mana ada mall." rutuk Icha.


"Iya ya,, hehe." Lea turun, dia sangat bersuyukur mereka selamat sampai tujuan dan harapannya balik kerumah Icha juga akan membawanya dengan selamat pula.


Pertama-tama Lea menarik Icha masuk ke toko make up langganannya.


"Cha, yang ini bagus gak warnanya." Lea memonyongkan bibirnya yang dipulas lipstik supaya Icha memberi komentar pada lipstik yang baru dicobanya.


Lea menanyakan pada orang yang salah, karna jawaban Icha adalah, "Kok warnanya oren-oren gitu kayak jeruk." maklumlah orang gak ngerti make up.


"Kok kayak jeruk sieh Cha, ini bagus warnanya, bikin bibir seksi." sambil memonyong-monyongkan bibirnya.


"Kalau lo tahu itu bagus, kenapa lo tanya pendapat gue segala."


"Kan cuma basa-basi, daripada lo jadi patung begitu ya mending lo kasih komentar."


"Gak punya kerjaan banget sieh lo."


"Gue ambil dua Cha, satunya buat gue dan satunya buat lo."


"Ngapain beliin gue lipstik, alergi gue hal-hal begituan."


"Lo itu cewek ya, udah saatnya merhatiin penampilan, pokoknya sebagai langkah pertama lo harus gue beliin lipstik untuk memperbaiki penampilan elo."


"Terserah lo deh, toh juga gak bakalan gue pakai."


"Monyongin bibir lo."


"Apa sieh."


"Lo juga cobain Cha, agar bibir lo sama gue sama-sama seksi."


"Ihhh, ogah." tandas Icha.


"Ichhha."


"Kalau lo maksa gue, gue tinggal nieh."


"Ya udah deh kalau lo gak mau."


Berlanjut kini mereka sudah berada di toko aksesoris, namanya juga cewek, sukanya barang-barang imut, termasuk juga Lea.


Memasuki toko aksesoris setiap melihat benda yang menurutnya imut dia terus bercloteh, "Ya ampun, imut banget."


Lea jatuh cinta sama bando couple berbentuk telinga kelinci, dia meraihnya dan Lea memasangkan bando imut yang berbentuk telinga kelinci dikepala Icha.


"Ihh, ngapain lo pakaiin gue bando sok imut begini." protes Icha.


Namu Lea menahan tangan Icha yang berniat melepas bando tersebut, "Jangan dilepas Icha, imut tahu."


Lea juga menggunakan bando yang sama dengan yang digunakan oleh Icha, "Biar kita kembaran."


Ini salah satu penyebab Icha malas nemenin Lea belanja kayak gini, nieh anak pemaksa, maksain beliin Icha barang-barang imut gitu, mubazir uang saja, kan cuma dijadiin pajangan sama Icha dikamarnya.


"Kita foto foto dulu."


"Apaan sieh Le, norak."


"Ih Icha, ayok ah." Lea memaksa.

__ADS_1


Cekrek, Lea terlihat imut sesuai dengan bando yang dia kenakan, sedangkan Icha, wajahnya datar, bener-bener tidak sesuai dengan apa yang dikenakan.


"Sekali lagi Cha, sekali lagi." Lea mendelik ke arah Icha, "Cha bikin ekspresi imut donk kayak gue, masak ekspresinya kayak orang banyak hutang gitu."


Dengan terpaksa icha menuruti keinginan sahabatnya itu, kalau tidak dituruti dia bakalan ngerengek terus-terusan.


"Udah puas lo." imbuh Icha begitu Lea mengambil beberapa gambar.


"Hehehe iya."


Sudah lebih tiga jam mereka berkeliling mall, tapi Lea masih terlihat antusias tidak terlihat capek, sedangkan Icha sejak dari tadi ngeluh dan ngajakin Lea makan.


"Astagfirullah." Lea berhenti mendadak dalam perjalanan menuju foodcourt


"Apa lagi yang lo lupain." Icha menyalahartikan kalimat yang dilafalkan Lea.


"Lihat disamping lo Cha."


"Ada apaan sieh." sambil mengalihkan matanya ke arah yang diintruksikan Lea.


Disana, ditoko tas-tas bermerk, laki-laki yang dikenalnya tengah menggandeng seorang perempuan berumur sekitar 40 tahunan ke atas tengah memilih-milih tas.


"Laskar." cetus Icha menajamkan penglihatannya.


"Bener Cha itu Laskar." melihat hal tersebut mereka berdua pada langsung mengambil kesimpulan sendiri.


"Gak gue sangka." Icha menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sama Cha, gue gak nyangka ternyata sik Laskar itu gigolo, iuhhh, jijik gue, ganteng-ganteng kok gigolo."


"Ngakunya orang kaya, kekayaan tidak habis 20 turunan, taunya simpanan tante tante."


"Anjirr ya Cha, gak malu lagi sik Laskar mesra-mesra gitu didepan umum, bener-bener gak punya harga diri."


Disaat mereka tengah fokus memperhatikan dan menggibah tentang dua mahluk berbeda generasi tersebut, Laskar tanpa sengaja melihat keluar, lewat dinding kaca bening matanya melihat dua orang yang dikenalnya.


"Dia lihat sini lagi, ayok jalan Le, pura-pura gak lihat." intruksi Icha.


Lea mengangguk dan berjalan mengikuti Icha, namun sayangnya sebelum jauh melangkah, langkah mereka terhenti karna panggilan Laskar.


"Icha, Lea."


Mau gak mau mereka berbalik, disana, beberapa centi dari hadapan mereka Laskar dengan setia menggandeng tante-tante kesepian.


"Siapa sayang." tante-tante girang itu bertanya, suaranya mendayu-dayu.


"Temen sekolah." Laskar menjawab seadanya.


"Iuuuhh, jijik gue mendengarnya." Lea berbisik.


Laskar mendekat masih dengan pedenya menggandeng tante-tante girangnya, "Anjirr emang sik Laskar, kok dia gak malu gitu."


"Hai Icha, hai Lea." sapanya ramah.


"Hai." balas Icha dengan malas.


Sedangkan Lea berusaha bersikap ramah, "Hai Laskar."


"Seneng bertemu dengan kalian."


"Hmmm." respon Icha.


"Seneng juga bertemu dengan lo." balas Lea.

__ADS_1


"Kalian lagi apa."


"Lari marathon, ya belanjalah, inikan mall." Icha menjawab jutek.


"Iya ya, hehe, begok banget dah pertanyaan gue, Gue juga nieh, nemenin mama belanja."


"Mama." ujar Icha dan Lea barengan, "Tante ini mama lo." Icha memastikan.


"Iya." jawab Laskar mematahkan prasangka buruk Icha dan Lea tentang dirinya "Ma, kenalin, Icha dan Lea teman sekelas Laskar, Cha, Le, wanita cantik ini adalah mamaku." Laskar memperkenalkan secara resmi.


Sumpah ya, Icha dan Lea malu sendiri karna berfikiran yang gak-gak tentang Laskar.


Mama Laskar menglurkan tangannya dibarengi dengan senyum, "Halo, saya Bella mamanya Laskar."


"Halo juga tante." balas Lea tidak enak.


"Halo tan." sapa Icha.


"Laskar anak yang baik ya tan, mau nemenin tante belanja, jarang lho anak yang seperti Laskar." puji Lea untuk mengurangi rasa bersalahnya.


Mama Bella menjawab, "Tadinya sieh anak ini tidak mau, tapi tante paksa."


"Habisnya mama kalau tidak muter-muter sampai lima kali belum mau pulang, padahal yang dibeli cuma satu doank, kan Laskar capek ma." keluh Laskar.


"Wanita memang begitu Kar." Icha menyokong "Nieh cewek satu juga parah banget, daritadi ngajak gue muter-muter sampai betis gue segede talas."


"Wanita dimana-mana emang begitu Cha, hobi belanja."


"Gue gak tuh."


"Ya itu karna elo wanita jadi-jadian." ledek Lea.


Laskar dan mama Bella terkekeh mendengar kalimat Lea.


Icha memberengut, "Sialaan lo, gue gak bakalan lagi nemenin lo lain kali."


"Jangan donk, tadi gue cuma bercanda doank." melas Lea.


Pada akhirnya, Icha dan Lea atas paksaan mama Bella ditraktir direstoran seafood dimall tersebut, mama Laskar orangnya baik dan ramah, sehingga Laskar merasa menjadi kambing congek karna mamanya dan dua temannya sibuk membahas tentang masalah wanita.


****


Sepulangnya dari rumah Lea, Icha disambut oleh omelan ibu tirinya.


"Bagus ya, tuan putri kerjaannya keluyuran."


"Icha habis ngerjain tugas kelompok ma." bohong Icha.


"Kamu itu dilahirkan sebagai pembantu, jadi jangan sok-sok'an ngerjain tugas kelompok segala."


Icha membatin, "Sial, ingin gue jahit bibir jeleknya itu, sabar Icha, sabar, kalau kamu ngelawan kamu pasti bakalan diusir." Icha berusaha meredam amarahnya yang sudah sampai diubun-ubun.


Icha melisankan, "Tiap anak itu berhak memiliki mimpi ma."


"Iya Itu untuk anak seperti Lola dan Loli, tidak buat anak seperti kamu, kamu gak perlu sekolah tinggi-tinggi karna pada akhirnya kamu akan berakhir jadi pembantu."


Icha mengepalkan tangannya untuk meredam amarahnya mendengar hinaan mama tirinya sambil dalam hati menguatkan dirinya, "Sabar Icha, sabar, jangan terpancing."


"Apa lagi yang kamu tunggu sekarang, sana kedapur siapin makan malam sekarang."


"Baik ma."


"Dasar anak gak tahu diuntung, masih untung aku mau menampungnya dirumahku." gumam mama tiri Icha.

__ADS_1


****


__ADS_2