
Icha melihat pantulan dirinya dicermin, memperhatikan wajahnya untuk beberapa saat sebelum menghembuskan nafas berat, untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia tidak mensyukuri bentuk fisiknya, "Gue gak cantik, bukan cewek kalem dan baik pula, kenapa Laskar bisa cinta sama gue." Icha bicara pada pantulannya.
Sejak dulu memang Icha tipe cewek yang cuek dengan penampilan, tapi setelah merasakan yang namanya jatuh cinta, mau tidak mau dia harus peduli, bukannya Laskar menuntutnya untuk cantik atau feminim atau sejenisnya, cowok itu tidak pernah menuntut, dia mencintai Icha apa adanya, tapi yang jadi masalah adalah, cewek disekolahnya terus menggibah tentang hubungannya dengan Laskar, seolah mereka adalah dua orang yang tidak pantas sebagai sepasang kekasih, tidak hanya cukup sampai disana, yang bikin Icha tambah nelangsa adalah setiap kali jalan dengan Laskar banyak yang memandang Icha dengan pandangan ganjil, dan berbisik, kalau itu bisa dibilang berbisik karna bisikan orang-orang yang melihat mereka bisa terdengar sampai telinganya.
Seperti malam kemarin ketika mereka keluar, ketika Laskar nemenin Icha ketoilet, dua orang cewek yang berjalan berlawanan arah dengan mereka memandang mereka dan berbisik.
"Apa mereka pacaran."
"Gak mungkin, pasti mereka cuma teman, gak mungkinkan cowok ganteng itu suka sama gadis seperti itu."
"Kalau teman, apa iya harus pegangan tangan gitu."
Kalau dulu Icha tidak pernah peduli dengan omongan orang dengan bentuk fisiknya, tapi cinta ternyata tidak membuat Icha secuek itu sekarang, itu kenapa dia memandang wajahnya dengan intens, dan omongannya mulai ngelantur, "Tuhan..." keluhnya, "Gue gak pinter, kenapa Tuhan juga ngasih gue kecantikan dibawah rata-rata, akhh, ini benar-benar gak adil." Icha masih saja ngoceh, "Ini lagi jerawat, kenapa tumbuhnya subur banget sieh kayak jamur." omelnya.
Sampai chat masuk diponselnya mengalihkan perhatiannya dan menghentikan ocehannya.
Aku lagi otw nieh, kamu siap-siap ya, gak sabar ingin ketemu kamu. Chat dari Laskar yang disertai dengan emotikon love diakhir kalimat.
Seharusnya semalam mereka kencan berdua, tapi karna berhubung Aslan dan Lea jadi penggaggu, jadinya Laskar ngajakin Icha hari minggu ini untuk keluar berdua.
Icha tersenyum miris setelah membaca pesan yang dikirim Laskar, "Apa benar Laskar cinta beneran sama gue, diakan cowok sempurna, dia bisa mendapatkan Ratu cewek tercantik disekolah, apa jangan-jangan dia cuma manfaatin gue." namun fikiran gak berdasar itu langsung ditepisnya, "Gak mungkin, dia mau manfaatin gue dalam hal apa coba." Icha memukul kepalanya sendiri, berfikir dengan cara itu bisa menjernihkan fikirannya.
"Icha positif tinking, lo seharusnya bersyukur karna Laskar memilih lo, lo gak perlu minder dengan fisik lo, mereka yang mengata-ngatai lo iri sama keberuntungan lo." Icha menyemangati dirinya sendiri.
Icha membuka laci meja riasnya untuk mencari karet gelang yang biasanya digunakan untuk menguncir rambutnya, peralatan make up yang tak pernah tersentuh olehnya menjadi benda pertama yang yang menyambut indra penglihatannya begitu laci terbuka sempurna, Icha sudah lupa kalau dia memiliki peralatan make up lengkap yang selalu dibelikan Lea untuknya, Icha tersenyum, dia bergumam, "Setiap wanita berhak untuk cantikkan."
****
Laskar menunggu Icha beberapa meter dari rumahnya, malas saja dia datang ke rumah Icha langsung mengingat bagaimana kelakuan keluarga tiri Icha. Laskar sudah menunggu dua puluh menitan, tapi sang kekasih belum juga menampakkan batang hidungnya, dia sudah mengirim pesan berkali-kali, dan balasan Icha pasti sama yaitu, tunggu sebentar. Laskar maklum, sebentar dalam kamus cewek paling sebentar setengah jam, tapi Laskar tentu saja heran karna Ichakan bukan seperti cewek kebanyakan yang suka mengaplikasikan berbagai macam produk kecantikan diwajahnya, jadi gak ada alasan untuk Icha untuk selama ini.
__ADS_1
Ketika Laskar punya niatan untuk menyusul Icha kerumahnya, takutnya Icha diapa-apain oleh keluarga tirinya, bertepatan dengan niatnya tersebut sebuah tepukan mendarat dipundaknya dari belakang.
Laskar berbalik, "Cha kenapa la...." kalimatnya menggantung karna tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, bibirnya sampai terbuka gitu, "Cha, ini kamu." ujarnya untuk memastikan kalau perempuan yang didepannya adalah Icha.
Icha mengangguk, dia menunduk malu, dalam hati dia berkata dengan bangga, "Apa gue secantik itu sampai Laskar pangling dengan penampilan gue." Icha menyalah artikan ekspresi wajah Laskar.
"Apa yang terjadi dengan cewek gue, kenapa tiba-tiba dia berdandan kayak ondel-ondel begini, jangan bilang dia ketularan mama tirinya." heran Laskar tidak mengalihkan perhatiannya sedikitpun.
"Las." Icha menepuk bahu Laskar karna Laskar terus memandangnya, diakan jadi malu, "Lo baik-baik sajakan."
"Iya Cha, aku baik-baik saja."
"Teruss, kenapa kamu jadi bengong begitu."
"Gak kenapa-napa kok, cuma kaget aja tiba-tiba kamu dandan begini, gak seperti biasanya."
"Jelek ya."
Mendengar kejujuran Laskar Icha langsung manyun.
"Cha, aku nerima kamu apa adanya."
"Aku tahu." respon Icha, tapi masih manyun.
"Jadi, kamu gak perlu merubah apapun yang ada pada dirimu, aku mencintai Alissa Ramadhani yang cuek yang tidak pernah memperdulikan kata orang."
"Maksud kamu, aku jelek."
"Bukan begitu sayang." Laskar mengelus pipi Icha, dia tidak mau Icha salah paham maksud dari kata-katanya barusan, "Kamu cantik, dan akan selalu cantik dimataku tanpa memakai bedak ketebalan, ayeshadow dan lipstik ketebalan begitu."
__ADS_1
Icha langsung gelagapan, dia langsung mengarahkan wajahnya kekaca sopion motor Laskar, dan benar yang dikatakan oleh Laskar, bedaknya ketebalan, Icha langsung mengusap tanganya kewajah untuk menghapusnya, "Perasaan tadi gak setebal ini deh."
Laskar mengambil tisu dari kantong jaketnya, "Sini." Laskar meraih wajah Icha supaya berhadapan dengannya, dia kemudian membantu Icha menghapus make up diwajahnya.
"Padahal gue niatnya mau nyenengin lo." gumam Icha sendu.
Laskar tersenyum, "Dengan kamu mau jadi pacar aku itu sudah bisa bikin senang kok, kamu gak perlu melakukan hal hal aneh."
"Tapi gue malu."
"Malu pacaran sama aku."
"Bukan." bantah Icha, "Maksud gue, banyak orang yang bilang gue gak pantas pacaran sama lo, bahkan cewek-cewek disekolah dengan terang-terangan bilang kalau gue pakai pelet."
Laskar terkekeh mendengar unek-unek sang kekasih, dia tahu sekarang, ternyata gara-gara hal itu sehingga Icha sampai dandan segala dengan niat untuk memantaskan diri untuknya.
"Sejak kapan sieh kamu dengerin kata orang."
"Sejak aku jatuh cinta sama kamu." jawab Icha jujur.
Laskar tersenyum lebar mendengar mendengar pengakuan Icha, "Icha sayangku." Laskar meletakkan tangannya dipundak Icha, mata tajamnya memandang Icha, mata mereka beradu, "Mulai sekarang jangan dengarkan kata orang oke, cukup dengarkanku dan kata hati kamu."
Icha tersihir oleh pandangan mata Laskar, sorot mata yang memancarkan rasa cinta untuknya, Laskar mendekatkan wajahnya, hal tersebut membuat Icha menjadi gugup, "Duhh, gimana nieh, Laskar mau nyium gue, apa yang harus gue lakuin." panik Icha dalam hati, maklumlah, diakan gak berpengalaman dalam hal begini, "Apa gue miringin wajah gue ya, ya begitu yang sering gue lihat difilm-film romantis ketika orang akan berciuman." Icha memejamkan matanya, namun sebelum tabrakan benar-benar terjadi, Icha kembali membuka mata dan mengarahkan jari telunjuknya dibibir Laskar yang tinggal satu centi dari wajahnya, "Jangan, ini tempat umum."
"Benar juga." lirih Laskar menggaruk tengkuknya.
Laskar melihat kiri kanan, dan dengan cepat mencium pipi Icha, "Untuk saat ini, gak apa-apa pipi saja dulu."
Icha reflek memegang pipinya yang dicium Laskar, wajahnya bersemu.
__ADS_1
*****