Cinderela Modern

Cinderela Modern
PERJODOHAN


__ADS_3

Mama Dina dan papa Ridho telah memesan tempat disebuah restoran mewah, malam itu pengunjung restoran cukup ramai, keluarga Wijaya duduk mengelilingi meja bundar, mereka belum memesan makanan karna menunggu kedatangan Gibran.


"Kenapa lama sekali sieh anak itu." gumam mama Dina tidak henti menoleh kearah pintu masuk masuk.


"Ma, mending kita mesen dulu, siapa tahu sik Gibran itu nyasar." saran Mario.


"Emang kak Gibran begok sieh kak." timpal Icha, "Tapi gak sebegok itu sampai nyasar gak tahu jalan nemuin kita disini."


"Terus kalau gak nyasar kenapa tuh anak lama banget, sudah seperti presiden saja dia ditunggu-tunggu, sudah lapar nieh ma."


"Tunggu sebentar Mario, mama yakin bentar lagi adikmu datang, nah itu dia." tunjuk mama Dina melihat kedatangan Gibran bersama dengan seorang gadia berjalan disampingnya.


Semuanya mengarahkan mata kearah datangnya Gibran.


"Lea." gumam Icha begitu melihat gadis yang tengah bersama Gibran, "Apa mereka pacaran, tapi gak mungkin, kemarin Lea masih nguber-nguber Aslan, masak sekarang secepat itu pacaran sama kak Gibran." tentunya Icha heran melihat kedatangan Gibran dan Lea.


Aslan juga sama gak menyangkanya seperti Icha, dia bertanya-tanya dalam hati, "Kok bisa Gibran bersama Lea, apa mereka lagi PDKT, oh." Aslan kemudian mengambil kesimpulan mengingat seringnya Gibran bertanya tentang Lea, "Pantas saja Gibran selalu bertanya tentang Lea akhir-akhir ini, ternyata dia suka sama Lea."


"Wah seriusan dia bawa cewek, laku juga ternyata." komen Mario melihat Gibran datang bersama Lea.


Lea terlihat malu-malu, bertemu keluarga Wijaya, kemarin Gibran menghubunginya mengajaknya ikut acara keluarga, fikir Lea ini kesempatannya untuk mengenal keluarga Aslan alias keluarga calon mertua.


"Semuanya, kecuali Icha dan sik kunyuk." ujar Gibran begitu tiba dimeja yang ditempati oleh keluarganya, semuanya memberi perhatian padanya, "Ini Lea, cal..."


Lea memotong kalimat Gibran, "Saya Lea teman sekolahnya Icha dan Aslan om, tante."


Lea kemudian menyalami mama Dina, papa Ridho dan Mario, dengan mencium tangan mereka masing-masing.


"Wah manisnya." puji Mario, "Pakai cium tangan segala lagi."


"Ayok duduk sayang."


"Iya tante." Lea duduk disamping Icha, mereka berdua saling lempar pandangan.


Icha berbisik ditelinga Lea, "Kok bisa lo bersama kak Gibran."


"Ya bisalah, tadi sore dia nelpon gue dan ngajakin gue, ya gue iyain aja." balas Lea berbisik pula.


Gibran juga duduk dengan wajah masam, tadinyakan dia akan memperkenalkan Lea dengan mengatakan, "Calon pacar." eh malah kalimatnya dipotong oleh Lea.


"Kamu teman sekolahnya Icha dan Aslan."

__ADS_1


"Iya tante."


"Terus kenapa bisa datangnya sama Gibran."


"Oh itu..."


"Kami dikenalin Icha ma." timpal Gibran.


Lea menyambung, "Dan sejak itu Lea dan kak Gibran berteman."


"Teman toh, tak fikir pacar." sahut Mario.


"Bukan kak, kami beneran temenan." Lea memperjelas, dia gak mau terjadi salah paham karna yang disukaikan adalah Aslan.


Lea curi-curi pandang ke arah Aslan, cowok itu terlihat semakin tampan dengan kemeja putih.


Karna semuanya sudah berkumpul, mama Dina memanggil pelayan dan memesan, gak lama semua pesanan mereka sudah datang, satu tambahan lagi, ada kue ulang tahun ditengah-tengah meja, meski ulang tahun Icha dan Aslan sudah lewat, mereka berkeras untuk merayakannya.


"Semuanya, saya minta perhatiannya sebentar." mama Dina berdiri mencoba menarik perhatian pengunjung restoran, dan berhasil, karna semua mata terarah pada meja mereka, "Kami disini dalam rangka merayakan hari ulang tahun kedua anak saya, Aslan dan Icha." mama Dina menunjuk Aslan dan Icha bergiliran, "Dan saya minta dengan sangat pada semuanya, untuk bersama-sama menyanyikan lagu selamat ulang tahun buat kedua anak saya ini."


Beberapa orang mengangguk mengerti.


"Ma, apa-apaan sieh, malu-maluin." desis Aslan melihat kelakuan mamanya.


"Ya gak apa-apa lagi Lan, kan biar rame." Icha menyahut.


Dan mulai, dengan mama Dina memplopori menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang kemudian diikuti oleh semua pengunjung restoran. Lagu selamat ulang tahun dalam bahasa inggris mengalun diseantero ruangan.


"Happy birthaday to you, Happy birthaday to you, happy birthaday to you."


Begitu selesai, terdengar gemuruh tepuk tangan, "Terimakasih semuanya atas partisipasinya."


"Nah sayang, sebelum tiup lilin bikin permohonan dulu."


"Permohonan lagi, bosan." desis Icha dalam hati, tapi toh dia memejamkan matanya meskipun dalam hati tidak berdoa.


Dan bersama-sama, dia dan Aslan meniup lilin, kembali terdengar suara tepuk tangan.


"Mereka sangat menyayangi Icha." ucap Lea penuh syukur melihat bagaimana perlakuan keluarga Aslan pada Icha.


"Nah, sebaiknya kita makan dulu sebelum mama dan papa memberikan kejutan yang sesengguhnya untuk kalian berdua." ujar mama Dina.

__ADS_1


"Asyiiik kejutan, Icha suka kejutan." ujar Icha antusias.


Mereka mulai menyantap makan malam sambil ngobrol tentang banyak hal, dan begitu acara santap malam itu berakhir, Icha menagih janji mama Dina, dia bener-bener mengharapkan hadiah yang sangat mengejutkan.


"Ma, kejutannya apa."


"Oh, kamu ternyata sudah gak sabar ya sayang, pa, papa saja ya yang bilang." mama Dina meminta suaminya.


"Ekhemm." papa Ridho berdehem sebelum berbicara, " Icha, kamu tahukan mama dan papa sahabatan dengan almarhum mama dan papa kamu."


Icha mengangguk, "Sebelum papa kamu meninggal, papa kamu pernah berpesan kapada kami, meminta kami untuk menjaga kamu, dan kamu tahukan Icha, kalau kami menyayangi kamu dan sudah menganggap kamu sebagai anak kami sendiri."


Icha mengangguk lagi, kasih sayang papa Ridho dan mama Dina tak perlu diragukan lagi, "Dan satu hal lagi, kami berjanji ketika Dina dan Aurel tengah mengandung kalian." maksudnya adalah Icha dan Aslan, "Kalau anak yang lahir masing-masing perempuan dan laki-laki, maka kami berjanji untuk menjodohkannya."


Gak perlu penjelasan lebih lanjut, semua yang ada dimeja tersebut termasuk Icha dan Aslan tahu arah pembicaraan itu, namun dia tetap mengajukan pertanyaan untuk memperjelas, "Maksud papa, Icha dan Aslan dijodohkan gitu."


Papa Ridho mengangguk dibarengi dengan senyum.


Mama Dina memperjelas dengan mengatakan, "Iya sayang, kalian dijodohkan, bahkan ketik kalian masih dalam kandungan, bagaimana, apa kalian terkejutkan."


Klatanggg


Lea menjatuhkan garpunya saking terkejutnya mendengar berita ini, ketika semua mata mengarah padanya, dia buru-buru meminta maaf, "Maafkan saya, saya hanya, hanya gak menyangka kalau Icha dan Aslan dijodohkan." suara Lea tersendat-sendat, hatinya terasa sakit, sahabatnya dan orang yang dia cintai dijodohkan, dia merasa mual, makanan yang ditelannya ingin rasanya dia muntahkan.


"Ma, mama gak seriuskan, mama dan papa cuma bercandakan." ujar Aslan begitu bisa mengatasi rasa kekagetannya.


"Serius donk sayang, lagiankan ini salah satu cara kami untuk menjaga Icha sesuai amanat papanya." balas papa Ridho.


"Tapi gak perlu dijodohkan jugakan pa, kami masih kecil, masih sekolah, kami ingin menggapai impian-impian kami."


"Emang lo punya impian." cloteh Gibran yang tidak tahu situasi dan tempat untuk bercanda.


Icha melotot, membuat Gibran membungkam bibirnya rapat-rapat.


"Tapi kami, kami berteman, mana bisa kami dijidohkan, kami tumbuh bersama-sama, kami sudah seperti saudara."


"Justru karna itu, kalian sudah saling kenal luar dalam, jadi ketika kalian sudah menjadi suami istri, jadinya gak bakalan canggung lagi." Mario memberi komentar untuk pertama kalinya, dia sangat mendukung kalau Aslan dan Icha dijodohkan.


Icha menendang kaki Aslan dari bawah meja, itu sebagai kode memintanya untuk bicara supaya perjodohan yang sudah direncanakan oleh orang tua mereka dibatalkan. Namun saat ini, Aslan sepertinya tidak bisa berkata-kata, dia kaget dengan berita ini.


"Kalian gak perlu risau, kami tidak langsung menikahkan kalian, ya minimal tunanganlah dulu setelah kalian lulus, lagiankan Aslan juga harus bekerja untuk menghidupi kamu dan anak-anak kalian nantinya."

__ADS_1


Icha bener-bener gak pernah menyangka kalau bakalan dijodohkan begini, perjodohan yang sering terjadi dinovel-novel online yang sering dibaca oleh Lea, Icha memutar matanya kearah Aslan, melihat wajah datar dan dingin itu secara seksama, dulu dia selalu bilang kalau Aslan adalah laki-laki terakhir yang akan dinikahinya kalau tidak ada stok laki-laki didunia, bukan karna Icha beranggapan Aslan itu jelek, Icha mengakui kalau Aslan tampan, Icha selalu beranggapan kalau Aslan itu cocoknya jadi sahabatnya bukan teman hidupnya.


****


__ADS_2