
Begitu tiba dikamarnya, pandangan mata Icha terarah pada boneka beruang besar yang duduk dengan manis ditempat tidurnya, boneka itu merupakan hadiah ulang tahun dari Laskar yang diberikan diam-diam oleh Laskar ketika dirinya masih menjadi penggemar rahasianya, boneka ini merupakan salah satu benda yang akan dicuri oleh Lola dan Loli, tapi setelah berjuang sampai titik darah penghabisan Icha berhasil menggagalkannya. Icha meraih boneka besar berbulu lembut tersebut dan memeluknya.
"Kenapa Laskar bisa suka sama gue ya, lo tahu gak kenapa." Icha sudah seperti orang gila karna bertanya pada boneka tersebut, "Kan gue jadi risih jadinya, kemana-mana gue dilihatin dan diomongin seolah-olah disukai oleh Laskar adalah sebuah dosa besar." sambil menowel-nowel pipi boneka itu.
Icha kemudian berdiri dan beranjak menuju cermin riasnya, cermin rias yang merupakan hadiah ulang tahun dari mama Dina diulang tahunnya yang ke enam belas, dan diatas meja cermin rias tersebut ada beberapa produk kecantikan yang tidak pernah dipakai oleh Icha, apakah semuanya Icha yang membelinya, jawabannya tentu saja tidak, semuanya itu di belikan oleh Lea dan kadang juga dibelikan oleh mama Rita mamanya Lea, dan beberapa produk make up milik Icha hilang dicolong oleh dua saudara tirinya, kalau hal ini Icha tidak mempermasalahkannya. Sebenarnya sieh kalau gak mau dipakai memang lebih baik disedekahkan saja sama dua saudara tirinya tersebut, tapi jelas saja hal itu tidak akan pernah dilakukan oleh Icha, dia berniat menyedekahkan produk make upnya ketika nanti kosmetik tersebut sudah kadaluarsa biar wajah saudara tirinya rusak dan jerawatan.
Icha melihat pantulan dirinya dicermin, setelah beberapa saat dia bergumam, "Bener yang mereka bilang, gue jelek, kucel, dekil, rambut gue juga kayak sarang burung, tapi gue bersuyukur dengan fisik yang dianugrahkan oleh Allah ke gue." gumam Icha bicara pada pantulan dirinya sendiri, "Gue juga heran, kenapa Laskar bisa suka sama gue, apa coba yang dilihat Laskar dari gue, fisik gue biasa saja, gue juga bukan gadis yang berhati baik."
Ketika tengah sibuk mengabsen kekurangannya, perhatiannya di alihkan oleh suara nyaring yang berasal dari jendela kamarnya, Icha berjalan kejendela untuk melihat apa yang terjadi, dan dibawah sana dia melihat Aslan melambai ke arahnya, dan satu detik kemudian ponselnya berdering.
Icha meraih ponselnya dan ternyata panggilan tersebut berasal dari Aslan, Icha menoleh kebawah, Aslan masih melambai ke arahnya, "Ngapain sieh Aslan nelpon, iseng banget." gumamnya menggeser simbol telpon pada ponselnya.
Apa
Turun
Ngapain
Elahh turun aja napa, gak usah banyak nanya
Iya deh
Begitu Icha tiba diluar, dia melihat Aslan duduk beralas tikar yang digelar dihalaman berumput antara rumahnya dan rumah Aslan, maklum rumah mereka tidak berpagar.
"Ada apaan sieh nyuruh-nyuruh keluar segala, gue mau istirahat nieh."
"Tuuhh." Laskar mengedikkan dagunya kebawah ke arah tikar, disana satu kotak pizza menunggu untuk disantap.
Icha langsung menelan air liurnya melihat rizki nomplok yang menggiurkan.
"Pizza." pekiknya kegirangan, "Bilang kek dari tadi, tahu gitu gue langsung terbang lewat jendela." langsung duduk dan mengambil sepotong pizza.
Aslan mendengus, "Masalah makanan aja lo cepat banget."
"Biarin aja." balas Icha cuek dengan semangat mengunyah, "Ini lo yang beli."
Aslan ikut duduk disamping Icha mengambil sepotong pizza dan sebelum menggigitnya dia terlebih dahulu menjawab pertanyaan Icha, "Bukan, kak Mario yang beli sambilan pulang dari rumah sakit, dia nyuruh gue manggil lo ajakin makan bareng."
"Ohhhh."
Icha makan dengan lahap dan cepat persis seperti orang yang tidak makan seharian, hal tersebut membuatnya tersedak dan batuk-batuk, "Uhukk uhuk."
"Pelan-pelan Cha makannya, rakus banget kayak gak pernah makan pizza aja, kalau lo takut tuh pizza gue habisin, ntar gue beliin lagi." Aslan mengambil sebotol air mineral, membuka segelnya dan menyerahkannya pada Icha, "Nieh minum."
Icha mengambil botol air mineral tersebut masih dengan terbatuk-batuk, "Lega." gumam Icha begitu air dingin mengaliri tenggorokannya.
__ADS_1
"Lo beneran beliin gue pizza lagikan kalau ini habis." ujarnya penuh harap mendengar janji Aslan barusan.
"Iya." Aslan menjawab singkat.
"Asyiikk, lo bener-bener sahabat gue Lan."
Suasana malam itu begitu indah dan tenang, suara hewan malam bersahut-sahutan bagai musik dengan harmoni yang selaras, langit malam yang hitam pekat terlihat indah dengan gemerlapnya taburan bintang-bintang yang jumlahnya berjuta-juta, suasana malam itu tambah indah dengan kemunculan bulan purnama yang memancarkan sinarnya yang anggun.
"Lihat ke langit Cha." pinta Aslan memandang ke atas penuh rasa kagum atas ciptaan Tuhan yang maha kuasa.
"Emang ada apaan dilangit, ada ufo terbang ya." ujar Icha tidak melihat kelangit, dia masih sibuk mengunyah pizza karna misinya adalah makan tuh pizza sampai tandas gak bersisa.
Aslan menyentil kening Icha karna gemes dengan kalimat sahabatnya tersebut.
"Awww." Icha meringis, "Sakit Aslan."
"Makanya, jangan ngaco."
"Emang ada apaan sieh dilangit, malas gue ngelihatnya kalau tidak ada sesuatu yang menarik." meskipun bilang begitu, wajahnya ditengadahkan keatas.
"Indahkan, malam ini bulan terlihat sempurna."
"Biasa aja tuh, apanya yang indah coba." respon Icha yang tidak tampak kagum sama sekali, "Hanya dilihat dari jauh aja bulan terlihat indah, coba kalau kita kesana, permukaannya kayak wajah yang penuh jerawat."
"Anak ini ya." Aslan jadi gemes dengan perumpamaan Icha, dia mengacak-ngacak rambut keriting Icha.
Namun Aslan bukannya berhenti, dia malah makin heboh mengacak-ngacak rambut Icha.
"Ihhh Aslann menyebalkan banget sieh lo." Icha berusaha membalas Aslan dengan menggelitik titik sensitif ditubuh Aslan yaitu dibagian pinggangnya.
Aslan terkikik karna kegelian.
Disaat dua sahabat itu tengah asyik bercanda, tiba-tiba Gibran nongol kayak hantu yang tidak diharapkan kehadirannya.
"Astagafirullah, apa yang kalian lakukan."
"Gak ada, kami cuma bercanda." Aslan menjawab.
"Dari tadi gue cari, malah lo sibuk pacaran disini." crocos Gibran mengomentari Naya dan Aslan, "Inget ya bocah ingusan, meskipun lo berdua dijodohkan, bukan berarti kalian boleh pegang-pegang, apalagi melakukan adegan dewasa, kalian masih belum sah, paham." ujarnya sok menasehati.
"Apaan sieh lo kak, gak jelas." desis Icha kesal dengan ucapan Gibran, kesannya seperti dia dan Aslan kepergok mesum saja.
"Mau ngapain lo nyari gue." Aslan bertanya.
"Nyuruh lo bikinin gue mi rebus." jawabnya santai sambil ikut duduk bersama Icha dan Aslan.
__ADS_1
"Bikin aja sendiri, enak saja main suruh-suruh."
"Adek durhaka emang lo." rutuk Gibran, "Disuruh bikinin kakaknya mi rebus saja gak mau, apalagi kalau disuruh nyuci kolor gue."
"Bukannya Aslan yang adek durhaka, tapi kak Gibran yang kakak laknat." Icha membela Aslan, "Punya dua tangan yang masih berfungsi pakai main suruh-suruh, mentang-mentang berstatus sebagai kakak."
"Ya lo belalah sih kunyuk ini, namanya juga calon suami lo."
"Udahlah mending lo masuk sana, bikin mi instan." Aslan ngusir.
"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue pergi, gue mau disini, mau apa lo."
Aslan mendengus, kakaknya satu ini memang manusia menyebalkan dimuka bumi.
Angin malam berhembus lembut meninggalkan rasa dingin dikulit tiga anak manusia itu.
"Dingin." Gibran menyilangkan kedua tangannya, "Dingin-dingin begini asyiknya didekat pacar, bisa peluk-peluk agar badan hangat."
"Emang lo punya pacar."
"Ya gak sekarang, tapi gue tengah berusaha ini menaklukkan hati cewek yang gue cintai."
"Siapa, jangan bilang Lea." tebak Aslan.
"Wahh, pintar lo, seratus buat lo."
Icha yang sangat tahu kalau Lea cinta mati sama Aslan dan Icha bisa membaca sepertinya tidak ada tanda-tanda sedikitpun Lea menyukai Gibran, oleh karna itu Icha memberi saran begini, "Kak, mending kak Gibran cari wanita lain saja deh."
"Ya gaklah bisalah." tolak Gibran tegas, "Gue kan sudah cinta mati sama Lea."
Balas Icha dalam hati, "Tapi sayangnya kak Gibran, Lea cinta matinya sama adikmu."
"Lagian gimana sieh lo Cha, dulu-dulu lo udah janji bakalan ngebantu gue ngedekatin Lea, sekarang setelah gue gak berguna lo lupain janji lo."
Iya waktu itu fikir Icha, Lea bakalan tertarik sama Gibran dan bisa melupakan Aslan karna Aslan susah untuk ditaklukkan, apalagi waktu itu Aslan tengah pacaran dengan Athena, eh tahunya, Lea gak ada tanda-tandanya berpaling ke lain hati, kalau begitu mana bisa dia membantu Gibran.
"Lo bantu dia buat ngedekatin Lea Cha." sahut Aslan yang baru mengetahui informasi ini, "Kok lo mau sieh, disogok pakai apaan lo."
"Emang ada yang salah kalau Icha bantuin gue."
"Ya gak ada, tapi sepertinya Lea gak suka sama lo." Aslan membeberkan fakta.
"Sok tahu lo." tandas Gibran, "Pokoknya, gue harus dapetin Lea, dan lo berdua mulai sekarang harus bantuin gue."
"Diihhh ogahh." Icha dan Aslan menjawab kompak.
__ADS_1
"Adikk kamprett lo berdua."
****