
Icha akan membuka pintu penumpang didepan, tapi teguran dari Gibran menghentikan niatnya, "Cha, lo duduk dibelakang ya." pintanya.
Biasanya sieh Gibran kemana-mana pakai motor, mungkin karna saat ini dia tengah gencar-gencarnya kali ya mendekati Lea, makanya kali ini dia mengendarai mobil milik Mario anak tertua dari keluarga Atmaja, kebetulan saat ini Mario tengah berada diluar kota tengah mengisi acara seminar.
Mengingat Gibran tengah melancarkan aksi PDKTnya, jadinya Icha berkata, "Oke deh, Le duduk didepan lo ya."
"Gak ah, gue dibelakang aja, lo aja yang didepan Cha." tolak Lea, diakan risih duduk disamping orang yang baru dikenalnya.
"Yahh, jangan donk, masak dua-duanya pada duduk dibelakang sieh, emang gue sopir apa."
"Udahlah kak, kakak didepan saja, lagian muka kakak cocok gitu jadi sopir." balas Icha yang sudah duduk pewe dikursi penumpang.
"Ihh, resek banget lo Cha."
Icha dan Lea terkekeh, jadinya dengan terpaksa deh Gibran duduk sendirian didepan.
"Anjirrr, sumpah gue kayak sopir beneran nieh, beneran nieh gak ada yang mau nemenin cowok ganteng didepan."
"Ya, elo emang ganteng kak, tapi kalau dilihat dari samping." Icha meledek yang membuat Lea terkekeh.
"Apaan sieh sik Icha, seharusnyakan dia muji-muji gue gitu didepan Lea, malah menghina gue." keluh Gibran dalam hati.
Aslan menstater mobil, namun kemudian kembali mematikannya.
"Kenapa kak." Icha bertanya.
"Gue beli air mineral dulu deh sebentar, haus gue." membuka pintu mobil.
"Sekalian beliin camilan ya kak." request Icha.
"Insaallah kalau gue inget."
****
"Gibran, itu beneran Gibrankan, lagi apa dia didepan sekolah gue." tanya Aslan dalam hati, dia sampai menghentikan mobilnya karna merasa melihat sosok kakaknya tengah membeli air mineral diwarung depan sekolahannya.
"Beneran itu sik begok Gibran." ujarnya begitu memastikan kalau yang dilihatnya tersebut adalah Gibran kakaknya, "Kenapa dia pakai mobil kak Mario segala, ada perlu apa dia." masih bertanya-tanya dalam hati karna melihat mobil Mario terparkir tidak jauh dari warung.
"Kenapa beb." Athena yang duduk disampingnya bertanya.
Aslan tidak menjawab pertanyaan Athena, tapi dia malah menjalankan mobilnya kearah Gibran.
"Tunggu sebentar ya Na." pesannya pada Athena.
"Kamu mau ngapain beb." Athena mengajukan pertanyaan.
"Aku ada perlu sebentar." Aslan menjawab seadanya lalu kemudian membuka pintu mobil.
"Beneran elo ternyata." Aslan menegur, "Ngapain lo disini."
"Eh, sik kunyuk, elo sendiri ngapain dimari."
Aslan melotot, "Ya gue disini wajarlah, inikan sekolahan gue."
"Bener juga, gue lupa lo satu sekolah sama Icha."
Aslan menggeleng, "Begok kok betah." ujar Aslan tanpa suara, pasalnya diantara tiga bersaudara, hanya Gibran yang tidak mewarisi kepintaran orang tua mereka.
Athena meskipun sudah dipesan supaya menunggu saja dimobil, tapi toh dia keluar juga, kepo dia ingin tahu apa yang tengah dilakukan oleh Aslan diluar.
__ADS_1
"Beb." tegurnya membuat Aslan berbalik.
"Cewek lho tu nyuk." Gibran menunjuk Athena dengan dagu.
"Hmmm." kayak gak antusias gitu ngakuin Athena sebagai pacarnya.
"Iya, gue ceweknya Aslan." Athena memastikan, "Elo siapa ya." tanyaya malas.
"Ohh, beneran calon adik ipar nieh, cantik juga, pinter lo milih."
Mendengar kata-kata adik ipar keluar dari bibir cowok yang diajak ngobrol oleh Aslan membuat Athena berubah ramah dan sopan, difikirnya nieh cowok bukan kakaknya Aslan, habisnya mereka gak mirip sieh. Athena dengan resmi memperkenalkan dirinya, "Kakak, kakaknya Aslan ya, kenalin kak, aku pacarnya Aslan." meraih tangan Aslan dan menciumnya.
"Wiehh, lo bener-bener gak salah pilih Nyuk, calon lo bener-bener calok adek ipar berbakti, siapa nama elo calon adek ipar."
Dipuji begitu membuat Athena tersenyum bangga, "Athena kak."
"Namanya yang cantik, sesuai dengan oranganya, gue Gibran, calon kakak ipar lo."
Karna Gibran belum kunjung masuk juga, membuat Icha inisiatif keluar melihat apa yang dilakukan oleh Gibran diluar.
"Lama amet sieh kak Gibran cuma beli air mineral doank, melahirkan dia." Icha ngomel, "Le, lo tunggu deh, gue mau lihat kak Gibran dulu." Icha membuka pintu mobil.
"Ikut Cha."
"Woee, kak Gibran, inget yang didalem donk, panas nieh, malah sibuk gosip lo." Icha berteriak, dia gak mengenali kalau Gibran tengah ngobrol sama Aslan, maklum Aslan membelakanginya, dan begitu mendengar suara teriakan Icha, Aslan langsung balik badan bersama dengan Athena.
"Lha, itu sik Aslan."
"Sama Athena." sambung Lea panas melihat Athena merangkul lengan Aslan.
"Tunggu bentar Cha, Le." teriak Gibran.
Aslan memutar badannya kembali kearah Gibran, "Lo..."
"Kakak jemput Icha, kok bisa." heran Athena.
"Ya bisalah, Ichakan juga adek gue sama kayak Aslan."
"Kak Gibran cepetan, Lea udah ditelponin mulu nieh sama mamanya." Icha malah mengkambinghitamkan Lea, padahal mama Lea tidak nelpon tuh.
"Cha, kok lo jadiin gue kambing hitam sieh."
"Kalau gue jual nama elo, kak Gibran bakalan cepat kemari, elo kan geb...." Icha langsung menutup bibirnya karna hampir saja keceplosan.
"Gue apa Cha."
"Eh, gak apa-apa kok, gue hanya salah ngomong tadi."
"Iya Cha, bentar." jawab Gibran berteriak, "Lan, gue duluan deh, sekalian mau nganterin Lea juga nieh, bay kunyuk, bay calon adek ipar." pamitnya pada Aslan dan Athena.
"Kak Gibran kesini jemput Ga.." Athena ingin mengatakan gadis bar-bar, namun dia ingat hal itu bisa memicu pertengkaran antara dirinya dan Aslan, makanya dia langsung mengerem bibirnya dan mengganti kalimatnya, "Icha ya."
"Kenapa lo nanya lagi, bukannya tadi lo udah nanya sama Gibran."
"Sorry, kebiasaan gue suka ngulang pertanyaan yang sama, tapi baguslah, jadi Icha gak ngerepotin kamu beb, jadinya kita bisa pulang bareng terus."
Aslan tidak menanggapi ucapan Athena, dia malah berkata, "Balik yuk Na."
"Lho, kok malah balik, kan kita mau....."
__ADS_1
"Iya iya." ujar Aslan ogah-ogahan.
"Asyikkk." seru Athena memeluk lengan Aslan kenceng, "Gitu donk jadi pacar, temenin pacarnya jalan-jalan."
Kalau biasanya ketika bersama dengan Icha, Aslan akan langsung pulang, namun kali ini atas paksaan Athena mereka berniat jalan-jalan.
"Kita kemana dulu nieh beb, ke kebutik langganan keluargaku, ke bioskop, nyalon atau...." Athena mengabsen hal yang diinginkan.
"Terserah kamu Na." tandas Aslan pasrah, ini yang membuatnya malas jalan sama Athena, kalau jalan sama dia, kalau gak shoping ya nyalon, dan kedua hal tersebutkan butuh waktu berjam-jam, dan itu pastinya membuat orang yang nemenin bosan setengah hidup, ya dalam hal ini yang dimaksud adalah Aslan. Aslan heran, kok cewek pada betah gitu duduk selama berjam-jam disalon, toh wajah mereka tetap sama saja, meskipun ada perubahannya palingannya bikin wajah putih, kalau cuma putih mah, kenapa gak berendam saja sama beklin, tapi yah begitulah cewek, cowok gak akan mengerti dimana letak kebahagianya, sama dengan kaum laki-laki yang kebanyakan suka nonton bola, wanita gak ngerti dan gak mau ngerti dimana letak keseruan tersebut.
Aslan jadi inget sama Icha, sudah dua hari ini mereka tidak bertegur sapa, Aslan sieh nungguin Icha gitu untuk minta maaf duluan, tapi tuh anak belum kunjung melakukannya, dia ingin minta maaf duluan, gengsi dia karna menurutnya apa yang dilakukan suatu hal yang benar.
****
Aslan memegang pinggangnya sambil mengeluh, "Duh, pinggang gue, encok nieh kayaknya." sambil memasuki rumah.
Di pintu, dia berpapasan dengan Icha yang juga bakalan keluar, karna mereka masih bersitegang, mereka tidak saling menyapa satu sama lain dan berjalan begitu saja seperti dua orang yang saling tidak kenal.
"Ngapain tuh sik Icha." tanya Aslan pada Gibran yang tengah nonton kartun masha and bear kesukaannya, Aslan duduk disamping Gibran.
"Eh, elo nyuk, udah pulang." Gibran melihat wajah adiknya yang terlihat kusut, sebuah definisi yang menggambarkan sang adik saat ini tengah dalam kondisi tidak bahagia, "Kenapa wajah lo kusut masai begitu, orang habis kencan sama pacarnya tuh happy."
"Happy apaan sieh, nyesel gue pacaran, cewek hanya menjadikan cowok sebagai budak."
"Budak." ulang Gibran, "Maksud lo kayak zaman penjajahan gitu, kita disuruh kerja rodi gitu."
"Malas banget gue ngomong sama lo, bener-bener gak nyambung." lisan Aslan karna nyesel mencurhatkan isi hatinya sama kakak begoknya ini, "Elo belum jawab pertanyaan pertama gue, sik Icha ngapain kemari."
"Rahasia negara." jawab Gibran jail.
"Anjirr, nyesel gue nanya."
Gibran terkikik, "Oh ya nyuk, lo kenal Leakan."
"Lea yang lo anterin pulang."
"Iya."
"Kenapa dengan Lea."
"Cantik ya dia."
"Biasa aja menurut gue." wajarlah Aslan ngomong gitu, kan cantik itu relatif.
"Mata lo rabun ya, cantik gitu lo bilang biasa aja."
"Bukannya rabun begok, tapi cantik itu relatif, tergantung yang melihat."
"Gitu ya."
"Kenapa lo begoknya akut banget sieh, jangan-jangan lo anak pungut lagi." mengingat semua keluarganya pinter dan semuanya menjadi dokter, jadinya Aslan berfikiran kalau kakaknya Gibran adalah anak pungut.
"Jangan ngaco kalau ngomong, mau tes DNA."
"Habisnya, sendirian lo yang begok."
"Anjirr, jangan ngehina gue, lo lihat ntar, gue bakalan lebih sukses dari Mario."
"Lo mau nyaingin kak Mario, mimpinya jangan ketinggian." Aslan sangat segan pada kakak tertuanya itu.
__ADS_1
"Lihat ya nanti, gue akan buktikan."
****