
"Aslannn." Icha merengek, "Anterin gue kerumah donk."
Icha sieh udah pulang, namun balik lagi karna melihat ibu tirinya berdiri didepan pintu, ngapain didepan pintu kalau bukan menunggu Icha, tujuannya apalagi kalau bukan memarahi Icha.
"Inikan udah pagi Cha, jadi diluar udah gak gelapkan." jawab Aslan menyalahartikan permintaan Icha, "Jadi, gak mungkin ada hantu keluyurankan kalau udah terang."
"Ada hantu yang lebih seram dari hantu beneran, hantu yang bisa berkeliaran kapanpun dia mau."
"Cha, bicara yang jelas, gue gak ngerti maksud lo."
"Rubah itu Lan, dia udah nungguin gue didepan, pasti dia bakalan marahin gue."
"Ye elah, gue kira apa, cuma tante Dea doank, biasanya juga lo cuek tuh mau dia kalau marah."
"Ini beda Lan, wajahnya itu lho, seram banget, gue juga lihat tanduk tumbuh dikepalanya." oke, ini sieh beneran hoax.
"Ngaco lo, lo fikir tante Dea sapi apa."
"Lan, gue serius ini, gue takut, ayoklah temenin gue, kalau gue sama lokan dia gak bakalan marahin gue, lo tahukan rubah itu kayak gimana, dia akan menjelma menjadi ibu tiri yang baik kalau ada orang lain."
"Bukannya gue gak mau Cha, tapi gue malas saja gitu berhadapan dengan kedua saudari tiri lo itu."
"Masalah dua rubah kecil itu, tenang saja bakalan gue atasin."
Karna Icha terus-terusan memaksanya, Aslan yang saat ini tengah menikmati sarapannya akhirnya terpaksa menuruti keinginan Icha, "Ya udah deh, tapi janji, lo bakalan jagain gue dari keganjenan kedua saudari tiri lo."
"Beres deh."
Dengan ditemani oleh Aslan, Icha diantar kerumahnya yang persis berada didekat rumah Aslan, benar kata Icha, Dea mama tiri Icha berdiri didepan pintu, wajah yang dipulas make up menornya terlihat seram, bertambah seram karna saat ini Dea dalam keadaan marah, penyebabnya karna ulah Icha yang menyebabkan dia dipanggil kesekolah. Dan benar juga apa yang dikatakan Icha, wajah menyeramkannya itu berubah ramah begitu melihat Icha datang bersama dengan Aslan.
"Tuh, apa gue bilang Lan." bisik Icha melihat perubahan wajah mama tirinya, "Kalau gue sama lo dia akan nahan amarahnya."
Dea mulai deh berdrama, berjalan menghampiri Icha, pura-pura khawatir dengan keadaan Icha, "Ichhaa, anakku sayang." memeluk Icha dan mengelus rambut Icha, padahal aslinya dia ingin meremukkan tubuh Icha menjadi bubur.
Icha membuat gerakan muntah, "Dasar rubah jelek munafik." lirihnya tanpa suara.
"Mama khawatir sama kamu nak, kenapa kamu gak ngabarin mama, kamu tidur dimana semalam." ektingnya sangat meyakinkan, kalau orang yang tidak tahu sifatnya pasti bakalan menyangka kalau dia adalah ibu tiri idaman.
"Semalam Icha tidur dirumah Aslan tante, karna saya fikir tante sudah tidur, maaf ya tante karna bikin tante khawatir." Aslan menyela.
__ADS_1
"Makasih ya Aslan karna telah nampung Icha."
"Gak masalah tante, lagian juga Icha udah dianggap keluarga oleh keluarga saya."
"Oh ya Icha, mama ditelpon oleh guru BP kamu, katanya kamu bikin ulah lagi." suaranya dibuat semanis mungkin, sebenarnya sieh dia ingin marah tapi ditahannya karna ada Aslan.
"Iya ma, hehe, mama diminta datang kekesekolah ya sama bu Dewi."
Dalam hati Dea berujar, "Dasar anak tidak tahu diri, kerjaannya bikin susah saya melulu, kalau bukan karna saya masih membutuhkannya sudah saya tendang dia dari rumah." Dea hanya bisa mengungkapkan kekesalannya dalam hati.
****
Dengan menebeng mobil Aslan, Icha, serta mama dan saudara tirinya berangkat kesekolah, Lola dan Loli kesenangan banget tuh begitu melihat Aslan muncul dirumah, tambah heboh lagi ketika Aslan bilang akan mengantar mereka, bahkan mereka berebutan ingin duduk didekat Aslan.
"Gue duduk didepan." Lola sudah siap membuka pintu didepan.
"Ih, lo duduk dibelakang, gue yang duduk disamping Aslan." Loli gak mau kalah.
"Eh lo sebagai adik yang seharusnya duduk dibelakang." Lola nyolot.
"Lo itu cuma lahir dua menit lebih dahulu dari gue, jadi jangan merasa sok jadi kakak."
"Ihh, upil menyebalkan."
Jelas saja mereka jengkel, mereka yang sampai bertengkar, malah Icha yang dapat tuh kursi.
Pertengkaran Lola dan Loli ternyata tidak cukup membuat Icha jengkel, ditambah penampilan mama tirinya yang heboh yang ngalah-ngalahin Syahrini mau konser membuat Icha malu, makanya sebelum Aslan menjalankan mobilnya Icha berkata.
"Ma, beneran mama datang kesekolah dengan penampilan kayak gitu." ujarnya, "Kayak ondel-ondel." sambungnya tanpa suara.
"Emang apa yang salah dengan penampilan mama, inikan cantik, seharusnya kamu bangga punya mama yang cantik bisa merawat diri."
"Cantik dari segi mananya, dandanan mirip ondel-ondel begitu yang dibilang cantik, lagian mama tiri mirip kelakuan dajjal begitu gimana bisa bangga." Icha menjawab dalam hati, namun yang dilisankan adalah, "Tapi ma, itu berlebihan."
Dea gregetan, karna dari tadi anak tirinya ini kerjaannya mengomentari penampilannya saja, padahalkan menurutnya penampilannya cantik, "Berlebihan bagaimana, bukannya penampilan tante cantikkan nak Aslan, kelihatan muda seperti baru berusia 25 tahunkan." Dea meminta pendapat Aslan.
"Iya tante." Aslan sieh setuju dengan pendapat Icha, kalau penampilan tante Dea terlalu heboh dan mirip ondel-ondel betawi, tapi diiyakan saja biar cepat, toh Dea bukan mamanya, jadi dia gak bakalan malu bagaimanapun penampilan Dea.
"Tuhkan, Aslan saja bilang mama cantik dan muda."
__ADS_1
"Bohong itu dosa Lan." bisik Icha.
Aslan hanya terkekeh, "Bohong untuk membahagikan orangkan berpahala Cha." Aslan menjawab sambil berbisik pula.
****
Begitu tiba disekolah, Icha sudah ditunggu oleh Lea didepan sekolah, begitu dia turun dari mobil Aslan, Lea langsung berlari menghampiri Icha dan memeluknya.
"Ichhaa, gue khawatir banget sama lo, kenapa lo gak ngabarin gue." memeluk Icha kenceng sampai Icha kesulitan nafas.
"Le, meluknya jangan sekenceng itu bisa gak, mau mati rasanya gue."
"Oh, sorry sorry, khawatir banget gue soalnya sama lo." Lea melepaskan pelukannya, namun sedetik kemudian kembali membrondong Icha dengan pertanyaan, "Lo baik-baik sajakan, gak ada yang lukakan." Lea memperhatikan penampilan Icha dari bawah sampai atas, "Ya ampun wajah lo Cha." pekiknya lebay melihat wajah lebam Icha.
"Elahh lebay amet sieh lo Le, biasa aja kali."
"Mana bisa begitu, wajah lo membiru gitu dibilang biasa, pulang sekolah lo gue bawa kedokter kecantikan, mama pasti mau bayarin."
"Udah adegan dramanya Alissa Ramadhani, sekarang bisakan tunjukkan dimana ruang BPnya." Dea mengintrupsi.
Sumpah Lea ingin tertawa melihat dandanan mama tiri Icha, tapi dia tahu itu tidak sopan makanya tawanya ditahan.
"Cha, gue duluan kekelas." ujar Aslan.
"Hmm."
Aslan berjalan kekelas, Lola dan Loli mengekir dibelakang setelah berpamitan sama mamanya.
"Ikut Icha ma." Icha berjalan didepan sebagai penunjuk jalan, Lea berjalan disampingnya.
"Cha, mau ngapain sik ondel-ondel kemari." Lea berbisik.
"Mau ngapain lagi, kalau bukan gara-gara masalah yang kemarinlah."
"Oh, pantes saja, gue lihat banyak wali dari siswa yang ikut tauran kemarin kesekolah dan langsung keruangan bu Dewi." masih dengan suara bisik-bisik tetangga, "Tapi Cha, harus gitu dandananya heboh gitu, udah make upnya ketebalan lagi, dia yang penampilannya heboh gitu kok gue yang malu."
"Gue juga malu sumpah, makanya gue jalannya agak jauhan dari dia, malu gue ngakuin dia sebagai ibu tiri gue."
Lea cekikikan, "Dasar lo Cha anak durhaka."
__ADS_1
****