
"Ekhemm."
Suara deheman itu membuat Laskar yang kini sudah duduk diatas motornya lengkap dengan helm fullfacenya memutar lehernya kearah sumber suara, dia kemudian melepas helmnya setelah mengetahui siapa yang berdehem untuk menarik perhatiannya.
"Kenapa Le."
"Mmmm." Lea terlihat agak ragu mengutarakan maksudnya, dia terlihat agak salah tingkah.
"Lo mau nembak gue ya." tebak Laskar ngasal yang membuat Lea melotot kearahnya.
Laskar terkekeh geli, "Bercanda, habis muke lo tegang gitu kayak orang yang mau nyatain perasaan tapi takut ditolak."
Lea mengabaikan kelakar Laskar, dia mengutarakan maksudnya mendekati Laskar, "Laskar, gue nebeng lo ya." ungkapnya, "Gue malas satu mobil sama anak-anak, berisik soalnya."
"Naik motor gue maksud lo." Laskar memastikan, fikirnya Lea adalah tipe wanita yang ogah naik motor melihat kulit putih mulusnya yang terawat.
"Iya."
"Gue fikir tuan putri kayak lo anti naik motor, secara gitu kulit lo kinclong begitu." goda Laskar.
"Sebenarnya sieh gue malas naik motor, gue takut jatuh soalnya."
"Tapi." tuntut Laskar karna yakin bakalan ada kalimat tapinya.
"Tapi." Lea melanjutkan "Sekalian ada yang mau gue omongin gitu ke elo."
"Bukan nembak gue kan." canda Laskar lagi.
Lea mendengus kesal karna dari tadi dia serius tapi Laskar bercanda mulu.
Melihat Lea yang sepertinya gak mood bercanda Laskar buru-buru berkata, "Iya iya sorry, elah lo ya gak bisa diajak bercanda." gumam Laskar, "Ayok naik, lagian juga gue sadar diri kali Le, cewek alim dan berbakti kayak lo mana suka kayak cowok badung seperti gue, tipe-tipe elo mah, pasti sukanya cowok kayak Aslan."
"Eh, dari mana lo tahu." Lea agak terkejut juga mendengar kalimat Laskar, gumam Lea dalam hati, "Apa raut wajah gue segitu bisa dibacanya ya sampai Laskar tahu gue suka sama Aslan."
"Santai Le, gue asal tebak aja, lagian siapa sieh perempuan yang gak suka sama Aslan, udah ganteng, pinter, tajir lagi." Laskar mengabsen kelebihan Aslan yang gak mungkin bisa ditolak oleh wanita, "Yahh, kecuali Icha sieh." tambahnya dalam hati.
"Hmmmm." hanya itu respon Lea.
"Ayok buru naik, anak-anak udah pada berangkat tuh." dengan dagunya Laskar menunjuk mobil Gita yang ditumpangi oleh temen-temen kelasnya keluar dari area parkiran.
"Laskar." ujar Lea sebelum naik.
"Apa lagi Le."
"Gue boleh pinjem jaket lo gak, soalnya gue gampang sakit gitu kalau kena angin."
"Tahu diri gampang sakit, kenapa nebeng sama gue, ntar kalau dia kenapa-napa gue malah yang disalahin emak bapaknya." Laskar membatin, tapi yang dia lisankan adalah, "Boleh kok." Laskar melepaskan jaket kulitnya dan memberikannya pada Lea.
Lea mengambil jaket tersebut dan mengenakannya.
"Lo mau sekalian pakai helm gue juga gak." tawar Laskar.
"Gak usah." tolak Lea halus.
"Syukurlah lo gak mau, soalnya helm gue bau."
Lea duduk dibelakang, "Laskar."
"Iya."
"Gue takut, boleh gue pegangan gak."
"Iya boleh."
__ADS_1
"Dimana."
"Apanya."
"Gue pegang yang mana."
"Yang terdekat yang bisa lo jangkau."
Lea perpegangan pada pundak Laskar.
"Gak mau berpegangan pada pinggang gue aja biar seratus persen aman."
"Gak deh disini aja, lagian kalau nanti anak-anak lihat ntar difikirnya kita pacaran lagi."
"Oke deh kalau itu yang lo mau, lo udah siap untuk meluncur."
"Oke, tapi pelan-pelan ya."
"Siapp, perintah dilaksanakan."
Dalam perjalanan, Laskar menjalankan motornya dengan kekuatan sedang, ini dilakukannya demi kenyamanan Lea, sebenarnya Laskar sudah terbiasa ngebut, agak tidak enak rasanya kalau melajukan motornya dengan kecepatan keong kayak gini, tapi dia lebih mementingkan kenyamanan Lea, karna Lea berbeda dengan Icha, kalau Icha sieh seneng banget nantang bahaya.
Dalam perjalanan, seperti yang dikatakan Lea barusan kalau ada sesuatu yang ingin dia katakan pada Laskar, makanya Lea mulai buka suara.
"Laskarr."
"Kenapa Le."
"Gue sebenarnya malu ketemu Icha."
Laskar tahu penyebab kenapa Lea malu bertemu dengan Icha, karna beberapa hari ini Leakan nyuekin Icha gara-gara Icha dan Aslan dijodohkan, tapi karna dia harus menjadi pendengar yang baik, makanya dibertanya, "Kenapa lo harus malu, Ichakan sahabat lo."
"Hmmm, sebenarnya, gue sama Icha udah beberapa hari ini gak saling tegur sapa, maksud gue." Lea meralat kata-katanya, "Gue yang gak negur Icha, gue kesel karna tahu kalau ternyata mereka dijodohkan."
"Lo tahu."
"Icha cerita sama gue."
"Icha cerita sama lo." Lea memastikan.
"Iya." jawab Laskar, dia kemudian melanjutkan, "Dia banyak cerita sama gue, katanya dia sedih karna lo nyuekin dia karna hal gak penting begini."
"Apa-apaan dia, dia dijodohkan dengan Aslan dia bilang itu hal yang gak penting." Lea agak emosi.
Laskar berusaha meredam emosi Lea dengan kembali melanjutkan ceritanya, karna bagaimanapun dia gak suka melihat Icha dan Lea perang dingin begini, meskipun dia yakin setelah menjenguk Icha, hubungan antara mereka akan membaik, makanya dia melanjutkan ceritanya agar hubungan mereka kembali membaik, "Icha bilang, antara dia dan Aslan hanya sahabat, itu saja, gak lebih dan gak kurang, meskipun kedua orang tua mereka menjodohkan mereka sejak dalam kandungan, tapi Icha dan Aslan yakin, seiring dengan berjalannya waktu perjodohan ini pasti bakalan dibatalkan oleh mama dan papa Aslan, kalau Icha dan Aslan nanti sama-sama menemukan orang yang mereka cintai, dan mereka yakin orang tua Aslan akan mengerti dengan keputusan mereka karna cinta tidak bisa dipaksa."
"Icha bilang begitu."
"Hmmm, dia ingin menjelaskan sama lo, tapi karna lo gak mau ngomong sama dia, dia akhirnya memilih cerita sama gue."
"Gue jadi tambah malu bertemu dia, apa kira-kira dia bakalan ngusir gue ya kalau dia lihat gue muncul dirumahnya."
"Meskipun kelakuannya kadang seperti manusia purba begitu."
Lea terkikik mendengar kata-kata Laskar.
"Gue yakin dia seneng lihat lo jengukin dia, dan gue harap sieh lo berbaikan dengan Icha."
"Harapan gue juga begitu, dia satu-satunya sahabat yang gue punya, gue khawatir ketika tahu dia sakit, gue harap sieh sakitnya gak parah."
****
Sesampainya dirumah Icha, temen-temen kelas mereka yang lain sudah menunggu disana, tuan rumah alias mama Dea menyambut kedatangan mereka dengan keramahan palsu.
__ADS_1
"Astaganaga." marhun berbisik ditelinga Laskar begitu melihat mama Dea keluar, "Kenapa ada ondel-ondel nyasar dirumah Icha."
"Sembrangan lo, itu mama tiri Icha, alias mamanya Lola dan Loli."
"Anjir ya, makin tua makin jadi, dandanannya itu lho, ngalah-ngalahin syahrini mau konser woee."
"Lo cowok apa cewek sieh, tuh mulut nyerocos aja kayak ember, apa apa lo komentarin." tandas Laskar yang berhasil membungkam mulut iseng Marhun.
"Ayok silahkan masuk nak, silahkan masuk, Ichanya ada dikamar lagi istirahat." ujar mama Dea ramah, padahal dalam hati berkata, "Perlu apa gitu sik upil itu dijenguk sampai tiga lusin orang begini, bikin repot aja, mana gula mahal lagi." batinnya nelangsa.
"Iya tante makasih." jawab anal-anak itu pada kompak dan masuk mengikuti mama Dea masuk menuju ruang tamu.
"Ekhem ekhemm, kok tenggorokan gue seret begini ya." lirih Dado memberikan kode minta minum pada tuan rumah.
"Haus ya nak, tunggu sebentar ya tante buatin minum."
"Eh, gak usah repot-repot tante."
"Elahhh, pakai pura-pura malu segala lagi lo."
"Yeelah, jual mahal dikit, gak apa-apakan."
"Lola sayang, bantuin mama ya dibelakang, dan kamu Loli sayang, tolong bangunin Icha, bilang temen-temen kalian datang menjenguk."
Lola dan Loli mengikuti perintah mamanya, "Kenapa gak bilang-bilang kalau temen-temen kamu bakalan datang jengukin sik upil itu, malah yang datang tiga lusin lagi, kamu tahu gak itu bisa mengurangi stok gula kita." omelnya pada Lola begitu mereka tiba didapur.
"Lola nelpon ma, tapi mamanya gak ngangkat."
"Lagian siapa yang ngelapor kalau sik upil itu sakit."
"Siapa lagi kalau bukan anak mama sik Lolipop itu, diakan ngember ma, gak bisa jaga mulutnya."
"Awas ya anak itu, bakalan mama marahin dia nanti."
"Lola udah berulangkali bilang sama Laskar, kalau sik upil jelek sakitnya gak parah, dia baik-baik saja, tapi sik Laskar ngotot ingin jenguk."
"Laskar."
"Mama kenal."
"Kenallah, diakan yang beliin mama tas mahal itu."
"Apa." respon kaget Lola.
"Jadi maksud mama, Laskar yang ngirim tas mahal itu untuk mama, Laskar suka gitu sama mama sampai ngirimin mama tas mahal begitu."
"Bukan begitu Lola, itu hadiah buat mama, karna mama ngizinin dia pergi sama sik Upil, kamu ingetkan ketika sik upil itu pergi seharian, dan mama terpaksa menyimpan amarah mama ketika dia pulang."
"Ohh, yang waktu itu." Lola inget, "Sepertinya Laskar suka sama sik upill ma."
"Memang ada gitu yang suka sama gadis jelek dan dekil itu."
"Buktinya, Laskar nyogok mama pakai tas mahal begitu, kalau orang gak suka mana mau bersusah ngasih barang mahal kayak gitu."
"Kamu sepertinya bener, tapi yang mama mau, mulai sekarang kamu deketin Laskar, anak itu seperti anak orang kaya, kalau kamu sama dia, hidup kamu gak bakalan susah."
"Aslan aja sampai sekarang gak dapat-dapat, boro-boro dapetin Laskar."
"Kamu jangan putus asa begitu, makanya kamu kayak mama donk, dandan yang cantik agar banyak yang suka sama kamu."
"Iya ma." dalam hati Lola berkata, "Tapi kalau Lola dandannya kayak mama juga yang ada orang pada ilfil."
****
__ADS_1