
Keesokan paginya, Icha sebenarnya tidak ingin meninggalkan Aslan, dia ingin tetap disamping Aslan, menjaganya menjadi sahabat siaga jika dibutuhkan, karna Aslan juga selalu melakukan hal itu jika dia sakit, namun jelas saja hal tersebut ditentang oleh Aslan dan juga Mario, mereka memaksa Icha untuk pulang dan sekolah.
"Gue mau jaga Aslan, masak gak boleh sieh." desis Icha malah memperbaiki posisi duduknya disofa.
"Bukannya gak boleh adikku sayang." Mario menekan kata-katanya supaya Icha mengerti, "Tapi kamu harus sekolah sekarang, pendidikan itu penting lho." Mario berusaha membuat Icha mengerti.
"Aslan lebih penting dari sekolah, kakak ngerti gak sieh." Icha nyolot.
Mario menghela nafas, bicara dengan Icha memang dibutuhkan kesabaran, "Iya kakak ngerti, tapi saat ini kamu harus sekolah, pulang sekolahkan kamu bisa balik lagi kesini, pintu rumah sakit ini terbuka lebar untukmu adikku sayang."
"Iya Cha, lagiankan ada kak Mario, mama dan papa yang jagain gue disini, jadi lo gak perlu khawatirin gue." Aslan menyahut.
"Tapi...."
"Sekolah Cha, sekolah itu penting untuk masa depan lo."
"Ya udah deh." ujar Icha akhirnya menyerah.
"Biar kak Mario yang antar ya."
"Gak usah kak, Icha pulang sendiri aja, kakak disini aja, ntar Aslan kenapa-napa lagi."
Mario terkekeh, "Aslan gak bakalan kenapa-napa, percaya sama kakak, lagian mama dan papa ada disinikan, bentar lagi juga mereka datang untuk ngecek keadaan Aslan."
"Ya udah deh kalau gitu."
****
Selain mengantar Icha pulang untuk mengganti pakaiannya dengan seragam sekolahnya, Mario juga mengantar Icha kesekolah.
Sebelum Icha keluar, dia mencium tangan Mario, "Makasih ya kak tumpangannya."
Mario mengelus puncak kepala Icha, "Inget ya Cha, belajar yang benar agar bisa jadi orang sukses, yang paling penting agar kamu dan Aslan cepat nikah." goda Mario.
"Apaan sieh kak, bahas masalah nikah segala, kamikan masih kecil, lagian kakak gak perlu khawatirin Icha dan Aslan, kak Mario mending sekarang fokus aja sama diri sendiri, cari pacar agar cepat nikah, kak Mariokan udah tua, atau mau gak Icha kenalin dengan bu Dewi, guru BP kami, cantik lho orangnya." crocos Icha.
"Apaan sieh kamu Cha, udah sana mending keluar, lagian kakak bisa cari pacar sendiri ya."
"Bisa cari pacar sendiri, nyatanya sampai sekarang masih jomblo akut aja." gumam Icha tanpa suara menanggapi ucapan Mario.
Mario melambaikan tangannya sebelum berlalu meninggalkan Icha.
Dalam perjalanan menuju kelas, dari arah kiri sebuah tangan yang penuh dengan lemak melingkar dibahunya, "Masih idup lo ternyata." tangan itu adalah milik Acux, "Gilaaa, mulus tanpa tergores sedikitpun lagi." sambung Acux setelah melihat kondisi Icha.
"Lo ngedoain gue mati hah."
"Bukan begitu." Aceng yang kini berjalan disamping kanannya menyahut, "Kemarin, suami lo, siapa itu namanya."
"Aslan maksud lo."
"Iya sik Aslan."
"Heh, suami Markunah sekarang itu Laskar, dia sama sik Aslan udah cerai."
Icha langsung menggeplak kepala Acux, "Ngaco lo kalau ngomong."
__ADS_1
"Duhhh, sakit begok." Acux mengelus kepalanya.
Aceng melanjutkan kata-katanya yang sempat terpotong, "Sik Aslan itu nyari-nyari lo ke markas, pakai ngamuk segala lagi, difikirnya kami nyembunyiin lo." Aceng menjelaskan.
"Teruss."
"Ya teruss." Acux mengambil alih melanjutkan, "Bos Ari fikir lo itu diculik oleh gengnya sik Sueb, makanya tanpa banyak cing cong, bos langsung mengerahkan pasukan buat nyerang markas gengnya sik Sueb."
"Jadi kemarin lo tauran."
"Hmmm."
"Pantas saja gue lihat Sapto dan yang lainnya wajahnya hancur."
Icha gak perlu bertanya kalau wajah dua orang yang ada disampingnya ini tetap mulus, merekakan kalau ikut biasanya cuma jerit-jerit tanpa ikut bertempur.
"Lo sebenarnya dari mana seih, sampai sik Aslan kayak orang hilang akal gitu nyari lo, sumpah ya, kalau lo gak jadian sama Laskar, gue pasti berfikir kalau tuh cowok cinta mati sama lo." mereka ngobrol sambil jalan.
"Dia begitu karna dia sahabat gue."
"Kami juga sahabat lo, tapi biasa aja tuh, gak seheboh Aslan khawatirnya."
"Ya karna Aslan itu sahabat sejati gue, emang kayak lo sahabat abal-abal."
"Setelah kami bertempur mati-matian untuk nyari keberadaan lo, lo masih bilang kami sahabat abal-abal." wajah Acux dibuat seperti orang kecewa, "Sungguh terlalu."
"Bertempur mati-matian dengkul lo, palingan lo berdua hanya sibuk jerit-jarit kayak banci."
"Yang pentingkan kami ikut meramaikan suasana meski jerit-jerit."
"Lo belum jawab, lo kemarin darimana." Aceng mengulangi pertanyaannya.
"Kencan."
"Kencan, sama Laskar."
"Sama siapa lagi, orang pacar gue cuma dia doank."
"Allahu Akbar, kita mempertaruhkan nyawa untuk nyari dia, eh malah orang yang kita cari enak-enakkan kencan."
"Gak ikhlas banget sieh lo, padahal gue sempat terharu lo pada nyerang anak Tunas Harapan karna gue."
"Ya ya kami ikhlas deh." gumam Acux.
Mereka berpisah karna kelas mereka berbeda.
***
Masih sepi ketika Icha memasuki kelas, Icha berjalan kearah bangkunya, memandang sejenak bangku kosong tersebut, Icha tersenyum mengingat ketika dulu Laskar menyukainya secara diam-diam dengan memberinya bunga dan coklat tiap pagi dan meletakkannya dibangkunya. Disaat dirinya tengah bernostalgia mengenang bagaimana manisnya sikap Laskar, sebuah sapaan menyadarkannya dari lamunannya.
"Pagi Cha." sapa Lea yang baru datang, wajahnya cerah secerah matahari pagi yang menyinari bumi.
"Yang baru jadian, wajahnya cerah banget."
"Iya donk."
__ADS_1
"Nieh tas lo."
Karna hari sabtu kemarin Icha bolos, jadinya Lea yang membawa tas milik Icha.
Sejak masuk kelas tadi senyum tidak pernah meninggalkan bibir Lea, hal tersebut tentunya membuat Icha komentar, "Heh." Icha menyenggol lengan Lea, "Jangan senyum mulu, ntar lo difikir gila lagi sama anak-anak."
"Habisnya gimana ya Cha, setiap inget Aslan bibir gue tidak bisa tidak tersenyum."
Icha maklum sieh, mengingat bagaimana Lea sejak dulu menyukai Aslan dan setelah sekian lama akhirnya perasaannya terbalas juga.
"Oh ya Cha, bagaimana keadaan Aslan, dia baik-baik sajakan."
"Lokan udah jadi pacarnya sekarang, lo tanyain aja sendiri."
"Jam lima tadi gue udah chat dia, tapi gak dibalas."
"Ya wajarlah, jam segitukan dia masih tidur."
Lea mengarahkan matanya kearah bangku Aslan, menghembuskan nafas dan berkata, "Sepi hidup gue tanpa dia."
"Lebay lo, baru aja sehari Aslan gak masuk."
"Sehari itu seperti setahun Cha bagi orang yang lagi jatuh cinta."
Icha terkikik geli mendengar ucapan Lea, "Geli gue denger lo Le, alay banget."
"Ishhh, ngeledek gue lagi, emangnya lo gak kayak gitu sama sik Laskar."
"Biasa aja sieh, guekan gak lebay kayak lo."
Lea mendengus.
"Gue gak dapat pajak jadian nieh Le."
"Pastinya donk, lo minta apa aja gue kasih."
"Serius."
Lea mengangguk.
"Asyikkk." antusias Icha.
"Le, cerita donk, kenapa lo bisa jadian sama Aslan, gue fikir lo nembaknya pas ultah lo, taunya lo gerak cepat juga."
Lea tersenyum terlebih dahulu sebelum menceritakan kronologi ketika dia nembak Aslan, dan mengalirlah cerita itu dari mulut Lea.
Respon Icha begitu Lea menyelsaikan ceritanya adalah, "Jadiii, lo nembak Aslan ketika kita pulang nonton waktu itu."
Lea mengangguk, "Benar kata lo Cha, gue harus bergerak cepat untuk mendapatkan Aslan, nunggu pas ultah gue itu kelamaan, bisa-bisa Aslan duluan diembat orang lagi."
"Meskipun lo nembak Aslan lewat chat, tapi gue bangga sama lo Le."
"Gue yakin Aslan bakalan nolak gue, gue udah menyiapkan mental untuk nerima penolakan, ehh tahunya, lima menit setelah gue nembak, dia dibilang iya, lo bisa ngebayangin gak bagaimana bahagianya gue." dengan perasaan menggebu-gebu Lea bercerita.
"Lo memang pantas mendapatkan Aslan." Icha turut bahagia dengan kabahagian sahabatnya.
__ADS_1
****