Cinderela Modern

Cinderela Modern
CERITA DIATAS MOTOR


__ADS_3

Sambil memeluk boneka beruang pemberian dari pengagum rahasianya Icha berjalan kearah gerbang begitu bel pulang berbunyi, seharian ini dia berhasil menghindari Aslan, dengan berdiam diri ditoilet ketika jam istirahat, untuk pertama kalinya Icha bersyukur karna semua guru matpel yang ngajar dikelasnya masuk sehingga Aslan tidak punya kesempatan untuk mengajaknya bicara, Icha sangat kesal dengan Aslan karna menurutnya Aslan tidak berusaha membujuk mama dan papanya untuk membatalkan perjodohan mereka, ditambah lagi, gara-gara perjodohan tersebut dia jadi tidak bertegur sapa dengan Lea yang seharian ini cuek habis-habisan padanya.


"Hai cantik, godain kita donk." sebuah suara yang familiar menyapanya.


Icha menoleh kesampaing, disana Laskar menyamai langkah Icha dengan menjalankan motornya dengan pelan, Laskar mengedipkan matanya dengan genit.


Icha memukul bahu Laskar dengan buket bunga pemberian pengagum rahasianya, bunga itu kini sudah mulai layu, "Dasar ganjen lo."


Laskar terkekeh, "Ayok naik."


"Ngapain."


"Ya Allah ya Tuhanku, masak lo udah lupa sieh."


"Apaan sieh lo, gue gak ngerti."


"Katanya sepulang sekolah mau nemenin gue." Laskar memperingatkan pembicaraan mereka dijam olahraga.


"Gue kan gak janjiin bakalan pergi sama lo, gue bilangnya lihat entar."


"Jadi gimana keputusan elo sekarang."


"Gue ogah ah ikut lo, gue mau langsung pulang."


"Yahhh, gak setia kawan banget sieh lo."


"Kapan-kapan deh gue temenin, saat ini gue dalam mode malas keluyuran."


Laskar mendesah kecewa, "Ya udah deh, hubungin gue kalau lo berubah fikiran."


Dalam hati Icha menjawab, "Gue gak bakalan berubah fikiran."


Laskar menjalankan motornya meninggalkan Icha, hanya berselang tiga menit kini giliran mobil Aslan yang berhenti tepat disampingnya, Aslan menjulurkan kepalanya untuk menegur Icha, "Cha, naik." perintah Aslan.


"Eh, gue baru inget, gue harus ngerjain tugas sama Laskar, gue duluan ya Lan." ujar Icha buru-buru melangkahkan kakinya, dia berteriak memanggil Laskar, "Laskar, tungguin donk, katanya mau ngerjain tugas."


Laskar yang menjalankan motornya dengan pelan langsung berhenti, "Akhirnya lo berubah fikiran juga, gak sia-sia gue menjalankan sepede motor gue dengan kecepatan siput untuk menunggu lo berubah fikiran."


"Kalau bukan gara-gara Aslan, gue gak bakalan kali mau pergi." ujar Icha dalam hati.


Sementara Aslan hanya menatap dengan tajam dari kaca depan mobilnya kepergian Laskar dan Icha.


****


Icha agak kurang nyaman duduk dimotor karna dia membawa boneka besar yang dia pegang disamping, "Harus gitu itu boneka lo bawa-bawa."


"Habisnya mau dititipin dimana."


"Gue tahu tempat penitipan bayi disekitar sini, titipin disana saja yuk."


"Ngaco banget sieh lo, udahlah mending gue bawa, lagian gak berat ini."


"Ya udah terserah lo."

__ADS_1


"Cha."


"Hmmm."


"Lo ada masalah ya sama Aslan dan Lea." tanya Laskar, dia sengaja melajukan motornya dengan kecepatan sedang untuk memudahkannya ngobrol dengan Icha.


"Lo tahu darimana."


Laskar mengambil kesimpulan dari pertanyaan balik Icha, "Berarti benerkan, lo ada masalah dengan mereka, ada apaan sieh, curhat donk, kok bisa gitu dua sahabat dekat lo disaat bersamaan bermasalah dengan lo."


"Gue bukannya ada masalah dengan Aslan, gue yang sengaja menghindar dari dia."


"Lo yang menghindar, kenapa lo ngehindarin Aslan, biasanya lo seneng tuh nempel-nempel kayak perangko sama dia."


"Kalau ngomong jangan sembarangan, siapa juga yang nempel-nempel kayak prangko sama Aslan."


"Ya seperti itulah perumpamaannya, saking deketnya kalian, terus kenapa lo ngehindarin Aslan." Laskar kembali ke topik.


"Orang tuanya dan almarhum orang tua gue sepakat menjodohkan kami."


Laskar langsung menekan rem secara mendadak, hal tersebut membuat Icha otomatis terdorong kedepan dan menabrak punggung kekar Laskar.


Icha mengumpat, "Sialan, lo sengaja ya cari-cari kesempatan."


"Sorry Cha, sumpah gue bener-bener gak sengaja, lagian apa untungnya gue sengaja ngerem mendadak, dada lo kan rata, jadi gak kerasa empuk." ledek Laskar.


Icha langsung memukul kepala Laskar dengan buket bunga yang kini bunganya sudah berguguran dikepala Laskar, "Bener-bener babi lo." umpat Icha.


"Duh duh, udah donk, guekan cuma bercanda."


"Iya sorry, gue bener-bener dibuat terkejut dengan orang tua Aslan dan almarhum orang tua lo, kok masih gitu ya mereka menjodohkan anak mereka, kolot." Laskar kembali menjalankan motornya.


"Mereka yang menjodohkan lo, kenapa malah Aslan yang lo hindarin." Laskar kembali bersuara.


"Ya jelaslah gue hindarin, siapa suruh dia gak berusaha membujuk papa dan mamanya untuk membatalkan perjodohan ini."


"Dia suka kali sama lo."


"Ya gak mungkinlah, orang kita sahabatan, lagian juga kita sering tidur bareng."


Laskar kembali menarik rem motornya mendadak dan kembali tubuh Icha terhempas kedepan, Icha sekali lagi menjadikan buket bunga malang yang hanya tersisa tinggal daun itu untuk memukul kepala Laskar, "Bener-bener setan lo, lo bener-bener sengaja ya."


"Tidur bareng." Laskar mengulangi kalimat Icha tanpa menghentikan Icha yang melampiaskan kekesalannya, "Maksudnya, lo dan Aslan sudah...."


Icha makin heboh memukul kepala Laskar, bergugurlah sudah daun bunga-bunga tersebut, "Sudah brengsek, mesum lagi fikirannya, bukan tidur yang itu, tidur biasa, satu kamar memang, tapi gue dia tempat tidur dia bawah."


"Oh, gue fikir." Laskar kembali menjalankan motornya setelah mendapatkan pencerahan.


"Jadi lo gak mau nieh dijodohin dengan Aslan, Aslan itu ganteng lho, pinter dan kaya lagi, seharusnya sieh lo bukannya berusaha menggagalkan perjodohan lo, tapi harusnya lo bersyukur, lo emang aneh, banyak lo cewek-cewek anak sekolahan kita ngantri mau jadi pacarnya, lo malah menolak mentah-mentah."


"Aslan itu sudah seperti saudara bagi gue, jadi gue sama dia kayak gak mungkin saja disatukan dalam ikatan pernikahan, pasti bakalan canggung banget tahu gak kalau itu terjadi."


"Oke lo gak mau dijodohin sama Aslan, dan lo kesel sama Aslan karna Aslan tidak berusaha membujuk orang tuanya untuk membatalkan perjodohan ini." Laskar menyimpulkan, "Terus, kenapa lo sama Lea juga bermasalah."

__ADS_1


"Karna Lea suka sama Aslan, dia mungkin gak terima kalau gue dijodohin sama Aslan."


"Lo udah menjelaskan sama dia kalau lo gak mau dijodohin sama Aslan."


"Sudah, tapi dia gak mau denger penjelasan gue, gue jadi ogah membujuk dia berbaikan dengan gue, biarin saja dia kayak gitu, gue juga gak rugi." lirih Icha menghembuskan nafas berat.


Laskar tidak bertanya-tanya lagi, dia tidak mau mencecar Icha lagi, makanya sekarang dia fokus menjalankan motornya.


****


"Bang titip motor ya." ujar Laskar sambil menyodorkan kunci motor dan selembar uang berwarna merah ke tangan tukang parkir di sebuah mini market, "Oh ya." Laskar merebut boneka yang berada dalam pelukan Icha, "Sekalian titip sik imut ini ya bang."


"Beres dek, motor adek dan boneka pacar adek aman ditangan saya." ujar sik tukang parkir setelah dikasih komisi oleh Laskar.


"Kami gak pacaran." bantah Icha mendengar kalimat sik tukang parkir.


Bukannya percaya dengan ucapan Icha, tukang parkir itu malah meledek, "Wah, jahat banget sik eneng, masak pacarnya gak diakuin."


"Kami memang ben..."


Sebelum kalimatnya kelar, Icha ditarik menjauh oleh Laskar, "Bang kami pergi dulu." pamitnya melambaikan tangan.


"Lepasin." Icha meronta.


"Iya iya, galak banget sieh."


"Kenapa lo diem aja ketika tukang parkir itu nganggep gue sebagai pacar lo."


"Ya wajarlah dia berfikiran begitu, diakan melihat gue boncengin elo."


"Emang orang yang berboncengan itu sudah pasti pacaran."


"Ya gak sieh, tapi ya udahlah, masak hal begituan lo permasalahin, emang lo gak bangga dianggap pacaran sama orang keren." Laskar menaik turunkan alisnya.


"Najis lo." gak urung kalimat Laskar tersebut membuat Icha tersenyum tipis.


"Mau kemana sieh sebenarnha kita, pakai nitip motor segala."


"Jalan-jalan doank."


"Maksud lo, jalan-jalan tanpa arah dan tujuan gitu."


"Begitulah." jawab Laskar mengeluarkan kameranya, "Guekan lagi seneng-senengnya menggeluti dunia fotografi nieh, jadi gue mau cari objek foto yang menarik." Laskar menjelaskan, dia membidikkan kameranya kearah pejalan kaki ditrotoar.


"Terus, kenapa lo ngajak-ngajak gue." seru Icha tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya setelah mengetahui kalau dirinya diajak hanya untuk menemani Laskar mencari objek foto.


"Ya buat nemenin guelah, biar rame, gak asyikkan sendiri."


"Selama lo sibuk gitu membidikkan kamera lo, gue harus ngekorin lo gitu dengan bosan."


"Lo minta apa aja gue kasih deh." tandas Laskar untuk meredam rajukan Icha.


"Cukup adil, oke deh."

__ADS_1


"Nah itu baru asyik, yuk." Laskar menarik tangan Icha, mencari objek foto yang dianggap manarik oleh Laskar.


****


__ADS_2