Cinderela Modern

Cinderela Modern
KEDATANGAN LEA DIRUMAH ASLAN


__ADS_3

Setelah mengantar adiknya pulang ke rumah, Mario langsung tancap gas balik kerumah sakit, banyak pasien yang butuh ditangani olehnya, sehingga dirumah kediaman keluarga Atmaja hanya menyisakan Icha dan Aslan, dan Mario mempercayakan Icha untuk mengurus Aslan.


Icha melingkarkan tangannya dipinggang Aslan, hal tersebut membuat Aslan mengerutkan keningnya dan berkata, "Mau ngapain lo."


"Gue mau mapah lo lah, ntar jatuh lagi."


"Gak perlu." Aslan melepaskan tangan Icha dari pinggangnya, "Gue udah sembuh kok, jadi gak perlu dipapah."


Meskipun begitu Icha malah kembali melingkarkan tangannya, "Meskipun lo udah sehat, tapi biar aja gue mapah lo, itung-itung biar gue jadi sahabat berguna buat lo."


"Ada ada saja lo." desis Aslan, namun kali ini dia membiarkan saja apa yang dilakukan Icha.


Bahkan ketika sampai dikamarpun Icha masih membantu Aslan untuk membaringkan tubuhnya, "Chaa, gue bisa berbaring sendiri." Aslan jelas protes saat Icha berusaha memperbaiki posisi tidur Aslan.


"Udah diem aja kenapa sieh, disini gue tengah berperan sebagai sahabat berbakti." oceh Icha.


Aslan hanya mendengus kasar.


"Gue mau istirahat, mending lo keluar gieh." usir Aslan melihat Icha duduk dipinggir tempat tidurnya.


"Gue tetap disini, ntar kalau lo butuh apa-apa gimana."


"Gue bisa ambil sendiri, lagian juga gue udah sehat ini."


"Gak bisa, pokoknya sebelum lo belum pulih 1000% gue akan tetap jadi pelayan lo." balas Icha ngeyel.


"Terserah lo deh."


Ting Tong


Ting Tong


Dari arah pintu utama terdengar suara bel, itu merupakan pertanda jika ada tamu yang datang.


"Tunggu sebentar ya gue lihat siapa yang datang."


"Hmmm." Aslan memejamkan matanya.


Icha berjalan kearah pintu, terdengar suara bel dipencet berkali-kali, sepertinya sik tamu tipe orang yang tak sabaran.


"Iya iya sabar." omel Icha, "Gak sabaran banget sieh jadi orang."


Senyum manis Lea menyambut indra penglihatan Icha begitu pintu terbuka.


"Hai Cha." sapa Lea dengan membawa parsel berisi beberapa jenis buah ditangannya.


"Lea, lo ngapain ke sini."


"Ya jenguk pacar guelah."


"Ahh iya." Icha lupa kalau saat ini Aslan dan Lea sudah berstatus pacaran, jadi merupakan hal yang wajar kalau Lea datang kerumah pacarnya, apalagi pacarnya dalam keadaan sakit begini.


"Gue gak dipersilahkan masuk nieh."


"Akh iya, jadi lupa gue, masuk Le."


"Makasih Cha."

__ADS_1


"Aslanku dimana."


"Kemarin sayang, sekarang Aslanku, dasar lebay sik Lea." batin Icha tidak suka mendengar panggilan sayang Lea untuk Aslan.


Karna sibuk merutuk dalam hati sampai Icha gak langsung menjawab pertanyaan Lea.


"Chaa." tegur Lea.


"Eh iya, lo nanya apa tadi."


"Aslanku dimana."


"Ada dikamar, lagi istirahat."


"Ohhh."


"Jadi karna Aslan lagi istirahat, mending lo gak usah ganggu dia dulu deh."


"Terus gue ngapain donk."


"Lo balik aja."


"Balik." ulang Lea, "Tapi gue baru aja sampai."


"Ya terus lo mau ngapain disini, secarakan Aslan lagi istirahat, atau lo mau nunggu sampai dia bangun, iya kalau dia bangun, soalnya tadi Aslan habis minum obat yang memiliki efek membuat tidur nyenyak, jadi tidak ada jaminan Aslan akan bangun dalam waku beberapa jam." bohong Icha, padahalkan Aslan belum minum obat sore ini.


Lea terlihat kecewa, "Bisa gak Cha gue lihat Aslan sebentar doank, janji deh gue gak bakalan ganggu istirahatnya dia."


"Gak bisa, ntar lo malah berisik lagi, lokan kalau merepet suka lupa berhenti, Aslankan butuh istirahat cukup agar cepat pulih."


"Haduhhh, lebay amet sieh lo."


Namun karna gak tega melihat Lea, Icha akhirnya mengizinkan Lea untuk melihat Aslan "Ikut gue." Icha berjalan didepan untuk menuntun Lea ke kamarnya Aslan.


Dengan patuh Lea mengikuti Icha dibelakang.


"Tadi katanya lo ada acara keluarga, kenapa bisa kemari." Icha bertanya dalam perjalanan menuju kamar Aslan.


"Gue kabur, malas gue dengerin ocehan membosankan saudara mama dan papa gue, malas gue denger mereka pada pamer kekayaan." ujar Lea.


"Orang kaya mah emang gitu, kerjaannya cuma numpuk harta, biar ada yang di pamerin."


"Oleh karna itu, daripada mati bosan dengar ocehan mereka, gue fikir gue lebih baik nemanin Aslan aja, tapi sayangnya orangnya malah tidur."


Mereka tiba didepan kamar Aslan.


"Kamar ayangku." gumam Lea memandang pintu kamar Aslan yang tertutup, gak sabar dia ingin segera melihat Aslan.


"Ishhh, geli banget gue dengernya."


Icha langsung mendorong pintu kamar Aslan, dan bukannya tidur seperti yang dikatakan Icha, Aslan malah terlihat mencoret-coret dikertas putih yang kini dipenuhi oleh coretan tangan Aslan, disampingnya terdapat tumpukan buku-buku tebal.


"Ternyata lo Le yang datang." tegur Aslan begitu melihat Lea berdiri didepan kamarnya.


"Tadi katanya Aslan tidur." gumam Lea karna merasa dibohongi oleh Icha.


"Ya tadi emang dia tidur Le, tapi sekarang astagaaa, apa yang dia lakukan." dengan langkah lebar Icha menghampiri Aslan.

__ADS_1


"Lan, apa yang lo lakuin."


"Belajar." jawab Aslan tanpa beban.


Icha berkacak pinggang, "Belajar." Icha mengulangi kalimat yang diucapkan Aslan, "Lo belum sembuh total dan lo sekarang belajar, seharusnya yang lo lakukan sekarang itu istirahat Aslan, bukannya belajar." omel Icha persis seperti mengomeli anaknya yang ketahuan mencuri.


"Gue bosan tidur mulu, lagiankan belajar gak bikin gue capek." Aslan membela diri.


"Ya tapi otak lo yang capek, bagaimana kalau kondisi lo makin drop karna kelelahan belajar hah."


"Tenang saja, gue bukan lo."


"Ihhh, anak ini, dibilangin ngeyel." Icha menarik kertas yang dicoret Aslan, rupanya tadi Aslan tengah latihan mengerjakan soal matimatika, dan berlanjut Icha menyingkirkan buku-buku tebal dari hadapan Aslan.


"Apa yang lo lakuin." Aslan jelas protes karna buku-bukunya disingkirkan.


"Menyingkirkan sumber penyakit baru."


Aslan mendengus, "Itu sumber ilmu, bukan sumber penyakit."


"Ya ya terserah apa kata lo, yang penting saat ini lo harus istirahat agar cepat sembuh dan setelah itu baru deh lo boleh belajar sepuasnya sampai kejer."


"Sebentar lagi gue bakalan ikut kompetisi sains Cha, gimana gue bisa jawab kalau gue gak belajar."


"Batalkan, bilang lo gak bisa ikut karna sakit."


"Gak bisa begitu, butuh waktu lama untuk nentuin siapa saja yang akan ikut kompetisi, gak bisa main dibatalkan saja, pak Top bisa marah besar."


Lea yang dari tadi jadi penonton dari perdebatan dua sahabat itu menimpali, "Icha benar Lan, kesehatan kamu saat ini lebih penting dari kompetisi apapun, kamu paksain belajar bisa-bisa kondisi kesehatanmu memburuk."


"Astagaa dua gadis ini, dari mana mereka mendapatkan teori kelau belajar mempengaruhi kesehatan, lagian juga gue udah cukup sehat, jangankan belajar, disuruh berenang juga gue mampu." Aslan hanya membatin, karna dia tidak mau memperpanjang perdebatan, dia akhirnya berkata, "Ya udah deh." toh fikir Aslan dia bisa belajar nanti kalau dua gadis ini sudah menyingkir dari hadapannya.


"Ishh, kalau Lea aja yang nyuruh langsung nurut, mulut gue sampai berbusa nasehatin dia sedikitpun gak didenger." Icha ngomel dalam hati.


****


Mereka ngobrol tentang banyak hal, lebih tepatnya sieh Icha dan Lea yang mendominasi, sedangkan Aslan lebih banyak jadi pendengar, dia hanya merespon dengan mengatakan, ya, oh atau begitu ya, jika diminta pendapatnya oleh Lea atau Icha.


"Duhh." Lea memegang tenggorokannya, "Kok seret nieh tenggorokan gue."


"Tuan rumah apaan sieh lo Cha, tamu gak lo kasih minum sejak tadi." cibir Aslan.


Icha terkekeh, "Sorry, habisnya Lea ngajakin ngomong mulu sejak tadi."


Ketika Icha sudah akan beranjak untuk mengambilkan minum untuk Lea, ponsel Icha berdering yang merupakan panggilan masuk dari Laskar.


Sebelum menjawab panggilan dari sang kekasih Icha berkata, "Le, lo ambil sendiri aja deh dikulkas didapur, gue mau nerima panggilan dulu nieh." Icha sedikit menjauh supaya pembicaraannya tidak menjadi konsumsi publik.


Lea yang mengerti menjawab, "Oke deh."


"Sorry ya Le atas perlakuan tidak mengenakkan kami sebagi tuan rumah." tukas Aslan merasa tidak enak.


"Nope, lagiankan aku jugakan bakalan jadi bagian dari keluarga ini."


Aslan hanya menanggapi ucapan Lea dengan senyum tipis.


*****

__ADS_1


__ADS_2