Cinderela Modern

Cinderela Modern
ULANGAN


__ADS_3

Ping


Ping


Ping


Rentetan chat masuk keponselnya membuat Icha menggerutu kesel, "Siapa sieh yang gak punya kerjaan ngirim pesan bertubi-tubi." Icha merogoh tasnya untuk mencari ponselnya, saat itu Icha baru memasuki gerbang sekolah, ternyata pengirim pesan itu adalah Laskar.


Laskar mengirim foto sesuai request dari Icha yaitu foto sik kucing alias Leo, ada sepuluh gambar yang dikirim oleh Laskar, tapi delapan dari gambar yang dikirim lebih banyak gambar close up dirinya meskipun dengan sik Leo juga sih.


"Guekan nyuruh dia ngirimin foto sik Leo doank, bukan foto mereka berdua, bikin sakit mata aja." Icha mengscrool layar ponselnya untuk melihat foto-foto tersebut. Disalah satu foto Laskar dan sik Leo dibarengi dengan caption seperti ini, "Jadiin walpaper di HP lo ya, biar lo gak lupa ada gue dan Leo yang selalu sayang sama elo." ditambahkan emotikon senyum.


Tanpa bisa dicegah nibir Icha membentuk sebuah lengkungan.


Karna sibuk melihat foto-foto itu sambil jalan Icha sampai menabrak seseorang sampai HPnya terjatuh,


"Kalau jalan pakai mata donk." semprot Icha, padahal dia yang gak lihat-lihat malah dia yang marah-marah.


"Lo yang jalan gak lihat-lihat neng." balas orang yang ditabrak oleh Icha.


"Laskar." gumam Icha.


Yang dia tabrak ternyata adalah Laskar, Laskar membungkuk untuk memungut ponsel Icha yang masih memampangkan foto dirinya dan sik Leo dilayar, karna kebetulan waktu Icha menabraknya dia tengah melihat foto-foto yang dikirim Laskar.


Laskar tersenyum menggoda sebelum berkata, "Pantas saja jalan gak lihat-lihat, fokus lihat orang ganteng ternyata."


"Ishhh apaan sieh lo, narsis lo ketinggian tahu gak." Icha mengambil ponselnya dengan paksa, dia memeriksa ponselnya kalau ada yang cedera.


"Terus, kenapa lo mandangin foto gue terus, sampai gak merhatiin jalan."


"Gue merhatiin Leo bukan elo."


"Elahhh, gantengan gue juga daripada Leo, kenapa Leo yang diperhatiin." gumam Laskar tanpa suara.


Setelah melihat tidak ada bagian yang rusak dari ponselnya Icha berkata, "Untung ponsel gue gak gak rusak, kalau rusak...."


"Gue rela deh jadi gantinya." potong Laskar mengedipkan matanya.


Icha menendang tulang kering Laskar, "Jangan mulai deh lo."


"Awww." Laskar mengaduh, "Kebiasaan banget deh lo suka nendang-nendang, lo fikir gue kaleng bekas apa."


"Siapa suruh lo menyebalkan."


"Gue yakin deh gak ada cowok yang bakalan mau sama lo."


"Kenapa begitu."


"Mana ada cowok yang mau sama cewek kasar seperti lo, dikit-dikit main tendang."


"Hello Laskarr, lo melupakan boneka besar yang gue dapatkan kemarin dari pengagum rahasia gue, dan kemarin-kemarinya gue sering dapat kiriman bunga dan coklat, lo fikir itu artinya apa."


"Ciihh, cowok banci begitu lo agung-agungkan."


"Jangan katain dia banci." Icha menendang tulang kering Laskar untuk kedua kalinya.


"Isshh, gadis satu ini, hobi banget pake kekerasan, padahal perdamaian dunia sudah tercipta."


"Makanya kalau ngomong sortir dulu, jangan asal nyablak aja."

__ADS_1


"Habis, apa namanya kalau bukan banci, beraninya cuma jadi pengagum rahasia doank, gue nieh kalau suka langsung datangin orang tuanya, langsung gue bawa ke KUA."


"Omongan lo makin ngelantur aja." desis Icha.


Icha kembali berkata, "Ngomong-ngomong." Icha mendekatkan ponselnya didepan wajah Laskar, "Kenapa Leo sangat kurus, gak lo kasih makan ya." tuduh Icha bengis.


"Leokan emang kurus waktu kemarin kita mungut dia, fikir lo dalam waktu semalam bersama dengan gue bisa bikin dia berisi gitu, lo fikir gue ibu peri apa."


"Pokoknya ya Laskar, kasih Leo makanan yang bergizi tinggi, kasih minum susu..."


"Kasih mimik di elo ajalah biar dia cepat gemuk, minum susu murnikan lebih sehat dan bergizi."


Setelah mengatakan kalimat tersebut Laskar langsung tancap gas untuk menghindari amukan Icha.


"Laskarrr, dasar cowok mesum lo." teriaknya dengan kesal.


Icha lupa dia berada dimana, teriakannya tersebut mengundang orang yang berada diarea yang bisa mendengar teriakannya menoleh begitu cepat, tapi Icha yang urat malunya sudah putus malah cuek bebek, dia kembali melangkahkan kakinya dengan santai menuju kelas.


"Difikir sekolahan punya apa dia teriak-teriak kayak Tarzan begitu." omel tukang kebun sekolah yang saat itu tidak jauh keberadaanya dengan Icha.


****


Icha kembali menemukan bunga dan juga coklat dimejanya, entah mungkin dia sudah mulai luluh sehingga dia mengambil bunga dan coklat tersebut dengan suka cita, namun senyumnya ditahan agar dia tidak mendapat ledekan dari temen-temennya.


"Jadi penasaran gue sumpah, siapa sieh yang diem-diem suka sama lo Cha, tiap hari ngirimin lo bunga dan coklat, sweet banget." komentar Gita yang kebetulan baru datang dan berhenti didekat Icha dalam perjalanan menuju kursinya, "Lo gak penasaran."


"Gak, biasa aja." gumam Icha bohong, padahal dia penasaran banget.


"Ihh, lo mah beda dari yang lain." Gita melanjutkan perjalanan kebangku dibelakang.


Lea datang, namun dia tidak mau memandang Icha, Icha juga melakukan hal yang sama, dia malas membujuk Lea untuk berbaikan dengannya.


"Pagi bu." terdengar jawaban kompak.


Langsung tanpa basa-basi ibu Yuni berkata, "Baiklah semuanya hanya ada kertas dan polpen yang boleh ada diatas meja, yang lainnya masukkan ke laci."


"Maksud ibu, hari ini kita ulangan gitu, ." respon kaget Icha mendengar kalimat bu Yuni, "kenapa semua guru seneng banget ngasih ulangan mendadak."


Semua mata langsung tertuju pada Icha, "Kenapa pada mandangin gue, emang kata-kata gue salah." batin Icha melihat temen-temennya mandangin dia, padahal sebelumnya semuanya pasti pada kompak protes kalau ada ulangan dadakan begini.


"Makanya kuping kamu yang lebar itu kamu gunakan baik-baik untuk mendengar Icha, jangan hanya dijadikan sebagai pajangan doank." ujar bubYuni


Seisi kelas tertawa mendengar kalimat bu Yuni, "Minggu kemarin saya bilang apa anak-anak."


"Bahwa ibu akan mengadakan ulangan hari ini." jawab mereka.


"Nah, kamu dengar itu Icha, ibu sudah mengkonfirmasikannya minggu kemarin, makanya kalau ibu ngomong denger, jangan sibuk melamun saja."


Dalam hati Icha menjawab, "Enak juga melamun daripada denger suara ibu yang bikin ngantuk."


"Saya tidak mau melihat kalian nyontek, oleh karna itu saya akan memisahkan kalian dengan teman sebangku kalian." ujar bu Yuni.


"Yahhh." terdengar desah merana, kebanyakan dari mereka berharap jangan sampai diduduk bersama dengan teman yang pelit memberi jawaban.


Mulailah ibu Yuni memberikan intruksi, "Gita kamu duduk dengan Iqbal."


"Astaga, yang bener saja, kenapa gue harus duduk bersama sik pelit itu sieh." desis Gita dongkol.


Karna keputusan ibu Yuni tidak bisa diganggu gugat, Gita dengan ogah-ogahan pindah kesamping Iqbal.

__ADS_1


"Tenang sayang, nanti aku kirimkan jawaban." bisik Marhun sang pacar.


"Bagaimana caranya."


"Lewat hatiku, hehe." gombal Marhun.


"Ke laut lo." sungut Gita, dia ingin sekali memutilasi pacarnya itu.


"Lea kamu duduk dengan Ririn."


"Laskar kamu duduk dengan Marhun."


"Ya nasib, kenapa jadi begini, mana bisa nyontek kalau Marhun bloon begitu." Laskar terlihat merana dipasangkan dengan Marhun.


"Aslan kamu duduk dengan Icha."


Disaat Icha mati-matian menghindari Aslan, malah dia pasangkan bersama dengan Aslan, coba kalau hubungan mereka dalam kondisi normal, Icha pasti jejingkrakan saking senengnya duduk disamping Aslan yang super pintar, meskipun Aslan nauzubillah pelitnya dalam memberikan jawaban, tapi kalau duduk berdekatan begitukan bisa memiliki peluang besar untuk lirik-lirik.


Icha mencoba bernegosiasi, "Bu, saya duduknya dengan Teguh saja."


"Siapa yang guru disini."


"Ya ibulah."


"Ya udah, kamu gak punya hak protes dengan keputusan saya Icha."


Yah, apa mau dikata, dengan berat hati Icha melangkah kekursi di samping Aslan, begitu Icha mendudukkan bokongnya Aslan melihat sekilas kearahnya, bener-bener sekilas karna dia langsung menghadap kedepan kembali.


Setelah semuanya duduk sesuai dengan keinginannya, bu Yuni mulai membagikan soal. Semuanya berjalan dengan khidmat dan khusuk, kelihatanya, karna mereka gak mungkin grasak grusuk disaat bu Yuni dengan pandangan lasernya mengarahkannya kepenjuru kelas mencoba menemukan murid yang curang. Satu jam berjalan, namun tidak ada tanda-tandanya bu Yuni bakalan keluar kelas walau hanya sekedar pergi ketoilet, beberapa anak mulai gelisah karna tidak memiliki kesempatan nyontek, Icha salah satu dari yang gelisah tersebut karna masih banyak yang belum terjawab.


Tringggg.


Semuanya sontak kaget dan panik karna berfikir itu merupakan bel ganti pelajaran, "Anjirr, masak udah ganti pelajaran."


"Gue baru selesai setengahnya."


Kepanikan itu diredakan oleh kalimat bu Yuni "Maaf anak-anak, saya angkat telpon dulu."


Ternyata suara yang mirip dengan bel itu merupakan suara deringan ponsel bu Yuni.


"Astaga, bikin kaget saja, ada-ada saja, suara panggilan kok kayak suara bel." komen Nana.


Ini adalah sebuah mukzijat donk tentunya bagi mereka, memanfaatkan kesempatan dengan keluarnya bu Yuni dengan sebaik-baiknya untuk grasak grusuk untuk mencari contekan.


Aslan melihat, lembar jawaban Icha banyak yang belum terisi.


Tanpa disangka-sangka, untuk pertama kalinya Aslan menggeser jawabannya dengan perlahan kedepan Icha supaya Icha bisa menyalin jawabannya. Icha memandangnya keheranan, dalam hati berkata, "Mungkin satu jam lagi dia bakalan mati makanya tiba-tiba berubah baik begini."


Ketika Icha masih disibukkan dengan ketidakpercayaan itu, Aslan berbisik, "Kalau lo gak mau, ya udah." dia akan menarik kembali jawaban itu, namun Icha menahananya.


Icha mengerahkan kekuatan tangannya untuk menyalin huruf demi huruf jawaban Aslan, tanpa mempedulikan sekelilingnya, baginya dia harus cepat-cepat menyalin jawaban Aslan sebelum ibu Yuni masuk kembali, namun sialnya karna mereka duduk didepan, ibu Yuni yang baru masuk langsung melihat perbuatan Icha, dia mendekat dan melihat kertas jawaban milik Aslan.


"Sebuah kerjasama yang bagus." ujar bu Yuni terdengar sangat menyeramkan.


Icha mendongak dan menemukan wajah angker bu Yuni memandangnya, Aslan yang sibuk melamun sehingga tidak menyadari kedatangan malapetaka itu juga menolah ke arah bu Yuni.


"Jam istirahat temui saya dikantor." ujar bu Yuni menyita lembar jawaban Icha dan Aslan.


Baik Icha dan Aslan hanya bisa pasrah melihat lembar jawaban mereka disita tanpa bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


****


__ADS_2