
"Gimana udah baikan." tanya Aslan setelah Icha meminum air putih yang dia sodorkan.
"Hmmm."
"Lan, lo benaran serius sama Lea."
Aslan mengangguk, "Iya, Lea baik, lembut anaknya meskipun manja sieh, tapi itu bisa gue tolerir, karna samua cewek manjakan."
"Gue gak tuh."
"Iya kecuali lo." balas Aslan melirik Icha kesal karna kalimatnya dipotong, "Selain itu juga dia sahabat lo, jadi kalau gue sama Lea otomatis lo akan mendukung hubungan gue dengan penuh keihlasan, gak kayak hubungan gue sama Athena yang lo tentang." Aslan menjabarkan, "Yahh meskipun lo gak menentang secara terang-terangan, tapi gue tahu lo gak suka gue pacaran sama Athena."
"Hehe, iya juga." Icha memaksakan untuk tertawa menanggapi ucapan Aslan.
"Seharusnya gue bahagia mendengar Aslan serius sama Lea, tapi kok gue gak suka ya." Icha jadi bingung sendiri dengan dirinya sendiri, "Padahalkan dulu yang selalu menyemangati Lea untuk mendapatkan Aslankan gue, tapi kenapa setelah Lea berhasil mendapatkan Aslan, perasaan tidak suka selalu menghinggapi perasaan gue."
"Dan masalah perjodohan." tambah Aslan.
"Perjodohan ya." ulang Icha, dia telah melupakan hal tersebut.
"Lo gak perlu khawatir, ntar gue ngomong sama mama dan papa untuk membatalkan niat tersebut, gue yakin mereka pasti ngerti, hatikan gak bisa dipaksa."
"Iya mereka pasti ngerti." timpal Icha setengah hati.
"Gue lupa, kalau gue dan Aslankan dijodohkan, dulu gue yang ngebet meminta Aslan untuk ngomong sama mama dan papa untuk membatalkan perjodohan tersebut, tapi kok ya sekarang gue gak rela gitu."
Icha melirik Aslan yang sibuk menghabiskan mi instannya, "Apa jangan-jangan gue..."
"Akhhhhhh...gak mungkin." jerit Icha diluar kesadarannya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengingkari perasaannya.
Jeritan Icha membuat Aslan yang duduk tenang disampingnya tentu saja berjengit kaget, "Ichaa, lo kenapa." tanyaya khawatir.
"Gak mungkin, gak mungkin." Icha malah makin heboh menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gak mungkin apa." tanya Aslan bingung, "Aduhh..jangan bilang nieh anak kesurupan." Aslan jadi takut melihat gelagat Icha yang seperti orang yang kesurupan, Aslan jadi inget disekolah, setiap hari senin ketika upacara bendera, pasti saja ada kaum cewek yang kesurupan, dan meskipun cewek sering mendapatkan predikat sebagai kaum yang lemah, tapi kalau udah kesurupan, beuhhhh, tenaganya udah ngalah-ngalahin gajah dewasa, perlu lebih dari lima orang yang megangin, dan hal itu semakin membuat Aslan khawatir, kalau Icha beneran kesurupan diakan gak mungkin bisa menangani Icha sendirian.
Bukannya menjawab kebingungan Aslan, Icha malah pergi berlari meninggalkan Aslan.
"Kenapa sieh tuh anak." memandang punggung Icha yang menghilang, "Tapi syukurlah sepertinya dia gak kesurupan."
****
__ADS_1
Dikamar.
Seperti yang sudah-sudah, karna gak mungkin pulang karna sudah pasti mama tirinya tidak akan sudi membukakannya pintu, Icha ya sudah pasti nginep dikamar Aslan.
"Aslan." tegur Icha begitu Aslan menyusulnya ke kamar, "Maaf ya yang barusan, gue teriak-teriak gak jelas."
"Lo kenapa sieh memang, sampai kaget kok gue tadi, gue fikir lo kesurupan."
"Gak apa-apa kok."
"Gak apa-apa kok teriak."
"Akhh itu..." Icha gak tahu harus beralasan apa, "Sudahlah jangan difikirin, gak penting."
Aslan tidak berusaha mencecar Icha, dia malah memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, terdengar suara gemericik air begitu Aslan memasuki kamar mandi.
Karna yakin Aslan tidak akan keluar dalam jangka waktu lima menit, Icha berniat mengganti bajunya dengan baju milik Aslan, namun dugaan Icha meleset, karna Aslan keluar lebih cepat dari perkiraannya.
Icha yang saat ini tengah membelakangi pintu kamar mandi tidak mengetahui ketika Aslan keluar, dia sibuk membuka kancing bajunya.
Sementara itu diambang pintu, Aslan tertegun memandang punggung Icha, bukan karna dia punya fikiran mesum atau semacamnya, hanya saja tato dipungung Ichalah yang membuatnya memandang punggung Icha dengan intens.
Icha baru menurunkan setengah bajunya ketika dia mendengar Aslan memanggilnya.
Aslan menahan kemeja Icha yang belum dinaikkan sempurna untuk melihat tato dipunggung Icha secara jelas.
"Lann, lepas, apa-apaan sieh lo, jangan macam-macam deh kalau gak mau gue hajar." protes Icha melihat tangan Aslan menahan bajunya.
"Berisik." tandas Aslan.
Setelah puas melihat tato tersebut Aslan melepaskan tangannya pada baju Icha dan membiarkan Icha menaikkan bajunya dan mengancinginya.
Sebelum Icha berniat kembali marah-marah karna perlakuan Aslan yang tidak terduga, Aslan terlebih dahulu bersuara,
"Sejak kapan lo punya tato." tanya Aslan dingin.
"Ohhh, itu yang membuat lo menarik baju gue, gue fikir lo mau macam-macam, hampir saja gue lepas kendali nonjok lo." Icha berbalik dan berhadapan dengan wajah Aslan yang terlihat menahan amarah.
"Heh, kok Aslan terlihat marah gini sieh, masak iya gara-gara tato dipunggung gue."
"Hanya orang bar-bar yang menyakiti kulitnya yang berharga." suara Aslan terdengar sadis, "Kalau lo mau ngegambar, gue bisa beliin lo kampas, gak perlu pakai nyakitin kulit lo segala."
__ADS_1
"Akhh beneran ternyata dia marah hanya gara-gara tato doank." batin Icha membenarkan praduganya.
"Heran gue sama lo, dari sekian banyak hal positif yang bisa lo lakuin, lo malah mentato kulit lo yang gak ada faedahnya sama sekali."
Seharusnya yang Icha lakukan saat ini adalah diem, tapi dia malah berkata, "Tapikan keren Lan."
"Buat apa keren kalau tato dilarang oleh agama."
Icha langsung kicep, gak tahu harus menjawab apa kalau urusannya masalah agama.
"Jangan bilang Lea juga punya tato." tanya Aslan curiga, karna setahunya Icha dan Lea sering kompakan dalam melakukan apapun.
"Gak kok, Lea gak punya tato, bersih dan mulus kulitnya, lo gak perlu khawatir." jelas Lea.
"Baguslah, karna kalau dia punya tato, gue gak segan-segan buat mutusin dia."
"Sadis amet sieh lo."
Aslan melenggang ke tempat tidur, menjatuhkan dirinya disana, "Karna gue lagi marah sama lo, lo mending tidur dibawah."
"Jahat banget sieh." dumel Icha kesel.
Namun besoknya begitu bangun, Icha menemukan dirinya dikasur.
"Ehh, kok gue bisa disini." Icha langsung bergeser kepinggir dan menengok ke bawah, disana dia melihat Aslan tertidur, Icha tersenyum, "Akhh Aslann, semarah-marahnya dia dengan gue, dia gak mungkin tega ngebiarin gue tidur dibawah." gumamnya tidak lepas memandang wajah Aslan yang tertidur lelap, "Dia pasti yang telah mindahin gue semalam ke atas tempat tidur."
"Dia jadi manis kalau tidur begini." Icha terus memperhatikan Aslan, dan tiba-tiba saja jantung Icha berdetak tak menentu, Icha memegang jantungnya yang menurutnya saat ini dalam kondisi tidak normal.
Deg
Deg
"Gue tahu Aslan memang ganteng, tapi selama ini gue gak pernah mempedulikannya, karna dia sahabat gue, orang yang sejak dulu gue blacklis dari daftar cowok yang ingin gue jadiin pendamping." Icha terus bercloteh dalam hati sambil memandang wajah Aslan, "Tapi kok sekarang semuanya berbeda, kenapa gue menyukainya disaat dia telah bersama Lea sahabat gue dan begitu juga dengan gue yang saat ini telah bersama dengan Laskar." Icha akhirnya mengakui perasaanya, "Ini salah, ini jelas salah, tidak seharusnya ini terjadi." bingung dan merasa bersalah itulah yang saat ini Icha rasakan, meskipun dia bisa memendam perasaanya sama Aslan, tapi tetap saja dia merasa bersalah dengan Lea dan Laskar.
****
Baiklah, masalah tato sepertinya tidak bisa ditolerir, itu terbukti Aslan tidak mau bicara dengan Icha dan konsisten menampilkan wajah super datar.
Karna gak mau Aslan terus-terusan nyuekin dia, Icha mengalah dan berkata, "Pulang sekolah, nieh tato akan gue hapus."
Gak ada respon dari Aslan, dia fokus menyetir.
__ADS_1
"Menyabalkan banget sieh dia, bete gue."
***