Cinderela Modern

Cinderela Modern
BOLOS


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju kelas, tiba-tiba Laskar meraih pergelangan tangan Icha yang menyebabkan Icha menghentikan langkahnya.


"Kenapa."


"Malas gue belajar, mau kesuatu tempat gak."


"Bolos maksudnya."


Laskar mengangguk.


"Sepertinya itu ide yang bagus."


Laskar menyunggingkan senyumnya begitu Icha menyetujui sarannya.


Karna mereka telah sepakat untuk bolos, mereka berjalan berlawanan arah dari kelas mereka.


"Tapi pasti kita gak akan berhasil Cha, pak Salim pasti gak akan ngebiarin kita pergi." ujar Laskar mengingat pak Salim yang sudah pasti tidak akan membukakan mereka gerbang.


"Pakai otak lo kalau berfikir, ya kali kita lewat depan dan minta izin sama pak Salim untuk bolos, ya jelaslah gak dikasih, yang ada kita digiring ke istananya yang mulia bu Dewi."


"Teruss, gimana kita bisa keluar."


"Kemana aja lo selama ini, percuma lo bergabung dengan geng kami kalau lo gak tahu jalan aman untuk bolos."


Icha meraih pergelangan tangan Laskar dan menariknya kebelakang sekolah, "Sini gue tunjukin jalannya."


"Ohh, jadi jalan yang lo maksud belakang sekolah."


"Hmmmm."


"Motor gue gimana."


"Sudah biarin aja, kita pakai angkutan umum saja."


Icha melompat meraih bagian tembok paling atas dan dengan ringannya dia mengangkat tubuhnya untuk menaiki tembok.


Laskar hanya melongo melihat kemampuan pacarnya dalam hal panjat memanjat, meskipun dia tahu pacarnya bukan wanita biasa, tapi tetap saja dia memandang Icha dengan pandangan gak percaya kalau pacarnya ini adalah wanita luar biasa yang bisa melakukan banyak hal.


"Heh, kenapa bengong sieh, cepetan naik, ntar ketahuan." tegur Icha.


"Iya iya."


Setelah melewati tembok belakang sekolah, kini mereka berada dijalan raya, menunggu angkutan umum, belum jelas sieh kemana tujuan mereka, yang jelas untuk saat ini mereka harus jauh-jauh dari area sekolah dulu baru memikirkan mana tempat yang ingin dituju.


Laskar menyetop angkot pertama yang dilihatnya dan mengajak Icha masuk.


"Kita mau kemana nieh Cha."


Icha terlihat berfikir sejenak sebelum dia berkata, "Rasanya gue ingin mengunjungi suatu tempat."


"Kemana."


"Ntar juga lo tahu."


Dan Laskar tidak mengajukan pertanyaan lagi.


Beberapa saat kemudian, suara tangisan bayi menjadi soundtrak perjalanan mereka karna kebetulan mereka duduk berhadapan dengan ibu-ibu yang tengah menggendong bayinya.


"Cup cup, jangan nangis sayang." sik ibu berusaha menenangkan bayinya, tapi sik bayi tidak berhenti menangis.


"Diem sayang, tangisan kamu mengganggu penumpang lainnya." sik ibu menjelaskan pada anaknya, tapi mana mengerti sik bayi kalau suara tangisnya bikin orang terganggu.


"Sini bu." Laskar meraih bayi itu dari pangkuan ibunya, sik ibu hanya nurut lagi gak berusaha mencegah bayinya diambil oleh orang asing, ya meskipun Laskar tidak berniat menculik sik bayi sieh, tapi tetap saja seharusnya sik ibu tidak membiarkan bayinya diambil gitu saja oleh orang yang baru ditemuinya.

__ADS_1


"Laskar apaan sieh lo, kasih ke ibunya." protes Icha.


Bukannya menuruti perintah Icha, Laskar malah berusaha menenangkan bayi asing yang baru pertama kali dijumpainya, "Haii cantikk, jangan nangis ya, ntar kakak cubit lho pipinya yang embul ini." disertai dengan senyuman sejuta watnya.


Ajaibnya, sik bayi langsung berhenti nangis, sik bayi dengan mata polosnya menatap Laskar seakan-akan mengerti kalau laki-laki yang kini menggendongnya adalah laki-laki tampan.


"Ehh, berhenti dia nangis." komen Icha antara takjub dan tidak percaya dengan kamampuan Laskar sambil bergantian memandang Laskar dan sik bayi.


"Kayaknya dia suka sama lo Las."


"Sama kayak kamu ya."


"Maksud lo."


"Kamu dan dedek bayi sama-sama suka sama aku."


"Ishhh, apaan sieh."


Ibu sik bayi tersenyum melihat bayinya kini sudah tenang, "Makasih ya dek."


Laskar hanya memberi senyuman sebagai jawaban.


"Riri memang suka rewel, gak terlalu suka ditempat yang rame." sik ibu malah curhat.


"Ooo, gadis cantik ini namanya Riri tho." tukas Laskar mencubit pipi cabi Riri.


Icha tersenyum melihat intraksi antara Laskar dan bayi kecil bernama Riri itu, dia tidak pernah menyangka kalau Laskar ternyata menyukai anak-anak, Icha mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera ponselnya untuk mengambil gambar Laskar yang tengah menggendong Riri.


"Lo udah cocok jadi bapak Las."


"Oh ya, kalau gitu lo mau donk gue nikahin." jail Laskar menaik turunkan alisnya menggoda Icha.


"Apaan sieh lo, dasar genit, masih sekolah juga." Icha tersenyum malu.


"Apaan sieh, gak." tolak Icha langsung.


"Ayoklah, gak apa-apakan mbak kalau kami pinjem anaknya untuk foto bersama." Laskar meminta izin.


"Gak apa-apa dek, silahkan foto bersama sama Riri."


Laskar menyerahkan ponselnya pada sik Ibu, "Tolong fotoin kami ya mbak."


Sik ibuk mengambil ponsel yang disodorkan Laskar.


"Cha, ayok sini dekatan, biar kayak keluarga bahagia gitu."


Icha akhirnya menuruti permintaan Laskar, dan setelah mengambil beberapa foto, sesi foto dadakan itu berhenti.


"Baguskan Cha, kita kayak keluarga kecil yang bahagia." gumam Laskar begitu melihat hasil foto tersebut.


"Hmmmm."


"Pa pa pa." gumam sik kecil Riri, tangan kecilnnya menggapai-gapai wajah Laskar.


"Hahaha." Icha tertawa, "Lo dipanggil papa Laskar."


Laskar tersenyum canggung, dan mengembalikan bayi perempuan itu pada ibunya setelah dirasanya sik bayi tidak akan menangis lagi.


"Sekali lagi makasih ya dek atas bantuannya."


Laskar mengangguk.


Icha merogoh sakunya karna mendengar suara notifikasi chat yang masuk ke ponselnya yang dikirim oleh Lea, begini bunyinya.

__ADS_1


Hehh, lo dimana, lama amet, bu Yuni udah masuk nieh.


Izinin gue donk, tiba-tiba aja perut gue mules. bohongnya.


Mules? yang benar saja lo, tadi lo baik-baik saja. Jelas saja Lea tidak percaya dengan Icha.


Yang namanya sakitkan mana bisa diprediksi Le.


Gak percaya gue, Laskar juga gak ada, jujur saja sama gue, lo sama Laskar dimana.


Ternyata memang lo gak bisa dibohongin. oke deh gue ngaku, gue sama Laskar bolos, lagi malas belajar. balas Icha enteng.


Pacaran maksud lo.


Ya sejenis itulah.


Gak bisa apa lo sama Laskar tunggu pulang sekolah dulu baru pacaran, mau jadi apa lo berdua kalau bolos hanya untuk pacaran. Ceramah Lea.


Tutup mulut, mending lo fokus saja belajar, agar jadi orang yang sukses oke, jangan kayak gue dan Laskar.


Menyebalkan lo.


Titip tas gue oke. balas Icha mengakhiri.


****


"Berhenti bang." perintah Icha.


Setelah membayar ongkos, dengan matanya Laskar menjelajah tempat dimana Icha minta diturunkan, sebelum dia sempat bertanya, Icha sudah menarik pergelangan tangannya menuju penjual bunga yang ada diseberang jalan.


"Lo mau beliin gue bunga Cha."


"Ya gaklah."


Setelah membayar Icha kembali berjalan, hanya lima menit ketika kakinya dilangkahkan memasuki gerbang sebuah pemakaman umum.


"Pemakaman, apa Icha mau kemakam orang tuanya." Laskar bertanya dalam hati mengingat kedua orang tua Icha sudah tiada.


"Maaf ya Laskar, gue ngajak lo ke pemakaman."


"Kamu mau ke makam orang tua kamu."


Icha mengangguk, "Sudah satu bulan gue gak pernah jengukin mereka, biasanya sieh gue sering datang sama Aslan."


Icha menghentikan kakiny dimakam yang dituju, Icha duduk diantara dua makam yang saling berdekatan, bisa dipastikan itu adalah makam papa dan mamanya, Laskar juga ikut duduk disamping Icha.


Di masing-masing makam terdapat bunga yang tidak sepenuhnya layu, sepertinya entah itu kemarin ada orang yang datang menziarahi makam tersebut.


"Apa Aslan sering datang kemari ya, kok dia gak pernah ngajakin gue." Icha membatin begitu melihat bunga yang ada diatas makam kedua orang tuanya.


"Hai pa." Icha melirik makam papanya dan meletakkan satu buket bunga yang dibelinya diatas makam, dan setelah memberikan sapaan, Icha menolehkan wajahnya kemakam disebelahnya yang tidak lain adalah makam mamanya, "Hai ma." Icha tersenyum dan juga meletakkan bunga satunya lagi diatas makam mamanya, "Ini Icha, anak mama dan papa, mama dan papa gimana kabarnya disana, Icha berharap kalian selalu bahagia, maafin Icha ya baru datang menjenguk kalian, jangan bilang Icha anak durhaka ya." sambil tangannya membersihkan daun-daun yang mengotori makam orang tuanya, "Oh ya ma, pa, Icha mau memperkenalkan seseorang, dia adalah Laskar, pacar Icha." Icha mengalihkan perhatiannya pada Laskar yang tersenyum tipis.


Laskar kemudian memperkenalkan dirinya secara resmi, "Halo tante, om, perkenalkan saya Laskar, calon mantu masa depan kalian, restuilah hubungan kami." ujar Laskar, "Kalian tidak usah khawatir dengan Icha, Laskar akan selalu menjaganya dan melindunginya." janji Laskar, "Terimakasih karna telah membuat Icha hadir didunia ini." Laskar meraih jemari Icha dan menggenggamnya, "Dia wanita yang spesial buat Laskar, dia yang selalu mewarnai kehidupan Laskar, Laskar berjanji akan membahagiakannya."


Icha merebahkan kepalanya dipundak Laskar, dia terharu mendengar janji Laskar, selain itu juga, Icha teringat dengan Aslan, Aslan selalu mengucapkan kalimat yang hampir sama dengan Laskar, yaitu berjanji untuk selalu menjaga Icha dan membahagiakannya, dan Aslan memang selalu menjaga Icha dan membahagiakan Icha dengan caranya sendiri, tentunya sebagai seorang sahabat.


Dengan satu tangannya Laskar membelai kepala Icha, Laskar melanjutkan, "Kalian beristirahatlah dengan tenang, sekarang, biarlah Laskar yang mengambil alih tanggung jawab kalian."


"Terimaksih karna telah mencintaiku." lirih Icha menguatkan tautan jarinya dengan Laskar.


"Aku akan selalu mencintaimu." mencium puncak kepala Icha, itu merupakan ciuman pertama mereka.


****

__ADS_1


__ADS_2