
Icha bangun pagi-pagi sekali, setelah membersihkan apa yang harus dia bersihkan dan menyiapkan sarapan untuk keluarga tirinya, dan setelah itu dalam gerakan cepat dia mandi dan mengenakan seragamnya dan langsung tancap gas, alasannya melakukan semua ini adalah satu yaitu menghindari Aslan, dia gak mau berangkat dengan Aslan, dia berjalan menuju jalan raya untuk menunggu angkutan umum dan menyetop angkot pertama yang dilihatnya.
Bisa dibilang ini untuk pertama kalinya Icha naik angkutan umum, karna dari dulu Aslanlah yang selalu memberinya tumpangan, angkot yang ditumpanginya penuh sesak oleh ibu-ibu yang sepertinya akan pergi kepasar, hanya ada dua orang pria di angkot itu.
"Berhenti bang." ujar salah seorang laki-laki itu.
Ketika angkot berhenti dan sik laki-laki keluar dengan terburu-buru, terdengar suara teriakan nyaring dari salah satu ibu-ibu penumpang angkot.
"Copetttt, tolongggg."
Icha tidak tinggal diam, dia langsung keluar dan mengejar pencopet tersebut.
"Woe, berhenti lo."
Percuma saja Icha bilang begitu, mana mungkin tuh copet berhenti, malah larinya makin kenceng.
"Sialan, dia mau main-main dengan gue." Icha melepas tas punggungnya dan dengan kekuatan penuh melemparnya kearah sik copet, berhasil, sik copet langsung terjatuh ditrotoar kena hantaman tas Icha dengan wajah duluan mencium aspal. Icha langsung mempercepat larinya kearah sik pencopet, menarik kerah bajunya sehingga sik copet berdiri, Icha memberi tonjokan diperut sik copet beberapa kali, "Mana dompet yang colong."
"Gue gak nyolong." sik copet gak mau ngaku.
Icha kembali mengarahkan kepalan tangannya ke perut sik copet, "Masih gak mau ngaku lo hah."
"Ampun, ampun." copet itu terbatuk-batuk memegang perutnya.
"Mana dompetnya."
Sik copet mengambil dompet yang dicolong dari kantong jaketnya dan menyerahkannya pada Icha.
Dengan dompet yang sudah berpindah ditangannya Icha memukul kepala sik copet, "Sekali lagi gue lihat lo ngambil benda yang bukan milik lo, gue habisin lo." ancam Icha, "Sana lo jauh-jauh."
Copet itu berlari, sesekali menoleh kebelakang, mencoba melihat apakah Icha mengejarnya atau tidak.
Icha kembali ke angkot, dan semua penumpangnya sudah turun dan bertepuk tangan begitu melihat Icha berhasil mengalahkan sik pencopet, Icha jadi merasa bangga pada dirinya sendiri.
"Nieh bu dompetnya." Icha menyerahkan dompet berwarna biru kepada ibu-ibu yang tadi dicopet.
"Makasih sekali lho nak, kamu pemberani sekali, kamu bener-bener hebat bisa mengalahkan pencopet itu, padahal kamu perempuan."
"Ah, itu sieh udah biasa bu." lisan Icha, "Cuma cowok cemen model begituan sekali jentik juga langsung tumbang, guekan biasanya menghajar pentolan SMA Tunas Harapan." batin Icha
"Saya tidak tahu bagaimana jadinya kalau tidak ada kamu." ibu-ibu itu terlihat berterimakasih sekali karna pertolongan Icha.
"Itu sudah kewajiban saya bu."
Ibu itu membuka dompetnya, Icha buru-buru menahan, "Gak usah bu, saya ikhlas kok beneran."
"Saya tahu kamu anak baik dan pastinya ikhlas nolongin saya, tapi saya juga ikhlas kok, ambillah sebagai uang jajan." ibu itu menjejalkan dua lembar uang berwarna merah disaku seragam Icha.
"Apa boleh buat, mungkin ini rizki gadis sholehah." gumamnya dalam hati.
****
Aslan berulangkali menelpon Icha, tapi nihil, satupun panggilannya tidak ada yang diangkat, sehingga dia berinisiatif memanggil Icha dirumahnya.
"Permisi tante, Ichanya...." Aslan langsung menghentikan kalimatnya begitu melihat penampilan mama Dea yang heboh dan menor, sebagai gantinya Aslan malah bertanya, "Tante mau kemana."
"Gak kemana-mana, emangnya kenapa."
"Habisnya dandanan tante.."
__ADS_1
"Cantik ya." potong mama Dea, "Iya banyak yang bilang begitu sama tante Lan, dan tante fikir, kapan dan dimanapun tante harus terlihat cantik dan menawan." ujarnya percaya diri.
"Cantik apaan, dia lebih mirip ondel-ondel." batin Aslan.
"Oh ya, Aslan mau nyari Lola atau Loli." tanya mama Dea.
"Icha tante, saya mau nyari Icha." Aslan meluruskan.
"Oh, nyari dia." ujar mama Dea kelihatan kecewa, dalam hati berkata, "Kenapa sieh anak jelek dan dekil itu yang selalu dicari, padahal Lola dan Loli jauh lebih cantik kemana-mana, apa sieh hebatnya dia."
"Ichanya adakan tan."
"Maaf membuat kamu kecewa Aslan, Icha, anak itu sepertinya sudah berangkat pagi-pagi sekali."
"Sudah berangkat tante." tanya Aslan tidak percaya, "Dia bener-bener menghindari gue." batin Aslan.
"Ya udah tante, kalau gitu Aslan berangkat dulu." pamitnya, namun ditahan oleh mama Dea.
"Eh Aslan."
Aslan berbalik.
"Bolehkan tante minta tolong."
"Gak boleh, malas banget nolongin tante rubah ini." jawabnya dalam hati, jawabnya dilisan, "Tante mau minta tolong apa."
"Semoga gue jangan disuruh ngasih tebengan untuk anak-anaknya yang alay itu." harapan Aslan dalam hati.
Ternyata harapan Aslan tidak terkabul, karna mama Dea berkata,
"Tolong ya Aslan sekalian anterin dua bidadari tante Lola dan Loli, kaliankan satu sekolah."
"Nyesel gue kemari, kenapa gue tidak langsung berangkat saja tadi." desah Aslan dalam hati karna dia harus bertiga dengan rubah-rubah ganjen yang pasti bakalan bikin heboh dan berisik dimobilnya, tapi ya gak enaklah dia menolak.
"Wah, ada Aslan ganteng, jangan bilang datang buat ngapelin mama." goda Loli, "Sama Loli saja ya Aslan, mamakan udah tua dan peot, Loli masih cantik dan kenceng lho."
"Apa sieh lo, kalau ngomong jangan sembarangan." semprot Lola.
Mama Dea memukul lengan Loli, "Sudah mama bilang, kalau ngomong tuh jangan asal nyecos saja." kesal mama Dea, "Maaf ya Aslan atas perlakuan Loli."
"Terus Aslan mau ngapain datang kemari."
Aslan akan menjawab, tapi didahului oleh mama Dea,
"Aslan kemari mau ngajak kalian berangkat bareng donk."
"Siapa yang mau ngajakin bareng, gue mana tega bilang tidak, fitnah saja."
Loli yang yang tidak tahu malu jejeritan, "Asyiikk bisa berduaan dengan Aslan."
"Enak saja, lo fikir cuma lo doank yang bakalan diangkutin sama Aslan, gue juga yakan Lan."
"Hmmm."
"Ayok Aslan kita berangkat, ntar kita telat lagi." Loli dengan ganas gelantungan dilengan Aslan, menarik Aslan menuju mobil Aslan yang terparkir.
Belum apa-apa, Lola dan Loli bertengkar berebutan ingin duduk didepan, hal itu membuat kepala Aslan jadi pening, ingin rasanya dia meninggalkan dua mahluk jadi-jadian itu.
"Sudah jangan bertengkar kalian, sudah besar begini kelakuannya kayak anak TK saja." mama Dea menengahi.
__ADS_1
"Loli nieh ma."
"Kok lo nyalahin gue, ya elolah, ngalah duduk dibelakang."
"Mama bilang cukup." bentak mama Dea, "Kalian suit saja untuk menentukan siapa yang duduk didepan."
Bener-bener kekanak-kanakan, tapi toh dilakukan oleh dua mahluk labil itu, dan setelah ditentukan, Lolilah yang duduk didepan, Loli jejeritan karna kesenangan.
"Yeyy, gue yang duduk didekat Aslan, lo duduk dibelakang, hus hus sana." usir Loli sambil menirukan gaya Syahrini.
"Dasar resek." umpat Lola.
"Bisa gak dia gak norak begitu." gumam Aslan tanpa suara.
Didalam mobil kondisinya tidak lebih baik, Lola dan Loli ngoceh tanpa batas.
"Mobil Aslan bagus banget, wangi lagi, tapi Aslan jauh lebih wangi sieh, bikin Loli ingin meluk."
Aslan berjengit, seolah-olah Loli adalah kotoran atau apa yang akan mengotori seragamnya.
Lola memukul kepala Loli dari belakang, "Bisa gak lo gak norak, malu-maluin saja."
"Bisa gak lo gak usah main tangan, ntar kalau gue luka gimana, tapikan ada Aslan yang bakalan nolongin gue, ya kan Aslan." Loli mengedipkan matanya ganjen.
Aslan tidak putus-putusnya berdoa dalam hati, "Sabarkan hamba ya Allah menghadapi dua setan nyata ini."
"Ganjen banget sieh lo."
"Emang lo gak."
Dan belum setengah jalan, mobil Aslan tiba-tiba mogok.
"Alhamdulillah." gumam Aslan menyuarakan suara hatinya.
"Mobilnya kenapa Lan."
"Mogok." jawab Aslan santai.
Aslan lebih memilih mobilnya mogok daripada harus berlama-lama bersama dua gadis alay bin labil ini.
Aslan turun dari mobilnya diikuti oleh Lola dan Loli.
"Yah kok mogok sieh, padahal baru saja ngerasain berada didekat Aslan." ungkap Loli kelihatan kecewa berat karna gak bisa berlama-lama didekat Aslan.
"Terus gimana donk."
"Ya gak gimana-gimana, lo berdua harus naik apa gitu, banyakkan angkutan umum berseliweran."
"Terus mobilnya."
"Ntar gue suruh orang bengkel yang ngambil."
"Gimana kalau kita naik taksi saja, kan muat tuh untuk kita bertiga." Lola menyarankan.
Aslan buru-buru membantah, "Gak gak, lo berdua saja, gue naik ojek saja." ujar Aslan langsung menyetop motor tukang ojek, Aslan begitu lega bisa lepas dari kedua rubah kembar tersebut sampai ingin sujud syukur rasanya dia.
"Aslannn, kok Loli ditinggalin sieh."
"Daripada lo merengek begitu, mending lo stop tuh taksi yang bakalan lewat."
__ADS_1
****