
Pulang sekolah.
Icha dan Lea berjalan keluar sekolah karna didepan Ucup sopir Lea sudah menunggu mereka, Icha rencananya akan ke rumah Lea karna sudah lama tidak pernah main kesana.
Ketika mereka sudah diluar gerbang sekolah, Diana yang sejak tadi menunggu Icha disana berjalan menghampiri Icha begitu melihatnya.
"Icha." tegurnya membuat Icha dan Lea otomatis menoleh ke sumber suara.
"Diana." Icha mengerutkan keningnya heran menemukan Diana ada diarea sekitar sekolahnya.
"Siapa Cha." reflek Lea bertanya melihat gadis yang tidak dikenal menyapa Icha.
"Mantannya Laskar." bisik Icha.
"Ohh." begitu mengetahui kalau yang saat ini nyamperin mereka adalah mantan Laskar, Lea langsung memperhatikan Diana dari ujung kepala sampai ujung kaki, "Cantik ." Lea memuji dalam hati.
"Lo ngapain disini." Icha memperhatikan Diana yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya, dan sejak pertemuan dirumah sakit kemarin, kini Diana terlihat baik-baik saja.
"Gue mau ketemu sama lo."
"Ketemu sama gue, mau ngapain."
"Gue mau ngomong sama lo."
"Ngomong aja."
"Gak disini."
"Lo mau ngomong apa, kayak penting aja."
"Gue mau ngomongin hal yang sifatnya pribadi sama lo."
Icha sebenarnya malas karna menurut Icha dia gak punya urusan sama Diana, tapi karna Diana datang jauh-jauh menemuinya, dengan terpaksa dia mengiyakan, "Oke."
"Le, tunggu sebentar ya."
Lea mengangguk.
"Ikut gue." perintah Icha.
Diana mengekori Icha dibelakang.
Ditempat yang agak sepi, hanya satu dua orang yang lalu lalang, Icha berhenti dan membalikkan badannya menghadap Diana yang juga otomatis berhenti melihat Icha berhenti.
"Lo mau ngomong apa."
"Gue mau lo jauhin Laskar." tembak Diana langsung pada intinya tanpa basa-basi.
Icha mengerutkan keningnya mencerna ucapan Diana, "Kenapa gue harus jauhin Laskar." menurut Icha, Diana gak punya hak sama sekali menyuruhnya menjauhi Laskar, apalagi Diana cuma mantan, seharusnya dia yang mengatakan hal tersebut ke Diana karna dia adalah pacar Laskar, mengingat Diana selalu ngejar-ngejar Laskar meskipun tahu Laskar punya pacar.
__ADS_1
"Karna gue cinta sama Laskar."
"Emang kenapa kalau lo cinta, karna lo cinta terus lo punya hak gitu nyuruh gue ninggalin Laskar." ketus Icha kesal, ternyata Diana kembali kesifat aslinya, menyesal Icha kemarin sempat kasihan dan bersimpati padanya
"Lo seharusnya sadar Cha, Laskar sebenarnya tidak pernah cinta sama lo, dia cintanya cuma sama gue, dia jadiin lo pacar hanya untuk membuat gue cemburu, dalam artian lo hanya pelampiasan."
"Gak jelas lo." tandas Icha berniat pergi karna menurutnya Diana hanya membuang-buang waktunya saja dengan omongan gak pentingnya.
Icha melewati Diana, namun Diana menarik tas Icha membuat langkah Icha terhenti, "Gue belum selesai."
Icha langsung menepis tangan Diana dengan kasar, "Gue gak peduli lo selesai atau belum, gue gak mau ngabisin waktu berharga gue hanya untuk mendengarkan ocehan konyol lo."
"Ishhh." Diana yang terbawa emosi tanpa ampun menarik rambut Icha.
"Aww." Icha meringis keskitan, "Lepasin Diana sebelum lo menyesal dengan apa yang lo perbuat." bentak Icha mengancam, Icha hanya memberi kesempatan pada Diana untuk melepaskan rambutnya karna Diana adalah cewek, coba kalau cowok, Icha langsung akan memberikan bogeman mentahnya.
Karna beda sekolah, tentu saja Diana tidak tahu reputasi Icha yang terkenal hoby tauran dan jago taekwondo, oleh karna itu bukannya melepas rambut Icha dia malah makin kuat menarik rambut Icha.
Icha hampir saja lepas kendali, tapi bertepatan dengan hal itu, derap langkah terdengar menghampiri mereka.
"Diana, apa yang lo lakuin." itu adalah suara Laskar yang datang menyusul atas informasi dari Lea, "Lepasin tangan lo dari rambut Icha."
Lea yang khawatir karna Icha belum juga kembali, ikut bersama Laskar menyusul Icha dan Diana.
"Cha." gumam Lea tidak terima melihat sahabatnya dijambak.
"Laskar." desis Diana
Laskar mengahampiri dua gadis tersebut, dan menarik Icha, "Kamu gak apa-apa Cha." tanyaya khawatir sembari memeriksa tiap inci wajah Icha takutnya Diana berbuat anarkis.
"Gak apa-apa kok, sedikit pusing aja karna rambut gue ditarik dengan cukup keras."
"Lo gak kenapa-napa Cha." tanya Lea menghampiri tiga orang tersebut.
"Gak apa-apa kok Le."
Laskar maklum kenapa Icha tidak membalas serangan Diana, itu karna Diana perempuan, beberapa bulan mengenal Icha, Laskar kurang lebihnya tahu sikap Icha yang menghindari berantem dengan perempuan karna takut kebablasan tidak bisa mengontrol diri.
Laskar kembali menatap Diana dengan tatapan bengis, melihat sorot mata Laskar yang menyeramkan, Diana merinding ketakutan, ini pertama kalinya dia melihat Laskar semarah ini padanya.
"Laskar aku..."
Tanpa membiarkan Diana membela diri, Laskar menarik Diana dengan kasar, Laskar menarik Diana sedikit menjauh, "Lo fikir apa yang lo perbuat barusan hah." bentak Laskar membuat Diana menciut.
"Laskar aku hanya..."
"Hanya apa." tukas Laskar dengan suara tinggi, "Jangan mentang-mentang gue baik sama lo terus lo ngelunjak, seharusnya lo sadar, gue ngelakuin itu karna gue gak tega nolak keinginan mama lo, gue lebih mementingkan lo daripada pacar gue itu karna gue menghormati mama lo." akhirnya Laskar mengeluarkan segala unek unek yang mengganjal dihatinya beberapa hari ini, karna tidak tega dengan mamanya Diana yang masih terbaring sakit, Laskar dengan terpaksa menuruti keingan mamanya Diana yang memintanya untuk memperhatikan Diana karna gadis itu terlihat kacau dengan kondisi mamanya, beberapa hari ini memang Laskar lebih banyak menghabiskan waktunya menemani Diana dan tidak memperhatikan Icha sang pacar.
Diana mulai menangis.
__ADS_1
Saking keselnya Laskar tidak peduli meskipun Diana menangis, cukup sudah dia mengorbankan perasaanya, dia berhak untuk bahagia bersama gadis yang dia cintai.
"Gue harap, mulai sekarang lo jangan mengusik hubungan gue lagi dengan Icha." Laskar memperingatkan.
Laskar berjalan menghampiri Icha meninggalkan Diana yang masih menangis.
"Laskarr, Las..."
Bahkan panggilannya Diana yang menyayat tidak dihiraukan oleh Laskar.
"Apa masih sakit kepalanya." tanya Laskar begitu didekat Icha.
"Udah gak kok."
"Itu kenapa kamu ninggalin Diana sendirian gitu, nangis lagi." Icha mengedikkan dagunya ke arah Diana.
"Udah gak usah fikirin dia."
"Mending aku anterin pulang ya."
Lea yang menjawab, "Kemana aja lo, kemarin-marin dibutuhin gak ada, sekarang ketika mantan lo bertindak anarkis lo mau baru mau nganter." sindir Lea.
"Iya sorry, kemarin-marin gue sibuk." sibuk nemenin Diana maksudnya.
"Sibuk apaan, sibuk selingkuh maksud lo." ceplos Lea asal karna kesel sama Laskar.
"Udah ah Le, jangan ngaco omongan lo." bantah Icha gak mau terjadi perdebatan.
"Las, gue mau kerumah Lea, jadi lo gak perlu nganterin gue." Icha memperjelas, "Sebaiknya lo anterin Diana aja, kasihan dia."
"Ehh, apa yang ada di otak lo sieh Cha." sahut Lea, "Masak iya lo ngebiarin Laskar nganterin mantannya, mana tadi dia jambak rambut lo lagi." Lea gak habis fikir dengan Icha.
"Ya gak apa-apa Le, gue kasihan aja sama Diana, nangis histeris gitu setelah dimarahi oleh Laskar."
"Kesambet setan apaan sieh lo tiba-tiba berhati mulia gini."
"Kesambet setan cantik dan baik hati bernama Lea." balas Icha asal.
"Ihh lo ada ada saja deh Cha, masak gue disamain sama setan."
Icha terkikik.
"Las, kamu mending sana gieh anterin Diana, kasihan dia."
"Kamu gak apa-apa kalau aku nganterin dia."
"Iya gak apa-apa."
Laskar hanya mengangguk mengiyakan keinginan Icha.
__ADS_1
***