Cinderela Modern

Cinderela Modern
NYAMAN


__ADS_3

Sebelum tidur biasanya Aslan membiasakan diri untuk minum air putih, dan ketika tangannya akan menjangkau gelas dinakas samping tempat tidurnya, Icha yang tengah menggelar kasur lantai karna rencananya dia akan tidur menemani Aslan, dan melihat hal tersebut buru-buru dia mendekati Aslan dan membantunya mengambilkan gelas berisi air putih tersebut.


"Kalau butuh bantuan bilang donk." ujarnya menyerahkan gelas tersebut.


"Gue bisa, gak perlu bantuan lo, cuma ambil air doank." Aslan mengarahkan gelas ke bibirnya.


Ketika Aslan akan meletakkan gelas itu kembali, Icha kembali mengambil alih gelas tersebut dari Aslan dan meletakkannya dinakas.


"Lebayy banget sieh lo." komen Aslan, karna menurutnya perlakuan Icha berlebihan.


"Bisa gak, lo bilang makasih aja."


"Iya makasih Icha." ujar Aslan setengah hati.


"Mending lo balik gieh sana, udah malam."


"Gue mau tidur disini." Icha membaringkan tubuhnya dikasur yang digelarnya, "Gue mau jaga lo, takutnya ntar lo diculik lagi sama kuntilanak."


Aslan mendengus, "Dalam dunia nyata gak ada yang namanya kuntilanak, itu hanya ada dalam imajinasi lo doank."


"Terserah deh, intinya gue mau tidur disini, nemenin lo titik." balas Icha tidak bisa dibantah.


Aslan menepuk tempat tidur kosong yang tersisa disampingnya, "Lo tidur disini deh Cha."


"Hahh." reaksi Icha kaget, "Tidur seranjang dengan lo maksudnya."


"Iya." Aslan menjawab tanpa beban.


"Jangan mentang-mentang gue baik ya jadi lo manfaatin kebaikan gue, lo mau ngapa-ngapain guekan, ayok ngaku." Icha jadi berfikiran negatif.


Aslan menimpuk Icha dengan bantal dan berhasil mengenai kepala Icha, "Aww." lenguh Icha, "Kok gue ditimpuk sieh."


"Biar otak lo yang kosong itu tidak berfikiran yang gak-gak, lagian siapa yang berniat macam-macam." Aslan mengklarifikasi.


"Habis lo ngajak gue tidur bareng."


"Ya gue mana tega ngebiarin lo tidur dilantai, guekan gak mungkin tidur dibawah karna kondisi tubuh gue belum sembuh sepenuhnya."


"Lo perhatian sama gue ternyata." lirih Icha setelah mengetahui maksud Aslan memintanya tidur diatas, "Tapi gue tidur dibawah saja deh, ntar lo khilaf lagi."


"Lo tidur diatas gak, atau gak, gue juga bakalan tidur dibawah." Aslan mengancam.


"Iya iya, gue tidur diatas." ujar Icha akhirnya karna ancaman Aslan.


"Lo gak bakalan macam-macamkan." Icha memastikan.


"Iya, gue cuma mau satu macam yaitu tidur."


Icha mengambil guling dan meletakkannya ditengah-tengah sebagai pembatas, "Nah ini batasnya, jangan sampai lo lewatin."


Aslan malah menyingkirkan guling tersebut, Icha melotot melihat Aslan melakukan hal tersebut.


"Apa yang lo....."


"Lo percayakan sama gue."


Pelan tapi pasti Icha mengangguk pelan, kalau ada orang yang dia percayai didunia ini yaitu adalah Aslan.


"Sini." perintah Aslan meminta Icha mendekat, dia merentangkan tangannya


Dan seperti dihipnotis Icha mendekat dan langsung memeluk Aslan, "Percaya sama gue, gue gak bakalan berniat jahat sama lo." bisik Aslan ditelinga Icha.


Icha mengangguk menikmati hangatnya pelukan Aslan.

__ADS_1


"Karna sebelum gue melakukan hal itu, gue udah babak belur duluan."


Icha terkekeh mendengar kalimat terakhir Aslan.


"Nyamannya." gumam Icha dalam hati sambil mengendus aroma tubuh Aslan, "Akhh, sejak kapan sieh aroma tubuh Aslan jadi memabukkan gini, dan sejak kapan coba jantung gue berdetak cepat kayak gini saat berdekatan dengan Aslan." heran Icha pada dirinya sendiri.


"Kenapa jantung lo berdetak tidak normal, lo sakit." tanya Aslan karna dalam posisi berpelukan jelas membuat Aslan bisa meraskan detak jantung Icha.


Icha buru-buru melepaskan pelukannya, "Gue gak kenapa-napa kok." Icha merasa malu.


Aslan memandangnya tidak percaya.


"Beneran gue gak apa." Icha langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Aslan, dia jelas malu jika Aslan melihat wajahnya yang memerah karna malu, "Udah malam, mending lo juga tidur."


"Hmmmm."


****


Karna merasa sudah sembuh, besok paginya Aslan memutuskan untuk masuk sekolah, sehingga pagi-pagi sekali dia sudah rapi dengan seragamnya, Aslan menggeleng melihat Icha masih tertidur dengan bibir menganga.


Dia menyentil kening Icha yang masih terlelap dalam tidurnya, "Bangun tukang tidur."


"Awww." Icha meringis ketika jidatnya kena sentilan, "Aslannn, bisa gak ngebanguninnya dengan cara baik-baik." protesnya.


"Kalau dibangunin dengan cara baik-baik lo gak bakalan mau bangun."


Icha manyun.


"Jangan manyun, jelek tahu, mending sana gieh siap-siap, ntar telat lagi kesekolah."


Icha baru memperhatikan kalau Aslan mengenakan pakaian seragam, hal tersebut membuatnya bertanya, "Lo mau sekolah Lan."


"Iya."


"Emang lo sudah sembuh." Icha bangkit dan berjalan mendekati Aslan.


"Beneran lo udah sehat." tanya Icha memastikan.


"Iya bawelll."


"Sekarang lo mandi sana." Aslan mendorong tubuh Icha keluar dari kamarnya.


"Iya iya gue keluar, gak usah dorong-dorong."


****


Icha tengah menunggu Aslan menjemputnya, sambil menunggu dia menyiram bunga mawar pemberian Laskar, bunga itu tumbuh subur karna rajin disiram oleh Icha, Icha masih ingat kata-kata Laskar, "Rawat bunga pemberian aku baik-baik ya Cha, karna itu sama dengan merawat perasaanmu ke aku."


"Laskar ada-ada saja." gumam Icha memperhatikan bunga mawar tersebut, "Aku sengaja memberikan bunga hidup karna bunga itu akan bertahan lama, sama seperti perasaanku yang tidak akan pernah mati untukmu." kembali kata-kata Laskar terngiang-ngiang, mengingat hal tersebut membuat Icha senyum-senyum sendiri.


"Perasaan kemarin bunganya ada tiga deh, kenapa sekarang tinggal satu." Icha bertanya-tanya, "Ini pasti sik rubah itu yang ngambil, kebiasaan banget sieh ngambil punya orang."


Disaat seperti itu, ponselnya berdering, dan panggilan tersebut dari Aslan.


"Lan gue nunggu...." kalimat Icha terhenti karna Aslan mengatakan.


"Chaa, sorry, bisakan lo berangkat sendiri, soalnya gue lagi jemput Lea."


Jelas gurat kekecewaan tercetak diwajah Icha, "Ohh, gak apa-apa kok."


"Maaf ya Cha, besok-besok kita berangkat bareng deh."


"Hmmm."

__ADS_1


"Sekali lagi maafin gue ya."


Begitu panggilan terputus Icha langsung merutuk kesal, "Ishhh, kenapa Aslan berubah gini sieh, padahal dulu dia tidak pernah mengabaikan gue ketika pacaran sama Athena, dia lebih mengutamakan gue ketimbang Athena." Icha menghentak-hentakkan kakinya saking keselnya.


"Kenapa lo pill." Lola yang melihat tingkah Icha bertanya, kebetulan dia baru keluar bersama Loli karna mau berangkat sekolah juga.


"Bukan urusan lo." jutek Icha.


"Biasa aja kali neng gak usah ngegas."


"Suka-suka gue donk." Icha melangkah cepat, "Minggir lo." menabrak bahu Loli membuat gadis itu terhuyung sampai jatuh.


"Upillll sialannn."


****


Sementara itu ditempat berbeda, bukannya menjemput Lea seperti yang dikatakan, Aslan malah mengunjungi makam kedua orang tua Icha.


Aslan duduk diantara makam kedua orang tua Icha yang berdekatan, meletakkan buket bunga di masing-masing makam.


"Pagi om, tante." sapanya, "Maafin Aslankan baru bisa menjenguk tante dan om, Aslan harap tante dan om gak marah sama Aslan."


Dan Aslan mengeluarkan keluh kesahnya seolah curhat sama orang yang masih hidup, "Maafin Aslan tan, om, mungkin saat ini Aslan tidak bisa menjaga Icha sepenuhnya, ada laki-laki baik yang kini menggantikan posisi Aslan."


"Laskar, nama laki-laki itu Laskar." Aslan melanjutkan.


"Om dan tante gak perlu khawatir, Aslan yakin, Laskar adalah laki-laki yang tepat untuk Icha dan bisa menjaga Icha dengan baik dan menyayanginya, Aslan bisa melihat Icha tersenyum bahagia bersama dengan Laskar, dan sepertinya tidak ada celah untuk Aslan untuk mendapatkan hati Icha, karna Icha hanya menganggap Aslan hanya sebagai sahabat."


"Sekali lagi maafin Aslan om tante, karna Aslan tidak bisa memenuhi keinginan terakhir om dan tante, perasaan tidak bisa dipaksakan." Aslan memaksakan diri untuk tersenyum menatap pusara makam orang tua Icha sebelum beranjak pergi dari sana.


****


Icha yang masih kesal bertambah kesal begitu melihat adegan mesra ketika dia memasuki kelas, iya, Lea tengah nyuapin Aslan dengan mesranya.


"Ekhemmm." deheman palsu itu mampu mengalihkan perhatian dua orang yang tengah suap-suapan tersebut.


"Ehh Icha, lo udah datang." Lea menegur, "Bentar dulu ya sayang." Lea mengambil satu kotak makan yang ada didepannya dan menghampiri Icha.


"Nieh buat lo." Lea menyodorkan kotak makan tersebut sama Icha.


"Apa nieh."


"Nasi goreng, lo belum sarapankan."


"Gue udah sarapan." jawab Icha jutek.


"Kalau gitu dimakan pas istirahat aja nanti." Lea memaksa Icha menerima kotak makan tersebut dengan menjejalkan kotak makan tersebut ditangan Icha, Icha reflek menepis tangan Lea dengan kasar, "Apaan sieh lo, gue bilang gak mau ya gak mau." akibat perbuatan Icha itu membuat kotak makan itu terjatuh dan membuat isinya berhamburan dilantai.


"Ichaaa." desis Lea kesel melihat sikap sahabatnya itu, sebelumnya Icha tidak pernah bersikap seperti ini padanya.


"Apa yang terjadi neih." beberapa teman kelas mereka yang datang bertanya-tanya.


Terdengar bisik-bisik, "Icha dan Lea bertengkar."


"Kok bisa."


"Mereka bertengkar gara-gara apa."


"Gak tahu, gue juga baru datang."


Lea adalah gadis yang lembut hatinya, sehingga gak heran perlakuan Icha barusan membuat matanya berkaca-kaca, dia berjongkok membersihkan ceceran nasi goreng yang mengotori lantai kelas.


"Le...gue." tahu dirinya salah Icha berusaha meminta maaf, dia sangat menyesal karna tidak bisa mengendalikan emosinya.

__ADS_1


"Lo keterlaluan Cha." suara dingin Aslan menusuk sampai kerelung hatinya.


*****


__ADS_2